Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Kesadaran dan Kekonyolan


__ADS_3

...Aliran darah mereka adalah satu...


...Sehingga, saat ada satu yang tersakiti, maka hati yang lain akan ikut terluka...



____________


.


.


Kali ini dimarkas Rensuar hanya ada Rey, tepatnya dihalaman markas mereka yang luas. Dihadapan para target bergerak didepannya Rey bersiap dengan Baron ditangannya. Rey sedang menjalani latihan, dimana dalam markas mereka memliki fasilitas latihan berupa latihan target. Latihan simulasi ini akan memberi kalian dia opsi, target bergerak dan menyerang, atau target diam mati. Rey sengaja memilih opsi target bergerak lima puluh simulasi iblis itu bergerak ke arahnya. Rey mengasah seluruh kekuatannya, mengalahkan target-target itu.


"Aku akan menjadi kuat! Aku tidak akan menyerah sebelum Syena-ku kembali lagi kemari."


Batin Rey, ya ia muak sekali pada dirinya sendiri. Mungkin inilah yang Debora rasakan tadi, namun Rey lebih mampu menghadapi trauma juga mengendalikan perasaannya berbeda dengan Debora, yang Ter doktrin ucapan juga perintah Ayahnya.


Slakkkkkkkkk


Ceshhhhhhhhh


Tebasan pedang teraliri sihir itu, menebas target terakhir disana. Sejenak Rey diam jemari tangannya yang mencengkram pedang itu menguat. Sungguh bagaimana ia bisa kalah dari Iblis itu, hanya dengan satu kali tebasan.


"Rey, kau pecundang!!!"


Umpat Rey merutuki dirinya sendiri, bersamaan dengan itu lima puluh target itu kembali hidup menghampiri Rey siap menerkam Rey. Namun kekesalan dalam relung hatinya seakan menciptakan sihir kuat dari dalam pedangnya.


Slashhhhhhhhh


Wushhhh


Tebasan melintang itu membawa aliran listrik kuat didalamnya, sehingga seketika target-target itu lenyap binasa begitu saja.


"Rey!!!"


Suara sapaan dari balik pintu gerbang itu membawa satu manusia masuk ke dalam halaman markas.Rey menaikan alisnya melihat Justice berlari ke arahnya sambil tersenyum, sepertinya manusia ini sedang bahagia saat ini. Namun bukankah kekesalan itu memenuhi hatinya beberapa jam lalu, mengapa perubahan mood Justice cepat sekali. Seperti seorang wanita saja makhluk itu.



"Rey!"


Ujarnya lagi ketika berdiri tepat didepan Rey, tangan kanannya itu menyentuh pundak Rey sambil nafasnya masih terengah-engah. Justice mencoba mengatur nafasnya sejenak lalu menyentuh kedua pundak Rey, kepalanya terangkat, pandangan mereka bertemu. Disana tersirat jelas akan ada berita baik yang diberikan pada Rey.


"Ada apa?"


Tanya Rey heran padanya, isyarat macam apa yang ada dalam matanya sungguh ia tak tau.


"Rey, Riley sudah sadar!"


Berita yang sangat baik bagi Rey sungguh. Sahabat baiknya, yang paling dekat dirinya sudah membaik rasanya ia tak mampu berucap apapun.


"Dimana yang lain Rey?"


Justice bertanya sembari netranya mencari-cari keberadaan dua orang manusia yang ikut tinggal disini bersama mereka.


Clashhhhhhh


Rey hampir mengatakan kemanakah dua rekannya yang lain itu pergi namun kedatangan mereka seketika nyata berdiri melangkah menghampiri mereka sambil membawa barang belanjaan ditangan mereka masing-masing. Mikhail sambil memakan apel ia menghampiri Justice dan Rey yang sedang mendiskusikan sesuatu.


"Hei ada apa ini?"


Mikhail bertanya pada mereka kali ini sedangkan Debora diam memperhatikan.


"Kalian ingin mendengar berita baik?"


Sambil mengunyah apelnya Mikhail menatap Justice seraya mengangguk tak sabar berita apa yang akan ia katakan.


"Riley sudah sadar, mari kita jenguk dia sekarang!"


