
...Pelajaran yang kamu butuhkan saat ini, tidak bisa dipelajari oleh kata-kata...
...Hanya oleh tindakan semata...
Setelan jubah baru membungkus tubuhnya, Rey terlihat begitu tampan sekarang. Dihadapan kaca, seperti biasa Rey merapikan Surai kesayangannya itu. Surai putihnya itu ia tata semenawan mungkin.
Sejak tadi dihadapan pintu kamar mandi Mikhail bersandar, ia menekuk wajahnya sambil menahan sesuatu. Mereka sedang berada di kamar lantai lima sekarang, semalam mereka sengaja memutuskan terlelap disini, karena satu alasan.
Mikhail bilang akan ada meteor jatuh semalam, mereka bertiga berbondong-bondong membawa bantal guling mereka ke kamar paling atas. Ketiganya terlelap bersama diatas balkon.
"Kau kenapa? Raut mukamu sungguh tak bersahabat, sudah lima menit kau berdiri disana!"
Ujar Rey menatap Mikhail dari pantulan kaca. Mikhail hanya melirik manusia itu, tatapannya menjadi semakin buruk saja padanya sekarang.
"Hei Mikha, beritahu aku jika aku melakukan kesalahan!" Protes Rey tak terima ditatap semacam itu.
Mikhail menggerakan telunjuknya ke arah pintu kamar mandi. Didalam sana Justice sedang membersihkan tubuhnya.
"Dia itu mandi atau bangun rumah didalam sana hah? Mengapa lama sekali!"
Ucapan sakral pagi itu membuat Rey tertawa kencang, humornya tersulut rasanya. Rupanya Mikhail sedang menunggu Justice keluar dari kamar mandi, sedaritadi ia menekuk wajahnya sebab ia ingin buang air besar.
"Mikha, kita punya tiga kamar mandi disini! Mengapa kau mengganggu istriku hah?"
"Dibawah, dua kamar mandi itu sedang dipakai! Kau tau dua gadis perawan itu, mereka berdua selalu bersamaan menggunakan kamar mandi."
Rey meletakkan sisir yang ia pakai diatas meja, ia berbalik menatap Mikhail sekarang.
"Aku kasihan padamu, baiklah, aku akan kebawah untuk mengecek!"
Rey berinisiatif membantu Mikhail menemukan pertolongan pertamanya, ia keluar dari dalam kamarnya menuju ke lantai tiga. Rey berjalan menyusuri lorong yang kiri kanannya adalah kamar, tepat diujung lorong itu adalah kamar mandi.
Tokkkkk
Tokkkkk
"Ada orang didalam?"
Tanya Rey ketika berada tepat didepan kamar mandi. Riley yang berada didalam mematikan keran airnya.
"Ada aku disini Rey! Kau mau apa kemari?"
Teriakan itu membuat Rey berseringai, bisa mati dia jika tetap berada disana.
"Ah tidak Riley, aku hanya sedang mengecek! Ku pikir disini kosong, Mikhail ingin buang air katanya!"
"Suruh dia tahan sebentar, aku akan selesai sepuluh menit lagi!"
Mendengar durasi itu Rey terdiam, sepuluh menit katanya, tiga menit saja rasanya tak karuan. Rey tak menjawab ucapan Riley, ia pun kembali turun kebawah ke lantai dua.
Rey sumringah ketika melihat pintu kamar mandi disana terbuka sedikit, artinya didalam sana sudah tidak ada manusianya. Rey mempercepat langkahnya berjalan menghampiri kamar mandi itu.
Brakkkkk
"Eh?"
"Hah?"
Dua pasang mata itu bertemu, terlihat disana Debora berdiri dengan handuk yang mengelilingi tubuhnya. Semu merah itu perlahan merayapi wajahnya, bagaimana tidak Rey berdiri dihadapannya sambil memandangi tubuhnya yang hanya terbalut handuk Sontak Debora berbalik memunggungi Rey. Tangan kanannya bergerak ke arah Rey.
"Elluyna Ericros!"
Brakkkkkkkk
Rey terpental kebelakang ketika sulur cahaya datang mendorongnya.
"Rey!!!"
Brakkkkk
Pekik Debora sambil menutup pintu kamar mandinya. Rey terlihat bahagia setelah melihat hal itu, entahlah, Debora terlihat manis sekali pagi ini dengan balutan handuk, ditambah dengan Surai putihnya yang terurai.
