Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Pertempuran 2 (Kelicikan Iblis)


__ADS_3

"Aku cukup terkesan pada kalian! Rupanya kalian cukup tangguh juga, ya?" ujar Barsh yang masih sibuk menangkis seluruh serangan sihir dari Riley dan Debora.


"Kau pikir kami akan menyerah begitu saja? Tidak akan, anjing gila! Kau sudah terlalu banyak membuat kami menderita!" ucap Riley menyampaikan seluruh emosinya kepada Barsh.


Panah-panah kembali dilesatkan. Namun, rupanya Barsh cukup tangguh di sini. Waktu terus berjalan, dan para pasukan masih tetap mengayunkan pedangnya. Mereka masih tangguh melawan tiap sihir yang iblis luncurkan.


"Apa kita akan seperti ini terus Debora?" ujar Riley dalam hatinya.


Terlihat di sana Debora pun juga sedang sibuk melawan kloning milik Barsh yang terus saja menyerangnya. Pertarungan mereka dilakukan di atas tanah. Mereka tidak lagi terbang, sebab bertempur dengan terbang akan lebih cepat menguras mana.


Menit ke dua puluh, Debora mengeluarkan kembali ramuan yang Mikhail bagikan. Begitupun dengan Riley, mana mereka terus saja terkuras di sini. Dan iblis, mereka beregenerasi, berbeda dengan Debora juga Riley yang hanya seorang manusia.


Jika tubuh mereka tergores, maka tidak akan mampu sembuh secara cepat. Barsh tertawa melihat itu, itu adalah botol ke dua yang Debora teguk.


"Manusia lemah sepertimu, tidak pantas melawanku! Jadi, lebih baik kau mati saja lalu menjadi santapanku! Dengan begitu, hidupmu ini tidak akan sia-sia. Setidaknya, kau mati setelah membuatku puas!" ujar Barsh tertawa kencang.


Taring-taring itu nampak di sela-sela tawanya. Riley yang geram pun menembakkan kembali anak panah miliknya. Namun nihil, tetap saja, panah itu tidak mampu melukai Barsh ataupun mengenainya.


Clashhhhhh


"Ughh!!!" pekik Justice juga Mikhail menahan serangan beruntun dari Rauw juga Braun.


Mereka mundur tepat di tempat Debora dan Riley.


"Para panglima tempur! Kami yang terbaik di dalam Silver Alaska. Tingkatan kami lebih tinggi daripada iblis rendahan. Ingatlah satu hal, kalian tidak akan mampu melawan kami di sini!" ujar Braun kepada Debora.


Geram sekali rasanya, Riley membuang kasar nafasnya. Lalu ia mencoba menghindari kloning milik Barsh, dan mengarahkan anak panahnya ke arah Braun juga Rauw yang masih meluncurkan sihirnya pada Mikhail dan Justice.


Ketika sihir itu terlepas mereka berempat berhadapan dengan para petinggi dalam satu area. Cacian dari para iblis semakin membuat Riley murka.


"Akan kubunuh mereka Debora!!!" teriak Riley berlari sambil membawa panahnya.


Tarikan dari busurnya membawa tiga anak panah tertancap tepat ke arah dada Braun. Braun di sana hanya terkekeh, lalu mencabut begitu saja panah itu.


"Kekuatan sekecil ini, tidak akan mampu mengalahkanku!" ujar Braun.


Kedua bola mata itu semakin memerah. Kebencian semakin membuatnya kuat. Auranya menjadi sangat mencekam rasanya. Braun melesat cepat ke arah Riley, gerakannya menjadi seperti kilatan petir.


Ketika kuku tajam itu akan mengoyak wajah Riley. Justice dengan sigap menghadangnya, di sana Riley masih tetap maju ke arah Rauw.


"Gadis sialan!!!" pekik Barsh, lalu menggerakan kloning miliknya ke arah Riley mencoba menghadangnya.


Namun lagi-lagi para rekannya membantu, kali ini Debora dengan sulur miliknya melilit kaki kloning Barsh. Tak lupa, ketika hal itu berhasil aliran kekuatan pelebur dari pedang miliknya ia masukkan ke dalam sulurnya.


