
...Biarpun kita kalah dalam jumlah bukan berarti mereka lah yang terkuat...
...Mungkin di dunia ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan...
...Sebab semuanya terjadi karena suatu alasan...
...
...
__________
Seminggu berlalu dan kini Syena sudah menjadi bagian dari Rensuar. Setelah ia sadar saat itu, Debora dengan izin Noella membawa Syena tinggal di Markas bersamanya.
Selang tiga hari setelahnya, Syena direkrut oleh Noella untuk bergabung mempelajari sihir bersama mereka di Asrama Rensuar.
Hari ini adalah jadwalnya kelas ramuan. Syena unggul dalam beberapa bidang rupanya, kecuali sejarah. Namun itulah yang membuat Mikhail tertarik disini. Bidang akademik anak ini luar biasa. Baru beberapa hari ia masuk kemari, namanya terkenal karena perolehan skor tertinggi di kelasnya.
"Jadi jika kita tambahkan kulit penyu disini. Cairan Alga putih, bersama dengan sejumput akar pohon di Land White. Hasilnya, akan menjadi sebuah ramuan penangkal segala racun. Sebelum meminumnya usahakan kepulan asap ini dibiarkan hilang lebih dulu."
Blukkkk
Blukkkk
Suara cairan didalam tabung reaksi itu mulai mendidih. Mereka tidak menggunakan panas disini, namun itu adalah reaksi alami dari benda-benda, juga bahan-bahan ajaib di Land White.
"Wahh kau hebat Syena! Bagaimana ilmu ramuan ini bisa ada pada dirimu?" Salah seorang teman bertanya demikian. Mungkin mereka heran, mengapa murid baru bisa semahir ini.
Dari balik tubuh Syena, Mikhail memperhatikannya tentu tanpa sepengetahuannya. Disana cairan ramuan itu jernih sekali, tidak ada bahan yang berlebihan. Takaran itu pas dan sempurna.
"Keren sekali adik kecil, kau membuatku kagum sungguh!"
Ucapan dari balik tubuhnya begitu familiar bagi Syena. Suara ini beberapa hari memenuhi rungunya sebab mereka tinggal satu atap saat ini. Ketika Syena berbalik, benar saja, Pemuda ini adalah Mikhail.
"Kakak Mikha?" Lirih Syena, disana Mikhail mengangguk.
"Mengapa kau disini?" Tanya Syena heran.
Gadis ini tentulah belum tau. Mikhail akan datang menggantikan Madam Geralda di jam kedua pelajaran ramuan. Sambil tersenyum Mikhail mengusap lembut kepala Syena yang tingginya lebih rendah dari tubuhnya.
"Duduklah, mari kita belajar ilmu lain sekarang!"
Syena terhenyak mendengarnya. Artinya Mikhail disini adalah pembimbing. Pemuda ini guru disini menggantikan Lapu-lapu wanita yang baru saja datang beberapa jam lalu.
Para Musketeers diam mendengar itu. Mereka berangsur-angsur duduk di tempat mereka masing-masing. Syena pun juga ikut duduk tanpa ada sepatah katapun ia lontarkan setelah perintah itu.
Bagi Syena, duduk disini bercengkrama dengan beberapa manusia itu melegakan. Begini rupanya rasanya kebebasan itu. Nikmat sekali, hal itu membuat dirinya begitu bersyukur juga bersemangat.
Jika Debora tidak membawanya bersamanya entah akan dibawa kemana lagi Syena nanti. Dia adalah pengkhinat, namun hanya para petinggi saja yang tau. Mereka tidak ingin mengeskpor perlakuan bahkan latar belakang Syena sebelum ini.
Demi menghormati gugurnya Rey Arlert. Noella mengambil satu keputusan tepat dengan mengirim Syena masuk kedalam Asrama Rensuar. Rupanya rekomendasi itu tidaklah sia-sia, Syena adalah manusia yang berbakat.
Sihirnya luar biasa, tanpa senjata berupa pedang tempaan. Hanya dengan menggunakan perwujudan sihir ranting, ia mampu menghancurkan lima ratus target sekali hunus. Syena disini sekarang, pelajaran pengendalian sihir dan terbang.
Hal itu membuat Axcel dan Justice tercengang. Mereka yang memang adalah seorang pelatih terbang Khufra. Juga teknik pengendalian sihir berdecak kagum saat ini.
"Rupanya cara serangnya juga tidak berbeda dengan Rey ya?"
Disela-sela netra mereka memperhatikan Syena, Justice berbisik tepat disamping Axcel yang sibuk mencatat perkembangan para Musketeers.
"Ya mau bagaimana lagi, kau sedang membicarakan adik Rey disini. Tentu saja sifat mereka tak ada bedanya!" Jawab Axcel.