Justice mengatakan itu dengan senyuman, kebahagian dalam hatinya tersirat jelas tersampaikan pada hati seluruh rekannya. Debora memejamkan matanya sambil mengatupkan tangannya, ungkapan rasa syukur atas apa yang terjadi saat ini.


"Baiklah, tak perlu basa-basi lagi. Mari temui Riley!


Rey mendominasi mereka, Debora yang berada tepat disampingnya tangannya digenggam oleh Rey.

__ADS_1


"Huh?"


Debora terkejut merasakan itu, namun Rey sama sekali tak menatapnya netranya masih fokus pada dua temannya yang lain.


"Mantra Leviousa tidak bisa dirapal penyihir pemula bukan? Jadi, mari kita lakukan."


Ide yang bagus menurut Mikhail, segera ia mengambil barang bawaan dari tangan Debora membawanya masuk kedalam markas menaruhnya agar tak ada muatan disana sehingga Rey tidak akan menelan kulit penyu karena mabuk portal yang dideritanya, tak lama ia kembali lagi. Mereka membentuk lingkaran saat ini sambil tangan mereka saling menggenggam.


Slappppp


Dalam hitungan detik setelah rapalan tubuh mereka melesat berpindah tepat dihadapan pintu ruangan dimana Riley dirawat disana.


Noella terhenyak tatkala empat orang manusia muncul secara tiba-tiba dihadapan matanya, telapak tangannya mengusap-usap dadanya seakan menenangkan jantungnya yang berdegup kencang atas kejutan laknat yang tak diharapkannya.


"Hai Noella!"


Ujar Rey riang entah sudah berapa lama Noella tak menampakkan wujud Elf-nya pada Rey.


"Siluman kucing cantik, bolehkah kami masuk menjenguk Riley?"


Ucapan menghina itu diucapkan dengan tampang polos oleh Rey, berani sekali ia, selir seorang Kaisar dihina begitu saja kacung sialan memang. Ke empat rekan Rey tertawa mendengar ungkapan itu pasalnya tak ada yang berani selancang ini pada Noella dan Harith, kecuali Rey Arlert, pemilik Baron Putih Legendaris dalam tubuhnya.


"Rey Arlert bersikaplah sopan pada Seniormu! Ingat kau masih Musketeers sihir tingkat satu jadi jangan berulah terlalu banyak!"


Noella berucap sambil menatap malas ke arah Rey, mungkin satu kalimat itu mampu membuat Rey paham. Namun nyatanya seringai juga raut muka polos itu tak berupa, lugukah manusia ini.


"Sudahlah Nona Noella, kau harus pahami IQ nya yang rendah memang. Bagaimana bisa otak sedangkal dia mampu memahami, coba lihat raut wajahnya. Mengesalkan bukan?"


Justice merangkul Rey sambil mengatakan itu disana Noella mengangguk, memang benar apa yang Justice katakan. Jika memang karakteristik Rey semacam ini apa boleh buat, lagi pula sifat mengesalkan Rey pun tak masalah bagi Harith dan Axcel. Justru Rensuar menobatkan Rey, remaja lima belas tahun ini sebagai murid tersayang Leonin Axcel.


"Silahkan masuk!"


Ucap Noella, mereka bersorak senang mendengar itu segera mereka bergegas masuk kedalam. Dekorasi aeshtetic didalam ruangan itu memukau mereka, sulur-sulur tanaman terlihat mendominasi ruangan itu, belum lagi tangga sebagai rak buku dibawahnya, juga beberapa lilin-lilin melayang dilangit-langitnya sebagai penerangan, atapnya terbuka namun itu hanya sebuah simulasi sihir.



Beberapa Lapu-lapu wanita sedang sibuk dengan tabung reaksi mereka, gas yang menguap dari ramuan bermacam-macam. Disana ada tiga ruangan tertutup tirai, Rey membukanya satu persatu sampai tibalah mereka di tirai ketiga, rupanya Riley disana duduk bersandar di kepala ranjang, sambil membaca buku abjad sihir yang melayang dihadapannya.



"Riley!!!"


"Apa Khufra ku sudah kau beri makan?"


Selalu, pertanyaan tentang peliharaannya adalah yang utama, Rey terdiam mendengar itu ia lupa sungguh, namun netra Rey melirik tepat ke arah Justice menyenggolnya.


"Jus, binatang buas itu sudah kau beri makan?"


