Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Hari-hari Tanpa Dirimu


__ADS_3

Hari terus berganti, namun nyatanya sama sekali tidak ada perkembangan dari Debora di sini. Netranya masih tetap tertutup rapat, sama sekali tak ada tanda untuknya kembali mengerjap lalu bangun.


Hei, ini sudah sekitar lima bulan dan dia masih tertidur. Beberapa rekannya tak jarang datang menjenguknya. Noella pun juga mengatakan bahwa untuk sadar, ia juga tidak tau kapan itu.


Namun sebuah kenyataan itu tersampaikan ketika memeriksa tubuh Debora. Noella mengatakan bahwa ada partikel Baron Putih dalam tubuhnya. Partikel itu terlalu sedikit, lebih sedikit dari milik Syena. Itulah mengapa partikelnya sama sekali tidak terdeteksi.


Partikel itu hanya akan membantunya ketika Debora dalam bahaya besar. Itu adalah kekuatan refleks yang akan datang membantunya.


Tak ada misi yang berjalan sempurna tanpa adanya bantuan dari Debora. Noella memutuskan misi-misi kecil saja yang harus para Muskeetersnya selesaikan.


Perihal keluar benteng lalu menumpas seluruh iblis juga merebut wilayah. Noella juga membutuhkan kecerdasan luar biasa seperti milik Debora.


Berbulan-bulan berlalu Rey terus saja memandangi syal merah yang ia letakkan dengan lembut di leher Debora. Rey yang duduk di atas benteng baru saja menyelesaikan berbagai misi. Kemudian lagi, dari dalam domain ia mulai mengeluarkan sesuatu. Itu adalah syalnya Debora, ia menciumi itu lalu menatapnya.


"Kau ini, kapan akan bangun? Bangunlah, aku merindukanmu kucing putih!" lirih Rey sembari tersenyum miring.


Rey juga mengingat satu hal. Setelah kejadian ini, Elvas semakin membencinya. Tiap kali mereka bertemu, Elvas selalu saja menyalahkannya. Kalian pasti tau bukan? Hal yang palin Rey benci adalah diingatkan terus-menerus pada kesalahannya.


Rey juga merasa bodoh saat itu. Namun ada hal yang bisa dan tidak mampu manusia lakukan. Kejadian beberapa bulan lalu adalah salah satunya.


Jika bukan karena obrolannya bersama susternya di alam bawah sadar, Rey mungkin juga tidak akan terbantu keluar dari dalam jeruji penyesalan.


"Sedang duduk manis di sini, merenungi kegagalanmu Arlert?" ucap satu suara yang berasal dari balik tubuhnya, itu adalah suara milik Elvas.


Rey hanya diam mendengar itu. Bagaimanapun juga ia tidak akan melawan balik. Sebab memang Rey tau ia bersalah di sini.


"Kau memang bodoh! Berulang kali kau melukainya, coba lihat hatinya yang rapuh itu apakah kau peduli? Kau benar-benar tidak pantas untuk dicintai olehnya. Mengapa harus semacam ini perasaannya kepadamu. Aku berharap, ketika ia sadar nanti ia akan meninggalkan dirimu. Debora sudah terlalu banyak menjadi tamengmu selama ini. Namun dia adalah seorang gadis, yang teramat sangat sabar. Aku dengar kalian saling mencintai, tapi yang aku temukan di sini adalah keegoisan bukan sebuah cinta! Cintanya hanya sepihak," jelas Elvas kepada Rey.


"Benar!" ucap Rey menjawabnya, Elvas diam ketika ucapannya dipotong oleh Rey.


"Aku bersalah, dan aku menyesal! Terima kasih, sebab kau mengingatkan diriku berjuta-juta kali. Aku akan selalu mengingat itu sampai mati!" lirih Rey kepadanya.


"Baron Putih Legendaris, hatimu begitu tumpul rupanya!" ucap Elvas lagi, itu adalah kalimat terakhir untuk Rey sebelum ia menghilang.

__ADS_1


"Sial!" pekik Rey menunduk menempatkan syal itu tepat di hidungnya menghirup aromanya.


"Maaf kucing putih, maaf!" lirih Rey lagi.


Memorinya kembali teringat saat itu. Saat ketika Debora melindunginya. Wajah pucat pasih itu, adalah gambaran paling tak terlupakan. Wajah itu akan selalu menjadi memori yang tak terbantahkan, bahwa Rey gagal melindunginya.