"Orang cabul ini, kau sungguh tak tau malu Rey!"
__ADS_1
Mendengar Baron melalui telepati itu, senyum Rey semakin merekah. Patrian tubuh itu indah sekali dimatanya, menghipnotisnya sungguh. Semakin hari hubungan mereka memang semakin dekat, namun Rey sama sekali belum menyatakan perasaanya pada Debora. Mereka berdua sama-sama mencintai. Rey hanya menunjukan itu melalui tingkahnya, entah Debora merasakannya atau tidak, Rey sama sekali tak peduli.
Baginya menyatakan perasaanya sekarang itu tidak penting. Rey lebih mementingkan dunia beserta adiknya. Misi itu lebih penting daripada dirinya juga perasaanya. Sempat ia berfikir, jika ia menyatakan isi hatinya saat ini lalu gagal dan mati, maka Debora akan sangat-sangat berduka. Bagi Rey lebih baik seperti ini saja, mencintai dalam diam.
"Kau pikir berapa umurku sekarang? Aku sudah cukup umur untuk melihat hal itu, ini sudah tiga tahun, dan aku berusia delapan belas tahun sekarang."
"Hah, lantas kau akan apa setelah ini? Menikahinya?"
"Dunia saja masih seperti neraka, kau ingin aku menikahinya? Bereskan dunia dulu, baru dirinya."
Baron tersenyum mendengar itu, sebuah konsekuensi fatal akan mereka berdua hadapi setelah ini. Sesuai janji Harith pada Rey, ia akan membawa Rey ikut serta, perdana pada misi pertamanya di tahun ketiga.
Misi yang hanya boleh diikuti oleh Musketeers tingkat lima, namun Rey dan tim nya berkembang semakin pesat tiga tahun ini. Hal itu membuat Harith memantapkan hatinya, untuk membawa mereka masuk ke Silver Alaska, mencari keberadaan beberapa kristal yang masih belum ditemukan. Pagi ini mereka berlima ditugaskan menyambut calon kstaria sihir baru, yang sedang berada tepat dipintu pintu masuk Rensuar.
Rey bangkit dari jatuhnya, ia memutuskan pergi ke ruang makan saja. Beberapa menit setelahnya, beberapa rekannya sudah siap. Mereka berlima berkumpul bersama dimeja makan, kegiatan makan bersama selalu rutin mereka lakukan.
Jika salah seorang tak lengkap, mereka akan menunggunya, tidak akan ada yang makan sebelum rekannya lengkap berkumpul. Menu pagi ini cukup menakjubkan onigiri dan Wagyu, hasil masakan dari Mikhail dan Riley. Sebelum menyelesaikan tugas, ada baiknya jika mereka mengisi perut mereka.
___________
Dalam ruangannya Harith bersama Noella sedang fokus memperhatikan kristal pengintai. Harith meletakan beberapa mata-mata dalam Alaska. Mata-mata itu berupa burung yang dirasuki, burung mantra miliknya.
Alaska terlihat sama, masih suram dengan aura gelap. Tiga tahun terakhir sambil memantau perkembangan Rey, Harith sama sekali tak menemukan titik terang tentang dua senjata yang hilang itu. Rasanya ia hampir ingin menyerah saja, jika sampai saat ini hanya Rey saja yang bersamanya rasanya menghalau jutaan Iblis untuk memangsa manusia tidak akan mudah.
Clinggggg
Noella merubah tubuhnya menjadi seorang Elf, Noella menyentuh bahu Harith disana Harith menoleh.
"Turun kebumi cukup menguras tenaga dan pikiran ya?"
Ujarnya, raut muka kecewa itu jelas melekat disana. Noella hanya tersenyum tipis, sambil mengusap lembut Surai putih Harith, terakhir ia menangkup kepala leonin itu.
"Kaisar, kita kemari atas perintah penguasa. Para Elf, Lapu-lapu beserta leonin lain datang kemari untuk membantumu. Pasukan langit sudah disini, kita tidak mungkin kalah. Penguasa pasti tau segala usahamu, sekarang lakukan dan jalankan sesuai alur."
"Ini sudah tiga tahun Noella, mengapa sama sekali tak ada perkembangan."
