
...Cara paling umum orang melepaskan kekuatan mereka adalah dengan berpikir bahwa mereka tidak memilikinya...
Petang ini, di dalam markas terlihat Syena dan Debora sedang sibuk di dapur. Karena para rekannya tak kunjung pulang ketika petang menjelang. Debora dan Syena memutuskan untuk menjadi koki malam ini. Rempah-rempah didapur di olah sedemikian rupa oleh mereka.
Wangi aroma masakan mereka mulai menguar. Sudah hampir setengah jam mereka sibuk disana, pada akhirnya usaha membuahkan hasil.
Tiga menu masakan usai mereka buat. Menu malam ini adalah Gyoza, Dumpling dan Sushi. Makanan Jepang kesukaan Riley.
"Mengapa kita memasak makanan Jepang kakak?"
Tanya Syena meletakkan beberapa makanan yang sudah matang ke atas nampan.
"Riley menyukainya, lagi pula kita sudah sering memakan makanan barat disini Syena. Tak ada salahnya bukan sehari saja membuat Riley bahagia."
Tutur kata Debora membuat Syena tersenyum. Gadis yang ia anggap sebagai kakak itu memang sangat baik hati. Rasanya pantas apabila Debora disandingkan dengan Rey, itulah yang sedang Syena pikirkan saat ini.
"Kakak, apa mereka masih lama untuk pulang?" Tanya Syena sembari menata beberapa menu makanan di atas meja.
"Sepertinya tidak, kita biasanya makan pukul tujuh malam bukan?"
Syena memperhatikan jam dinding yang menempel tepat di atas pintu. Jam hampir menunjukkan pukul tujuh kurang lima, tapi tak ada pertanda para rekan mereka pulang.
"Ahh kakak.. Aku sudah lapar!"
Ucap Syena menarik salah satu kursi disana lalu duduk sambil menopang dagunya, memandangi tiap menu makanan yang baru saja matang dengan kepulan asap harum di atasnya.
Sajian menu terakhir Debora bawa kesana. Sambil mengulum senyum meletakkan menu itu di atas meja, Debora memperhatikan Syena yang sedang manyun disana.
Gadis yang lebih muda darinya itu sepertinya kesal. Perutnya pasti sangat lapar saat ini. Debora mengambil sumpit lalu memberikan satu buah Gyoza kepada Syena.
"Makanlah!" Ucap Debora.
"Tapi bukankah katamu kita tidak akan makan apabila rekan kita belum lengkap?"
Debora mengangguk mengiyakan apa yang Syena katakan. Namun hatinya tak tega membiarkan Syena kelaparan disini.
"Aku bisa menahannya beberapa menit lagi kakak, kau tenang saja!" Jawab Syena sambil tersenyum.
Debora mengangguk mendengar itu. Suara pintu terbuka menyita perhatian mereka. Dari balik pintu itu terlihat Riley dan Justice.
"Tadaima!" Ucap Riley.
Untuk adalah kalimat khas yang selalu Riley lontarkan ketika mereka pulang. Sudah hafal rasanya Debora mendengarnya.
Riley berjalan mendekati meja makan. Aroma masakan ini sungguh ia mengenalinya. Matanya berbinar ketika melihat beberapa menu makan malamnya adalah khas Jepang.
"Ah aku merindukan mereka!" Ucap Riley seraya menunjuk-nunjuk makanan itu.
"Siapa yang memasaknya?" Tanya Riley lagi.
"Kakak Debora bilang malam ini khusus untuk menyenangkan dirimu." Jawab Syena.
Hal itu membuat Riley tersentuh rasanya. Sambil masih berbinar Riley menatap tepat ke arah Debora. Ia tak percaya Debora akan melakukan hal ini untuknya.
"Sungguh kapten tim yang pengertian sekali dirimu!" Puji Riley merentangkan kedua tangannya berusaha memeluk Debora.
__ADS_1
"Sudah, mandilah mari kita makan malam setelah itu!"
