Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Pembicaraan Tentang Hati


__ADS_3

...Kegagalan seorang pria yang paling sulit yaitu ketika dia gagal untuk menghentikan air mata seorang wanita...


...Aku akan selalu di sisimu, seperti angin yang berhembus melalui rambutmu...



"Berhentilah melindungiku, kau melakukan hal bodoh untukku. Kau tau aku bahkan mampu beregenerasi sama seperti makhluk laknat di atas sana. Lihat diriku, aku bukan seorang manusia biasa lagi." Jelas Rey padanya, ia ingin Debora paham hal itu.


"Pikirlah dulu sebelum kau membuka mulut. Sekuat apapun dirimu jika kau sendiri kau akan mati Rey! Seharusnya kau tau itu, ancaman disini terlalu banyak. Dan kau, kau ini bodoh Rey. Dengan dirimu yang baru saja mati, lalu kau akan menantang maut sekali lagi? Apa yang kau pikirkan, katakan?"


Kalimat itu dikatakan penuh emosi. Sebab dalam hatinya sejak tadi Debora menahan segala pertanyaan juga emosi yang hampir meledak. Rey masih hidup, namun dia sama sekali tak memberitahu rekannya. Sebenarnya apa isi kepala Rey ini.


"Hahahaha... Lucu sekali kau kucing putih!" Ucap Rey sambil terkekeh. Sedang Debora masih menatapnya mencoba menguak jawaban dari pertanyaannya.


"Rey..." Lirihnya lagi, kali ini Rey menatapnya sambil tersenyum.


"Kau ini, apakah ada pertanyaan lain yang akan kau ajukan selain itu?"


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa Debora?"


"Kau menghindari sebuah pertanyaan yang sederhana, Rey!"



Sepertinya Rey akan bermain-main sedikit dengan Debora disini. Sudah lama baginya tidak menggoda gadis ini. Rey merindukan semu merah yang pernah menghiasi wajah Debora.


Bagaimana pun Debora berusaha mencari jawaban. Namun, Rey Arlert benar-benar tidak akan menjawab segalanya. Rey akan tetap diam. Sebab, meleburkan para generasi Iblis adalah hal yang sangat bahaya. Taruhan atas itu adalah nyawa.


"Ah baiklah, aku akan menjawabnya!" Jawaban itu membuat Debora manggut-manggut, ia bersiap mendengarkan penjelasan dari Rey.


"Sebelumnya aku akan mengajukan satu pertanyaan padamu, apa kau berjanji akan menjawabnya dengan jujur?" Rey kembali melontarkan pertanyaannya.


Debora menunduk sejenak, wajahnya yang lugu mencoba berfikir lagi.


"Sudahlah, kau ini terlalu banyak berpikir Debora!" Ucap Rey lagi padanya.


"Rey mengapa kau selalu berprotes? Kau meminta sebuah jawaban bukan? Aku akan berikan, aku berfikir satu hal perihal apa yang akan kau tanyakan?"


"Ah tentu saja itu adalah satu pertanyaan yang mudah untukmu. Kau hanya perlu jujur saja saat mengatakannya."


"Apa itu?" Tanya Debora, salah satu alisnya terangkat pertanda bahwa ia penasaran akan apa yang akan Rey tanyakan.


"Sebuah pertanyaan yang pernah ku tanyakan, sebelum aku mencumbu mu saat itu." Batin Rey berseringai.


"Debora, apakah kau mencintaiku?"


Degggg

__ADS_1


Rasanya saat ini Debora ingin menyembunyikan wajahnya. Gadis itu bersemu bersamaan dengan pertanyaan Rey. Rona merah itu kembali menghiasi paras cantiknya. Gemas sekali rasanya Rey saat melihatnya.



"Bagaimana apakah kau akan menjawabnya?" Tanya Rey lagi.


"Ah..em.. mengapa kau bertanya semacam itu padaku Rey?"


Tanya Debora berusaha menutupi rasa malunya. Sekali saja, Rey ingin mendengar Debora mengatakan Ya Rey, Aku mencintaimu. Hanya itu saja.


"Sebab hatimu meronta ingin mengatakan perasaannya. Namun itu bertentangan dengan logika juga rasa gengsimu."


Benar ia sudah cukup lelah menahan perasannya selama ini. Berusaha membungkam segalanya, sebab ada satu hal yang membuatnya memilih itu.


Sama seperti Rey yang memprioritaskan dunia juga misinya. Begitulah Debora, gadis tipe pemikir ini tidak akan nyaman apabila merajut kasih didalam dunia yang sedang sekacau ini.


Manusia berlalu lalang mencari perlindungan. Manusia berteriak ramai seperti orang gila, mereka berlari dihujani tetesan darah dari sesamanya. Rensuar, hanyalah benteng yang suatu hari akan musnah juga. Ini adalah masalah waktu.


Namun ketika ia mengingat kejadian itu. Sebuah kejadian dimana saat itu, Trounum menusuk jantung Rey. Mengingatkannya kembali bahwa sakit rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang ia cintai. Ketika seluruh perasaannya saat itu belum tersampaikan.


Pernyataan itu benar adanya. Debora tak menjawab apa yang Rey katakan setelah itu. Ia hanya melangkah ke arah Rey, lalu memberinya sebuah pelukan.


