Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Detik dan Kesadaran


__ADS_3

...Kepercayaan dari orang-orang lugu...


...Adalah alat yang paling berguna bagi pembohong...



___________


.


Ini sudah tujuh jam tak ada kabar apapun dari Riley disana, kalut sekali rasanya hatinya mengapa Noella tak kunjung keluar memberi kabar pada mereka, mengenai apa sebenarnya yang terjadi pada Riley didalam. Dari markas Rensuar kemari, ke Istana Putih dengan menaiki Khufra ia sudah menempuh tiga puluh menit perjalanan, entahlah mengapa Riley begitu penting untuknya intinya hatinya kalut rasanya jika belum bertemu dengan Riley, menyaksikan ia membuka mata rasanya cukup.


Setelah Mikhail meredam amarahnya yang sudah terbendung itu, Mikhail membawanya pergi keluar dari Istana Putih. Merasa tak ingin kemana pun hatinya menuntun langkahnya menuju hutan, tempat peternakan hewan buas milik Riley. Disana ia memberi hewan-hewan itu makan, kadang ia sering kesana bersama Rey karena memang itu rutinitas mereka dari Riley, entah sihir apa yang merasuki keduanya sehingga mengiyakan permintaan Riley. Beberapa Musketeers senior berlalu lalang disini, sering berpas-pasan dengannya terkadang Justice menyapa mereka sampai ketika kakinya berhenti tepat dihadapan pintu itu, Justice menghela nafasnya.


"Astaga sebenarnya ada apa didalam sana! Memang lukanya tak menembus jantungnya, tapi pendarahannya cukup menyeramkan tadi."


Gumam Justice seraya netranya masih memperhatikan pintu itu. Ia sedikit mengingat satu mantra penerawangan yang pernah dibacanya, namun melupakan lafalan kalimatnya. Justice membuka telapak tangannya cahaya biru miliknya mengiringi buku kitab sihir itu keluar, secara otomatis buku itu terbuka sendiri berhenti tepat pada halaman yang diinginkan.



"Nah ini dia!"


Justice berbinar tatkala halaman mantra yang ia inginkan terpampang. Justice menggerakan tangannya mengarahkannya tepat ke depan pintu, hampir saja rapalan mantra itu ia ucapkan.


Brakkkkkkkk


"Awhhhh!!!"


Justice memegangi hidungnya ketika pintu kayu itu terdorong ke arahnya menghempas begitu saja pada wajahnya.



"Justice? Mengapa kau didepan sini?"


Noella adalah pelaku dibalik terbenturnya dirinya, bahkan mengetahui Justice yang kesakitan seraya memegangi hidungnya Noella masih bertanya.


"Ya Tuhan, selir Harith memang mengesalkan!"


Geram Justice seraya menatap Noella kesal, namun yang ditatap itu tak peka ia hanya menatap Justice dengan tatapan lugunya.


"Kau... kau ingin menjenguk Riley ya?"

__ADS_1


Mendengar nama itu disebut Justice mengangguk cepat seakan ingin segera mengetahui keadaan Riley didalam.


"Ya, ya... Bagaimana pawang buas itu? Apakah ia baik? Apakah ia masih hidup? Apakah ia sudah sadar?"


Ragam pertanyaan itu membuat Noella menggelengkan kepalanya, terlalu banyak, terlalu khawatir, curiga rasanya. Apakah Justice menyimpan hati pada Riley.


"Wah wah, kau sepertinya sangat mengkhawatirkannya ya!"


Ujar Noella menggoda, Justice tak paham apa maksudnya. Bagaimana hatinya tak kalut ketika melihat rekan satu timnya hampir mati. Pertanyaan sekonyol apa ini yang Noella lontarkan.


"Aku akan menemuinya!"


Ujar Justice bergegas, namun ketika langkahnya hampir masuk Noella menahannya, menciptakan sekat tak terlihat sehingga Justice tak mampu masuk menemui Riley. Demi Tuhan, apa lagi sekarang.


"Hei, aku ingin menemui temanku!"


Ucap Justice, namun Noella menggeleng sudah jelas ada perasaan lebih dari Justice pada Riley. Namun entah karena manusia dihadapannya ini tak peka, atau mungkin karena manusia ini memang malu menyatakannya.


"Tidak boleh, dalam satu ruangan untuk seorang lelaki dan wanita apa yang kau pikirkan? Di Asrama saja kalian tidak tidur sekamarkan. Jika kau ingin masuk, masuklah bersama rekanmu yang lain."


Justice menatap gemas ke arah Elf itu, sungguh untuk murka rasanya ia tak mampu karena yang Noella katakan itu benar adanya. Tak pantas jika didalam kamar itu mereka nya berdua, bagaimana jika Justice khilaf mungkin Rey juga rekannya akan memiliki keponakan, dan dia akan dipecat dari Rensuar lalu hidup dalam hutan, menjadi seorang Tarzan.


"Tidak, tidak... Kau benar Noella, baiklah aku akan menjemput mereka!"


Dalam perjalanannya sembari berlari menuju Gerbang masuk Istana Putih, dimana disana Justice meninggalkan Khufranya, tak sengaja Justice bertemu dengan Axcel menabraknya.


