Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Bertemu Elvas


__ADS_3

Jarum jam berputar sejak tadi. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Rey yang sedang menonton acara televisi di ruang tamu sesekali melirik ke arah pintu. Barangkali Debora datang lalu keluar dari dalam sana.


"Kucing putih kenapa lama sekali kau ini?" ucap Rey sembari mengacak-ngacak surainya frustasi.


Kemudian Rey memilih untuk mematikan televisinya. Dalam kepalanya ada inisiatif untuk menjemput Debora sekarang. Tapi Rey sama sekali tidak tau lokasinya.


Rey mengeluarkan ponsel miliknya mencoba menghubungi Debora. Namun rupanya tidak ada jawaban atas panggilan itu. Rey kemudian teringat pada Riley dan Justice.


Segera ia pun menghubunginya. Malam itu di tempat lain di sebuah kamar dengan pencahayaan minim, sepasang suami istri sedang bermadu kasih di dalam.


Dering ponsel yang terus saja bersuara mengganggu mereka. Riley menghela nafas kasar. Gangguan dari siapa malam ini mengganggu acaranya dengan Justice.


"Hallo, Riley!" ucap suara di seberang sana.


Riley tau itu suara Rey.


"Ada apa Rey? Kau menghubungiku pada situasi yang tidak tepat!" gerutu Riley.


"Maaf, aku tidak tau! Tapi langsung saja ke pertanyaanku. Apakah kau tau di mana tempat Debora bekerja?"


"Kenapa? Kau akan ke sana memang?"


"Ya tentu saja! Sungguh, aku merindukannya jadi tolong bantu aku ya!"


Jawaban itu membuat Riley dan Justice tersenyum di sana. Sepertinya akan ada kemajuan dalam hubungan mereka kali ini.


"Baiklah, aku akan memberitahumu! Tutup teleponnya akan kukirim lokasinya!"


"Terima kasih, Riley!"


Panggilan ditutup, tak beberapa lama pesan dari Riley masuk. Itu berisi lokasi di mana tempat Debora bekerja.

__ADS_1


Rey mengambil jaket miliknya lalu bergegas pergi dari dalam rumah itu. Cuacanya mendung, dan ini cukup dingin.


Jarak menuju lokasi itu tidaklah jauh. Dalam peta tertulis hanya sekitar setengah jam berjalan. Rey memilih untuk berjalan kaki saja. Sebab dia ingin menikmati suasana kota malam ini.


Ketika ia melewati beberapa gedung tinggi. Ada satu gang gelap di sana. Tidak terlalu gelap, hanya remang-remang. Banyak pasangan muda memilih berdua di sana saling mencumbu satu sama lain.


Rey memejamkan matanya sejenak lalu membukanya lagi menatap ke arah langit. Rintikan hujan turun perlahan menerpa wajahnya. Beruntungnya saat itu Rey membawa payung. Ia pun segera membuka payungnya lalu tetap berjalan.


Tiga puluh menit sudah berlalu. Saat ini Rey berada agak jauh dari tempat Debora bekerja. Ketika netranya melihat segala sisi tempat itu. Dari dalam gerbang utamanya seorang gadis keluar dengan satu buku yang ia pegang di atas kepalanya.


Satu buku yang memang sengaja diletakkan di sana untuk menghindari rintikan hujan. Itu adalah Debora, dia baru saja pulang.


Rey senang sekali melihat keberadaan gadis itu di sana. Ketika ia akan datang menemuinya, seorang pemuda datang berdiri di hadapannya lalu membuka payung miliknya.


Debora di sana berdiri berdua salin berhadapan dengan pemuda itu. Pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Elvas. Mereka berdua terlihat dekat di sana. Rey mengurungkan niatnya hanya memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Debora, kau pulang denganku saja malam ini! Hujannya deras!" ucap Elvas.


"Aku akan memberitahu Rey, kau bisa meninggalkanku di halte bus saja!" ucap Debora mencoba menolak ajakan Elvas.