Debora berucap sambil mendorong kecil tubuh Riley agar tidak memeluknya. Ia berusaha menghindarinya. Justice membuang kecil nafasnya lalu pergi dari sana.
"Hei sayang kau akan kemana?" Tanya Riley pada Justice yang saat ini berada tepat di atas anak tangga.
"Aku akan mandi!" Jawab Justice berhenti lalu menatapnya.
"Baiklah..." Ucap Riley mengekori Justice.
"Hei, kau akan kemana Riley?"
Tanya Debora, terkejut ketika Riley mengekori Justice. Apa yang ada dipikirannya saat ini, apakah ia akan ikut masuk dalam satu ruangan yang sama dengan Justice.
"Aku akan mandi juga!" Jawab Riley.
"Kau ingin ikut denganku mandi?" Tanya Justice tak percaya.
Disitu terlihat raut wajah Riley berubah dalam sekejap. Tatapannya menjadi mengerikan menatap tepat ke arah Justice.
"Kau pikir aku akan mandi denganmu! Sungguh kau mesum sekali malam ini!"
Ucap Riley padanya, Justice tertegun mendengar itu. Debora dibawah sana dibuat tertawa melihat tingkah sepasang kekasih yang sedang ribut di atas anak tangga itu.
Glekkkkk
"Hei ada apa ini berisik sekali, dari luar ocehan kalian terdengar begitu keras!"
Mikhail yang baru saja datang pun berprotes. Kepada dua manusia yang masih berdebat disana. Namun tetap saja dia manusia di anak tangga itu sama sekali tak menggubris.
Mikhail memilih mengacuhkan itu juga. Ia berjalan ke atas untuk mandi. Dirasa tak akan ada habisnya, Debora pun mengambil alih disini. Sihir Elluyna Ericross pun digunakan, sulur-sulur itu memisahkan Justice dan Riley. Pada akhirnya mereka pun berhenti berdebat.
__________
Pembahasan mengenai kekuatan sudah Harith katakan seluruhnya pada Rey. Harith hany ingin suatu saat nanti Rey mampu mempelajari dan menggunakannya dengan baik
Segelas minuman hangat dari dalam domain Harith menemani mereka. Sepoi angin dari atas sana cukup dingin. Rey mengeratkan jubahnya untuk lebih menutup tubuhnya. Harith memperhatikan itu, ia tersenyum. Sepertinya sudah cukup untuk mereka menghabiskan waktu disini.
"Kau ingin pulang Rey?"
Tanya Harith sambil menyeruput minumannya. Rey memperhatikan Leonin itu, bahkan siluman kucing ini begitu gaul rupanya. Cangkir yang mereka minum adalah kopi.
"Rasanya aku tak ingat pernah menemukan kucing yang menyukai kopi!"
Rey berucap sambil menatap Harith. Sedang yang ditatap hanya terkekeh mendengarnya.
"Aku baru saja mencoba lima kali, ternyata rasanya begitu lezat. Aku menyukainya!" Jawab Harith.
Rey kembali menatap ke depan ke arah kepulan asap putih disana. Itu cukup jauh, namun hawa suramnya merasuk sampai dimana tempatnya duduk saat ini.
"Apa masih lama bagi kita untuk menaklukannya Kaisar?" Tanya Rey.
Harith mengembalikan kembali cangkir miliknya yang sudah kosong. Seperti Rey yang menatap lekat kedepan, begitupun dengan dirinya.
"Kau perlu mempelajari lebih dalam sihir-sihir barumu. Barulah setelah itu kita kembali menyerang mereka!"
__ADS_1
Ucapan Harith membuat Rey tersenyum miris. Rasanya cukup bagi dirinya melihat banyak Musketeers yang gugur.
"Aku akan pergi!"
Ucap Rey, sungguh sebenarnya ia sangat muak menunggu. Namun mau bagaimana lagi, kalimat gadisnya semalam membuatnya sadar. Bahwa berjuang sendiri bukanlah hal yang benar.
