Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Hancurnya Iblis Suara dan Perasuk #1


__ADS_3

...Jangan memaksakan kehendak sendiri...


...Setiap orang mempunyai kebebasan yang harus dihargai...


...Aturan tanpa kebebasan dan kebebasan tanpa aturan sama-sama merusak...



Sebuah taktik sudah dibuat, para Musketeers ini menjalankan segalanya sesuai rencana. Aliran-aliran sihir mereka beradu di angkasa.


Debora dibawah sana mematri tiap gerakan Iblis juga menganalisa seluruh sihirnya. Ada sesuatu disana, satu hal yang terus menghalangi Rey untuk menebas kepala Zekha.


Debora kembali memfokuskan netranya, kemampuan analisanya menajam. Diiringi dengan penggunaan analisanya, mana miliknya juga kian berkurang. Iblis itu sejak tadi sama sekali tidak menggunakan sihir.


"Tak ada sihir sama sekali dalam sabitnya! Tak ada kemampuan yang mampu ku baca!" Ucap Debora, kali ini netranya mengarah pada Tayuya.


"Bunyi, kekuatannya ada pada seruling itu. Tanpa seruling itu, ia sama sekali tak berdaya."Jelas Debora.


"Kalau begitu, aku akan memangnya dari sini Debora!" Ucap Riley yang masih sibuk melindungi Harith dan Axcel dari jauh.


"Tidak jangan!" Ucap Debora padanya, Riley bingung dibuatnya.


Bukankah menjatuhkan serulingnya adalah kemenangan. Lantas mengapa Debora melarangnya melakukan itu.


"Ada apa Debora? Bukankah apa yang Riley katakan benar?" Kali ini Mikhail yang sedang fokus pada pertahanan pun berprotes.


Sekejap rancangan ide luar biasa tertata rapi dalam kepalanya. Debora berseringai kemudian. Debora menggunakan sihir kesatuan, untuk memberi komando pada para penyerang untuk mundur.


"Mundur!!!" Ucap Debora. Sihir gema itu besar bunyinya. Mereka yang sedang beradu seketika memilih mundur saat mendengarnya.



"Apa kau sudah menganalisanya Debora?" Tanya Rey pada Debora dibelakangnya.


"Kita akan mengalahkan si Seruling!" Jawab Debora berseringai.


"Bagaimana caranya?" Tanya Rey padanya.


"Kaisar dan Paman Axcel akan tetap menyerangnya. Sejak tadi kalian sama sekali tak mampu mendekatinya bukan?" Ujar Debora.


Apa yang dikatakannya benar. Mereka berdua masih belum memahami sekat tak kasat mata itu datang dari mana.


"Kau benar, sejak tadi kami sama sekali tak mampu menyentuhnya! Apakah kau sudah tau apa sebabnya?" Tanya Axcel padanya.



Leonin ini kesal rasanya. Kekuatan besarnya sama sekali tak mampu menghancurkan sekat tak kasat mata milik Tayuya.


Kedua Iblis disana memicingkan mata mereka. Zekha beralih ke arah Tayuya, lalu membisikkan sesuatu disana.


Situasi mereka saat ini cukup genting. Bagi Zekha, ini terlalu berbahaya. Sebab jumlah mereka dengan para penghuni Rensuar, jauh berbeda.


"Apakah kita harus kembali ke Silver Alaska?" Tanya Zekha pada Tayuya disana.


Namun Tayuya kembali diingatkan atas perintah apa mereka dikirim kemari. Rensuar memang telah dihancurkan sebagian, andai saja Syena saat itu tak melempar sihirnya. Mungkin benteng kecil ini sudah rata menjadi tumpukan batu.


"Kau lupa, apa tujuan kita kemari?" Ujar Tayuya kembali mengingatkan apa tugas mereka.



Seketika tangannya yang memegang sabit gemetar. Hukuman bagi para iblis yang gagal itu mengerikan, sebab mereka mampu beregenerasi. Hukuman itu akan menjadi hukuman panjang bagi mereka.


