
Di garda belakang, Debora dan Mikhail masih berusaha melawan Rauw di sini. Axcel juga terlihat antusias melawan makhluk itu. Cukup sulit bagi Debora dan Mikhail saat melawannya.
Sebab mereka tidak boleh melihat langsung ke arah Rauw. Karena sihirnya nanti akan menjadi pelemah para Muskeeters. Mereka bertarung sambil menunduk memperhatikan gerakan kaki Rauw.
Rauw yang dibuat kesulitan di sini hanya mengeram dan menggerutu kesal. Beberapa kali ia melirik ke arah Barsh di sana. Barsh juga tidak mampu beranjak ke arahnya untuk saat ini. Sebab Justice dan Elvas masih menyerangnya.
"Sial sekali kalian ya!" ucap Rauw sambil menangkis seluruh serangan yang ia dapatkan.
"Kenapa Rauw? Jika kau hanya menangkis ini, kau akan lenyap sama seperti saudaramu yang lain!" ujar Axcel sambil berseringai kepada Rauw.
Rauw menggertakan giginya mendengar itu. Amarahnya semakin memuncak, sampai pada akhirnya ketika emosi itu tersulut ia mulai melancarkan serangannya.
Axcel tersenyum senang melihat itu. Tak segan rasanya ia melayani hasrat membunuh yang ada dalam diri Rauw. Pertarungan dengan Rauw membuatnya begitu senang.
Axcel juga mengerahkan seluruh kemampuannya melawannya tanpa ampun, memberinya balasan secara beruntun.
"Bagus!" lirih Debora mundur ke belakang Mikhail.
"Kau akan apa Debora?" tanya Mikhail kepada Debora yang ada di belakang tubuhnya.
"Fokus Mikha!" jawab Debora kemudian ia menempatkan telapak tangannya di punggung Mikhail.
Sulur cahaya miliknya menyatu dengan sihir pertahanan. Sama seperti Rey saat itu, Debora saat ini memberinya gambaran penyerangan yang bagus. Sebuah gambaran penyerangan untuk mengalahkan Braun.
Mikhail berseringai melihat seluruh tatanan taktik yang begitu cerdas itu. Ketika Axcel sibuk melawannya, sulur-sulur itu menjalar dari dalam tanah ke arah tempat mereka bertarung.
Debora mengincar kaki Braun di sini. Membuat makhluk itu diam adalah rencananya. Ia ingin Braun tertangkap, lalu Axcel mampu menyerangnya setelah itu.
"Ayo kerahkan seluruh kemampuan Braun!" ujar Axcel di sela-sela serangannya.
Merasa semakin tertantang, Braun pun mengerahkan seluruh kekuatannya. Namun dia menyerang dengan emosinya, bukan dengan taktik.
Sehingga ketika serangan itu akan ia arahkan pada Axcel. Debora sudah mampu melilit kakinya. Hal itu membuat Braun terkejut, tatkala tubuhnya tak mampu di gerakan.
"Bedebah kalian!!!" teriak Braun kepada Debora dan Mikhail yang berdiri agak jauh dari mereka.
"Kau licik, itulah mengapa kami pun juga harus memainkan siasat licik!" jawab Debora dengan senyumannya.
Braun berusaha berontak membebaskan diri. Namun ketika Axcel semakin mendekat ke arahnya, tiap kemampuan yang ia kerahkan perlahan susut.
Itu adalah sebab sihir pertahanan dari Mikhail yang masih melindungi mereka di dalam kubah sihirnya. Braun sedikit memekik, lilitan itu semakin kuat rasanya dan dia semakin melemah. Regenerasi miliknya melambat, bahkan terlihat Barsh jauh di sana masih berusaha mencapainya.
"Aniki, sepertinya ini waktuku!" lirih Braun dalam hatinya.
__ADS_1
Barsh mendengar apa yang Braun katakan. Sial, dia tidak pernah menyangka pertempuran terakhir akan seberat ini. Ia kehilangan seluruh saudaranya dalam pertempuran ini. Pertempuran melawan umat manusia.
