
...Ada yang cukup disimpan, ada juga yang harus diungkapkan...
Rembulan setelah kekacauan terjadi, sinarnya begitu terang. Rey sengaja memelankan laju terbangnya, sebab ia masih ingin bersama Debora disini. Gadis itu sejak tadi terlihat begitu nyaman disana.
Rey memperhatikan kota mereka yang hancur. Rensuar tempat mereka tinggal benar-benar kacau. Debora melihat apa yang sedang Rey pikirkan, terlihat jelas disana Rey merasa kesal.
"Salah satu sumber ketidakbahagiaan adalah memikirkan sesuatu dengan cara yang berlebihan. Dan itulah dirimu, Rey!"
Sebuah ucapan kembali dilontarkan untuknya. Hal itu membuat Rey terkekeh.
"Aku tidak memikirkan apapun!" Ucap Rey.
"Baiklah, aku lelah Rey! Bisakah kau percepat laju terbangnya?"
"Perkataan ketua tim adalah prioritas untukku!"
Rey memfokuskan kembali mananya pada satu titik. Satu kepakan sayapnya membawanya melesat bagai kilatan petir. Detik kemudian tubuh mereka telah sampai di depan markas.
"Kita sampai!" Ucap Rey riang. Ketika Debora hendak turun, Rey menahannya.
"Berikan kuncinya, aku tidak akan menurunkanmu!"
"Kita sudah sampai, turunkan aku Rey!"
"Tidak, akan ku antar kau masuk. Lalu ku turunkan kau tepat didepan pintu kamarmu."
Debora menghela nafas mendengar apa yang Rey katakan. Tangannya bergerak mengambil sesuatu dari dalam domain.
Syuthhhh
Sebuah kunci itu muncul tepat di atas telapak tangannya. Debora mengarahkan kunci itu ke arah kotak surat, disana terdapat lubang kunci.
Klekkkkk
Suara itu membuat markas mereka perlahan mulai nampak. Debora mencabut kembali kunci itu, bersama dengan Rey keduanya pun masuk ke dalam markas mereka.
Rey tersenyum, sekalipun kekacauan telah terjadi. Kembali pulang ke markas adalah hal yang paling ia rindukan. Segala kekonyolan, kasih sayang, juga kekeluargaan didalam sini tidak akan pernah mampu Rey lupakan.
"Aku senang sekali Debora, bisa kembali kemari!"Ucap Rey pada Debora.
"Kembalilah lebih cepat seharusnya! Kau terlalu lama dengan misi bunuh dirimu disana."
"Kau masih kesal padaku?"
"Tentu saja!"
"Sepertinya aku tidak akan dimaafkan dengan mudah ya?"
Debora hanya diam mendengar itu. Rey paham betapa kesalnya gadis ini padanya, terlebih lagi Debora adalah gadis yang begitu mencintainya.
Rey tak ingin berucap lagi rasanya. Sebab ia paham, Debora baru saja pulih. Memulai perdebatan dengannya mungkin akan mengacaukan kondisinya. Tidak, Rey tidak setega itu padanya.
"Yeay, kita sampai!" Ucap Rey menurunkan Debora.
Mereka telah sampai tepat didepan kamar milik Debora. Disana Rey masih tersenyum ke arahnya, Debora hanya menatapnya dengan tatapan biasa.
__ADS_1
"Selamat datang kembali, Rey Arlert!" Ucap Debora.
"Terima kasih, aku akan pergi tidur! Kau istirahatlah, tubuhmu butuh pemulihan."
Rey berucap sambil mengusap pelan puncak kepala Debora. Hal itu membuat Debora sedikit terkejut, namun tetap membiarkan telapak tangan Rey berada tepat di atas kepalanya.
"Aku tidur dulu, kucing putih! Selamat malam!" Ucap Rey menarik kembali tangannya lalu melambai ke arah Debora.
Ketika Rey berbalik berjalan menjauhinya. Debora kembali menyapanya.
"Rey.." Lirih Debora.
"Ya?" Rey berhenti ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Debora.
"Aku senang kau pulang!"
Ucapan itu pernah Debora katakan padanya beberapa kali. Rasanya masih tetap sama, hangat tiap kali ia mengucapkan. Hatinya seperti dihujani ribuan bunga rasanya.
Rey hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia kembali menaiki anak tangga, menuju kamarnya. Debora membuka pintu kamarnya, berapa terkejutnya ia melihat Riley yang masih terjaga.
Riley berdiri tepat didepan pintu sambil melipat kedua tangannya.
"Aku senang kau pulang? Mesra sekali kau ini hahaha..." Ejek Riley padanya.
Debora bersemu ketika Riley kembali mengulang kalimat yang ia ucapkan pada Rey.
"Diamlah Riley!" Ucap Debora berusaha menutupi rona merahnya.
Riley menjatuhkan tubuhnya tepat di atas ranjang. Telapak tangannya terangkat, kedua bola matanya menatap tepat ke arah langit-langit kamar.
"Debora, kenapa kau tidak mengatakan padanya bahwa kau juga sangat mencintainya?"
Pertanyaan itu selalu mengganggu pikiran Riley memang. Riley dan Justice sudah sejak dulu memperhatikan kedekatan Debora dan Rey. Mereka paham, bahwa keduanya saling mencintai.
Namun mereka tidak pernah mengerti, mengapa pemilik kedua surai putih ini sama sekali tak menyampaikan perasaan mereka.