Sakit itu pasti, iblis tak punya hati. Menyiksa sesamanya adalah hal wajar dan biasa bagi mereka. Bagi mereka, yang terkuatlah yang berhak berbicara. Sedangkan yang lemah, mereka sama sekali tak pantas mengutarakan pendapat.

__ADS_1


"Ya kau benar! Aku tidak ingin merasakan sakit luar biasa itu! Tuan, pasti akan membuat kita sengsara jika kembali!" Ujar Zekha, ia kembali bangkit saat ini.


Sabitnya kembali mengeluarkan api. Sambil menatap ke arah Rey, Zekha tersenyum.


"Baron Putih, kali ini aku akan membuatmu merasakan apa arti dari rasa sakit." Ujar Zekha.


Telapak tangan berkuku tajam itu mengarah ke arah Rey.


Clashhh


Gerakan secepat petir milik Rey seketika membawa tubuh Zekha terbang mengarah ke belakang tubuhnya. Melalui sabitnya, Zekha menggores kulit wajah Rey.


Tetesan darah di pucuk sabitnya, Zekha seka. Ia menjilat darah Rey disana. Ketika Rey berbalik menatapnya, Zekha berseringai. Rey sama sekali belum mengerti, bahwa darah yang Zekha dapatkan darinya adalah petaka untuknya.


"Iblis gila itu kenapa?" Tanya Rey sambil menatapnya.


Debora yang juga bingung terus berfikir disana. Mengapa Iblis itu tersenyum ketika sabitnya mendapatkan darah dari Rey.


Disana mulai terjadi pergerakan. Zekha merubah sabitnya menjadi sebuah senjata panjang meruncing.


"Matilah kau, Baron Putih!"


Rey terkejut ketika Zekha mengatakan satu nama tentang Baronnya. Hal itu membuat Debora disampingnya menatap tak percaya ke arah Rey. Apa yang Zekha bicarakan, Baron Putih, bukankah hanya Rey saja yang memiliki itu.


Crashhhhh



"Arghhh.." Pekik Rey, ketika Zekha menusukkan benda tajam itu kedalam tubuhnya sendiri.


Debora juga meringis kesakitan melihat hal itu, seluruh Musketeers dalam pertahanan dibuat terkejut rasanya. Namun rencana tetap harus di jalankan.


"Lakukan!" Ucap Debora.


Formasi baru dibentuk, kali ini Mikhail menfokuskan pertahanannya ke arah Tayuya disana. Hal itu dilakukan, agar ketika sekat menghalang itu menggagalkan serangan Harith. Dekat itu mempu di tahan oleh Mikhail. Lalu Harith juga Axcel mereka akan maju menebas leher Tayuya.


Clashhhhh


"Akhhhh!!!" Pekik Rey lagi, Iblis diatas sana masih menggila menusuk dirinya sendiri.


"Hahahaha... hahahah.. mati.. mati kau!!!" Teriak Zekha menusuk-nusuk tubuhnya sendiri.


Debora bersimpuh dihadapan Rey yang kesakitan disana. Kedua tangannya menyentuh kepala Rey. Ini adalah sihir pemindahan, sebuah sihir yang sempat Debora gunakan dulu ketika Rey masuk kedalam garena Rensuar.


Debora harus menukar sejenak kemampuan menganalisa juga pembaca gerakan ini pada Rey. Sebab hanya dia lah yang terkuat disini.



"Debo..."


Lirih Rey sambil menahan sakitnya, darah segar dari perutnya mengucur namun disana Debora tetap fokus.


Syuthhhhh


Debora seketika kehilangan kesadarannya ia pingsan setelah mentransfer seluruh kemampuannya pada Rey.


"Arlert, otak gadis ini sungguh cerdas! Lihatlah rancangan penyerangan ini luar biasa!" Puji Baron Emas dalam domain.


Rey memperhatikan sejenak Debora yang tergeletak disana. Netranya kembali menatap ke arah Zekha disana.


"Iblis Laknat!" Teriak Syena.


