Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
(Ekstra Chapter) Hallowen Momen


__ADS_3

Sebuah ruangan megah sudah disewa untuk beberapa Muskeeters yang akan merayakan satu acara di dalamnya. Sebuah acara kesenangan pelepas stres tentunya.


Para tamu akan berdatangan dengan berbagai macam kostum horor terbaik mereka. Gedung yang tadinya sepi itu perlahan mulai berdatangan manusianya. Mereka masuk beraneka ragam rupanya.


Beberapa ada yang memakai kostum drakula. Ada pula yang memakai kostum Slynderman. Beberapa anak-anak mulai berlarian. Kesana kemari ketika musik mulai diputar.


Acara ini adalah acara yang diadakan oleh Elvas. Sebab bertepatan dengan Hallowen. Elvas juga merayakan hari jadi pernikahannya bersama dengan Aum di sini.


Nampak kedua pasangan itu sedang bercengkerama dan menyambut para tamu. Hingga tibalah Syena datang pada Aum saat ini. Mereka tersenyum saling menyapa lalu memeluk satu sama lain.


"Hei Aum!" panggil Syena senang sambil mengusap-usap punggung sahabat baiknya itu.


"Syen... Apa kabarmu? Aku merindukanmu sungguh! Sepertinya ini sudah cukup lama bagi kita tidak bercengkrama dan bertemu ya!" jawab Aum padanya membalas pelukannya.


Syena melepaskan pelukan itu sambil masih tersenyum menatapnya.


"Iya, kita sudah sibuk masing-masing saat ini. Kau juga sudah merasakan bukan? Bagaimana repotnya mengurus anak dan rumah!" ucap Syena padanya.


Keduanya terkekeh setelah itu. Mereka kembali bercengkrama perihal topik apapun. Dua sahabat ini lama tidak bertemu memang sejak mereka menikah.


Terlihat Elvas di samping Aum beberapa kali celingukan. Mata itu seperti sedang mencari sesuatu. Mikhail yang kebetulan ada dihadapannya pun paham apa yang sedang Elvas cari saat ini.


"Kau mencari Rey, ya?" tanya Mikhail padanya.


Elvas tertegun mendengar itu. Rupanya Mikhail paham apa yang sedang ia cari. Elvas menatap tepat pada Mikhail yang berdiri di hadapannya.


"Ya, aku mencarinya! Di mana dia?" tanya Elvas padanya.


Mikhail hanya menggeleng kecil sambil tersenyum. Terbesit satu argumen dalam hatinya saat ini.


Apakah pemuda ini masih menyimpan perasaan pada Debora? Jika iya, maka Aum hanyalah pelampiasan. Sungguh kasihan sekali!. Ucap Mikhail lirih dalam hatinya.


"Kau seperti tidak mengenal Rey saja. Dia akan datang terlambat tentunya. Tapi dia pantang menolak ajakan temannya. Yakinlah, dia pasti datang sesulit apapun keadaannya!" ujar Mikhail sambil menepuk bahu Elvas.


Elvas mengangguki itu. Tak lama Mikhail pun menatap istrinya.


"Sayang, aku ke sana dulu ya!" ucap Mikhail pada Syena sambil menunjuk ke arah penyaji minuman.


Syena menoleh sekilas ke arah tempat yang Mikhail tunjuk. Sebuah anggukan Syena berikan padanya. Mikhail pun berjalan ke arah itu itu meninggalkan Syena dan Aum yang masih asyik bercengkrama.


Sementara itu di tempat lain nampak Debora sedang berias di depan cerminnya. Dress berwarna merah itu sudah melekat di tubuhnya. Tubuh itu begitu menawan. Bahkan mungkin para gadis akan rela mati demi mendapatkan tubuh seindah itu.


Riasan horor khas Halloween juga sudah ia buat. Ketika ujung lipstik itu selesai menyapu bibirnya, Debora pun tersenyum. Ia meletakkan lipstiknya kembali masuk ke dalam tempatnya.


