Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Manusia yang Menangis


__ADS_3

...Manusia adalah Pendosa dengan Pensil dan Penghapus di antara pundaknya...



Pagi menjelang didalam Rensuar. Rey dengan balutan jubah putih miliknya, lambang asrama elang putih. Pagi ini, Rey memilih untuk menghirup udara segar dengan cara berjalan-jalan di antara kota.


Rensuar sudah cukup pulih. Puing-puing yang sempat hancur, sebab sihir yang mereka miliki pemulihan benteng ini begitu cepat karenanya.


Tak ada korban jiwa bagi manusia non sihir. Mereka hanya mengalami luka ringan saja. Namun korban jiwa paling banyak terdapat dan di raih skor kematian jiwanya oleh para Musketeers.


Pagi ini Rey sendiri berjalan diantara kota. Disana ramai juga seperti biasa. Perdagangan saling terjadi terjadi disana. Tak lupa beberapa anak-anak kecil berlari kesana kemari menikmati kehidupan bebas ditengah kukungan setan.


Rey tersentuh melihat langkah-langkah kecil itu begitu menikmati kehidupan. Mereka didalam sini merasa bebas sekalipun didepan benteng ini ada marah bahaya yang cukup besar.


Sebuah marah bahaya yang akan melahap siapapun pemilik jiwa hidup. Membunuhnya, memutilasinya, melenyapkannya dengan kejam.


Ada sedikit hal yang mengganggu hati Rey saat ini. Itu masih sama, itu adalah penyesalan. Namun Rey mencoba meredamnya, seba ia tak ingin terus terpuruk didalamnya.



"Entah mengapa, suasana didalam sini membuat hatiku menghangat!"


Baron emas dari atas singgasana berucap, ketika netranya melihat dengan jelas suasana kehidupan didalam benteng Rensuar.


"Indah bukan? Inilah yang coba kulindugi sampai saat ini. Sebuah kebahagian, kebahagian dunia yang harus tetap dilestarikan. Aku tidak akan berhenti demi hal ini! Sebab keindahan ini sangat membahagiakan untukku."


Apa yang Rey ucapkan membuat ketiga Baron didalam domain tersentuh. Sebenarnya hati Rey Arlert ini terbuat dari apa. Ketulusan didalamnya begitu murni tanpa berharap pamrih sedikitpun.


"Kami pun juga akan bersedia melindungi juga menjaga tiap senyuman yang ada didalam sini. Sungguh, ini adalah hal yang harus di jaga."


Ucap Baron emas lagi padanya. Rey mengangguk menanggapi itu, langkah kakinya kembali menapak menyusuri kota.


Ketika beberapa menit berlalu seorang kakek tua melemparnya dengan satu buah tomat.


Bughhhh


"Hah?" Pekik Rey menoleh ke arah kakek tua itu.

__ADS_1


Raut wajahnya penuh dengan kebencian menatap tepat ke arahnya. Tanpa banyak berkata-kata, lagi, ia melempar tomat-tomat itu ke arah Rey.


Beberapa manusia disana yang sibuk dengan aktivitasnya seketika perhatian mereka tertuju pada Rey dan kakek tua itu.


"Karenamu anakku mati! Karenamu yang datang terlambat, Rensuar mengalami kekacauan yang sangat besar! Kau kemana selama ini, anak dalam ramalan?"


Deggggg



Rey tertegun mendengar apa yang sedang kakek tua ini bicarakan. Rasanya seluruh penyesalan itu kembali memenuhi relung hatinya. Rey sama sekali tak ingin menjawab apa yang dikatakan oleh kakek tua itu.


Sebab Rey pernah mengalami kehilangan. Sungguh benar-benar hancur rasanya. Rey akan membiarkan kakek tua ini mengamuk padanya sampai ia lega. Sebab hanya itu salah satu cara melampiaskan segala kesedihannya.


"Pak Tua, apa yang kau katakan? Baron putih ini dikabarkan mati sebab melindungi kita ketika diluar benteng! Persoalan tentang..."


"Cukup! Biarkan saja!"


Rey menyela pembelaan yang ditujukan terhadapnya. Salah seorang Musketeers yang kebetulan ada disana membelanya, namun Rey menghentikannya.


Kakek tua itu mengepalkan kedua tangannya, ia menunduk lalu menangis. Tubuh tua itu terduduk tepat di atas tanah tanpa alas. Rey iba sekali melihatnya, kepedihan itu jelas terpancar dalam wajahnya.


"Kakek, jika menurutmu aku datang terlambat maka maafkan aku. Aku memang anak dalam ramalan, aku berusaha melindungi kalian semua disini. Tetapi, aku ini bukan Tuhan yang mampu mengawasi seluruh luasnya bumi ini. Aku hanya anak yang terpilih, dan masih tetap seorang manusia. Jika benar anakmu tewas dalam tragedi ini, maka aku akan sangat menyesal disini atas kematiannya sebagai seorang rekan. Aku tidak bisa mengembalikan nyawanya, namun aku hanya mampu mendoakannya."