"Tapi Rey otak udang! Dia benci pelajaran ramuan beserta dengan sejarah sihir."
"Hahahaha... Begitupun juga denganmu!"
Ucapan penghinaan itu membuat Justice geram. Namun ketika hasrat ingin melawan itu datang, ia teringat sesuatu. Axcel lebih unggul daripadanya hal itu membuat dirinya menahan rasa kesalnya setengah mati.
"Para Leonin ini mereka memang mengesalkan lahir dan batinku." Batin Justice mengumpat.
Segala pelajaran sihir hari itu Syena pelajari. Seluruh angka hasil pencapaiannya baik, hanya saja minus dalam pelajaran sejarah sihir.
Seperti biasa ketika senja datang Debora akan menjemputnya. Debora akan mengajak Syena di jembatan Rensuar. Sebuah jembatan batu penghubung Asrama para Musketeers dengan Rensuar tempat mereka belajar.
Didepan jembatan, mereka akan melewati belantara panjang. Namun di dalam sana tidaklah gelap. Mantra sihir Biyokh selalu menyala tiap malam. Penerangan belantara tidak menggunakan lampu, namun menggunakan sihir. Hal itu membuat daun-daun pohon bercahaya.
Ditengah salju yang masih turun mereka berdiri disana. Matahari mulai lelah terbit, ia memilih pergi menenggelamkan wajahnya sebentar. Mereka berdua disana sedang menunggu para rekannya. Itu adalah kebiasaan mereka pulang bersama menuju markas.
"Saljunya masih turun ya!"
Syena berucap sembari membuka telapak tangannya membiarkan buliran salju jatuh tepat diatasnya. Debora tersenyum mendengar itu, gadis ini semakin hari semakin terbuka padanya.
__ADS_1
Mungkin memang dia akan banyak diam dengan rekannya yang lain. Namun disisi Debora, terkadang Syena banyak sekali mengobrol dengannya.
"Salju masih turun dengan sangat indah!" Ucap Debora berdiri disampingnya sambil membuka tangannya menirukan apa yang Syena lakukan.
Ada sesuatu yang mengganggu kepala Syena disini. Sesuatu mengenai Baron putih itu. Mengenai manusia yang mati beberapa Minggu lalu.
"Kakak.." Lirih Syena.
"Iya Syena?"
Sekalipun Debora tidak bicara perihal hatinya. Namun Syena merasakan betapa kosongnya hati Debora saat ini. Disana gadis itu masih berduka. Bahkan tiap malam tak jarang Syena melihatnya menangis di balkon.
"Kau mencintai orang yang sudah mati?"
"Huh?"
Debora terkejut mendengarnya, gadis kecil ini tau darimana. Apakah ia mampu membaca isi hatinya. Disana Syena tersenyum tipis lalu menatap lekat ke arah Debora.
"Manusia yang mati akan selalu hidup dalam kenangan orang lain. Aku memahami tiap pilu dalam duka kalian. Aku juga merasa kehilangan atas dirinya, untuk sebab itu bahkan aku tak tau. Tapi tiap kali aku melihat dirinya, ada kelegaan tersendiri didalam sini."
Syena menyentuh dadanya menandakan bahwa apa yang ia ucapkan berasal dari hatinya. Rupanya ikatan antara Rey dan adiknya memang sangatlah kuat. Sebenarnya ia bisa mengatakan pada Debora bahwa Rey masih hidup sekarang.
Namun Syena memilih bungkam ia takut sangat takut. Jika mereka tau Rey masih hidup disana, Syena takut akan dikembalikan lagi ke dalam Silver Alaska lalu Rey manusia itu akan hidup bebas disini.
Mungkin ia menyembunyikan fakta besar ini. Namun apa yang ia katakan tulus, mengalun untuk Rey. Itu adalah ucapan duka darinya, entah mengapa Syena benar-benar kehilangan dalam hatinya. Bahkan ketika melakukan serangan terakhir melalui mata kirinya.
Bola mata itu meneteskan air matanya melihat Rey terkulai lemah disana, ditusuk berulang kali oleh Trounum. Sesudah pembicaraan tentang ini Debora diam, Syena memiliki sifat yang sama dengan Rey.
Sifat itu adalah kemampuan melontarkan petuahnya dengan nada yang sangat tenang. Petuah itu mungkin akan membuat seseorang tertampar, atau mungkin membuat mereka teringat kembali pada lampau yang usai mereka lalui.
"Lebih baik menerima kejujuran yang pahit, dari pada kebohongan yang manis. Suatu saat akan datang hari di mana semua akan menjadi kenangan. Kesedihan kami memang perih sekali, namun mau bagaimana lagi. Manusia fana ini pasti kelak akan mati juga. Perpisahan itu bagian dari skenario alam semesta."
