
...Tidak perlu kesedihan. Apa yang terjadi selanjutnya terserah kamu...
...Jika kamu memilih untuk membukanya, kamu masih dapat memutuskan untuk tidak melewati...
_________
.
.
"Bagaimana bisa guguk sialan itu masuk kedalam Rensuar?" Riley bertanya sambil melipat kedua tangannya.
"Entahlah Riley, kami juga tidak tau mengapa hal itu bisa terjadi!" Justice menjawab pertanyaan Riley.
Debora masih duduk disamping ranjang Syena. Ia terpaku menatap gadis itu, seandainya sesuatu terjadi pada Syena ia pasti sangat kecewa pada dirinya. Syena adalah satu-satunya hal yang masih hidup dari diri Rey.
"Justice, kau tak apa kan? Apa ada yang terluka? Atau mungkin ada yang sakit?"
Mendengar pertanyaan bertubi-tubi itu dari balik tubuhnya, Debora tersenyum. Sepasang manusia itu disana sebenarnya hatinya terpaut. Namun sepertinya baik Justice dan Riley keduanya sama-sama tak menyadari perasaan mereka.
Dua orang manusia itu mirip sekali sifatnya seperti Rey, berisik dan konyol. Hanya ada dua tipe pemikir yang tenang dalam pertemanan mereka. Yaitu Debora dan Mikhail.
"Aku tak apa Riley, kau tenang saja! Justice mu ini kuat hahaha.."
Tukkkkk
"Hei mengapa kau memukulku Riley?!"
Justice memekik tatkala Riley menggunakan sihirnya untuk mengetuk kepalanya. Namun disana Riley hanya berseringai sambil tetap menatapnya.
"Jika kau hebat, kau tidak akan membiarkan guguk sialan itu pergi!" Ucap Riley.
Mikhail yang sedang meracik ramuan untuk Syena, tertawa mendengar itu. Sungguh apa yang Riley katakan selalu jujur dan benar.
"Hahahah... Benar sekali apa yang Riley katakan!" Ucap Mikhail.
"Diam kau Mikha!"
Racikan beberapa bahan sudah usai. Sekarang ramuan miliknya hanya tinggal teguk saja. Mikhail memberikan hasil racikannya pada Debora. Kepulan asap berwarna ungu keluar dari dalam ramuan.
"Ramuan peningkat daya tahan tubuh! Termasuk mana yang hilang dari dalam tubuhnya. Berikan itu padanya!"
Debora menerima ramuan itu sejenak ia menatap botol ramuan itu.
"Bagaimana kita bisa memberikannya jika dia sedang terpejam disini."
"Ahhh iya.."
Mikhail beralih di atas kepala Syena saat ini. Disana ia mulai membantu tubuh Syena duduk. Kepala gadis itu terlelap di atas dekapannya. Debora paham apa maksud Mikhail disini, dengan sangat hati-hati Debora menuangkan sedikit cairan itu kedalam tenggorokan Syena.
Ketika cairan itu masuk kedalam kerongkongannya dalam sekejap jari jemari Syena mulai bergerak. Kelopak mata gadis itu mulai mengerjap. Ramuan mIlik Mikhail bekerja dengan sangat cepat. Gadis ini mulai siuman sekarang.
__ADS_1
"Syena?!" Panggil Debora lembut.
Syena membuka matanya sambil menatap Debora saat ini. Ia memegang kepalanya yang cukup sakit rasanya.
"Barsh?!" Pekik Syena hatinya kembali kalut ketika mengingat sosok manusia serigala itu.
Banyak pertanyaan datang memenuhi ruang kepalanya. Apakah serigala itu sudah pergi atau malah ia masih berada disini. Sungguh ancaman tiada henti rasanya, apabila Barsh masih ada disini.
Debora merasakan ketakutan dalam hati Syena saat ini. Lantas ia tersenyum lalu mengusap lembut kepala Syena.
"Dia tidak ada, dia sudah pergi!" Jelas Debora.
Penjelasan itu melegakan hatinya saat ini. Namun lagi-lagi kepalanya dibuat pusing, sosok berjubah putih yang datang saat itu rasanya terhubung dengannya.
"Awhh.." Lirih Syena kesakitan.
Mata kiri miliknya berdenyut tiap kali bayangan manusia berjubah putih itu muncul. Debora menepuk bahu Syena disana, ia mencoba mencari tau apa yang Syena rasakan saat ini.
"Rey!" Lirih Syena.
Ketika nama itu disebut seluruh manusia dalam ruangan membulatkan mata. Apakah Syena sudah mengingat segalanya saat ini.
"Apa kau mengingat Rey, Syena?" Tanya Debora penasaran disana.
"Tidak kakak, namun ketika manusia berjubah putih datang. Aku merasakan keberadaan Rey disana!"
Penjelasan Syena sekejap membuat Debora diam. Namun apa yang ia lihat disana, manusia itu bukan Rey. Debora tau betul bagaimana rupa wajah Rey. Pemuda yang baru saja menolong mereka dia, dia bukan Rey.
"Dia bukan Rey, Syena!" Lirih Debora.
"Aku tidak mengatakan bahwa dia Rey! Namun aku mengatakan bahwa aku merasakan keberadaan Rey."