Akibatnya, seluruh kloning milik Barsh yang terjebak seketika lenyap. Barsh melirik kecil ke arah Debora, dan di sana terlihat Debora berseringai kecil padanya.

__ADS_1


Barsh dengan cepat kembali lagi menatap ke arah Rauw yang saat ini akan di eksekusi.


"Sial, Rauw! Menghindarlah!!!" teriak Barsh padanya.


Namun terlambat, ini adalah rencana Debora. Ia menyusun satu strategi di mana nanti dirinya beserta rekannya akan bergabung di dalam satu area.


Melalui kemampuannya, Debora juga berkata bahwa jangan membuang banyak mana atau energi ketika melawan mereka. Debora meminta kepada Mikhail untuk mengumpulkan mananya lebih banyak lagi, untuk membentuk kubah pertahanan besar yang kuat dan kokoh.


Seperti yang kalian tau, ketika Mikhail membentuk kubah pertahanan. Maka para iblis yang masuk ke dalam pertahanannya, mereka akan bergerak lambat. Lalu buta atas ilusi milik Justice yang menyatu dengan kubah pertahannya.


Sedangkan Justice diminta Debora, untuk membuat ilusi terkuat yang tidak akan mampu dipatahkan oleh iblis manapun. Namun, di sana Justice menjelaskan.


Ilusi sebesar itu hanya akan mampu mempan pada satu iblis petinggi saja. Dengan durasi waktu lima menit. Tak hanya mampu menyebar secara rata ilusinya, namun Justice juga mampu memfokuskan ilusinya pada satu target.


Debora sengaja menargetkan Rauw di sini. Sebab dari cara tempurnya, Rauw terlihat lebih lemah dibandingkan Braun dan Barsh.


Riley mengeluarkan anak panah pamungkasnya ketika sudah cukup dekat dengan Rauw. Anak panah emas, anak panah paling kuat milik Riley.


"Mati kau, Baka!!!" teriak Riley kepada Rauw yang masih terpaku.


Rauw hanya diam di sana sambil membulatkan kedua matanya. Apa yang ia lihat dalam ilusi itu gelap, namun ketika anak panah emas menuju ke arahnya. Ilusi itu lenyap seketika, dan Rauw hanya melihat anak panah mengarah ke arahnya lalu menembus kulit tubuhnya.


"Peleburan, aktif!" lirih Riley berdiri sambil menatap ke arah Rauw.


Tubuh itu mulai terbakar,melebur dan hilang perlahan. Barsh dan Braun terkejut melihat itu. Satu lagi petinggi silver alaska gugur. Kebenciannya kepada manusia semakin besar rasanya.


Baik Rey dan Syena yang saat ini melawannya terkejut ketika mendengar Iblis seratus juta jiwa merintih sebelum mundur.


"Apa dia merasa kesakitan?" tanya Rey pada Syena di sampingnya.


"Aku tidak tau kakak!" jawab Syena, mereka berdua masih tetap siaga.


Iblis seratus juta jiwa memegangi dadanya. Ia tau, anak buahnya ada yang berhasil dikalahkan.


"Sial kalian!!!" teriak Iblis seratus juta jiwa.


Rey dan Syena yang berdiri agak jauh darinya membulatkan mata. Gema suara iblis ini membawa sesuatu dari dalam belantara. Kastil yang letaknya sedikit jauh dari tempat mereka bertempur, perlahan runtuh.


Sesuatu yang besar mulai bangkit dari dalam sana. Rey terkejut mendapati sepasang sayap besar baru saja keluar dari dalam kastil iblis itu.


Satu naga besar dengan semburan api di mulutnya, terbang. Tak lama, ada lagi satu naga yang keluar.


Naga-naga itu mengarah ke arah tempat Debora bertempur. Melihat ekspresi wajah Rey, membuat Iblis seratus juta jiwa tersenyum senang.


"Kau akan mati Rey! Tidak akan ada, rekanmu yang akan selamat dari serangan naga itu! Lagi pula, aku tidak membuatnya satu. Namun, seratus!" ujar Iblis seratus juta jiwa pada Rey.