"Kerja keras adalah tabungan sehari-hari, tak apa meski sedikit, majulah terus kedepan! Itu belum terbukti kan? Rey masih belum memijakkan kakinya disana."
"Apa benar keputusanku membawanya kesana?"
"Tak ada gunanya terus merenung, kuatkanlah hati dan bangkit! Hanya itu jawabannya sekarang."
Pundi-pundi semangat itu semakin kuat rasanya, jutaan bunga sedang hinggap dalam hatinya. Disana Harith tersenyum padanya, lalu mengangguk.
"Baik Noella, aku akan mencobanya! Berpikir dan hanya berdiam diri disini, bukan aku namanya."
Semangat yang berkobar itu membuat senyum Noella merekah. Harith terbang sekarang, sambil tetap tersenyum ke arahnya ia menggerakkan tangannya, rapalan mantra Leviousa membawanya pergi dari sana.
_______
Puluhan manusia berkemampuan seperti mereka sedang berdiri tepat dihadapan mereka. Musketeers Dion beserta timnya sedang bertugas di area benteng, mereka menimpakan tugas penyambutan ini pada Rey dan timnya. Sekarang mereka tiba tepat disana, diluar gerbang Rensuar.
Suara riuh tawa, candaan juga ocehan terdengar lebih meriah daripada suara Debora. Debora sedikit kesulitan mengatur mereka untuk diam kali ini, anak-anak dihadapan mereka itu sepertinya usianya berbeda dengan mereka dulu. Tahun ini, terlihat rata-rata usia mereka dibawah dua belas tahun sepertinya. Rey mendekati Debora, ia berdiri disampingnya sekarang.
"Kucing putih, apa kau membutuhkan bantuan?"
Debora mengalihkan netranya ke arah Rey mendengar itu, lalu mengangguk. Rey juga ikut menatapnya kali ini, ia tersenyum.
Clingggggg
Sebuah terompet ulang tahun berada ditangan Rey sekarang, Rey menempatkan itu dibibirnya. Sambil menatap Debora, Rey menunjuk tepat ke arah terompetnya. Debora tau itu, Rey membutuhkan sihir gema. Debora merapalkan sihil gema, lalu meletakan itu tepat ditrompet Rey.
Tuttttttttttt
Tuttttttttttt
Justice dibelakangnya menembakkan kembang api ke atas langit-langit. Serentak perhatian para calon ksatria fokus ke arah mereka. Sambil menatap langit-langit yang penuh kembang api habis, fokus mereka kembali terarah pada Rey beserta rekannya.
"Hai, Selamat datang di Rensuar! Asrama sihir satu-satunya di bumi. Untuk kalian yang berkemampuan khusus, kalian istimewa! itulah mengapa Rensuar mengundang kalian kemari, untuk mempelajari sihir."
Rey berucap dengan wajah yang berseri-seri. Disana Debora tersenyum, melihat para calon ksatria itu terlihat kagum menatap Rey. Baron ini begitu pandai sekali mengendalikan situasi.
"Kau, bukankah kau ini Baron dalam ramalan?"
Salah seorang anak dengan panah dipunggungnya menunjuk ke arah Rey. Bola mata anak itu berbinar kagum menatap ke arah Rey.
"Bukan, aku Rey! Rey Arlert!"
__ADS_1
"Tapi mengapa rambutmu berwarna putih?"
Pertanyaan itu membuat Debora dan dirinya saling menatap. Apa jawaban atas pertanyaan itu keduanya tak tau, sungguh.
"Kalian berdua terlihat cocok sekali!"
Seorang gadis kecil mendekati mereka menarik tangan mereka menyatukannya.
"Wahhhh!!!"
Suara tepukan tangan atas bersatunya tangan itu membuat keduanya bersemu, sontak mereka menarik tangan mereka masing-masing.
"Ahahahaha... Sudah, sudah, mari kita lanjut ke sesi seleksi kalian!"
"Baik kakak Rey!"
Kali ini Rey mencoba meredam suasana canggung antara dirinya dan Debora. Riley beserta dua rekannya dibelakang menahan tawa mereka. Mereka lebih memilih pasif memang, karena bukan mereka yang ahli sama bidang ini. Mereka hanya peran pendukung saja, seperti Justice yang membantu memeriahkan suasana dengan kembang api.