"Cinta itu kata sederhana, tetapi pengertiannya tak terjelaskan dengan kata-kata. Tak ada kata terlambat untuk memulai,begitu juga untuk mengakhiri. Kita berdua manusia yang rumit, bukannya aku tak ingin memilikimu juga meresmikan perihal isi hati ini. Tetapi, dunia yang kejam memerintahkan kita untuk menjauhi itu sejenak. Sebab aku ingin kisah cintaku berjalan tenang setelah dunia damai." Lirih Rey.



Rasanya tidak percaya kalimat seindah itu diucapkan oleh seorang Rey Arlert. Benar katanya, mereka berdua adalah manusia yang rumit. Cinta adalah kalimat sederhana bukan, itu perasaan yang sangat indah.


"Tapi aku tetap menginginkan jawaban!" Ujar Rey lagi.


"Eh?"


"Ya, Debora jawablah pertanyaanku. Aku sudah mengatakan bahwa aku mencintaimu bukan, lalu bagaimana denganmu?"


Rey mempertanyakan itu tanpa melepas pelukannya sekalipun Debora disana berusaha berontak namun Rey menahannya. Rey menahan kepala gadis itu agar tetap tetap bersemayam dalam dekapannya.


"Hei, jangan mentang-mentang kau berada didalam jurang ini berdua. Kau bisa bermesraan sembarangan dengannya!" Protes Baron Hitam.


"Hahaha .. kau berucap seperti itu sebab kau iri!"


Baron Hitam terhenyak mendengar itu. Rey Arlert benar-benar mengesalkan.


"Sudahlah percuma, lagi pula dia adalah manusia yang cabul. Lebih baik kita meditasi saja." Ucap Baron Putih menenangkan.


"Ah iya benar, kalian jangan mengganggu kemesraan kami! Pergi!"


Terlihat Baron emas dalam singgasananya tersenyum. Sepertinya ia harus terbiasa mendengar seluruh kekonyolan yang terjadi antara Rey dan kedua rekannya.


"Bagaimana Debora?" Tanya Rey lagi padanya.

__ADS_1


"Ahhh... lepaskan aku!" Lirih Debora.


Jawaban malu-malu itu semakin membuat Rey gemas rasanya. Ia menangkup kepala gadis itu dengan kedua tangannya, mengarahkannya untuk menatap wajahnya.



"Aku selalu menyukai rona merah ini. Namun aku membenci pemiliknya yang masih bersikukuh memendam perasannya!" Ujar Rey sambil tersenyum.


"Kemarilah, aku akan memberikan jawabannya!" Ujar Debora, Rey mengerutkan keningnya.


Greppppp


Debora menangkup wajah Rey dengan kedua telapak tangannya. Satu ciuman lembut Debora berikan padanya. Untuk pertama kalinya gadis ini bertindak seberani ini. Jika ini adalah jawaban Rey akan sangat senang menerimanya.



"Aku menyukaimu dengan rasa bukan dengan kata-kata. Dan aku tidak ingin, kehilangan Arlert kesayanganku lagi. Karena jika kau tiada, maka seseorang akan sangat sedih. Sebab aku mencintai Rey Arlert, sejak ketika kau datang merubah diriku yang muram."


Keduanya sama-sama tersenyum setelah ucapan itu. Rasanya sulit bagi Rey menjelaskan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Sebab kebahagian yang begitu besar. Terlalu sulit dideskripsikan. Ini sudah cukup sepertinya, saatnya bagi Baron melakukan tugasnya. Rey akan membawa Debora pergi keluar dari dalam Silver Alaska, melalui sulur hitam Baron.


"Terima kasih, Debora!" Ucap Rey dalam hatinya.


"Awenna!" Mantra nada-nada seruling seketika membius Debora.


Gadis itu jatuh tak sadarkan diri tepat kedalam dekapan Rey.


"Baron, tolong ya!"


Kedua Baron yang dimaksud dalam singgasana mengerti apa yang Rey inginkan. Baron Hitam kembali memanggil sulurnya, sedangkan Baron putih berkonsentrasi menghapus ingatan Debora.


"Aku pasti akan kembali, namun tidak hari ini! Sebab masih ada banyak hal yang harus kuselesaikan disini." Lirih Rey.


Rey menatap lekat tubuh Debora yang mulai dilahap oleh sulur hitam. Ketika tubuh itu masuk kedalam, sulur itu dengan cepat membawanya pergi melalui bawah tanah.


Rey tau seluruh rekannya tidak akan pergi sebelum Debora bersama mereka. Bersamaan dengan teriakan mereka mencari Debora diluar pintu masuk gerbang Alaska, bersamaan dengan itu pula Baron Hitam memunculkan tubuh Debora.


Ketika mereka menemukannya segera Mikhail menggendong tubuh itu. Riley memanggil para Khufra yang sedang berada di angkasa. Mereka sama-sama baik ke atas Khufra lalu pergi meninggalkan Silver Alaska.


...Kau tidak akan mampu menghentikan orang yang sedang jatuh cinta kepada orang yang dia cintai...


...Cinta membuat orang menjadi kuat dan cinta itu juga yang dapat membuat orang menjadi lemah...


...Kau tidak bisa membeli cinta dan kedamaian dengan uang...


...



...

__ADS_1


__ADS_2