Ketabahan Debora membuat Syena kagum. Namun alih-alih menunjukkan rasa kagumnya ia hanya menatap langit sambil membisu.
"Syena, kau dibawa kemari juga karena sebuah alasan."
Penyataan itu sekejap menciptakan pergulatan dalam hati Syena. Apakah dirinya akan di perbudak lagi disini. Apakah dia tidak akan mendapatkan kebebasan. Ragam pertanyaan itu memenuhi kepalanya.
Disana Debora beralih menatap lekat ke arah Syena lalu tersenyum. Dalam senyuman itu Syena sama sekali tak menemukan adanya aura negatif. Aura Debora tetap sama, tenang dan putih.
"Adikku, kau memiliki partikel Baron Putih dalam tubuhmu. Saat ini Rey sudah tiada, dan kami membutuhkanmu untuk membantu kami menemukan dua senjata legendaris yang masih belum ditemukan keberadaannya." Jelas Debora.
Ucapannya yang santun, lirih dan ramah membuat Syena mengangguk. Letak keberadaan pedang itu ia tau dimana.
"Apakah kita akan kembali masuk kedalam Silver Alaska?" Tanya Syena pada Debora.
"Iya Syena, kita akan kembali kesana seiring dengan pulihnya Kaisar Putih."
Hal melegakan bagi Syena bahwa mereka tidak pergi kesana saat ini. Larut dalam obrolan mereka, suara langkah kaki perlahan mulai menyadarkan mereka. Keduanya mengalihkan netranya ke arah sumber suara. Rupanya itu adalah suara langkah kaki dari para rekannya.
"Hei, apa kami cukup lama membuat kalian menunggu?" Tanya Mikhail ketika berada tepat dihadapan Debora dan Syena.
"Tidak, ini tidak terlalu lama!" Jawab Debora.
"Baiklah mari kita pulang, aku sudah lapar sekali!" Justice berucap sambil melipat tangannya.
"Hari ini jadwal kita memasak ya, Debora?"
Pertanyaan itu membuat Debora menghela nafas. Rasanya melelahkan, namun mau bagaimana lagi ini rutinitas dan kebutuhan mereka. Mereka bergegas masuk ke dalam belantara, menuju ke arah Asrama mereka. Malam menjelang adalah waktunya bagi divisi Crusher tingkat tiga untuk Istirahat.
_________
Didalam dapur dua gadis ini seperti sedang melakukan peperangan. Mereka berdua memotong sayuran sambil berseringai, keduanya bilang sebelum memotongnya bahwa siapa yang paling cepat menyelesaikan potongannya dia lebih unggul.
Riley yang tertantang pun turut serta berpartisipasi. Padahal beberapa menit lalu Debora mengatakan bahwa ia lelah sebenarnya, namun ini, bahkan raut muka lelah sama sekali tak ada disana.
Beberapa sayuran yang belum dipotong melayang dibelakang mereka. Sayuran itu menunggu giliran mereka untuk menghadapi eksekusi.
Syena duduk dimeja makan sambil menopang kepalanya. Netranya memperhatikan dua gadis yang lebih tua darinya melalui sana. Begitupun dengan Mikhail dan Justice.
"Kau jangan terkejut ya Syena!" Ucap Mikhail disampingnya, pemuda yang sejak tadi menyeruput secangkir kopi pada akhirnya bersuara.
"Iya?" Tanya Syena.
"Terkadang dia manusia itu juga bisa ikut gila. Selain Justice dan Rey yang selalu heboh, tiap kali dua gadis itu memasak dapur kami rasanya seperti kapal pecah."
"Bukankah ini hiburan bagi kalian?"
Syena menanggapi itu dengan wajah polosnya. Mikhail yang berada disampingnya tertegun dibuatnya, rupanya anak ini benar-benar mirip Rey. Begitupun Justice yang duduk tepat dihadapan Syena, ia tersenyum, sepertinya ada kecocokan diantara jiwa mereka.
"Rey Arlert sepertinya sangat berharga bagi kalian ya!" Ujar Syena sembari masih menatap Debora dan Riley.
Justice mengepalkan tangannya sambil menunduk. Namun tak lama ia pun tersenyum.
__ADS_1
"Ya, Arlert ikon heroik terbaik milik Rensuar! Kau adalah yang spesial baginya, itulah mengapa jika kau menghargai Rey. Hargai pula nyawamu ya, Syena!"
Nada bicara riang itu menyita perhatian Syena. Pemuda itu tersenyum sambil mengacungkan salah satu jempolnya. Syena menanggapi hal itu dengan senyuman pula.
Sudah habis setengah jam dua gadis disana memasak. Wangi dari masakan mereka mulai menguar. Mereka membawa beberapa masakan mereka ke meja makan, menatanya.
