
...Ketika dalam sebuah perjuangan terdapat tantangan yang besar, berarti keberhasilan yang menanti juga lebih besar...
Debora berlari menyusuri sayup-sayup putih. Ia baru saja melihat seseorang berjubah putih berlari menghindarinya. Debora tau itu, orang itu adalah yang paling dekat dengan hatinya.
Dia adalah orang yang menyadarkan Debora ketika ke egoisan melandanya. Gadis ini sedang terjebak di alam sadarnya.
Disana, Rey Arlert menemuinya. Namun pemuda kesayangannya itu hanya tersenyum padanya. Ketika Debora menghampirinya, Rey pergi meninggalkannya.
"Kau akan kemana Rey?" Tanya Debora setengah berteriak.
Ia berhenti saat ini, menatap punggung pemuda itu dengan balutan jubahnya. Pemuda itu hanya diam disana tak bergerak.
"Rey, kau akan kemana?" Tanyanya lagi pada Rey disana.
"Debora, sudah kubilang bukan? Aku akan selalu berada disampingmu sekalipun kau tidak bisa melihatku."
Ucapan itu adalah ucapan Rey yang terakhir. Tubuh itu memudar ketika sebuah cahaya datang menyilaukan penglihatannya.
Detik itu juga Debora membuka matanya. Saat ini hanya ada atap ruangan dengan pencahayaan minim.
"Enghh... Dimana aku?" Lirihnya mengerjap beberapa kali.
Debora mencoba mengingat sejenak apa yang terjadi padanya, sampai ia bisa berada disini. Sambil memegangi kepalanya yang berat, memori sebelum ia sampai kemari mulai terangkai.
Ia ingat dimana ia membagikan kekuatannya pada Rey Arlert. Debora mencoba bangun dari tidurnya, namun sesuatu yang berat melingkari perutnya. Tangan kirinya juga sedang terpaut oleh sesuatu.
Ketika Debora mengalihkan netranya ke arah samping kedua netra miliknya berbinar. Hatinya tersentuh, rasanya tak percaya akan apa yang ia lihat disini.
"Rey.." Lirih Debora tak percaya.
"Ini bukan mimpikan, Arlert?" Ujar Debora lagi, ia mengingat kembali tentang mimpi yang baru saja ia alami.
"Hei jangan menangis.." Rey yang terpejam merasakan buliran air mata itu turun membasahi surainya.
Ketika Rey membuka kedua matanya, Debora dengan cepat menghapus air matanya. Rey kembali dalam posisi duduknya, baru ada tiga jam ia terlelap. Namun nyatanya Tuhan membuat Debora sadar lebih cepat.
"Kucing Putih.." Lirihnya, hal itu membuat Debora tersenyum.
Sudah cukup lama rungunya tak mendengar panggilan itu. Rasanya rindu itu pasti ada. Hanya Rey seorang lah yang berani memanggilnya semacam itu.
"Bagaimana keadaanmu Debora?" Tanya Rey padanya.
"Aku baru saja bangun, masih sedikit sakit di area kepala." Jawab Debora.
"Hmm... baiklah, jadi apa kau butuh sesuatu Debora?" Tanya Rey lagi padanya.
__ADS_1
Namun disana Debora hanya menatapnya tanpa ada jawaban.
"Iya, aku butuh sesuatu.." Lirih Debora pada Rey yang juga menatapnya.
"Apa itu?"
"Penjelasan!"
Jawaban itu sejenak membuat Rey tertegun. Namun ia kembali tersenyum, ia kembali di ingatkan bahwa gadis dihadapannya ini cerdas. Debora adalah gadis yang malas berbasa-basi disini.
"Aku ingin penjelasan perihal hilangmu dari Rensuar!"
Ucapnya lagi. Rey tau, ia sudah menjelaskan segalanya pada Debora. Namun mantra Baron masih melekat dalam Debora. Hal itulah yang membuat Debora sama sekali tak ingat apapun.
"Benarkah kau ingin mengetahui itu, Debora?" Tanya Rey pada Debora.
Satu anggukan mantap itu membuat Rey kembali tersenyum. Debora akan mengejar sebuah jawaban darinya sampai mendapatkannya.
"Debora, aku hanya ingin kalian baik-baik saja disini sampai apa yang ku capai didalam Silver Alaska tuntas." Jawab Rey.
"Maksudmu kau ingin berjuang sendiri?"
Pertanyaan Debora membuat Rey mengangguk membenarkan apa yang ia katakan.
"Manusia memang bergantung padamu, sebab ramalan itu mengatakan kau adalah harapan mereka. Namun kau harus tau Rey, tidak ada yang berhasil dicapai ketika kau melupakan dimana asalmu sebenarnya. Manusia tidak akan mempu melawan ribuan musuh seorang diri. Mereka butuh sekutu, dan sekutumu adalah Rensuar." Ucap Debora padanya.