Rey berusaha mempercayai itu. Ia berusaha percaya bahwa rekannya didalam Rensuar ini mampu, mereka mampu mengalahkan para Iblis didalam Silver Alaska yang keji itu.
"Dandelion!"
Panggilan itu sekejap memunculkan sayap-sayapnya. Sayap-sayap putih itu mulai mengepak terbang menjauh meninggalkan Harith sendiri di atas sana.
Harith menatap kepergian Rey yang semakin menjauh. Leonin itu benar-benar bahagia melihat kedatangan Rey Arlert kembali masuk kedalam Rensuar. Harith juga dibuat terpukau akan perkembangan yang Rey capai selama ini.
Leonin itu yakin Rey pasti mampu mengalahkan Iblis seratus juta jiwa. Ramalan Lapu-lapu selalu benar. Entah kapan itu terjadi, tapi pasti akan terselesaikan.
__________
Para rekan Rey kini sudah duduk di meja makan. Mereka semua sudah berkumpul disana. Debora sejak tadi memandangi satu kursi yang masih kosong, itu adalah tempat duduk Rey.
Baron Putih Legendaris itu kemana? Mengapa tak kunjung pulang. Para rekannya sudah lama menunggunya dengan sabar.
Debora kembali di ingatkan, bahwa Rey pergi menemui Harith dan Axcel. Ia khawatir Rey akan menjalankan misi bunuh diri lagi nantinya.
Sebab sudah hampir satu jam mereka menunggu. Kekhawatiran dalam hatinya membuat Debora berdiri. Akibatnya itu membuat para rekannya menatapnya serentak.
"Kau akan kemana Debora?" Tanya Riley padanya.
"Aku akan mencarinya!" Jawab Debora.
Gadis itu pergi dari meja makan, mengambil jubah putihnya lalu memakainya. Ketika Debora membuka pintu, bersamaan dengan itu seseorang dari luar pintu juga membukanya.
Detik itu juga Debora menabrak tubuhnya. Itu adalah Rey, ia baru saja datang.
"Huh!" Pekik keduanya ketika tubuh mereka saling bertabrakan.
Sontak mereka saling menatap satu sama lain. Terlihat jelas disana Debora terkejut, namun tak lama semu merah itu menghiasi wajahnya.
Posisi mereka seperti sedang mengumbar mesra saja. Rey yang tetap berdiri dengan tangan kanan yang berada di pinggang Debora. Sedangkan Debora mendongak, sambil kedua tangannya tepat berada diatas dada bidang Rey.
"Kau mau kemana Debora?" Tanya Rey pada akhirnya.
Pertanyaan itu sekejap membuat Debora tersadar dari lamunannya. Seketika ia menjauhkan tubuhnya dari Rey.
Rekannya terkekeh melihat tingkah laku Debora disana. Rey yang paham situasinya pun hanya diam, ia tak ingin membuat Debora semakin sulit mengatasi rasa malunya.
Tak ingin menempatkan Debora dalam situasi yang lebih sulit lagi. Rey meraih pergelangan tangannya lalu menuntunnya ke arah meja makan.
"Aku pulang, ayo makan! Aku sudah sangat lapar!"
Ucap Rey melepas tangan Debora ketika tiba tepat dihadapan meja makan.
"Kau ini kemana saja Rey!" Pekik Justice seraya tangannya aktif mengambil beberapa menu disana.
"Aku dan Harith sedang berlatih tadi! Bukankah aku sudah mengatakannya?" Jawab Rey.
"Ah sudahlah, ayo kita makan!" Tambah Mikhail.
Acara makan malam bersama pun dimulai. Seperti biasa, tiap makan malam akan ada saja percakapan di antara mereka. Kekonyolan di antara Justice juga Rey disana.
Debora benar-benar merindukan suasana ini. Suasana ketika Rey kembali adalah suasana paling ramai dalam markasnya.
__ADS_1
...Orang-orang membutuhkan masa-masa sulit dan penindasan untuk mengembangkan otot-otot psikis...