Debora berpikir sejenak. Kalaupun memang dia menghubungi Rey. Belum tentu Rey akan datang cepat kemari. Tapi Debora juga tidak bisa terlalu dekat dengan Elvas. Sebab Debora tidak ingin Elvas kembali berharap lagi padanya.


Debora merasa iba pada Elvas jika terus menerus berharap padanya. Sedangkan posisi hatinya saat ini hanya ada nama Rey saja yang bersemayam di sana.


"Aku hanya memintamu nengantarkanku ke halte bus! Rey akan, menjemputku di sana!" ucap Debora.


"Apa salahnya pulang bersamaku? Lagi pula, cuaca sedang tidak baik! Hujannya deras, jika kau menunggu terlalu lama di halte bus. Maka kau, pasti akan terkena hipotermia!" jelas Elvas padanya.


Debora diam menatap ke arah Elvas serius kali ini. Tidak, dia tidak akan berdekatan lagi dengan pemuda ini. Seandainya Rey saat ini datang, Debora takut Rey akan cemburu nantinya.


"Tidak Elvas, terima kasih! Aku menghargai tawaranmu mengajakku pulang bersama. Tetapi pemuda yang kucintai ingin menjemputku malam ini!" ucap Debora.

__ADS_1


Mendengar itu Elvas pun membuang pelan nafasnya. Sepertinya dia tidak akan bisa mengalahkan keras kepala Debora.


Rey yang sudah tak tahan melihat Debora bersama pemuda lain pun memutuskan untuk datang menghampirinya.


"Debora!" panggil Rey.


Baik Debora dan Elvas keduanya sama-sama mengalihkan pandangan mereka. Keduanya terkejut melihat Rey yang datang sambil membawa payung.


"Rey?" ucap Debora tak percaya.


"Anda siapa?" tanya Rey kepada Elvas. Dia tidak melihat ataupun merespon Debora di sini.


Hatinya panas sungguh melihat Debora berada di bawah satu payung dengan pemuda lain selainnya. Elvas hanya menatapnya datar kali ini.


"Aku akan mengantar Debora tadi! Tapi jika kau sudah di sini, sebaiknya aku pulang saja!" jawab Elvas.


Rey menaikkan satu alisnya mendengar itu. Lalu netranya beralih ke arah Debora yang masih menatapnya. Rey mengulurkan tangannya, Debora menyambut uluran tangan itu. Tubuhnya berpindah bera di bawah satu payung dengan Rey saat ini.


Rey merangkulnya, mendekatkan Debora ke arahnya. Lalu kedua netranya juga menatap datar pada Elvas saat ini.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu, hah?" tanya Elvas tak terima.


"Terima kasih, karena kau berbaik hati membiarkan kucing putih kesayanganku ini berada satu payung denganmu. Hujannya deras, sebaiknya kita pulang dulu!" ucap Rey kemudian menggenggam tangan Debora.


"Silahkan, hati-hati di jalan!" ucap Elvas.


Rey mengangguk lalu berbalik dan bergegas pergi. Elvas di sana seorang diri berdiri dengan payungnya. Guyuran hujan deras membawa Rey dan Debora hilang dari pandangannya. Setelah keduanya tidak lagi terlihat Elvas di sana menyentuh dadanya, sesak.


Namun ia sadar, sebesar apapun kecintaannya pada Debora. Sampai kapanpun selagi Rey masih hidup. Elvas tidak akan pernah mampu menggantikannya.


"Debora, bagaimana caraku melupakanmu? Bagaimana caraku menghapus perasaanku padamu selama ini. Ini sulit Debora, sungguh!" ucap Elvas di antara guyuran hujan.

__ADS_1


Mencoba baik-baik saja sekalipun hatinya hancur, itu tidak mudah. Itu sakit dan perih rasanya. Dan hanya dia saja yang mampu merasakannya. Juga hanya Tuhan sajalah yang tau apa yang sedang menimpanya.


Sambil menahan perih dalam hatinya. Elvas pun berjalan meninggalkan tempat itu. Berlama-lama di sana akan membuatnya semakin lemah rasanya, Elvas tak sanggup sungguh.


__ADS_2