Debora yang membuka lemari baju itu terdiam. Ia menunduk, memang ada sesuatu yang membuatnya tetap bungkam. Alasannya adalah dunia yang kacau ini.
"Apakah aku tidak akan mendapat jawaban atas pertanyaanku?" Tanya Riley lagi.
Debora memakai piyamanya, lalu menghampiri ranjang. Tunggu, ada sesuatu yang kurang disini. Debora sama sekali tidak melihat keberadaan Syena disana.
"Syena dimana?" Tanya Debora pada Riley.
"Syena bilang ia ingin tidur dilantai lima. Sudah jangan merubah topik pembicaraan, katakan apa alasannya kau tidak mengatakan perasaanmu padanya?"
Debora menghela nafas mendengar pertanyaan sama kembali diberikan untuknya.
"Memangnya, Rey mencintaiku? Tidak bukan, dia saja tidak pernah mengatakannya padaku." Ucap Debora berbaring lalu menarik selimutnya.
"Dia mengatakannya!" Ucap Riley.
"Benarkah?" Tanya Debora padanya.
__ADS_1
"Benar!"
"Buktinya?"
Riley tersenyum mendengar apa yang Debora inginkan. Bukankah selama ini sudah banyak bukti, untuk menunjukkan betapa Rey sangat mencintainya.
"Debora... Kau tau ketika kau mentransfer kemampuan padanya. Ketika kau pingsan tak sadarkan diri, Arlert itu tetap menemanimu disana. Dia bilang, aku akan tetap disini bersama kucing putih. Dia enggan meninggalkan dirimu walau hanya sedetik saja. Apakah itu tak cukup membuktikan bahwa dia mencintaimu?"
"Hanya perasaanmu saja itu Riley! Rey dia hanya menganggapku sebagai seorang teman."
Riley berdecak kesal mendengar segala penyangkalan dari mulut Debora. Ada apa dengan rekannya ini, padahal sudah jelas-jelas perasaan mereka saling terjawab. Tapi ini, mengapa harus ada penyangkalan dalam perasaan mereka.
"Bodohnya, kau ini pandai merancang strategi. Namun untuk urusan hati, kau benar-benar dungu."
Untuk pertama kalinya, Riley berucap kasar untuknya. Debora dibuat terperangah rasanya ketika mendengar kalimat-kalimat Riley yang menghujat.
"Katakan apa yang membuatmu diam dan memendam perasaanmu? Dunia sudah sehancur ini Debora, katakan selagi bisa jangan di pendam. Kita ini bisa mati kapan saja, jadi ungkapkan apa yang ada dalam hatimu sebelum Rey atau dirimu mati."
"Ahhh kau bicara apa aku tak paham..."
Debora meraih bantalnya lalu menutup wajahnya dan berguling ke samping membelakangi Riley yang masih penasaran disana.
"Dasar gadis dungu! Katakan!" Ucap Riley berusaha menguak jawaban.
Pada akhirnya Debora dibuat menyerah olehnya. Sebab tiap ucapan Riley semakin tinggi intonasinya. Debora tidak ingin seluruh rekannya yang sedang beristirahat damai disana ikut terbangun.
Debora membalikkan tubuhnya lagi ke arah Riley lalu tersenyum.
"Baiklah akan ku katakan alasannya!" Ucap Debora.
Riley dengan senang hati mencoba mendengarkan itu. Ia duduk sambil menatap lekat ke arah Debora. Penasaran yang melanda hatinya ini harus dibereskan sekarang.
"Riley, aku tidak akan mengatakan bahwa aku mencintainya apabila dunia masih seperti ini. Kau tau, kehilangan itu berat sekali rasanya Riley. Aku tidak mau ketika kami menghabiskan deruh nafas kami dengan status pasangan. Lalu, takdir atau sesuatu mengambil salah satu dari kami. Kebahagian yang di ukir bersama akan sangat sakit ketika salah satu pengukirnya hilang. Jadi biarlah kita menjadi seorang rekan atau teman saat ini. Jika memang Rey mencintaiku, dia akan mengatakannya padaku. Jika selama ini dia diam, namun perlakuannya manis terhadapku. Mungkin alasannya juga sama sepertiku."
Sebuah penjelasan panjang lebar namun menyentuh itu membuat Debora lega juga kesal rasanya. Sungguh kedua rekannya ini adalah orang-orang yang rumit.
"Kalian rumit, padahal cinta itu sederhana!" Ujar Riley.
"Cinta itu sederhana, hanya saja keadaan kadang memaksa kita untuk tetap bungkam dan memendamnya. Aku mencintai Rey, sama seperti kau mencintai Justice. Jadi rahasiakan ini antara kita saja, jangan biarkan orang-orang tau soal ini."
"Ah tentu saja!"
"Sebentar lagi pagi, tapi aku masih belum beristirahat!"
Pekik Debora kembali menarik selimutnya.
"Paman Axcel bilang selama satu minggu. Kastil tempat kita belajar tidak akan dibuka."
"Kenapa?" Tanya Debora penasaran.
"Kita diliburkan selama satu minggu. Tanpa misi, lebih baik kita habiskan hari-hari itu dengan beristirahat saja."
Ujar Riley berbaring lalu menarik selimutnya. Debora tersenyum melihat itu, ia pun juga menarik kembali selimutnya lalu tertidur pulas.
...Terkadang memendam adalah pilihan satu-satunya agar semua terlihat baik-baik saja...
__ADS_1