Sebuah sup daging beserta dengan kebab. Betapa nikmatnya hidangan ini disajikan di depan mata, dengan panas yang masih menguar membiarkan wanginya menyeruak.
Debora mengambil beberapa lauk pauk disana. Seseorang yang pertama kali ia suguhkan adalah Syena.
"Makanlah, Syena!"
Debora memang selalu seperti ini. Amanat dari Rey sungguh ia jalankan. Dengan hatinya Debora menyayangi gadis ini, sebagai seorang adik. Begitu pula dengan Riley ia mulai mengambilkan beberapa penutup makanan. Mereka membeli sebuah melon beberapa hari lalu.
"Ini Syena, kau juga bisa mencicipinya!" Ujar Riley sambil menyerahkan buah melon yang belum saja dikupas.
"Astaga, Riley Sayang! Mana mungkin Syena memakan buah sebesar itu dalam mulutnya. Kau waras Riley?" Ujar Justice padanya.
"Kupas mandiri bisa bukan?"Jawab Riley asal.
"Kalau begitu kau jual saja lagi ke pasar! Jika begitu pasti laku." Tambah Mikhail ikut memeriahkan.
Debora dan Syena tertawa mendengar perdebatan sederhana itu. Pada akhirnya, Mikhail dengan sihirnya mulai mengupas buah melon itu. Potongan demi potongan ia letakkan tepat di atas piring kosong.
"Uwahhhhhh Umai! Sugoi!!!" Ucap Riley girang sambil mengunyah buah melon ditangannya.
Lagi-lagi tingkah konyol Riley membuat Debora dan Mikhail heran. Gadis ini, pantas saja Rey lekat sekali dengannya. Sifat mereka tak ada bedanya, sama-sama konyol.
"Ubayikkk!" Kali ini giliran Justice menirukan Riley disana.
Riley yang tau bahasa tempatnya berada di plesetkan seketika langsung menyerang Justice dengan sihirnya.
Brukkkk
Seketika kepala Justice menunduk menempel dimeja saat itu juga. Sihir milik Riley menekan kepala itu ke meja, sebagai hukuman padanya agar tidak asal berucap dengan bahasa negaranya.
"Kau, berani kau menghina Negaraku lagi kubunuh kau!" Geram Riley padanya.
"Ahhh baiklah Riley, aku menyerah!"
Ujarnya sembari mengangkat kedua tangannya. Namun disana Riley hanya duduk sambil mengunyah melon miliknya, tak mempedulikan Justice yang masih belum sanggup mengangkat kepalanya.
"Mikha... Bahasa Jepang tolong maafkan aku itu apa?"
"Entahlah, I am Sorry mungkin?"
"Mikha, ku bunuh kau nanti! Cepatlah!"
Perdebatan antara Justice dan Mikhail membuat Syena tersenyum. Ia yang tau kalimat itu pun menatap ke arah Riley, yang masih sibuk dengan makanannya.
"Summimasen, Oniichan!"
(Maaf kakak)
Sekejap manusia disana dibuat terperangah atas apa yang Syena ucapkan. Riley terharu rasanya, ada yang bisa bahasa Jepang disini rupanya.
"Sorede?"
(Jadi?)
Tanya Syena lagi, disana Riley mengangguk ia melepaskan sihir miliknya dari Justice.
"Adik kecil kau belajar darimana?" Tanya Riley.
"Entahlah, mendadak aku ingat saja!"
"Aishiteru Yo Syena! Kawai!"
(Aku mencintaimu Syena! Imut!)
Melihat Syena yang mulai terbiasa dengan pertemanan mereka, itu membuat Debora lega sekali. Pada akhirnya rasa dari kebebasan benar-benar Syena rasakan. Rey pasti sangat bahagia jika ia berada disini saat ini. Melihat Syena begitu menikmati segalanya.
...Satu Tujuan, Satu impian...
...Itu lah yang membuat kita di sini berdiri melintasi berbagai masalah dan rintangan...
...Sejarah tercipta setiap hari, tapi manusia tidak akan bisa kembali ke masa lalu...
___________
Ensiklopedia :
Lubang hitam supermasif adalah jenis lubang hitam terbesar, dengan massa dari ratusan ribu hingga miliaran kali massa matahari. Kebanyakan atau bahkan semua galaksi diperkirakan memiliki lubang hitam supermasif di pusatnya. Di pusat galaksi Bimasakti diyakini terdapat lubang hitam supermasif Sagittarius A.
Lubang hitam supermasif di dalam inti galaksi elips superraksasa Messier 87 di konstelasi Virgo. Massanya diperkirakan mencapai miliaran kali lipat massa Matahari (7,22+0,34−0,40×109 M☉) pada tahun 2016.
__ADS_1