Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Hening dan Riuh


__ADS_3

...Tidak peduli seberapa baru sebuah ide...


...Yang penting adalah seberapa baru ide tersebut akan menjadi kenyataan...


...Sukses hanya berakhir dengan tepuk tangan,...


...dia tuli untuk yang lainnya...



__________


Aura gelap dalam tebing-tebing curam itu menusuk, terlihat disana Syena bersama dengan Barsh berjalan diantara apitan tebing-tebing tinggi. Berbekal dengan sihir cahaya milik Syena mereka masuk semakin dalam menyusuri tebing-tebing itu. Suhu di Alaska sangat dingin, hangatnya sinar mentari sama sekali tak pernah masuk kemari, bahkan cahaya rembulan yang indah pun tak pernah menampakan dirinya diatas langit-langit Alaska.


Ada satu tujuan yang membawa mereka kemari, tujuan itu berhubungan dengan rencana penghancuran beberapa tahun yang akan datang, itu sebentar lagi.


Deppppp



Barsh berhenti tepat dihadapan rimbunan pohon besar, jalan mereka tertutup pohon itu. Dari balik pohon itu terdengar suara-suara aneh, suara iblis di Alaska tidak semengerikan itu. Bahkan Syena yang sudah terbiasa tinggal juga mendengarkan suara-suara mereka, kali ini dibuat gemetar.


"Sebenarnya ada perihal apa kita kemari?"


Tanya Syena penasaran, namun Barsh mengacuhkannya ia menggerakan tangan kanannya membentuk sebuah portal berbentuk lingkaran.


"Untuk apa kita kemari, kau akan mengetahuinya?"


Syuthhhhhh


Usai mengatakan itu, Barsh mendahului Syena masuk kedalam portal itu. Tak ada pilihan lain rasanya, Syena pun mengekori Barsh, ikut masuk kedalam portal itu.



Disana suasana terlihat seperti Neraka, bau anyir darah itu menguar dimana-mana. Di atas mereka ada sesuatu, itu besar sekali, berlendir seakan menjadi langit-langit tempat ini. Itu seperti sebuah kubah, terbuat dari kulit manusia yang membiru, busuk. Dari dalam kubah-kubah itu terdengar bunyi teriakan bersaut-sautan.


Syena menundukkan kepalanya sambil berjalan, rupanya pijakan tempatnya berjalan selama ini berceceran potongan daging manusia, jari-jari mereka berserakan dibawah sana. Tak kuasa rasanya netranya melihat hal itu, ia memilih berpura-pura buta, lalu kembali menatap ke depan.



Hatinya bergetar rasanya, ingin segera kabur dari sini. Namun hal itu masih saja melekat, ketidakmampuannya untuk memilih dan memutuskan selalu menentang logikanya. Tubuhnya ini, seakan taat sekali pada Barsh juga Iblis seratus juta jiwa, kasarnya, Syena sudah seperti anjing mereka disini. Berjalan sesuai perintah mereka, diberi makan layaknya hewan, diadu dan dilatih cara membunuh. Andai Syena bisa berteriak menyerukan isi hatinya, sungguh ia tak ingin melakukan ini semua.



Tibalah mereka berdiri tepat dihadapan gundukan daging besar sekali, itu berdenyut, tak ada apapun didepan sana kecuali itu. Disana Barsh bersimpuh, melihat itu seakan tubuh Syena bergerak sendiri, bocah itu juga ikut bersimpuh dihadapan daging besar itu.


"Apa itu?" Jerit Syena dari dalam hatinya, sesekali bola matanya melirik ke arah daging itu.


Grrrrrrrrrrrrrr


Syuthhhhhhh


Dari dalam daging itu keluar sesuatu, perlahan daging itu membentuk satu wujud. Wujud itu berbentuk manusia.


"Ahhhhhh, rasanya seperti dilahirkan kembali!"



Seorang bocah laki-laki baru saja keluar dari dalam daging besar, sepertinya dirinya adalah bagian dari daging itu. Namun pertanyaan dalam kepala Syena masih sama, daging sebesar itu apa sebenarnya. Lamunannya usai ketika melihat Barsh disampingnya berdiri, disana Barsh mendekati bocah itu, memberi hormat.


"Tuan Akaza!"



Tuan, kalimat itu membuat Syena membulatkan matanya. Kali ini petinggi Alaska yang mana lagi, yang sedang berdiri dihadapannya. Bocah ini, kira-kira berusia sembilan tahun lebih muda daripada Syena.


"Syena!"


Sambil menyambut kedatangan bocah itu, Barsh memanggil nama Syena, itu membuat Syena berdiri kali ini. Disana Barsh mengulurkan tangannya ke arah Syena. Syena meletakkan tangannya tepat diatas telapak tangan Barsh, disana Barsh mencincing sedikit lengan baju Syena menampakkan kulit tangan Syena yang putih, ada banyak bekas gigitan disana.

__ADS_1


"Silahkan!"


