
...Hidup adalah perjalanan yang harus dilalui, tidak peduli seberapa buruk jalan yang harus dilewati...
_________
.
.
"Aaaaaaaa!!!"
Brakkkkkkk
Berita musnahnya Zekha dan Tayuya sampai sudah ke dalam Silver Alaska. Auman kebencian itu menyelimuti Silver Alaska saat ini. Seluruh Iblis rendahan berdiri menunduk menghadap ke arah Kastil. Disana Tuan mereka mengamuk, menghancurkan seluruh barang yang ada didalam Silver Alaska.
"Bagaimana Zekha bisa dikalahkan?" Tanya Iblis seratus juta jiwa.
Para petinggi masih bersimpuh disana. Tak ada satupun dari mereka yang berani menatap Tuan mereka. Salah pergerakan sedikit saja, mereka pasti akan menerima siksaan pedih nan kejam.
"Zekha iblis kuat begitu juga Tayuya! Mengapa mereka berdua bisa dikalahkan?" Ujar Tuan mereka lagi.
Cakar-cakar miliknya bergerak. Bola mata menyeramkan itu memanas, ingin rasanya saat ini juga ia mencabik-cabik Rey Arlert. Namun ia tetap menahannya, bukan berarti ia tak berani. Namun sistem generasi untuk mengamankan dirinya membutuhkan kelahiran dua iblis baru.
"Katakan padaku, bagaimana mereka bisa kalah!!!"
Brakkkkkk
Dinding kastil jebol begitu saja bersamaan dengan teriakan Sang Iblis.
"Tuanku, ijinkan aku mengatakan sesuatu!" Ujar Barsh ia mendekat ke arah Tuannya yang masih diliputi amarah itu.
Barsh bersimpuh disana menunduk menunggu jawaban antara iya atau tidak yang akan Tuannya berikan.
"Katakan Barsh!" Ucap Iblis seratus juta jiwa.
"Menurut informasi dari para serangga iblis. Mereka menjelaskan bahwa Rey Arlert masih hidup, dan dia sudah menguasai tiga pedang legendaris itu. Salah satu dari mere juga mengatakan, bahwa Rey memiliki sepasang sayap dari dalam tubuhnya. Kekuatan yang ia berikan pada Zekha dan Tayuya luar biasa Tuan!" Jelas Barsh.
Sungguh suatu kesialan rasanya bagi Iblis seratus juta jiwa saat ini. Gemertak taringnya mulai beradu, jari jemari panjang itu mulai mengepal.
"Artinya dia sudah menemukan keberadaan tiga pedang itu?" Tanya Iblis seratus juta jiwa lagi padanya.
Barsh dengan berat mengangguk menanggapi apa yang Tuannya tanyakan.
"Hahahaha... Jika memang begitu, maka akupun juga perlu di pelengkap bukan?"
__ADS_1
Jawaban itu membuat Barsh beserta generasi lain kebingungan. Mereka sama-sama tak mengerti apa maksud dari perkataan Tuannya.
"Apa maksudnya itu Tuan?" Tanya Barsh padanya lagi.
"Lenonin itu, dia adalah prioritas kita kali ini! Akan ku buat ketiga pedang itu melawan Tuan mereka masing-masing nanti."
Rencana yang Tuannya lontarkan itu sangat brilian bagi Barsh. Benar, sepertinya akan bagus apabila ketiga senjata melawan Tuan mereka nanti.
Iblis seratus juta jiwa sudah melahap Lunox dan Bembi. Hanya satu guardian saja yang masih belum dilahapnya. Salah satu Guardian itu hidup didalam Rensuar, dengan segala perlindungannya. Guardian itu adalah Leonin kecil bernama Harith.
Sosok ikon terkuat didalam Silver Alaska. Dialah yang membangun benteng kokoh Silver Alaska, lalu melindunginya sampai saat ini.
"Harith, akan ku dapatkan kekuatanmu setelah ini!" Ujar Iblis seratus juta jiwa.
Kebenciannya pada Rensuar membuatnya berbuat segala cara. Keinginannya untuk menguasai bumi kuat, hingga pelenyapan besar-besaran ini adalah hal terbaik baginya.
__________
Sementara di dalam Rensuar yang mulai pulih total. Rey sedang duduk disamping Debora. Debora masih belum sadar disana.
Selemah apapun pemegang abjad sihir E, bagi Rey Arlert mereka tetap pemegang sihir terkuat. Untuk apa kekuatan tanpa otak bukan. Itulah peran mereka, sebagai otak timnya. Debora adalah perancang strategi luar biasa bagi timnya.
"Debo.. Bangunlah, aku sudah pulang!" Ucap Rey mengulurkan tangannya mengusap lembut surainya.