Justice yang fokus itu tersadar ketika Rey menanyakan itu padanya, lalu mengangguk.


"Mereka sudah kuberi makan, tapi Riley mengapa lukamu hilang secepat ini."


Pertanyaan yang bahkan Riley pun tak tau jawabannya, namun seorang Lapu-lapu wanita datang melayang ke arah Riley memberika. satu cawan ramuan.


"Itu sihir peri bulan, ia akan memberikan separuh mananya pada Riley, kombinasi antara sihir seorang elf dicampur dengan sihir kami para Lapu-lapu. Dengan ramuan kami mencoba menghentikan pendarahannya, lalu sihir gabungan digunakan untuk menutup lukamu. Namun memang diperlukan waktu yang cukup lama untuk itu, mungkin sekarang Nona Noella sedang bersemedi untuk memulihkan mananya."


Mereka mengangguk mendengar itu, berbeda dengan Mikhail seperti biasa ia akan selalu mencatat pengetahuan-pengetahuan baru. Setelah memberikan ramuan itu Lapu-lapu itu pergi darisana.


Riley menatap lekat ke arah Debora kali ini, netra mereka saling menatap satu sama lain. Namun tak ada unsur kebencian tersirat dalam mata Riley, justru Riley malah melempar senyum padanya. Debora maju mendekati Riley, menunduk.


Grepppp


Penyesalan itu tak terbendung rasanya, Debora memeluk sahabat baiknya itu meluapkan seluruh penyesalannya disana.



"Maafkan aku, aku egois dan bodoh! Maafkan aku, karena terlalu pengecut saat di Alaska. Aku bersyukur kau masih bernafas, Riley!"


Ujar Debora, Riley mengusap-usap punggungnya mencoba menenangkannya.


"Tak apa, aku mengerti itu bahkan aku paham. Pengorbanan dalam perang itu hal lumrah bukan, untuk mati, siapa yang tidak takut akan hal itu. Tapi jika satu nyawa bisa menyelamatkan seluruh nyawa lain mengapa harus ragu? Tubuh kita sudah disini untuk bersumpah, seorang ksatria harus selalu menepati sumpahnya. Aku harap kau bisa belajar dari kejadian ini ya, Debora! Aku menganggapmu seperti saudara perempuanku, tak masalah bagiku terluka untukmu."


Senyum tipis juga kagum itu terbit dalam wajah Rey, bangga sekali rasanya memiliki sahabat yang murni tulus hatinya, yang menghargai apa itu ikatan.


"Pengorbanan diperlukan untuk mendapatkan yang diinginkan. Jika kamu tak bersedia berkorban, artinya kamu tidak benar-benar menginginkan. Bukankah kita menginginkan perdamaian! Masih ada banyak waktu untuk kita menjadi kuat!"

__ADS_1


Ujar Riley sambil melepas pelukan itu lalu tersenyum penuh arti pada Debora. Sungguh disini Debora menyadari betapa bodohnya ia meskipun diberkati kemampuan spesial. Disana Debora mengangguk mendengar tiap petuah yang Riley lontarkan, ia ingat bahwa dirinya belum meminta maaf pada rekannya yang lain, terutama pada Justice yang terlihat sangat kesal padanya.


"Karena sikapku yang terlalu pecundang, tolong beri aku kesempatan lagi. Maafkan aku ya!"


Debora berbalik ke arah tiga rekannya, disana Justice tersentuh. Tiap manusia butuh kesempatan kedua bukan, Rey tersenyum lalu mengangguk tatkala Justice menatapnya begitupun dengan Mikhail. Ketiganya menatap Debora kali ini, sambil tersenyum mereka mengangguk seakan itu adalah anggukan jawaban bahwasannya mereka telah memaafkannya.


"Terima kasih, rekan!" Ujar Debora bahagia.


Teringat sesuatu sembari menunjuk Debora, Rey tersenyum.


"Ingat steak Wagyu-nya. Kau berjanji akan memasaknya untuk kami kan? Anggap saja itu penebusan dosamu!"


Ujar Rey, bahkan pemerasan itu masih berlaku rupanya. Debora menghela nafasnya mendengar itu, sedang Justice dari telapak tangannya mengeluarkan satu gulungan, gulungan itu dari Axcel beberapa saat lalu.