Barsh mengatakan itu sambil tersenyum ke arah bocah itu, Syena memejamkan matanya ini sudah entah berapa kalinya darahnya diambil untuk disuguhkan.


"Wahh, segar sekali bau nya!"


Ujar Bocah itu, ia mendekat ke arah Syena membuka mulutnya.


"Happ... mmhhh..."


Bocah itu melahap tangan Syena, taring-taring dari dalam mulutnya itu menusuk dalam kulit tangan Syena. Itu hanya berlangsung beberapa detik, setelahnya Bocah itu menjauh dari Syena, lalu mengusap sedikit bekas darah yang ada disudut bibirnya.


"Suguhan yang nikmat sekali, aku menyukainya!"



Barsh tersenyum mendengar itu, berbeda dengan Syena yang meringis menahan bekas luka akibat gigitan itu.


"Syena, mulai sekarang Tuan Akaza adalah generasi ke lima milik Tuan kita."


Penjelasan itu membuat Syena terhenyak, ada berapa banyak penerusnya disini. Dan mengapa tiap penerus dari Iblis seratus juta jiwa, selalu muncul di tempat-tempat yang mengerikan juga aneh.


Syena sudah diperkenalkan oleh Barsh, sebelum ini mereka juga sudah menemui dua orang generasi Iblis seratus juta jiwa, lalu ini. Tak ingin mencampuri urusan mereka, Syena hanya memberi penghormatan padanya. Bocah bernama Akaza itu tersenyum ke arahnya.


Plakkkkkk


Sayap-sayap dari belakang tubuh Akaza mengepak, sambil tersenyum ia mengepakkan sayapnya terbang di udara sambil memandangi keduanya.


"Aku pergi dulu, Barsh!"


Pamitnya pada Barsh, disitu Barsh mengangguk mengizinkan Akaza pergi.



"Dia generasi penerus?" Rasa penasaran Syena semakin besar kali ini, ia memberanikan dirinya bertanya.


"Ya, tentu saja! Dia lahir dari bagian tubuh Tuan!"


"Jadi, Tuan, memiliki berapa generasi lagi?"


"Hal itu, akan terjawab beberapa Tahun lagi! Bersamaan dengan lengkapnya generasinya, kaum Iblis akan menyerang Benteng Rensuar! Harith pasti akan mati saat kita menyerang nanti."


Syena diam mendengar itu, terpaku rasanya sungguh. Biarpun dirinya ada dikubu ini, tetapi menentang melawan manusia didalam benteng sana bukan keinginan murninya. Sekalipun berjuta penolakan berada dalam hati dan logikanya, tubuhnya tak membiarkan Syena menghindar dari perbuatan keji itu. Tubuhnya terus bergerak maju, melawan siapapun yang berani menentang Alaska.


"Kau sudah cukup berlatih hari ini, mungkin kau bisa berkelana sebentar mengenali Alaska. Menelusurinya lebih dalam lagi! Kau harus menikmati hasil kejayaan kita ini!"


Tawaran itu sama sekali tak mampu mengusir perasaan aneh yang menghinggapinya, namun akan kemanakah dirinya setelah ini. Cukup lelah, jika hanya mengekori Barsh kesana kemari. Syena memutuskan untuk mengangguk, ia akan berjalan-jalan sebentar di area Alaska. Berjalan sendiri diantara belantara kelam Alaska, hanya ada makhluk-makhluk aneh disana bertengger diantara dahan-dahan pohon.


Tak jarang beberapa Iblis kelas menengah menatapnya, mereka mengeluarkan lendir mereka sambil menatap Syena. Mungkin mereka mengenali betapa nikmatnya aroma darah dalam tubuh Syena, tubuh manusianya itu cukup membuat perut Iblis disana berontak. Namun, tak ada satupun sosok yang berani mendekati Syena. Itu karena mereka tau betul, siapakah Syena bagi Tuan mereka. Syena memilih berhenti ketika kakinya mulai letih, ia berhenti bersandar tepat disalah satu pohon raksasa disana.



Syena duduk disana memainkan sihir miliknya dari dalam telapak tangannya, membuat sedikit cahaya disana. Dari dalam cahaya itu Syena merasakan kehangatan, tiap kali matanya menatap aliran sihirnya ia selalu merasakan sesuatu. Seperti pada saat itu, sesuatu semakin nyata hangat merengkuhnya, tiap kali dirinya berhadapan dengan Baron Putih Legendaris itu.


"Rasanya, disini kosong!"


Ujar Syena sembari menyentuh dadanya, bola mata miliknya masih setia menatap pencahayaan dari sihir dihadapannya.


"Apa ini?"


Syena sama sekali tak mampu memahami apa yang sedang memenuhi hatinya saat ini. Bersamaan dengan itu, dari dalam hatinya ia mencoba mencari arti dari segala perasaan itu. Satu kata, yang mewakili kekosongan itu adalah.


"Rindu?"


Syena mengucapkan kalimat itu, kalimat yang entah untuk siapakah rindu itu ditujukan.


