
Malam menjelang tetapi Syena dan Aum tak kunjung kembali. Beberapa rekannya di dalam markas sudah duduk manis disana sambil memandangi hidangan yang sudah tertata rapi.
Sajian lezat nan harum itu menggoda selera mereka rasanya. Namun mereka tetap diam disana tak ada satupun dari mereka yang akan makan apabila rekan mereka belum lengkap.
Buggg
Rey dan Justice bersamaan meletakkan kepalanya di atas meja makan. Justice yang di sampingnya ada Riley pun lelah pada akhirnya sambil mematri hidangan hangat yang masih belum tersentuh.
"Aku lapar!" Ucap Keduanya bersamaan.
Debora yang duduk disamping Rey pun tersenyum. Tingkah laku mereka benar-benar menggemaskan. Telapak tangan Riley terangkat menyentuh kepala Justice kekasihnya.
"Bayi besar dunguku kelaparan, kasihan!" Ucap Riley.
"Hei, kau sebut aku dungu?"
Tanya Justice mendongak kali ini. Namun disana dengan entengnya Riley hanya kembali mengangguk membenarkan ucapannya.
"Karena kau memang dungu bukan?" Tambah Riley lagi.
Mendengar itu Rey tertawa begitupun dengan Debora disana.
"Hei jangan tertawa kalian!" Protes Justice.
Rey diam kali ini namun bibirnya masih tersenyum disana. Melihat Justice begitu nyaman dengan telapak tangan Riley di atas kepalanya. Hatinya berontak menginginkan hal yang sama rasanya.
"Debora.." Panggil Rey padanya.
"Ya Rey?" Tanya Debora sambil menatap kepala Rey yang masih tertidur di atas meja makan.
"Kemana Syena dan Mikhail ini?"
Sial, rasanya Rey tak mampu meminta hal yang ada dalam hatinya disini. Situasinya tidak aman ada Riley dan Justice disini. Ia tak ingin mereka berdua menggodanya nanti, ia membenci itu sungguh.
"Entahlah, aku pun juga tak tau kemana mereka! Kita tunggu saja ya!"
Ucap Debora pelan. Tuhan, sungguh suara itu selalu saja berhasil membuat Rey terbuai. Rey yang sudah tak tahan pun memilih beranjak dari sana.
"Aku ke atas dulu ya!" Ucap Rey berdiri.
Seluruh rekannya itu menatap aneh ke arah Rey saat ini. Mengapa pemuda ini tiba-tiba ingin ke atas. Padahal makan malam di bawah sudah tersedia.
"Kenapa kau ingin ke atas?" Tanya Justice kali ini padanya.
Dengan wajah yang dibuat-buat seperti hal nya menahan sakit Rey memegangi perutnya.
__ADS_1
"Perutku sakit sekali!" Ucap Rey lalu berlari menaiki anak tangga.
"Dia kenapa Debora?" Tanya Riley pada Debora kali ini.
Namun disana Debora hanya mengangkat bahunya pertanda bahwa ia tak tau ada apa dengan Rey saat ini. Padahal pagi tadi ia masih baik-baik saja. Tetapi malam ini mengapa mendadak ia sakit perut.
"Apakah mungkin karena ramen itu?" Lirih Debora.
"Ramen?" Tanya Riley.
Hal itu membuat Debora mengangguk lalu menjelaskan pada Riley perihal sebelum kemari mereka sempat makan sebentar di kedai Ramen.
"Coba kau lihat dia Debora!"
Ucap Riley memberi saran untuknya. Tanpa berbasa-basi lagi Debora pun mengangguk lalu berjalan ke arah anak tangga. Satu persatu tangga ia lewati disana.
Debora memeriksa tiap kamar dilantai atas namun Rey sama sekali tak ada disana. Hanya ada satu kamar yang belum ia periksa. Dan itu letaknya berada tepat di lantai lima.
Kamar itu pintunya sedikit terbuka. Sambil berhati-hati Debora berjalan mendekat kesana. Ketika Debora membuka pintu itu sepasang tangan kekar menariknya lalu menutup pelan pintunya.
"Ya Tuhan Debora, kau benar-benar menyiksaku!" Teriak Rey tak kuasa lagi rasanya menahan perasaannya saat ini.
"Rey!!!"
Pekik Debora namun Rey menempatkan jari telunjuknya tepat di antara bibir Debora lalu tersenyum.
