
...Jangan biarkan hatimu mendapatkan kesenangan dengan pujian dari orang lain...
...Atau kau akan sedih dengan kecaman mereka...
...Jangan biarkan sedih menjangkau matamu...
...Semoga hujan menghapus jejak lelah mu...
Depppp
Depppp
Suara rombongan langkah kaki mulai mendekat ke arah ruang rawat Debora. Itu adalah langkah kaki Riley, Mikhail dan Justice. Mereka baru saja dari ruangan Kaisar Putih, membahas sesuatu disana mengenai perbaikan Rensuar.
Dalam serangan ini, sebanyak dua ratus Musketeers gugur. Mereka yang gugur akan dimakamkan secara terhormat. Keluarga yang ditinggalkan akan mendapat jaminan dari Kaisar.
"Mengapa harus aku yang berbelanja besok? Lagi pula, Rensuar masih belum pulih total. Dan pasar di kota tidak mungkin buka!" Gerutu Riley pada kedua rekannya.
Riley berada ditengah-tengah Mikhail dan Justice. Mereka berdua hanya diam mendengar segala ocehan yang Riley lontarkan.
"Justice sayang, kau saja yang berbelanja besok! Aku tidak mau!" Riley menyerahkan daftar belanjaan itu pada Justice disampingnya.
Ya, sekalipun Justice sangat menyayangi Riley. Namun untuk masalah belanjaan, dirinya pun enggan menerimanya.
"Tidak mau!" Jawab Justice singkat sambil mempercepat langkahnya.
"Hei!" Pekik Riley ketika Justice mendahuluinya.
"Aku merindukan istri pertamaku!" Ujar Justice asal setelah mendengar pekikan Riley.
Glekkkkk
Pintu ryang rawat Debora dibuka oleh Justice. Mereka diam menatap ke arah dua orang manusi, dengan surai berbeda sedang duduk disatu sofa.
Riley menutup mulutnya dengan kedua tangan, reaksi seseorang ketika kagum dan tidak percaya. Tepat dihadapan mereka, Rey dan Syena terpejam. Keduanya lelah sepertinya.
"Dia mencarinya, lalu membebaskannya, bahkan memberinya kehidupan baru disini. Demi untuk kebahagian Syena, Arlert sialan itu mampu melakukan apapun!" Lirih Justice kagum melihat Rey.
"Menurutmu, mengapa surai milik Syena tidak berwarna putih? Padahal keduanya akan tampak menawan apabila memiliki satu surai dengan warna sama." Ujar Riley.
"Huft.." Mikhail menghembuskan nafasnya mendengar apa yang Riley katakan.
Akibatnya gadis itu menatap sinis ke arah Mikhail. Sebenarnya apa arti dari nafas berat itu.
"Hei, apa maksud dari nafas berat itu?" Tanya Riley memicingkan mata ke arah Mikhail.
"Riley, kau tau Syena terkontaminasi bukan?" Ujar Mikhail padanya sambil tersenyum.
"Iya, lalu?" Tanya Riley lagi padanya.
"Artinya, partikel Baron putih dalam tubuhnya hanya mampu menguasai setengah dari tubuhnya. Namun Syena, ia mampu mengendalikan seluruh kekuatan Baron putih dengan baik. Untuk memiliki surai seperti Rey, partikel Baron harus menempati seluruh tubuh Syena. Namun hal itu bertabrakan dengan sesuatu dalam matanya. Itulah yang membuat Surai milik Syena tetap murni, asli warnanya."
Mikhail menjelaskan hal itu sambil terus menatap ke arah Syena. Riley dan Justice dibuat malas rasanya ketika melihat raut muka itu. Raut muka kekaguman Mikhail terhadap Syena. Raut muka yang mencerminkan isi hatinya pada Syena.
__ADS_1
"Lihatlah Pedofil itu!" Justice menyenggol kecil tubuh Riley disampingnya.
"Ya benar, dia masih dengan tatapan cabulnya!" Ucap Riley asal.
"Diam kalian! Aku hanya menjelaskan apa yang tidak kalian ketahui." Ujar Mikhail mulai salah tingkah.