Surainya ia sibuk ke samping. Ceruk leher sampingnya terekspos tak tertutupi Surai. Rey baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Wangi tubuhnya membuat Debora menatapnya dari pantulan kaca.


Rey berdiri di sana hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan di bawahnya. Tak lupa handuk kecil juga ia kalungkan di lehernya. Rey yang berdiri pun mulai berjalan mendekati Debora.


"Sayang..." lirih Rey pada Debora.


Dia sedang mencari sesuatu mondar-mandir di samping Debora.


"Iya?" tanya Debora padanya.

__ADS_1


"Di mana pakaianku?" tanya Rey padanya.


"Aku meletakkannya di lemari baju di gantungannya. Ambil sendiri, ya!" jawab Debora padanya.


Rey melirik kecil Debora yang masih memunggunginya. Dari bawah sampai ke atas Rey memperhatikan penampilan istrinya.


Sial! Kenapa dia begitu menawan malam ini? Balutan pakaian semacam itu membuatku bergairah saja rasanya. Ah... Sepertinya aku harus melakukannya sebentar!. Pikir Rey sambil tersenyum mesum ke arah Debora.


Rey berjalan mendekati Debora. Dia berdiri tepat di sampingnya. Lalu Rey menyerahkan handuk kecil yang melilit di lehernya pada Debora.


Debora yang masih bercermin pun menoleh ke samping ke arah Suaminya. Ia menaikkan satu alisnya melihat Rey menyodorkan itu padanya.


"Apa?" tanya Debora padanya.


"Sayang, tolong keringkan rambutku!" pinta Rey sambil menatapnya penuh harap.


Debora tidak menolak itu. Ia mengangguk lalu meraih handuk itu dari tangan Rey.


"Menunduklah Rey, aku tidak bisa mencapainya!" ucap Debora padanya.


"Dasar pendek!" ejek Rey padanya bercanda.


Debora membulatkan matanya mendengar itu. Suaminya ini benar-benar mengesalkan.


"Bagaimanapun bentuknya aku! Kau pada akhirnya juga memilihku! Itu berarti tandanya kau jatuh juga pada pesonaku ini, kan?" ucap Debora membela dirinya sendiri.


"Hahahaha... Dasar!" jawab Rey lalu mengangkat tubuh Debora.


"Kalau begini kau masih mampu bukan?" tanya Rey pada Debora yang saat ini gendong menghadap ke arahnya.


Berapa lama pun mereka bersama. Namun tetap saja ketika Rey memperlakukannya semanis ini. Debora akan tetap bersemu.


"Keringkan sayang!" ucap Rey padanya.


"Iya... Iya... Ini aku keringkan!" jawab Debora.


Kedua tangannya mulai sibuk mengeringkan Surai Rey. Rey membawa Debora untuk duduk di sisi kasur. Wanita itu duduk di pangkuan Rey. Tubuhnya masih menghadap ke arah Rey. Dan dia sedang sibuk mengeringkan Surai Rey.


Beberapa menit setelahnya Debora pun selesai dengan tugasnya. Debora meletakkan handuk itu di samping Rey. Sebelum beranjak Debora mencubit gemas wajah suaminya itu lalu tersenyum.


"Sudah ya!" jawab Debora padanya.


Namun ketika ia akan beranjak. Rey menahannya, membiarkan tubuh itu tetap duduk di sana sambil menghadapnya.


"Apalagi?" tanya Debora pada Rey.


Rey tidak menjawab itu. Tangan kanannya ia gunakan untuk meraih kepala Debora semakin mendekat padanya. Rey menyatukan keningnya dengan Deboranya.


"Hei sayang! Malam ini kau begitu menawan. Aku ingin dirimu sebentar saja boleh?" tanya Rey lirih pada Debora.


Ditanya semacam itu seketika membuat jantung Debora berdetak semakin kencang. Rey memperhatikan itu, wanitanya itu bersemu. Padahal Rey susah sering melakukannya. Tapi tetap saja, Debora masih bersikap semacam ini jika dia memintanya.


