Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Berjalan-jalan Sebentar


__ADS_3


Setelah perselisihan antara Syena dan Elvas usai. Saat ini Syena, Aum dan Elvas memilih untuk berjalan-jalan di kota. Niatnya untuk berlatih di lapangan terbang pupus. Lagi pula mana miliknya sudah cukup terkuras akibat meladeni tantangan Elvas.


Sudah sekitar lima belas menit mereka berjalan disana. Pinggiran kota ini penuh dengan banyak kedai. Beraneka ragam makanan di jual disana.


"Apa kita akan terus berjalan, Syen?" Tanya Aum ia mulai jenuh sekarang.


"Jadi aku harus mentraktir kalian dimana?"


Kali ini giliran Elvas yang bertanya. Sebab kekalahannya tadi membuat dirinya mengajukan satu permintaan pada Syena sebagai pertanda maaf nya.


Saat itu Syena berseringai ia pun mengajak kedua temannya itu masuk kedalam kota. Syena mengatakan padanya bahwa apapun yang ia inginkan itu ada di kota. Syena bicara itu perihal makanan.


"Sabar!"


Ucap Syena lalu berjalan lagi mencari-cari keberadaan kedai makanan yang sesuai dengan inginnya.


"Huh!"


Mereka Elvas dan Aum menggerutu sejak tadi. Mereka pasrah mengikuti kemanakah Syena akan membawanya.


"Nah ini dia!" Sorak Syena bahagia.


Sebuah kedai bernuansa Jepang pada akhirnya menjadi pilihannya. Entah sudah berapa ratus kedai yang mereka lewati, rupanya Syena menginginkan sebuah Sushi.


"Aku ingin makan ini kak Elvas!" Ujar Syena sambil menunjuk kedainya.


"Huh... Baiklah, mari kita masuk kedalam dan makan!"


Elvas membuang sedikit nafasnya lalu berjalan mendahului Syena. Mereka masuk kedalam di iringi dengan sorak riang kemenangan Syena.


"Tolong tiga porsi untuk kami ya!"


Elvas berucap ketika mereka tiba tepat di hadapan seorang penyaji. Penyaji makanan itu mengatupkan kedua tangannya lalu tersenyum begitu manis untuknya.


Pelayan ini begitu cantik dengan Surai hitam sebahu. Untuk sejenak netranya terpanah rasanya melihatnya.


"Jaaa... Silahkan menunggu di meja anda Tuan, kami akan segera menyiapkan makanannya. Arigatou Gozaimazu!"


Suaranya begitu riang dan itu adalah bahasa Jepang. Usai mengucapkan itu Syena meraih pergelangan tangan Aum menuntunnya untuk duduk.


"Ayo Aum kita duduk sekarang! Perutku sudah meronta-ronta rasanya bahkan untuk berdiri saja lemas kakiku." Protes Syena.


Bagaikan ditarik seperti anak tiri rasanya. Aum memperhatikan Elvas yang masih terpaku disana. Matanya berbinar menatap lekat ke arah pintu dapur yang tertutup. Sebuah pintu dimana pelayan cantik itu masuk ke dalam.

__ADS_1


"Syen..." Lirih Aum sambil menyentuh bahu Syena.


"Apa?" Tanya Syena berbalik menatapnya.


Namun disana Aum hanya menunjuk ke arah Elvas. Muskeeters itu masih diam disana terpaku. Ia masih terbuai akan kecantikan gadis itu.



"Kenapa dia?" Tanya Syena tak tau apa yang sedang terjadi disana.


Syena menoleh ke arah Syena. Wah bahaya sekali gadis ini tak tau situasi apa yang sedang Elvas alami. Mungkinkah Syena tidak memiliki hati disin? Bahkan untuk situasi yang sesederhana ini dia bahkan tak tau apapun.


"Syen.. ini perihal cinta! Apakah kau tidak melihat bahwa Elvas disana baru saja terbuai akan kecantikan seorang gadis?"


"Huh? Iblis itu terbuai dengan manusia?"


"Kau ini, jelas-jelas dia ini manusia!"


Sangkal Aum padanya. Tak ingin memperpanjang perdebatan konyol. Syena dengan berani melangkah maju mendekati Elvas. Setibanya tepat dekat dengan Elvas. Syena menarik jubahnya lalu menggeretnya untuk duduk bersamanya.


"Hei bocah! Berani sekali kau ini!" Pekik Elvas tak terima.


Aum disana hanya terkekeh melihat tindakan Syena yang brutal menurutnya..


"Syen, lepaskan dia! Dia ini seniormu!" Tutur Aum padanya namun Syena tetap diam tak peduli.