Jelas Rey sembari menatap sendu ke arah kakek tua itu. Kakek tua itu terisak disana, sambil menepuk-nepuk dadanya ia menatap Rey dengan aliran air mata yang jatuh dari kelopak matanya.



"Lalu mengapa kau tidak melindunginya? Jika kau tidak mampu melindungi satu nyawa disini, lantas bagaimana caramu menyelamatkan dunia, juga mengembalikannya?"


Kakek tua itu mencengkram kedua bahu Rey menggoyangkan tubuhnya. Kakek tua itu berucap sembari meraung-raung mengungkapkan betapa sedihnya, betapa pilunya keadaannya saat ini.


"Dia anakku, milikku satu-satunya! Mengapa harus mati secepat ini! Mengapa bukan diriku yang mati lebih dulu daripadanya?"


Cukup rasanya bagi seorang Rey melihat penderitaan yang sedang diluapkan oleh kakek tua ini. Rey menepuk pelan pundak kakek tua itu, lalu menatapnya lekat. Mungkin satu petuah dari dirinya mampu menyadarkan betapa berharganya nyawanya didalam dunia ini.


Rey harus mampu menyadarkan, berapa mulianya manusia yang sedang kakek ini tangisi. Bukan hanya dirinya saja yang menerima perasaan sakit atas kehilangan. Namun dirinya, juga para rekannya sebelum ini pun juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Suster Agarwa yang begitu Rey cintai. Sampai saat ini ia sama sekali tak menemukan keberadaannya. Namun melihat betapa kecilnya manusia hidup diantara kukungan setan ini, membuat Rey pada akhirnya pasrah merelakan suster kesayangannya itu menjadi berstatus mati.


"Aku tidak tau, bagaimana caranya mengulur waktu. Yang ku tau, waktu akan terus berjalan. Kematian selalu ada dalam roda waktu. Sebab itu adalah bagian dari peran manusia. Tumbuh menua lalu mati, adalah keindahan dari makhluk yang bernama manusia. Anakmu sudah cukup hebat, kau berhak menangisinya. Namun jangan meratap terus menerus. Sebab aku yakin, inginnya anakmu bukan ini! Inginnya anakmu adalah, kau tetap menjalani kehidupanmu seperti biasa tanpa hadirnya. Dia adalah pahlawan yang akan selalu dikenang namanya didalam Rensuar!"


Penjelasan itu membuat kakek tua ini terdiam. Kedua bola matanya menatap ke arah Rey saat ini. Rasanya hatinya menghangat mendengar apa yang Rey katakan.


Baron putih ini sungguh benar-benar hebat dalam menenangkan hati para manusia yang sedih. Kakek tua itu tersenyum kemudian. Ia benar-benar merasa ditampar saat ini. Dalam hatinya ia bertanya-tanya.


Diusia semuda ini, bagaimana mungkin tutur kata pemuda semacam Rey bisa sedewasa ini. Entah apa yang terjadi dalam kehidupan Rey, sampai Tuhan memberinya pikiran sedewasa juga sebijak ini.



"Nak, sebenarnya apa yang sudah kau lalui dalam hidup ini? Mengapa kau begitu sangat bijaksana menyikapi segala hal yang ada dalam hidupmu ini, katakan!"


Ucap kakek tua itu tak percaya. Rey hanya tersenyum tulus padanya, sambil mengangguk Rey membantu kakek tua itu berdiri kembali. Rey masih memegang kedua bahunya.


"Kakek, aku hanya pemuda yang sama dengan anakmu. Juga para pemuda yang lain, Arlert hanya suka bermain-main seperti hal nya kalian. Tidak ada yang istimewa dari seorang Arlert, sebab aku sama seperti kalian. Aku adalah manusia dengan banyak kelemahan!"


Baik Para Baron juga seluruh manusia dikota yang menyaksikan perkataan Rey, mereka tersentuh. Bahkan Rey sama sekali tidak memuji dirinya, ia hanya merendah dan merendah dihadapan mereka.


Pahlawan semacam Rey adalah ikon terbaik milik Rensuar. Wajar bila para penduduk Rensuar begitu menghormati juga menyegani Rey Arlert.


Debora yang berada disana tanpa sepengetahuan Rey, rasanya semakin dibuat kagum akan kepribadiannya.


Gadis ini semakin jatuh hati rasanya melihat Rey Arlert. Jarang baginya melihat sisi bijaksana Rey, tiap kali Rey ada dalam sisi itu kharismanya seakan meningkat begitu pesat.


...Ketika aku tak dapat menyentuhmu, aku memilih mencintaimu dalam diam...



____________


Ensiklopedia :


Pada 20 Juli 1969, Neil Armstrong, seorang astronot Amerika Serikat, berhasil menjejakkan kakinya di bulan.


Sejarah mencatat, Neil Armstrong adalah manusia pertama yang mendarat di bulan.

__ADS_1


Neil Armstrong mendarat di bulan dalam menjalankan misi Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). 



__ADS_2