_____________


__ADS_1


Beralih ke arah Rey saat ini, dirinya sudah siap. Jubah kebanggaan para Musketeers Elang putih sudah ia kenakan, Rey mengeluarkan Baronnya sejenak. Dihadapan kaca dihadapannya, Rey mengangkat Baronnya. Terlihat dari Justice yang hanya memakai lilitan handuk baru saja keluar dari kamar mandi, dirinya menatap aneh ke arah Rey disana.


"Baron, hari ini adalah hari yang besar! Mari tunjukkan kebolehan kita disana!"


"Ini bukan hanya perlombaan Rey, kau harus menanggapinya secara serius. Kau ingin menyingkat waktu bukan, buktikan dirimu mampu didepan Harith."


Mendengar itu Rey tersenyum, kembali ia menghilangkan Baronnya, mengembalikannya dalam domainnya. Ketika Rey berbalik betapa terkejutnya ia melihat kehadiran Justice, yang bertelanjang membelakanginya itu.


"Hah, kau bugil!"


Pekik Rey, sontak Justice bersemu mendengar itu. Sialan sekali manusia ini, pagi-pagi sudah mengajak ribut saja.


"Maklumi lah, aku sedang mengganti bajuku!"


"Astaga Just, tubuhmu kurang latihan sepertinya!"


Ocehan demi ocehan pagi ini, membuat Justice geram rasanya. Sejenak ia melempar jubahnya asal, masih bertelanjang disana ia menghadap Rey sekarang. Mata penuh kemurkaan itu mencoba mengintimidasi Rey, namun Rey hanya tersenyum melihat itu. Sepertinya pertikaian kecil akan mereka mulai lagi pagi ini.



**Brukkkkkkk


Brukkkkkkk**


Suara pertikaian mereka terdengar jelas dari bawah, dimana disana Mikhail didapur sedang menyeduh teh nya. Riley sedang bersiap, ia mengenakan sepatunya, sementara Debora menikmati Lemon tea nya diatas meja.


Suara itu membuat ketiganya saling menatap, seakan bertanya ada apa itu. Mikhail yang penasaran pun membawa teh miliknya bersamanya, menuju ke lantai atas mencoba memeriksa, suara apakah pagi ini yang mengganggu mereka. Debora dan Riley mengikuti Mikhail dari belakang, rupanya suara itu berasal dari kamar mereka bertiga, Mikhail, Rey dan Justice.


Brakkkkkkk



"Hahhhhhh!!!"


"Aaaaaaaaa!!!"


Justice yang masih telanjang itu tercengang, tatkala mendengar suara teriakan dari dua orang gadis diambang pintu. Astaga, pusakanya tanpa pelindung pagi ini, dan dia telanjang dihadapan dua orang gadis, betapa malunya ia saat ini. Justice meraih cepat jubah miliknya yang ia buang kelantai lalu menutupi tubuhnya saat itu juga.


"Kalian, berdua sedang apa?" Ucap Mikhail murka.


Rey disana tersenyum, sambil merangkul Justice yang membelakanginya sebuah ide licik dari dalam kepalanya terlintas.


"Ini masalah keluarga, biasa, Justice malu saat ku sentuh, jadi mungkin sedikit paksaan pagi ini cukup. Honeymoon kita jadi terganggu karenamu, sungguh!"


Ucap Rey pada Mikhail, penjelasan itu semakin membakar Justice rasanya. Riley dan Debora membuka matanya, mereka tersenyum melihat kekonyolan kedua rekannya itu.


"Sudahlah, waktunya berangkat! Rey, Mikhail baru saja memasakkan sesuatu. Mari kita makan!"


Ujar Riley, disana Rey mengangguk. Mikhail turun kembali ke meja makan kali ini, diikuti dengan Riley. Lalu Rey bersama Debora diambang pintu turun bersama, menuju meja makan.


...Proses menulis memiliki sesuatu yang tak terbatas...


...Meskipun terputus setiap malam, itu adalah satu notasi tunggal...


...Saat Anda menuliskan hidup Anda, setiap halaman harus berisi sesuatu yang belum pernah didengar oleh siapa pun...



____________


Ensiklopedia :


Kali ini kita bakalan bahas, planet yang unik. Jadi semesta ini, ga cuma terdiri dari delapan planet saja. Ada planet-planet lain, yang unik, bahkan aneh. Salah satunya adalah CoRot-7b dua neraka dalam satu planet.


Sebutan yang tepat untuk CoRot-7 b adalah "dua neraka dalam satu planet" karena planet ini memiliki dua sisi yang sangat berkebalikan.


Salah satu sisi yang selalu menghadap matahari memiliki suhu 4.700 derajat Fahrenheit atau lebih dari 2.500 derajat Celsius, cukup untuk melelehkan dan menguapkan batuan.


Sementara itu, permukaan dingin yang dimilikinya sangat dingin hingga mencapai -392 derajat Fahrenheit atau sekitar minus 235 derajat Celsius. Kontras banget, kan?

__ADS_1



__ADS_2