Namun satu hal yang Rey tau bahwa Debora tidak akan menolak pintanya. Wanitanya itu akan membiarkannya memeluknya, menyentuhnya di mana pun beradanya.

__ADS_1


"Boleh, ya?" tanya Rey padanya lagi.


"Sayang, kau bisa lakukan itu nanti! Sekarang kita ke pesta dulu, ya! Mereka pasti sedang menunggu kita untuk datang. Ken, Vinora dan Vince juga pasti sedang menunggu kita di ruang tamu!" jawab Debora mengingatkan.


Namun Rey tidak peduli itu. Dia pun langsung saja mencium lembut bibir itu. Perlahan memancing gairah istrinya. Cumbuan panjang itu membuat keduanya lupa akan waktu.


Sentuhan demi sentuhan membuat Debora terbuai rasanya. Ritual ranjang dilakukan sebentar oleh keduanya untuk beberapa saat.


Beberapa menit kemudian suara ketukan pintu membuat keduanya terkejut. Mereka yang masih terengah-engah di sana sontak menoleh ke arah pintu. Rey segera berjalan ke arah kamar mandi.


Sedangkan Debora, dia merapikan bajunya yang berantakan akibat ulah Rey. Setelah yakin sudah cukup rapi, barulah Debora berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Mommy, kenapa lama sekali? Acaranya sudah berjalan dan kita belum berangkat?" tanya Vinora kepada Debora ketika pintu kamar dibuka.


"Ah iya, kalian tunggu saja di bawah ya! Daddy sedang buang air besar," jawab Debora pada Anak-anaknya.


"Daddy memang selalu tidak tepat waktu!" ujar Ken yang berdiri di belakang kedua adik kembarnya.


Debora tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Ken, ajak mereka masuk lebih dulu ke mobil ya!" ucap Debora pada Putra sulungnya, Ken.


"Baiklah, Mommy!" jawab Ken langsung menyentuh kedua bahu adiknya.


"Ayo, Vince dan Vinora! Mari kita masuk ke dalam mobil. Sebentar lagi kita akan berangkat!" ajak Vince kepada kedua adiknya.


Kedua anak kembar itu mengangguk. Mereka pun mengikuti Ken turun ke bawah. Setelah ketiga anaknya sudah turun ke bawah. Debora pun menghampiri Rey yang saat ini sedang berpakaian.


Debora berdiri di belakang Rey saat ini memperhatikannya yang sedang berias. Dari pantulan kaca Rey tersenyum padanya.


"Ada apa Sayang?" tanya Rey padanya.


Debora hanya menggeleng kecil. Debora melipat tangannya di dada. Sambil menatap Rey dari pantulan kaca. Telunjuknya mengarah ke arah jam tangan yang ia kenakan.


"Pak Arlert! Kau sudah terlambat setengah jam. Dan ini, belum perjalanannya. Jam berapa kita kira-kira nanti sampai ke sana?" tanya Debora padanya.


Rey pun hanya tersenyum mendengar itu. Dia pun membalikkan tubuhnya ke arah Debora. Lalu Rey menunduk mencoba menyamai tinggi istrinya itu. Ketika wajah mereka bertemu Rey pun mengecup keningnya.


"Terima kasih, Debora! Aku mencintaimu!" ucap Rey padanya lembut.


"Hmm..." jawab Debora padanya.


"Sayang, kenapa responmu hanya itu?" tanya Rey kesal sambil menjauhkan tubuhnya.


"Karena jika aku balik menciummu. Kau nanti akan melakukannya lagi!" jawab Debora jujur.


Rey tertawa seketika mendengar itu. Gemas dengan jawaban itu, ia pun mencubit kedua pipi Debora.


"Hmmm... Hentikan Arlert!" ucap Debora merengek.


"Ya sudah ayo kita pergi!" ucap Rey padanya. Debora pun mengangguk mantap.


Rey menggenggam tangan kanan Debora. Lalu mereka berdua keluar dari dalam kamar itu. Sudah saatnya bagi mereka untuk bersenang-senang. Pesta Halloween sudah sejak tadi menunggu mereka.

__ADS_1


__ADS_2