"Aku mendapatkan berita bagus ini dari Paman Axcel!"


Ujar Justice seraya membuka gulungan itu lalu mempertontonkan itu dihadapan empat orang manusia disana. Netra mereka membulat, senyum mereka merekah, bukan karena perlombaan namun karena acara makan gratis bersama didalam Rensuar.


"Baiklah, aku sudah cukup sehat untuk itu! Akan kubawa pulang beberapa daging untuk ternakku supaya aku bisa menghemat juga menabung."


Ucap Riley bersemangat, terlihat Rey dan Justice memiliki pikiran yang sama untuk ikut serta dalam perlombaan itu. Semangat berpartisipasi mereka berdua membeludak rasanya, ingin segera mereka tuntaskan, gatal rasanya tangan mereka ingin beradu kekuatan, memukuli manusia tak berdosa disana. Debora, memperhatikan kedua cengiran khas rekannya itu memejamkan mata seraya menghela nafas, ia tau betul keduanya haus adrenalin.


"Kalian berpikir untuk mendaftarkan diri ya?"


Tanya Debora seraya melipat tangannya didada, sambil netranya menatap lekat dua manusia sefrekuensi dihadapannya itu.


"Iya!!! Jelas kami ikut, mengapa tidak? Buka kah hadiahnya menggiurkan, Debora?"


Rey mengucapkan itu dengan penuh semangat seraya merangkul Justice disampingnya.


"Hadiahnya, dua puluh kantung koin emas. Daging Wagyu seumur hidup bisa dihidangkan untuk itu."


Ujar Rey sambil membayangkan dirinya sebagai seorang pemenang.


"Ditambah, mereka dengan skor tertinggi fasilitas Asramanya akan ditingkatkan. Wahh, berasa seperti pelayanan bintang lima sepertinya."


Kali ini Justice membayangkan betapa lengkapnya fasilitas markas mereka, mungkin akan ada koki yang memasak tiap pagi untuk mereka. Pelayanan pijat, pelayanan sauna, segala hal yang memanjakan tubuh juga menguntungkan itu terngiang-ngiang, bertebangan dalam kepalanya.


Debora maju mendekati kertas yang masih Justice bawa, disana matanya menyipit.


"Syarat dan ketentuannya, hanya untuk Musketeers tingkat tiga. Jadi kita hanya bisa menonton."


Mendengar itu Rey dan Justice menggeleng, mereka yakin mereka bisa masuk kesana.


"Kami bisa! Ya kan Mikhail? Kau ikut juga kan?"


Tanya Rey pada Mikhail yang berada disamping Justice, namun Mikhail menggeleng sembari melipat tangannya.


"Lebih baik ku habiskan waktuku bersama Lapu-lapu wanita, mempelajari ramuan-ramuan dan sihir pengobatan."


Mendengar itu kembali tatapan malas itu Rey berikan padanya, lalu netranya beralih pada Debora yang masih memperhatikan keduanya.


"Ah, tentu kami bisa! Lihat saja, besok kami akan mendaftarkan diri."


Ujar Rey yakin, Debora menghela nafasnya lihatlah betapa keras kepalanya si Rey ini. Riley menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya melihat kepercayaan diri itu begitu melekat dalam diri Rey.


"Ah baiklah, tidak ada gunanya kau berdebat dengannya Debora. Dua manusia itu jagoan tim kita bukan, manusia dengan sembilan nyawa. Biarlah! barangkali mereka terpilih lalu menang kita juga yang untung bukan."


Ujar Riley, itu membuat Debora tersenyum.


"Ya mari kita hancurkan Jus!"


"Mari kita bumi hanguskan mereka, Rey!"


Keduanya berucap penuh semangat seraya berjabat tangan, saling menatap satu sama lain menyalurkan semangat meluap-luap itu dari tatapan.


...Permusuhan tidak baik dipertahankan, perdamaian penting diusahakan...


...Persaudaraan perlu dijalin antar sesama manusia untuk kebaikan...



___________


Ensiklopedia :

__ADS_1


Planet kebumian merupakan planet yang sebagian besar tersusun oleh material seperti batu silikat atau logam. Di dalam Tata Surya, planet-planet kebumian berjarak dekat dengan matahari, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.



__ADS_2