Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Mari Kita Kembali


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian itu, Rey masih terlelap di sana. Ia masih belum membuka kedua matanya. Debora merawat Rey dengan penuh kasih. Sebab terlalu khawatir, Debora juga memanggil tim medis kemari. Kekasihnya itu masih belum sadar.


Peralatan medis menempel pada tubuhnya. Perawat juga menjelaskan jika merawat pasien koma, maka akan membutuhkan infus di sana. Benda-benda medis itu menempel mendukung kelanjutan hidup Rey.


Sejak matahari terbit sampai matahari kembali terbenam, Debora dengan setia merawat juga menjaganya. Sesekali ia bergantian dengan perawat yang ia panggil. Sebab Debora juga butuh belanja untuk memasak bukan?


Malam ini ketika Debora baru saja pulang. Tepat ketika ia membuka pintu di hadapannya ada perawat itu sedang berdiri sambil tersenyum menatap kepulangannya.


"Ada apa, Sus?" tanya Debora.


"Tidak apa Nona, saya hanya ingin berpamitan saja! Sebab ada keperluan mendesak, beruntung Nona cepat pulang hari ini!" ucap perawat itu.


Debora menaruh belanjaannya di atas meja lalu kembali berbalik menatap perawat itu.


"Iya, Sus! Silahkan, jika anda ingin pulang!" jawab Debora ramah menyetujui permintaan suster itu untuk pergi.


"Terima kasih Nona!" ucap Suster itu memberi hormat lalu pergi dari sana meninggalkan Debora seorang diri.


Ketika pintu kembali ditutup, Debora pun mengambil lagi belanjaannya. Ia berjalan ke arah lemari es lalu membukanya. Beberapa belanjaan di dalam bungkusan itu mulai ia keluarkan lalu Debora menatanya di dalam lemari es dengan rapi.


"Akhirnya selesai juga!" ucap Debora lega.


Debora meraih yogurt yang ia simpan di sana. Mengambilnya lalu membawanya duduk bersama di meja makan.


Debora membuka yogurt miliknya lalu mulai melahapnya. Ia bersenandung kecil sambil menikmati itu. Beberapa menit ketika yogurt itu habis, Debora pun berdiri berjalan ke arah tempat sampah kecil lalu membuang wadah yang sudah kosong itu.


Debora berinisiatif pergi ke atas ke kamar Rey. Ia pun berjalan santai menaiki anak tangga. Kemudian ketika sudah sampai tepat di hadapan pintu kamar kekasihnya, Debora membukanya perlahan.


Wajah lelap itu masih setia mengarungi alam bawah sadarnya. Rey masih memejamkan kedua matanya seperti enggan untuk bangun. Debora menghela nafas lalu berjalan mendekati Rey.


Setibanya tepat di hadapan Rey, ia pun menarik satu kursi yang ada di depan meja. Kursi itu ada sandarannya, di sana Debora duduk sambil mematri wajah damai itu.

__ADS_1


"Hei bangunlah! Mau sampai kapan kau tertidur! Rey, kau baru saja datang. Jadi, jangan buat aku takut!" ucap Debora padanya. Sesekali Debora memainkan wajah Rey. Dari kedua mata yang terlelap sampai hidung dan mulutnya, tak lupa kedua pipinya juga.


Sumpah demi apapun, Debora sudah menyerahkan seluruh hatinya kepada pemuda ini. Hanya Rey saja yang mampu meluluhkan hatinya. Hanya Rey Arlert yang sudah ia tetapkan untuk menjadi pasangannya. Tidak ada yang lain selain Rey Arlert.


"Kau tau Rey, bertemu dengan itu dulu sangat menyebalkan! Kita saling mengenal dulu di depan toilet. Apakah kau masih ingat itu?" tanya Debora.


Sekelebat ingatan tentang masa lalu mereka terngiang membuatnya ingin mengutarakan tiap apa saja yang sedang berterbangan di dalam kepalanya.


"Kau dan aku untuk pertama kalinya merapal mantra Leviousa bersama. Sejak kejadian itu sepertinya takdir memang sudah menetapkan kita terpaut satu sama lain! Rey, aku merindukanmu..." lirih Debora.


Ia tak mampu mengutarakan lagi tiap apa yang ia ingat. Sekalipun Rey ada di sini, tetapi nyatanya Debora masih harus bersabar menunggu ingatan Rey kembali.


Dari atas langit tetesan air mata Debora di saksikan Noella. Dia yang saat ini duduk di atas batu besar di bulan hanya mampu tersenyum miris. Iba rasanya melihat kedua hati yang saling mencintai menjadi seperti orang asing.


"Semuanya harus dimulai dari awal lagi, ya? Harith, apakah kita tidak bisa membantu mereka? Apakah kita hanya mampu diam di sini sambil menyaksikan kepiluan atas asmara mereka?" tanya Noella kepada Harith di sampingnya.