Dari arah Silver Alaska masuk ke arah Rensuar. Dia pasang kekasih yaitu Riley dan Justice, mereka sedang kembali.


Riley menyipitkan kedua netranya ketika melihat satu manusia yang sedang duduk seorang diri di atas benteng. Justice memperhatikan itu.


"Kau lihat apa Riley?" tanya Justice kepadanya.


Riley menunjuk ke depan, mereka sedang menaiki Khufra. Sebuah misi pemantauan membuat mereka sibuk akhir-akhir ini memantau wilayah Silver Alaska dari kejauhan.


"Itu Rey!" jawab Riley kepadanya.


"Aku iba, apakah kita harus menyapanya?" tanya Justice lagi kepadanya.


"Kenapa kau mencubitku Riley?" tanya Justice sembari mengusap-usap lengannya yang dicubit oleh Riley.


Riley menatapnya kesal. Bahkan Justice tidak menyadari kesalahannya, wajah itu sungguh sangat polos dan mengesalkan baginya. Ingin rasanya ia mencubitnya lagi.


"Mengapa tatapannya semacam itu juga kepadaku?" tanya Justice lagi sambil memperhatikannya.


"Sebab kau mengesalkan Justice, pertanyaan konyolmu itu membuatku tak mampu menahan diri untuk menyiksamu." ucap Riley kepadanya.


Justice terkekeh mendengarnya, ia mulai paham kesalahannya sekarang. Tak lama di atas Khufra yang terbang beriringan itu, Justice mengangguk.


"Baiklah, ayo kita berhenti sebentar menemui Rey!" ajak Justice kepada Riley.


Keduanya kemudian mengarahkan Khufranya terbang menghampiri Rey. Sesampainya di sana, Rey hanya menatapnya sekilas lalu kembali menatap ke depan.


Justice dan Riley datang menghampirinya. Kemudian keduanya duduk di sisi yang berbeda bersebelahan dengan Rey. Justice duduk di sebelah kanan Rey, sedangkan Riley ia duduk di sebelah kiri Rey.

__ADS_1


"Kau sedang apa Rey?" tanya Riley kepadanya.


"Aku sedang beristirahat sebentar, setelah misi yang baru saja Noella berikan padaku!" jawab Rey masih menatap ke depan.


Riley mengangguk begitupun dengan Justice. Kemudian Justice teringat bahwa ia dan Riley akan menjenguk Debora malam nanti.


"Aku dan Riley akan menjenguk Debora malam nanti! Apakah kau ingin ikut?" tanya Justice membicarakan perihal tawarannya.


Rey menghela nafas sejenak. Kemudian tersenyum tipis. Pagi tadi, ia juga sudah menjenguknya.


"Aku sudah menjenguknya pagi ini, namun tetap tidak ada perkembangan." jawab Rey kepada Justice.


Ketika Rey menunduk, Riley dan Justice saling tatap sejenak. Lalu kembali menatap Rey yang menunduk.


"Sembuh itu butuh waktu, Rey! Setidaknya malam ini ikutlah bersama kami menemuinya. Barangkali ada keajaiban yang akan terjadi. Barangkali Debora membuka kedua matanya kembali!" jelas Justice kepadanya.


Rey menoleh ke arah Justice lali tersenyum. Rey memegang bahu rekannya itu.


"Justice, mengapa kau tidak menjenguknya siang ini saja? Sebab malam nanti katanya, Noella akan melakukan perawatan kembali terhadap Debora. Jadi, jenguklah dia sekarang ya! Lalu katakan kepadaku, ada kemajuan apa? Aku masih memiliki misi lagi, aku akan pergi!" jelas Rey kepadanya.


Setelah mengatakan itu, Rey pun kembali berdiri. Syal merah itu ia masukkan kembali ke dalam domain. Riley menaikkan salah satu alisnya, apa Rey mengambil lebih banyak misi saat ini?


"Hei, bukankah kita hanya di jatah tiga misi tiap hari? Berapa yang kau ambil akhir-akhir ini, kau sering sekali pulang larut?" tanya Riley kepadanya.


"Aku mengambil sekitar sepuluh misi, termasuk misi-misi kecil!" jawab Rey kemudian petir membawanya pergi dari sana.


Mendengar penjelasan itu Riley membuang kasar nafasnya.


"Dia sedang berusaha menyibukkan diri agar tidak teringat perihal penyesalannya!" ucap Justice.


"Ya sudah, kalau begitu mari kita ke tempat Debora!" ajak Riley kepada Justice.


Mereka kembali menaiki Khufranya lalu pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2