"Kau biadab, tidak memiliki belas kasih! Mengapa harus ada pembantaian di bumi ini, hah?" tanya Axcel yang sudah berada tepat di hadapan Braun kali ini.
Axcel menodongkan pedang miliknya ke arah Braun sambil bertanya. Sedangkan Braun hanya menatap Axcel dengan tatapan datar tanpa ekspresi apapun. Ia juga berseringai.
Dalam wajahnya sama sekali tak ada penyesalan. Dan hal itu, tentu saja membuat Axcel sangat muak. Genangan darah banyak menghiasi bumi, dan makhluk kotor ini masih saja tersenyum.
Iblis tak berhati itu adalah ungkapan yang benar. Axcel menguatkan genggaman tangannya pada pedangnya. Mengangkat pedangnya, lalu menebas leher iblis itu.
"Braun!!!" teriak Barsh padanya.
Kepala iblis itu terpotong, terpenggal dan jatuh begitu saja di atas tanah. Melihat itu Barsh semakin murka rasanya. Dengan sekuat tenaga ia membalikkan keadaan, membuat Justice dan Elvas tersudut.
Melihat itu Debora, Axcel dan Mikhail pun ikut serta membantunya. Barsh adalah yang petinggi yang paling kuat di sini.
Kekalahan Braun di sana membawa dampak bagus untuk Rey. Ia berhasil menarik iblis seratus juta jiwa itu masuk ke dalam domain.
Rey menancapkan ribuan pedang itu ke dalam tubuh Iblis seratus juta jiwa. Sebuah pedang biasa dari dalam domain Sekuat tenaga, Iblis itu mencoba keluar dari dalam domain dan hal itu berhasil. Ia berhasil keluar dari dalam domain Rey.
Syena yang kehabisan tenaga terpental begitu saja. Tubuhnya terhempas ke bawah menatap pohon besar. Seketika hal itu membuatnya terbatuk darah. Ini sudah di luar kemampuannya, namun Syena masih berusaha bangkit dengan ramuan yang Mikhail berikan.
"Aku berhasil keluar Rey, kau akan mati di tanganku!" teriak Iblis seratus juta jiwa kegirangan.
"Ilmu pedang semesta!" pekik Rey sambil berusaha bangkit.
Sebuah suar cahaya menyatu antara dirinya dan iblis seratus juta jiwa. Hal itu membuat Iblis seratus juta jiwa begitu terkejut.
Rupanya saat dalam domain, Rey menembakkan seluruh pedang itu dengan kekuatan ketiga Baron. Sehingga ketika pedang-pedang itu masuk ke dalam tubuh Iblis, kekuatan itu akan saling tarik menarik.
"Bedebah sialan!!!" teriak iblis seratus juta jiwa.
Perlahan para guardian mulai tertarik keluar. Iblis seratus juta jiwa mencoba melawan itu, pertarungan setengah mati dengan Rey juga membuat tubuhnya melemah lambat laun.
"Tidak akan kubiarkan kau menang!!!" teriak keduanya saling tarik menarik.
Syena tertatih mencoba bangkit. Namun tubuhnya terlalu sakit untuk bangkit. Luka-luka itu regenerasi nya tidak secepat milik Rey. Sambil memegangi area perutnya yang terluka, Syena berteriak kepada Rey di sana.
"Habisi dia kakak! Dialah yang alasan mengapa kita sengsara saat ini! Kakak, habisi dia! Jangan ampuni dia, sebab banyak nyawa yang melayang sia-sia atas ulahnya!!!" teriak Syena sambil terbatuk-batuk.
Mendengar itu semangat Rey semakin bertambah. Benar apa kata Syena, seharusnya mereka tidak ada di sini saat ini. Seharusnya saat ini mungkin mereka masih bersama dengan susternya. Lalu Rey bekerja di suatu tempat membantu pengeluaran panti asuhan.
Gambaran akan susternya yang tewas saat itu terlintas. Kebenciannya kepada iblis ini sampai pada ujung kepalanya, amarah itu menambah kekuatannya semakin besar.