"Aku tau itu, tapi sungguh aku hanya akan memanggilmu ketika segalanya usai disana. Generasi petinggi harus dibinasakan Debora, itulah satu-satunya cara mengalahkan Iblis seratus juta jiwa."
Rey kembali tertampar rasanya ketika mendengar apa yang Debora katakan. Gadis ini selalu saja mampu menjenuhkan pikirannya.
"Aku perisai kalian, aku tidak akan membiarkan kalian mati!" Ucap Rey lagi.
Debora memperhatikan raut wajah itu. Sebuah raut wajah penuh tekad untuknya. Sebuah wajah yang tidak akan membiarkan orang-orang yang ia cintai gugur dan mati sia-sia.
Debora memahami itu, ia paham Rey masih muak pada dirinya sendiri perihal kematian Dion. Namun itu bukan salahnya, kematian dalam pertempuran adalah hal yang lumrah.
Sumpahlah yang mengikat mereka untuk tetap maju tak gentar. Membabat habis seluruh Iblis yang merenggut kebebasan mereka.
"Rey, dengarkanlah aku! Impian tidak dapat terwujud dengan sendirinya, namun impian akan datang ketika kita berusaha meraihnya. Dalam artian ini, menjelaskan bawah kita harus bersatu demi untuk mewujudkan itu." Tutur Debora lagi padanya.
Baiklah, rasanya Rey akan menyerah sampai disini. Meneruskan pembicaraan ini tidak akan baik untuk hatinya.
Debora dengan segala petuah bijaknya akan membuatnya kembali memperlakukan gadis itu manis nantinya.
Rey tidak akan menunjukkan perasaannya pada Debora selama dunia masih kacau, itulah yang ia tau sampai saat ini.
"Baiklah aku kalah, aku menyerah dan kau menang!"Jawab Rey pasrah. Debora dibuat tertawa rasanya mendengar jawaban itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengulanginya lagi Debora, aku janji!" Ucap Rey lagi padanya sambil menjewer kedua telinganya sendiri.
"Iya, terima kasih karena kau sudah mau mengerti! Jadi apakah aku akan kembali ke dalam Rensuar lagi setelah ini.
"Tentu saja kucing putih! Baron putih ini akan menggemparkan Rensuar besok. Jadi, maukah kau kembali ke markas sekarang?" Tanya Rey padanya.
Namun disana Debora menggeleng, bagaimana mungkin ia mampu berjalan dengan kondisi selemah ini. Bahkan untuk menggunakan sihir teleportasi saja, mana nya sudah tidak memadai.
"Bagaimana caraku kembali? Memulihkan manaku butuh waktu lama, kau tau bukan? Untuk berjalan saja rasanya kakiku tak mampu." Jawab Debora.
Rey mencium lembut tangan Debora disana. Ia kembali mengingat saat dimana Debora mentransfer seluruh kekuatannya untuknya.
"Terima kasih ya, kucing putih!" Ucap Rey.
Perlakuan semanis itu membuat Debora bersemu. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Ketika Rey membuka kedua matanya, Rey berdiri lalu menggendong tubuh Debora.
"Hei!" Pekik Debora terkejut ketika Rey mengangkat tubuhnya.
"Kita pulang, sekarang! Rekanmu jauh lebih baik mengurusmu daripada disini!" Ucap Rey.
Jarak pandang mereka dekat sekali. Hal itu membuat debaran jantung Debora tak karuan rasanya.
"Bagaimana caranya? Jika kau menggendongku sambil berjalan aku tak mau!" Ujar Debora berprotes.
Sebenarnya ia senang diperlakukan semanis ini oleh Rey. Namun ia berusaha menepis itu semua. Rey diam mendengar itu, ia berjalan keluar dari dalam ruangan itu.
Tepat didepan sana adalah balkon dengan pemandangan Rensuar yang sedang di perbaiki. Rey menatap kebawah, lalu kembali menatap ke arah Debora.
"Dandelion.."
Panggilan Rey untuk sisi lain Baron Putih, membuat Dandelion disana menatap malas ke arahnya.
"Apa?" Ketus Dandelion.
"Bantu aku ya, kekasihku ini sedang sakit! Aku membutuhkan kedua sayapmu."
Jawaban itu membuat Dandelion membuang kasar nafasnya. Namun sisi lain itu menuruti apa yang Rey katakan, ia pun kembali membiarkan Rey menggunakan kekuatannya.
Clashhhhh
Kedua sayap itu kembali muncul dari punggung Rey. Debora terperangah dibuatnya, refleks ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Rey. Satu kali hentakan, membawa Rey terbang menyusuri langit malam Rensuar.
...Hidup adalah proses pengembaraan bukan tujuan...
...Perjuangan itu bukan proses penderitaan menuju tujuan, tapi proses memantaskan diri untuk meraih tujuan...
...
__ADS_1
...