Brukkkkkk


"Awhh!!!"


Axcel memekik tatkala tubuh kecilnya terjatuh akibat tubrukan yang terjadi antara Justice dan dirinya yang sedang berpas-pasan. Merasa bersalah menabrak seorang Musketeers senior Justice mengulurkan tangannya, mencoba membantu Axcel berdiri.


"Kau ini ada apa, buru-buru sekali?"


Axcel bertanya, sambil berdiri lalu membersihkan baju putih miliknya yang sedikit kotor. Namun Justice hanya memberinya cengiran lalu menggeleng.


"Tak apa Paman, aku hanya bahagia saja Rekan timku sudah sadar. Aku ingin memberitahu teman-temanku perkara ini, jadi maaf ya, karena kebahagian yang memenuhi hatiku membuatku buta jalanan."


Jelas Justice, Axcel menggelengkan kepalanya sudah pasti ia paham melihat kebahagiaan itu terlukis jelas dalam raut wajah Justice.


"Mungkin kali ini kebahagiaanmu akan berlipat-lipat!"

__ADS_1


Ujar Axcel, Justice mengerutkan keningnya tak mengerti apa maksud dari ucapan Axcel padanya.


"Ya, aku tau kau dan Rey suka sekali memicu adrenalin. Beberapa menit lalu aku menghadiri acara rapat petinggi Rensuar, dan ini."


Axcel memberikan gulungan kertas pada Justice, disana Justice menatapnya bingung. Apa itu dan untuk apa diberikan padanya?


"Apa ini Paman?"


"Ah itu, hasil dari rapat ini. Rensuar atas perintah Kaisar putih, akan mengadakan ajang besar dimana ketiga divisi akan diperlombakan disana. Mereka yang meraih skor tertinggi akan mendapatkan hadiah dari Harith, detail hadiah kau bisa membacanya sendiri disitu."


Jelas Axcel, rasanya benar apa yang dikatakan Axcel itu. Pengumuman itu membawa kebahagiaan dalam dirinya sungguh, perlombaan, dan hadiah.


"Wah hebat sekali, aku senang sekali mendengarnya Paman."


"Ya, sementara acara itu akan dilakukan besok, nanti malam dalam gedung Aula Rensuar akan diadakan makan malam besar juga pesta. Penyihir kita perlu hiburan, bukan? Ajak kawananmu kesana mereka pasti akan sangat menikmatinya."


Ujar Axcel, wah kebahagian semacam apakah ini datangnya bertubi-tubi sekali. Axcel mengumumkan berita bahagia itu sambil menepuk bahu Justice. Namun ada sesuatu yang Justice tak paham disini, kemanakah pendaftaran perlombaan ini.


"Paman Axcel, lantas dimana kita bisa mendaftarkan diri untuk berpartisipasi?"


Axcel mengangguk mendengar itu, ia lupa memberitahu dimana tempat pendaftaran itu berada.


"Lantai tiga, gedung dekat tempat sejarah sihir. Disana ada sebuah tiang memanjang dengan cawan melayang berisi api berwarna emas. Api itu tidak membakar, tidak pula panas, jika kau ingin mendaftar cukup letakan saja tanganmu diatas api. Jika kemampuanmu memadai, api akan berkedip dan berbunyi, namun jika tidak, maka kau akan terpental."


Pupus sudah rasanya harapan Justice mendengar itu, jika kekuatan memadai katanya. Jelas saja dirinya tidak memadai, pasalnya ia masihlah ksatria sihir baru disana. Mana miliknya bahkan masih jauh dibandingkan dengan para Musketeers. Namun mendadak terbesit sebuah ide dalam kepalanya, dimana ia pernah meminjam buku tebal milik Mikhail tentang ramuan.


Disana ada satu ramuan peningkat mana, namun efeknya tidak lama. Mungkin jika dirinya bisa mengambilnya lalu meminumnya dan mendaftar itu akan membuatnya mampu memadai syarat dan ketentuannya, lalu masuk sebagai seorang peserta lomba. Sepertinya mengambil ramuan itu didalam ruangan Lapu-lapu shubuh nanti adalah hal yang efektif, mungkin dirinya akan mengajak Rey untuk ini, karena pikiran mereka sepaham, sefrekuensi juga gila.


"Ah baiklah Paman, terima kasih pemberitahuannya!"


Ujar Justice bahagia, lalu berlari meninggalkan Axcel yang masih terpaku menatapnya disana.


...Ingatlah selalu bahwa usaha seseorang itu cerminan dari minatnya padamu...



____________


Ensiklopedia :


HD 140283, juga dikenal sebagai Methuselah adalah bintang sub raksasa miskin logam, yang terletak sekitar 190,1 (biasa dibulatkan 200 tc) tahun cahaya, di konstelasi Libra, dekat perbatasan dengan Ophiuchus. Bintang ini pertama kali ditemukan pada tahun 1912 oleh astronom Amerika bernama Walter Adams. Sejauh ini, bintang Methuselah memang bintang paling tua yang pernah ditemukan oleh astronom.

__ADS_1



__ADS_2