Debora menempatkan kedua telapak tangannya di antara dada Rey mencoba menahan tubuh Rey disana.
"Hei kau akan apa Rey!" Protes Baron Putih di dalam sana.
"Baron, bolehkah aku egois sebentar? Lalu tolong hapus ingatannya lagi setelah itu. Aku benar-benar tak tahan dengan perasaanku saat ini."
Apa yang Rey katakan membuat ketiga Baron disana tersentuh. Orang mana yang akan tahan mengubur perasaannya pada orang yang ia cintai. Manusia pasti ingin mengutarakan.
Namun Rey dan Debora adalah manusia yang akan tetap diam sampai tujuan mereka benar-benar tercapai. Baron yang memahami situasi itu pun mengingat kembali. Bahwa Rey Arlert suatu saat nanti akan mati karena tugasnya.
Apabila ia menggunakan kemampuan terbesar Dandelion nya lagi. Maka Rey sudah dipastikan tidak akan selamat dari itu.
Jadi bagi Baron, selagi Rey masih bernafas disini ia akan benar-benar melayaninya. Anak dalam ramalan ini perlu di senangkan. Dan mereka akan melakukan itu.
"Tenang saja, aku tidak akan melewati batas. Aku tidak akan mengambil kesuciannya!" Jawab Rey mencoba meyakinkan ketiga Baronnya.
Mendengar itu Baron Putih pun mengangguk mengiyakan apa yang akan Rey lakukan.
__ADS_1
"Kau kenapa Rey?" Tanya Debora padanya.
Namun disana Rey hanya tersenyum lalu menangkup wajah Debora dan menciumnya. Debora menepuk-nepuk pelan bahu Rey kali ini, namun rupanya Rey sama sekali peduli.
Ia benar-benar menginginkan ini. Hampir mati rasanya ia menahan segala perasaan yang terpaksa di pendamnya.
Ciuman lembut itu pada akhirnya membuat Debora terbuai. Tanpa sadar ia kedua tangan Rey kini berada di pinggangnya mencoba mendekatkan Debora lebih dalam ke arahnya.
Begitupun dengan Debora, tanpa sadar ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Rey.
"Aku mencintaimu..."
Lirih mereka berdua ketika ciuman mereka terlepas. Debora hanya mengangguk lalu menyentuh rahang tegas Rey Arlert disana.
Untuk terakhir kalinya Rey mencium lembut kening Debora saat ini lalu memeluknya. Dalam pelukan itu Debora terlihat cukup nyaman disana. Meletakkan kepalanya tepat di atas dada kekasihnya.
"Kucing Putih..." Lirih Rey padanya.
"Iya?"
Tanyanya masih dengan kedua mata yang terpejam disana. Telapak tangan kekar itu masih setia membelai Surai lembut milik Debora nya.
"Apakah kau ingin meresmikan hubungan kita sekarang?"
Pertanyaan dari Rey membuat Debora terdiam. Disana Rey hanya merasakan satu cengkraman kecil di dadanya. Cengkraman tangan Debora yang mencengkram bajunya. Rey tau berat bagi Debora mengiyakan hal itu.
"Tadimaaaa!!!"
Teriakan dari lantai bawah seketika membuat Debora mencoba menjauh dari Rey. Namun Rey menahannya.
"Lepaskan aku Rey..." lirih Debora padanya.
"Kucing Putih, sebentar saja ku mohon!"
Pinta itu membuat Debora luluh rasanya.
"Arlert, mereka sudah datang! Mari kita turun!"
Tutur Debora, Rey pun mengangguk lalu melepaskan pelukannya. Disana terlihat jelas semu merah Debora. Rey kembali mengusap pelan pipi yang memerah itu lalu menciumnya lagi.
Detik itu juga ia meminta pada Baronnya untuk menggunakan sihirnya. Menghapus apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Debora disini.
Debora pingsan setelah mendapati sihir itu. Rey menahan tubuh gadisnya itu agar tidak jatuh lalu membuka pintunya.
Disana kemudian ia berteriak kepada seluruh rekannya memberitahukan bahwa Debora sedang pingsan disini.
Akibatnya seluruh rekannya berbondong-bondong menuju ke atas. Riley menanyakan pada Rey apa yang terjadi.
__ADS_1
Namun Rey disana menjelaskan bahwa mungkin saja tubuh Debora masih lemah itulah yang membuatnya pingsan.