Ocehan itu sedikit membuat Rey terusik disana. Rasa kantuknya tiba-tiba diusir begitu saja ketika mendengar ocehan dari rekannya. Rey membuka matanya, dan benar saja ketiga rekannya itu berada disana saat ini.
"Allkey!" Lirih Rey.
Kerikil-kerikil kecil muncul dari atas kepala ketiga rekannya. Ocehan yang sedang terjadi seketika berubah menjadi sebuah pekikan, ketika netra mereka mengarah ke arah Rey. Terlihat disana Rey tersenyum.
"Hei hentikan Arlert!" Ucap Riley padanya.
Rey membuang kasar nafasnya. Ia meletakkan kepala adiknya yang tadi bersandar dibahunya, menyamankannya di atas sofa.
Saat ini Syena sedang berbaring nyaman di atas sofa. Bahkan kegaduhan yang ada didepannya sama sekali tak membangunkannya.
Rey menghentikan mantranya lalu menatap ke arah rekan-rekannya. Sepertinya ada sesuatu yang akan mereka sampaikan untuknya.
"Ada apa?" Tanya Rey sambil melipat kedua tangannya.
"Rey, mengapa kau melipat kedua tanganku ke arah kami hah?" Tanya Riley kesal melihat apa yang dilakukan Rey.
"Ah, ini gaya baru!" Jawab Rey asal.
"Arlert aku merindukanmu!" Justice merentangkan kedua tangannya lalu berlari ke arah Rey.
Ketika tubuhnya berada tepat dihadapan Rey. Justice dengan lancangnya memukul kepala Rey.
Buaghh
"Kau, benar-benar membuat kami murka Rey sungguh! Untuk apa kau mendekam didalam neraka itu selama berbulan-bulan?" Tanya Justice.
Rey memahami segala kekesalan yang hinggap dalam hati rekannya. Namun mau bagaimana lagi, generasi adalah prioritas utama Rey.
Para generasi Iblis itu adalah kelemahan Iblis seratus juta jiwa. Rey hanya ingin mengalahkan para generasinya, lalu ketika Iblis seratus jiwa hanya memiliki satu kelemahan dalam tubuhnya.
Maka, saat itulah Rey akan memanggil para Musketeers nya Rensuar. Untuk menaklukkan Silver Alaska, merebut kembali hak mereka.
"Summimasen.." Lirih Rey.
Riley menaikan salah satu alisnya. Apa yang Rey ucapkan adalah bahasa Jepang, yang artinya adalah maaf.
"Hei, kau belajar darimana?" Tanya Riley padanya.
Namun disana Rey malah tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Maafkan aku ya, Rekan! Arlert ini hanya ingin meminimalisir korban jiwa. Aku tidak ingin, kehilangan salah satu dari kalian. Sebab kalian adalah salah satu orang-orang yang paling ku sayangi."
Ucapan itu hangat rasanya sungguh. Kedua bola mata itu menunduk usai mengatakan itu. Riley, Justice dan Mikhail saling bertatapan satu sama lain.
Entah mengapa, mereka mengerti dilema semacam apakah yang sedang Rey alami selama ini. Riley kembali menatap ke arah Rey, begitupun dengan Justice dan Mikhail.
"Mengapa kau meminta maaf Rey? Kami memang tidak terlalu tau apa yang terjadi padamu disana hingga kau memilih pilihan nekat itu. Mungkin, sesekali kita perlu bertukar kacamata denganmu. Agar kita mampu melihat hal-hal baik, yang selama ini tak pernah tampak oleh kacamata kita sendiri."
__ADS_1
Justice tercengang mendengar apa yang Riley katakan. Petuah sebijak itu bagaimana mungkin muncul dari lisan kekasihnya ini. Tak lama Justice menatap ke arah Rey, disana terlihat Rey berseringai.
"Setelah kau berselingkuh dengan Riley, apakah kau akan menceraikanku sebentar lagi Justice?" Gurau Rey disana.
Hal itu mengundang tawa Justice rasanya, sambil terkekeh Rey mendekati mereka merentangkan tangannya lalu memeluk mereka.