Disana Rey mulai mengumumkan seleksi apa saja yang akan mereka ikuti. Ketika seluruh seleksi itu dibacakan, terdengar sorakan penuh semangat itu berangsur-angsur memeriahkan suasana. Ketika rombongan Riley berangsur-angsur mengajak masuk para calon ksatria sihir, ada seorang anak yang masih mematung dibelakang mereka. Anak itu memunggungi mereka, sambil menatap langit.
"Hah?"
Rey terkejut melihat seorang gadis kecil membelakangi mereka, disana Rey menghampirinya. Ketika Rey bersimpuh didekatnya, anak kecil itu menunjuk ke arah langit.
"Rey, coba katakan padaku apa alasan dunia ini hancur?"
Pertanyaan itu membuat Rey tercengang. Satu pertanyaan yang cukup dewasa, terlontar dari anak berusia dua belas tahun. Disana Rey tersenyum, Debora dari belakang menghampirinya ia mendengar apa yang gadis itu katakan.
"Ketika sebuah kebahagiaan hancur, bau darah selalu tercium."
Ujarnya lagi, perih rasanya sungguh. Gadis ini mungkin mengalami kehilangan yang mereka rasakan. Mungkin memori miliknya lebih pedih lagi, sehingga menenggelamkannya jauh dalam keterpurukan.
"Meski terus kehilangan kita tidak memiliki pilihan lain selain hidup. tidak peduli seberapa sakitnya kita terjatuh. Kau dan Aku, kita sama! Mari berjuang kembalikan lagi dunia ini seperti dulu."
Gadis itu mengalihkan netranya ke arah Rey keduanya saling bertatapan sekarang. Rasanya Rey seperti sedang menatap Syena, hatinya bergetar melihat bola mata gadis ini sama dengan milik Syena.
"Aku Syena!"
Degggggg
Gadis ini mengucapkan namanya, itu membuat Rey terkejut sekaligus senang mendengarnya. Dari dalam domainnya ia mengambil sebuah bunga, bunga itu ia berikan pada gadis itu, gadis yang namanya sama seperti adiknya.
"Syena, ini untukmu! Selalu semangat untuk berkembang ya! Aku Rey, kau bisa menganggapku sebagai temanmu."
Syena meraih bunga itu, menerimanya lalu ia tersenyum.
"Senyuman adalah cara terbaik untuk mengatasi situasi yang sulit. Rey, manusia yang tegar!"
Usai mengatakan itu gadis bernama Syena itu pergi ke arah Riley yang cukup jauh dari mereka. Rey berdiri sambil menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh.
"Lihatlah Debora, kau dengarkan? Keadaan memaksa mereka memahami dunia yang kejam ini. Mereka dewasa diusianya yang belia."
Disana Debora mendekati Rey, meraih tangan kanannya menggenggamnya.
"Generasi berikutnya selalu akan melampaui yang sebelumnya. Ini salah satu siklus yang tidak pernah berakhir dalam kehidupan."
Salju masih turun, pijakan mereka pun diatas salju. Disana terbesit satu ide licik. Rey melepaskan genggaman tangan Debora lalu berpura bersimpuh membersihkan sepatunya. Debora memperhatikan itu, bertanya-tanya dalam dirinya apa yang sedang Rey lakukan. Ketika Debora menunduk mencoba mencari tahu. Gumpalan salju dalam tangan, Rey lempar ke tubuh Debora.
"Selamat ulang tahun, Debora! Aku menyayangimu!"
"Rey!!!"
Pekiknya, mereka berdua bermain sebentar disana saling melempar salju satu sama lain. Rey hanya mengucapkan aku menyayangimu, namun tidak dengan aku mencintaimu. Namun ucapan itu cukup menghangatkan hati Debora sungguh, senang sekali rasanya. Debora hanya memahami satu hal, Rey menyayanginya sebagai seorang teman. Cukup sakit memang, tapi Debora hanya seorang manusia bukan. Bukan hak nya memaksa Rey untuk mencintainya, lalu menikahinya. Berdiri disini berbagi tawa bersama Rey, itu sudah cukup bagi Debora.
...Jika kau menang, kau hidup!...
...Jika kau kalah, kau akan mati!...
...Jika kau tidak bertarung, kau takkan menang!...
...Dunia ini penuh dengan kekejaman...
...Itu mengguncangku, bahwa bisa hidup adalah seperti sebuah keajaiban...
__ADS_1
_______