Sebab perjanjian mantranya mengatakan bahwa, Debora akan mengingat segalanya ketika Rey mati. Ditengah lamunannya itu, Syena terlihat berdiri di ambang pintu.
Syena memperhatikan kedua pemilik Surai putih itu. Syena merasakan kedua hati itu saling terpaut satu sama lain, hal itu membuatnya tersenyum.
Syena berjalan menghampiri Rey, lalu berdiri disampingnya. Dalam posisi itupun, Rey sama sekali tak menyadari kedatangannya. Ah, Syena tau ini, ini adalah efek mabuk cinta.
"Kakak!"
Deggggg
Suara kecil itu berasal dari balik tubuhnya. Syena memanggilnya, dan Rey sangat mengenali suara itu. Rey berbalik menatap Syena kali ini, terlihat disana adiknya itu tersenyum.
"Hallo kakak!" Sapa Syena lagi. Namun Rey hanya tersenyum sambil mengusap lembut Surai Syena.
"Dia sudah sebesar ini rupanya!" Batin Rey masih menatap ke arah Syena.
Syena dibuat heran rasanya atas perilaku yang Rey tunjukkan padanya.
"Ada apa kakak?" Tanya Syena lagi pada Rey.
__ADS_1
Disana Rey kembali menarik tangannya, sambil masih tersenyum ia menggeleng.
"Apa kau mengenaliku Syena?" Tanya Rey padanya.
Syena mengacungkan jempolnya ke arah Rey. Tentu saja ia mengenalinya, sebagai Baron putih legendaris yang disegani di Rensuar.
"Tentu saja.."
"Benarkah?" Tanya Rey memotong apa yang akan Syena katakan padanya.
Rasanya akan sangat senang apabila adiknya itu benar-benar mengingatnya.
"Kau Baron Putih legendaris kesayangan Kaisar, juga paman Axcel. Kau Baron putih legendaris yang pemberani itu, kau ikon terkuat kedua setelah kaisar. Kau juga yang memotivasi diriku untuk ikut perlombaan. Aku benar bukan?"
Jawaban itu sedikit membuat Rey sedih rasanya. Adik kesayangannya ini masih belum mengingatnya sama sekali. Hanya sanjungan atas namanya saja yang diingatnya. Tentu saja Rensuar akan menceritakan tentang dirinya beserta pencapaiannya.
"Ya Syena kau benar! Aku Rey Arlert!" Ucap Rey berusaha tersenyum meskipun perih.
"Kakak, maafkan aku ya.." Lirih Syena, gadis itu menunduk kali ini.
Rey beranjak dari duduknya, ia bersimpuh mencoba menatap Syena kali ini. Gadis itu, entah apa yang sedang mengganggunya saat ini. Tetesan air mata itu tiba-tiba mengucur begitu saja dari dalam matanya.
"Hei ada apa Syena?" Tanya Rey lembut padanya.
"Sebab diriku lah kau berada dalam jeruji kejam, Silver Alaska. Sungguh kakak, aku hanya ingin kebebasan seperti ini. Aku buta saat itu mengorbankan dirimu disana. Lalu aku, tersenyum disini dengan aman. Jika kau ingin menghukum ku, maka aku akan menerimanya kakak!" Jelas Syena terisak.
Namun disana Rey hanya tersenyum. Lucu rasanya, pantang terjadi padanya bukan salah Syena. Sebab Rey pun juga menginginkan itu. Ia rela melepaskan kebebasannya lalu mati demi untuk adiknya. Apapun, demi Syena agar hidup bahagia dan bebas.
"Kau tidak bersalah! Pengorbanan dalam perang itu sudah biasa Syena. Jika tidak ada perjuangan maka tidak ada kemajuan. Hidup ini adalah perjalanan yang panjang di dalam waktu yang sempit, isilah dengan perjuangan yang membanggakan, dan hargai dengan ketulusan. Jangan khawatir. Semua yang kita upayakan akan berbuah manis!"
Syena tertegun mendengar apa yang Rey ucapkan. Petuah yang sangat indah sungguh. Sunggingan senyum Rey tulus sekali rasanya untuknya.
"Terima kasih kakak, aku menyayangimu!"
Deppp
Entah keberanian darimana itu, Syena menjatuhkan tubuhnya ke arah kakaknya memeluknya. Rey tersentuh sekali rasanya, ia membalas pelukan itu.
...Dari beberapa bekas luka yang menyakitkan, yang paling menyakitkan adalah yang tidak bisa dilihat...
...Jangan menyerah. Hal-hal besar membutuhkan waktu. Bersabarlah!...
__ADS_1