Debora memilih diam kali ini, mendengar segala kemungkinan yang membuat hatinya kembali berharap rasanya menyakitkan.
Beribu atau berjuta kalipun ia berdoa sepanjang malam sambil menatap langit. Manusia yang mati tidak akan pernah kembali.
Debora mengusap kembali puncak kepala Syena sambil tersenyum. Tak lama gadis itu memilih pergi dari ruangan itu.
"Debora?!" Panggil Riley.
Panggilan itu sama sekali tak di jawab olehnya. Mungkin Debora butuh waktu sendiri sekarang.
"Apa aku harus kesana?" Tanya Riley pada kedua temannya. Namun disana mereka malah menggeleng.
"Biarkan dia, hatinya masih belum merelakan kepergian Rey sampai saat ini." Ujar Justice.
"Kadang kata yang tak sempat terucap akan berubah menjadi air mata." Tambah Mikhail.
Syena menunduk sekarang, sepertinya ia salah mengucapkan itu pada Debora.
"Aku akan menyusulnya!" Ucap Syena.
Syena beranjak dari ranjangnya hendak pergi keluar kamar menemui Debora.
"Tidak perlu, kau istirahat saja dulu! Kami akan membuatkan bubur untukmu." Tawaran dari Mikhail membuat Syena menggeleng.
__ADS_1
"Tidak perlu kakak Mikha, aku ingin menemui kakak Debora!" Ucap Syena.
"Ya sudah, temui dia! Dia berada di balkon lantai lima markas ini. Perhatikan langkahmu ya, jangan sampai kau terjatuh saat menaiki tangga."
Kali ini Riley mendukung apa yang ingin Syena lakukan. Kedua temannya itu saling menatap satu sama lain, mengapa Riley membiarkan Syena yang baru saja bangun ini pergi.
"Terima kasih kakak!" Ucap Syena berlalu dari hadapan mereka.
"Syena..." Panggil Riley lagi ketika Syena baru saja keluar pintu.
"Iya kakak?" Syena bertanya sambil menyembulkan kepalanya di ambang pintu.
"Kami akan menunggu kalian di meja makan! Jadi tolong, bujuk Debora agar ikut makan malam ini."
"Pasti!"
Syena kembali meneruskan langkahnya menuju ke atas, balkon lantai lima. Dimana disana tiap malam Debora selalu duduk sambil memandangi langit.
"Apa?"
Riley bertanya pada dua rekannya disana. Tatapan mereka disana seperti sedang mengintimidasi dirinya, itulah mengapa Riley merasa risih sekarang.
"Bagaimana kau bisa mengiyakan permintaan Syena, sedang kau sendiri tau bahwa dia masih butuh pemulihan." Jelas Mikhail padanya.
"Lagi pula dia pergi hanya di dalam markas ini. Kita masih bisa menjaganya selama disini!" Bantah Riley.
"Tetapi dia tetap saja butuh pemulihan!"
"Pemulihan yang menekan inginnya, malah akan membuatnya frustasi!"
Jawaban itu sekejap menampar Mikhail rasanya. Justice disamping Riley mencoba menahan tawanya. Bagaimana pun juga kaum gadis dalam tim mereka memang tidak bisa dilawan.
"Ku perhatikan sejak kedatangan Syena kemari. Kau memberinya simpati berlebihan, Mikhail!"
"Huh, pertanyaan konyol macam apa itu?!"
Pekikan keras dari Mikhail membantah seluruh pertanyaan Riley. Namun disini ia bersemu, Justice memperhatikan itu.
Ada perbedaan disini, Mikhail jarang bersikap semacam ini atau sekedar menanggapi sebuah perdebatan konyol. Perdebatan adu argumen antara dirinya dan Riley masih panjang.
Pada akhirnya Justice mengetahui sesuatu. Mungkin benar jika saat ini Mikhail sedang tertarik pada Syena. Justice melipat tangannya, ia menatap ke arah Mikhail sekarang.
"Pedofil!" Makian itu sekejap membuat kedua temannya berhenti berseteru. Mikhail menatap tajam ke arah Justice sekarang.
"Mungkin jika Rey ada disini dia pasti akan membunuhmu! Kau mencintai seorang bocah!" Ucap Justice lagi.
"Mengapa memangnya hah? Tidak ada batasan usia dalam masalah cinta!"
Mikhail berucap sambil berdiri sekarang. Tingkah laku beserta jawaban ini membuat Riley dan Justice tersenyum. Benar dugaan mereka, Mikhail menyukai Syena disini. Sejenak Riley dan Justice saling tatap, mereka tersenyum lalu mengangguk.
"Mikhail Pedofil!!!" Teriak keduanya sembari berlari keluar dari dalam ruangan.
Riley dan Justice berlari ke lantai bawah sambil mendengar umpatan Mikhail di atas. Hari ini jadwal memasak mereka berdua, Riley dan Justice.
...Menjadi kuat bukan hanya untuk kepentinganmu sendiri, tetapi juga untuk teman-temanmu...
...Jika mukjizat hanya terjadi sekali, apa yang disebut sebagai yang kedua kalinya?...
__ADS_1
...Kalian manusia memikul luka karena punya hati...