Harith yang juga melihat itu hanya mampu mengangguk. Penguasa sudah berbaik hati melempar nyawa Rey kembali. Itu sesuai keinginan Harith. Ketika apa yang dia inginkan sudah tercapai, maka Harith hanya berhak menerima itu.


Harith berusaha menenangkan kekasihnya itu. Elf cantik itu tersenyum miring. Sekalipun berat baginya menerima, tetapi apa yang ia minta juga sudah terwujud. Dan apa yang Harith katakan itu juga benar. Bumi sudah kembali, tugas mereka sudah selesai di bumi.


Jam terus berputar sampai pada akhirnya Debora terlelap menopang kepalanya tepat di sisi ranjang Rey. Tengah malam ketika purna benar-benar nampak di atas angkasa.


Cahayanya menembus sedikit masuk ke dalam keremangan kamar Rey. Gorden yang tertutup separuh itu berkibar, tatkala angin masuk ke dalam sana. Anginnya cukup kencang malam ini. Bahkan jendela kamar Rey juga terbuka karenanya.


Namun Debora tidak bangun, sepertinya dia benar-benar kelelahan. Suatu keajaiban ketika cahaya rembulan menerpa wajah Rey ia terbangun. Ketika ia mengumpulkan kesadarannya lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru arah.


Netranya terpaku menatap satu orang manusia yang tertidur pulas di sampingnya. Rey yang tau itu adalah Debora hanya mampu tersenyum. Perlahan ia memindahkan tubuh Debora ke atas ranjang.


Sekalipun dua hari dia sudah tertidur tak sadarkan diri ketika bangun saat ini, Rey sama sekali tidak merasakan lelah. Seakan segalanya sudah baik-baik saja.


Rey menarik selimutnya menutupi tubuh Debora. Kemudian telapak tangannya berhenti tepat di atas kepala Debora. Sejenak Rey memandangi begitu indah dan cantiknya paras Debora ini buatnya.

__ADS_1


Hanya selang beberapa menit. Kemudian Rey pergi meninggalkan Debora. Rey hanya menuju ke arah balkon, di sana ia berdiri sambil menatap lekat ke arah langit. Indah sekali rembulan perkasa di atas angkasa itu. Begitu luar biasa cahayanya.


"Kenapa rasanya, ada yang memandangiku di sana?" lirih Rey, sambil mengangkat tangan kanannya seperti hendak menggapai bulan.


Noella dan Harith melihat itu di sana. Mereka mendengar apa yang Rey katakan. Keduanya melihat itu dari dalam bola kristal mereka.


"Dia makhluk bumi, tetapi dia masih merasakan bahwa kita memperhatikannya!" ujar Harith sambil tersenyum.


"Benar sekali!" ucap Noella.


Setelah mengatakan itu, Rey diam lagi. Dia hanya menatap bisu ke arah langit tanpa ada sepatah katapun yang ia ucapkan.


"Rey, kau sudah sadar?" tanya Debora sambil mengucek matanya.


Mendengar itu Rey pun berbalik. Ia terkejut mendapati Debora yang baru saja bangun dengan kesadaran yang masih belum sepenuhnya pulih.


Debora mendekat ke arah Rey. Tepat ketika jarak di antara mereka saling menipis. Rey menunduk, tingginya dan Debora berbeda cukup jauh memang.


Rey memperhatikan wajah Debora yang baru saja bangun. Jarak yang terlalu sempit ini membuat Debora membeku seketika, ia tak mampu berucap apa-apa lagi.


"Debora, istirahatlah! Aku tak apa, kau tenang saja! Terima kasih, karena sudah merawatku selama aku pingsan." ucap Rey kepanya.


Debora tertegun ketika Rey mulai menjauhkan wajahnya.


"Mari masuk, mari tidur!" ucap Rey sambil menarik pergelangan Debora masuk kembali ke dalam kamar.


Debora menuruti apa yang Rey katakan. Ia pun berbaring lalu memejamkan kedua matanya. Rey yang duduk di sampingnya juga mengusap lembut surainya.


Kenyamanan ini membuat Debora tak ingin Rey menjauhkan tangannya dari atas kepalanya. Sambil tertidur dengan posisi miring menghadap ke arah Rey, Debora memegang erat tangan Rey yang serasa di atas kepalanya.


Cengkraman itu membuat Rey paham bahwa Debora menyukai sentuhannya. Ketika waktu berjalan cukup lama Debora pun tertidur. Namun cengkeramannya pada tangan Rey masih ada.

__ADS_1


Rey mengakhiri itu dengan satu kecupan lembut di atas puncak kepala Debora. Lalu melepaskan cengkraman di tangannya perlahan. Kemudian Rey pergi dari sana. Meninggalkan Debora yang masih tertidur.


__ADS_2