__ADS_1
Iblis itu terkejut melihat kekuatan sebesar itu ada di hadapannya. Namun ia juga ingat bahwa, Barsh masih belum mati. Terbesit pikiran dalam kepalanya, bahwa setelah seluruh guardian tertarik keluar. Dia akan mengurung dirinya dengan Rey berdua.
Ilmu sihir pembatas, di mana ketika itu di aktifkan. Pengguna dapat menghendaki area mana yang akan ia gunakan untuk bertempur. Lalu membentuk satu kubah yang hanya mampu di masuki oleh dirinya dan lawannya.
Tak ada manusia yang mampu masuk ke dalam. Kecuali dirinya dan Rey nanti bahkan para guardian sekalipun.
Keduanya berteriak kencang memaksimalkan kekuatannya. Hingga pada puncaknya Rey berhasil menarik keluar ketiga Guardian itu. Bersamaan dengan itu, di sana Barsh juga berhasil dikalahkan.
Hal itu membuat Syena di sana kehilangan kesadarannya. Iblis kutukan itu sudah hilang di matanya, ia sudah tidak memiliki kekuatan untuk bertempur lagi sekarang.
Salah seorang Muskeeters yang melihat itu pun langsung menghampiri Syena. Membawanya mundur bersamanya. Syena adalah komandan pasukan, melihat komandan mereka terkulai tak berdaya membuat mereka antusias membawanya pergi ke tempat yang aman.
Merasakan salah satu iblis petingginya kalah. Iblis seratus juta jiwa semakin murka. Ia menggerakan kedua tangannya ke atas, membentuk pembatas itu.
Harith beserta kedua guardian yang baru saja bebas, terkejut melihat itu. Mereka berteriak kepada Rey yang berdiri di sana sambil memegangi pedangnya.
"Keluar Rey, larilah!!!" teriak Harith.
Ia segera terbang ke arah Rey namun rupanya kekuatan iblis itu jauh lebih cepat dibandingkan dirinya. Ketika Harith hampir sampai di sana. Dekat itu membuatnya tak mampu mendekati Rey.
"Sekarang, hanya tinggal aku dan kau saja Rey! Tidak akan ku ampuni kau!" geram iblis seratus juta jiwa.
Ketiga Baron dalam domain masih berusaha mengumpulkan mana mereka. Ini keterlaluan sekali, penggunaan mana milik mereka terkuras drastis.
"Dandelion!" lirih Rey kepada sisi lain Baronnya.
Panggilan itu membuat ketiga Baron yang fokus terkejut. Namun mereka masih berusaha fokus di sini. Dandelion hanya diam mendengar itu, ia tau apa yang akan Rey minta di sini.
"Berikan kesempatan terakhir itu padaku!" ucap Rey.
Benar, lagi-lagi permintaan gila itu. Mendengar itu Dandelion hanya memejamkan kedua matanya lalu membuang kasar nafasnya.
"Jika kau ingin meminjam tubuhku, maka akan kuberikan itu! Tapi, setelah kau memakainya, kau akan mati Rey!" ujar Dandelion memperingatkan.
"Menurutmu untuk apa Rey Arlert hidup di sini? Untuk mereka! Jika matiku tidak menghasilkan apapun di bumi, maka perjuanganku selama ini sia-sia. Maka aku tidak peduli lagi pada umurku, berikan, akan kubebaskan mereka! Berikan, dan kembalilah pulang bersama para guardianmu!" ucap Rey.
Ucapan itu membuat Dandelion tersentuh. Perlahan ia mulai memberikan itu kepada Rey. Tubuhnya saat ini adalah tubuh Dandelion. Tubuh yang tidak akan mengenal rasa sakit.
Ketiga Baron dalam domain meneteskan air matanya. Mereka kagum, sebab Rey sama sekali tidak takut pada kematian. Bahkan ia rela menyerahkan dirinya sendiri pada kematian.
Clashhhhhhh
Iblis seratus juta jiwa terkejut melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Rey kembali bugar seperti sedia kala. Tatapannya semakin benci saja kepada Rey saat ini.
__ADS_1
"Sudah cukup bermain-mainnya!" ucap Rey kepada Iblis seratus juta jiwa.