Sebuah pelukan dengan ucapan terima kasih didalamnya. Sebab mereka adalah keluarga terbaik yang diberikan Tuhan untuknya. Saat ini lengkap sudah rasanya bagi Rey.
Syena sudah kembali dan saat ini bersamanya. Hanya ada satu masalah yang belum usai. Masalah itu adalah, mengembalikan kembali bumi seperti semula. Kodrat Iblis harus tetap tak kasat mata.
"Terima kasih Riley, rekan-rekanku yang baik! Terima kasih telah menjaga Syena ku dengan baik selama aku pergi!" Ucap Rey.
Ketiga rekannya itu tersenyum membalas pelukan Rey.
"Kau harus tau, yang paling merawat Syena dengan baik adalah Debora, Rey. Kami hanya peran pendukung saja! Tapi kami tetap menyayanginya seperti adik kami sendiri!" Jelas Riley padanya.
"Artinya aku harus memberi kucing putih itu hadiah!" Rey melepaskan pelukannya.
Jari telunjuknya menunjuk ke arah Debora yang masih terpejam. Justice dan Riley terlihat bersemangat ketika Rey mengatakan akan memberi Debora hadiah.
Mereka mendukung penuh rencana Rey disana. Mikhail yang diam sejak tadi memperhatikan Syena. Ia kasihan rasanya melihat tubuh mungil itu tidur di sofa dengan posisi yang tak bagus.
"Bisakah kita membawa dia ke markas? Posisi tidur seperti itu tidak bagus. Akan menganggu kesehatan juga!" Mikhail berucap sambil menunjuk ke arah Syena yang terlelap.
"Dia menyukai adikmu..." Bisik Justice pada Rey.
Rey membulatkan matanya tak percaya. Lalu ia kembali menatap ke arah Mikhail saat ini. Rasanya tak apa jika adiknya jatuh cinta pada Mikhail.
Mikhail adalah pemuda cerdas juga sabar. Untuk Syena, itu adalah hal baik.
"Jika kau mau, kau boleh membawa adikku bersamamu ke markas. Namun ajak Justice dan Mikhail. Aku akan berada disini menjaga Debora." Ucap Rey.
Riley mengangguk mendengar apa yang Rey katakan. Itu adalah saran yang bagus. Lagi pula tubuh mereka juga sangat lelah rasanya.
Rey dan mereka berbeda bukan? Saat ini tubuh Rey tidak seperti mereka. Tubuh Rey mampu melakukan regenerasi ketika terluka, dia adalah manusia yang setara dengan Guardian saat ini.
Riley dan dan rekannya pergi melalui sihir teleportasi, dengan Syena yang berada didalam gendongan Mikhail mereka pun kembali ke markas.
Ketika ruangan itu hanya menyisakan dirinya dan Debora, Rey tersenyum. Rey mengarahkan netranya ke arah Debora, lalu berjalan mendekatinya. Rey menarik salah satu kursi lalu duduk disampingnya, menggenggam tangannya.
"Hei ayo bangun, mau sampai kapan kau tertidur seperti ini. Arlert mu ini merindukanmu Debora!" Lirih Rey sambil mengusap lembut surai putih itu.
"Aku akan tidur disampingmu, bangunkan aku nanti jika kau sadar, Debora." Ucap Rey lagi.
Ia pun menyamankan kepalanya terlelap di atas ranjang bersama Debora. Rey sama sekali tak melepas tautan tangan mereka, ia tertidur sambil menautkan jari jemari mereka.
...Hidup adalah kumpulan episode, rangkain cerita tentang perjalanan yang penuh suka dan cita...
...Kadang tangis dan sedih melanda untuk membuatmu lebih kuat dari yang sebelumnya...
...Lihat hari yang telah lalu, lambaikan dan katakan salam perpisahan...
___________
Ensiklopedia :
__ADS_1
HAT-P-7b adalah sebuah planet luar surya yang terletak sekitar 1124 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini ditemukan pada tahun 2008 dengan menggunakan metode transit. HAT-P-7b memiliki massa sebesar 1,84 massa Jupiter.