Crashhhh

__ADS_1


Sihir Tayuya disana melindungi Zekha. Syena terkejut melihat serangan miliknya berbalik menyerangnya. Disana rupanya sejak tadi Tayuya berusaha menghindar. Ia mengendalikan nada serulingnya dengan baik sebagai serangan.


"Syena!!!" Pekik Justice ketika melihat Syena menghindari serangannya sendiri.


"Abiogolio!" Ucap Syena, mendatangkan sekat perisai cahaya. Ranting-ranting itu lenyap seketika ketika menabraknya.


Rey memaksakan diri untuk berdiri kali ini.



"Dandelion!" Ucap Rey.


"Gila kau, lihatlah kau hampir mati!" Ujar Dandelion.


"Selagi jantungku masih berdetak disini, aku akan melakukannya!"


Jawaban itu membuat Dandelion menghela nafas. Rey kembali mendapatkan kedua sayapnya.


"Ughh.. Abonoeraa Atrem Aveluska!"


Rey membentuk lima kloning disini. Lalu kedua tangannya kembali bergerak, ia memanggil Laronna kali ini. Pusaran black hole itu muncul tepat di hadapannya. Bersamaan dengan tubuhnya yang masuk kedalam black hole lalu menghilang. Begitu pula dengan seluruh Kloningnya.


"Kemana dia?" Pekik Zekha tak percaya, Rey tiba-tiba menghilang ditelan pusaran black hole.


"Aku akan menggunakan sihir ini untuk memusnahkannya!" Ujar Rey dalam domain.


Ketiga Baron disana menatapnya datar. Rey akan mengirim Tayuya masuk kedalam domainnya. Hal itu harus dilakukan dengan mana murni yang cukup besar.


Clashhhhh


Dari dalam lubang Black hole, Rey muncul tepat dari bawah Zekha.


"Elden Ring! Bola-bola panas!" Ucap Rey, aliran panas mulai memenuhi telapak tangan kanannya.


Ketika aliran itu itu berubah menjadi sebuah bola. Rey mengarahkan itu tepat ke arah Zekha.


"Laronna!" Ucap Rey lagi.


Lubang hitam dibatas Zekha muncul, lubang itu menganga lapar.


"Arghhhh!!!" Pekik Zekha sambil menahan serangan Rey disana.


"Lenyaplah kau!" Ucap Rey, mendorong Zekha masuk kedalam Black hole.


Inilah tujuan Rey, rencana cerdas ini berasal dari kepala Debora. Ketika Debora menggunakan sihir transfer kemampuan, ia juga mampu membaca segala kekuatan Rey. Rasanya seperti, Debora saat ini memegang kemudi penuh atas diri Rey beserta kekuatannya.


"Dimana aku?!!" Pekik Zekha terkejut ketika melihat ruangan tempatnya berada dipenuhi api.


Disan Rey tersenyum, namun Zekha kembali dengan usahanya. Menusuk-nusuk tubuhnya sendiri. Serangan Zekha rupanya tak berhasil pada Rey. Serangan itu sudah tak mempan.


"Begitu ya, sihirmu unik sekali! Namun sayang, sepertinya sampai sini saja kerusakan yang kau perbuat ini! Lenyaplah kau!" Teriak Rey.


Sihir lima pedang semesta muncul dari balik tubuhnya. Pedang cahaya itu, runcingnya mengarah tepat ke arah Zekha disana. Zekha memejamkan matanya ketika Rey mengirim lima pedang itu ke arahnya.


Tusukan demi tusukan pedang itu berlomba-lomba menghabisi Zekha disana. Hingga ketika Zekha sudah benar-benar tak berdaya, Rey kembali menggunakan kemampuan Baron Emas.


"Enyahlah!" Pekik Rey.


Slattttt


Wushhh


Kristal di tengah keningnya itu menembakkan panas matahari ke arah Zekha. Iblis itu seketika terbakar begitu saja. Teriakannya saat itu mengiringinya lebur lalu menghilang.

__ADS_1


...Aspek terakhir dari kebebasan manusia adalah menentukaan sikap dalam keadaan yang sulit...



__ADS_2