Brakkkk


"Sudah ku lepaskan ya, kakak Elvas!"


Ucap Syena seraya mengangkat kedua tangannya ketika ia usai menjatuhkan Elvas tepat di atas tempat duduknya.


"Hei kau bisakah bersikap lembut padaku hah!" Protes Elvas tak terima..


Namun disana Syena hanya duduk di depannya lalu menopang dagunya sambil menatapnya. Salah satu alisnya terangkat menatap lekat ke arah Elvas disana.


"Hmm... Terkadang kau harus menerima perlakuan rekanmu yang seperti ini. Dia tidak menghina ataupun menantang mu. Tetapi itu caranya memperlakukan dirimu sebagai temanmu. Kau tidak bisa merubah karakter seseorang sesuai keinginanmu. Sebab manusia itu beragam!"


Tutur Syena padanya. Lagi-lagi sebuah petuah terlontar.


"Luar biasa! Sekalipun kau ini sebrutal ini, tapi petuah-petuah bijak masih saja terlontar disana."


Puji Elvas, Syena tersenyum mendengar hal itu.


"Perkataan bijak ada dan dilontarkan sebab manusianya sudah mengalami banyak hal."

__ADS_1


"Baiklah, adik kecil aku memang tidak mampu menang dalam melawanmu!"


Ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya. Syena tertawa mendengar itu. Diluar kedai terlihat Mikhail berdiri tepat disana.


"Kenapa iblis itu dekat dengan incaran hatiku? Sialan sekali!"


Ya, Mikhail berada di kota saat ini. Sebenarnya ia sedang mencari beberapa bahan ramuan. Sebab Kastil belajar mereka kekurangan stoknya. Itulah mengapa sesuai permintaan madam Geralda. Mikhail datang kemari sambil membawa daftar belanjaan.


Sejak tadi Mikhail melihat Syena dari belakang. Ia tak tau perihal apa yang membawa Syena datang kemari. Tetapi melihat ia datang bersama dengan Aum dan Elvas membuat hatinya memanas rasanya.



"Ya Tuhan, mengapa kau beri aku saingan semacam manusia itu?" Teriak Mikhail dari dalam hatinya.


"Ini tidak bisa di biarkan! Padahal setauku mereka tidak pernah berdekatan! Aku harus mencari tau sendiri!"


Lirih Mikhail memantapkan kakinya masuk ke dalam kedai itu.


Grekkk


Syena terkejut melihat kedatangan seorang pemuda berjubah putih yang baru saja masuk kedalam. Ketika netra mereka bertemu Syena pun melambaikan salah satu tangannya pertanda sapaan.


Mikhail berjalan mendekati Syena disana. Setibanya disana Syena masih tersenyum padanya.


"Syena.. Sedang apa kau kemari?" Tanya Mikhail tersenyum berusaha menutupi api kecemburuannya.


"Kakak ini kedai sushi! Jelas aku kemari karena ingin makan!" Jawab Syena jujur.


"Wah ada Elvas juga rupanya disini ya?"


Ujar Mikhail sambil menatapnya nada itu terkesan menyindir untuknya. Elvas yang tak paham pun hanya tersenyum.


"Iya, kami baru saja berlatih bersama tadi! Lalu aku kalah dan dia memintaku mentraktirnya! Lucu sekali rasanya seorang senior sepertiku kalah dengannya. Tapi memang, Syena ini patut di acungi jempol kemampuannya!"


Puji Elvas kembali menatap ke arah Syena. Rasanya sial bagi Mikhail menyaksikan hal ini di hadapannya. Mereka pergi berlatih bersama katanya. Tuhan, sungguh api dalam hatinya ini berkobar begitu kencang rasanya.


"Begitu ya, kalian baru saja selesai berlatih! Baguslah, aku akan ikut bergabung disini bersama dengan kalian!" Ucap Mikhail yang langsung duduk di samping Elvas.


Aum memperhatikan tingkah laku Mikhail yang sedikit aneh menurutnya. Biasanya pemuda ini akan sangat sopan dan berwibawa. Namun sekarang sifat itu seakan hilang begitu saja tanpa adanya jejak.


"Tidak akan kubiarkan kau mendekati Syenaku, Elvas!" Ucap Mikhail dalam hatinya.


Hal itu sejak tadi diperhatikan juga oleh Aum. Sesekali netra milik Mikhail tertuju pada Syena.


Sesekali lagi ia menatap Elvas mengajaknya beradu argumen. Dalam hal ini Aum dapat menyimpulkan satu hal, bahwa Mikhail saat ini sedang menyukai Syena.

__ADS_1



__ADS_2