__ADS_1


Sekalipun kalut itu menguasai hatinya, namun ia berusaha tetap tenang. Sambil menatap tajam ke arah Iblis seratus juta jiwa, Rey berseringai.


"Bahkan anak buahmu sudah gugur satu bukan? Jangan bermimpi akan mengalahkan kami, sebab kami memiliki pemimpin yang cerdas dibandingkan dirimu!" ujar Rey.


Ia baru mengingat bahwa para petinggi yang menjadi kelemahan Iblis seratus juta jiwa saat ini sedang melawan rekannya. Apa yang terjadi kepada iblis ini tadi, membuat Rey yakin bahwa Debora sudah mengalahkan satu petingginya.


"Dan kau, juga jangan senang dulu! Satu naga yang kukirim masuk mengacaukan Rensuar saja, kalian sudah cukup kewalahan. Saat ini, kau akan melihat pelenyapan paling besar milikku!" jelas Iblis seratus juta jiwa.


"Terlalu banyak omong juga kau rupanya! Sudah, mari kita selesaikan ini!" geram Rey kembali menyerang iblis seratus juta jiwa.


Seratus naga yang baru saja bangkit mulai terbang ke arah Debora juga seluruh pasukannya. Api dari mulutnya membakar habis tiap manusia di bawah sana.


Serangan ini terlalu mendadak sampai pemegang sihir perlindungan tak sempat membuat kubah pertahanan besar.


Teriakan dari pasukannya membuat Debora mengadah ke arah langit. Dalam hitungan detik ia dibuat terkejut. Begitu banyak sekali naga yang datang ke arah mereka.


"Naga!" ujar Riley sambil menatap ke arah langit.


Barsh berseringai melihat itu. Ketika fokus musuhnya teralihkan ke arah langit, ia dengan sigap mencoba menyerang. Namun lagi, Elvas yang baru saja datang menggagalkan itu.


"Lihat ke depan!!!" teriak Elvas kepada Debora dan beberapa rekannya.


Teriakkan itu membuat mereka kembali fokus pada Barsh saat ini.


"Masih ada dua petinggi sialan ini di sini! Kita masih belum aman!" ujar Elvas lagi.


Debora menunduk ia mulai berpikir kali ini. Naga di atas langit jika tidak dihentikan, maka pasukan mereka akan habis tersapu lalu mati.


"Berpikirlah Debora, aku akan menggantikanmu di sini!" ujar Elvas sambil menangkis seluruh serangan Barsh.


Debora menatap ke arah Elvas memperhatikannya. Benar, ia harus mencari solusinya.


Netranya beralih memandangi pasukannya satu persatu. Di sana ia mulai berpikir. Yang mampu mengendalikan naga adalah, Riley beserta pasukannya.


"Riley, pergilah bersama lima ratus pasukanmu! Aku ingin, kalian menunggangi mereka! Ambil alih mereka di pihak kita sekarang!" ujar Debora melalui kemampuannya.


Mendengar perintah Debora dalam kepalanya membuat Riley tersenyum. Mengendalikan naga bukanlah hal yang mudah, mana milik mereka harus cukup besar untuk mengambil alih naga.


"Ini ide gila, jumlah pasukan yang kau berikan juga cukup gila! Namun ini genting, baiklah aku akan mencobanya!" jawab Riley lalu pergi dari sana.


Melalui sihir gema, Debora memerintahkan beberapa pasukan untuk bergabung bersama Riley. Dua ratus Muskeeters mulai mengikuti arah Riley pergi, mereka menuju ke arah barisan terdepan naga yang terbang.


"Pemanahmu sudah tidak ada! Kekuatanmu, hilang satu! Apa kau tidak masalah dengan hal itu?" tanya Barsh kepada Debora yang saat ini kembali bersiap menyerangnya.


"Anjing gila, lihatlah jumlahmu sudah berkurang! Jadi fokuslah, dan lawan kami!" jawab Debora kepada Barsh.

__ADS_1


Barsh mengeram kesal, begitupun dengan Braun di sana. Mereka kembali menyerang Debora beserta rekannya secara brutal.


__ADS_2