Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Sebuah Berita Buruk


__ADS_3

...Pesimis itu setengah kegagalan. Optimisme itu setengah keberhasilan....



Beredarnya berita tentang kekalahan Cronus telah sampai tepat ke dalam Silver Alaska. Raja mereka, Tuan yang bergelar Iblis seratus juta jiwa itu duduk sambil mendengarkan apa yang sedang Barsh katakan.


Kekalahan Cronus bukanlah masalah besar untuknya. Sebab Cronus, ia bukan bagian dari dirinya. Bukan iblis yang berasal dari tubuhnya.


Cronus adalah iblis rendahan yang berambisi tinggi untuk setara dengan para generasi petingginya. Para generasi yang membawa kelemahan dirinya.


Saat ini para iblis yang membawa kelemahannya hanya tinggal empat. Yang artinya untuk mengalahkan Iblis seratus juta jiwa, para Muskeeters harus meleburkan para generasinya terlebih dahulu. Hanya itulah satu-satunya cara meleburkan Iblis ini.


"Tuan, kekalahan Cronus adalah hal yang sulit kita terima!" Ucap Rauw yang masih bersimpuh disana.


Ucapan itu sejenak menyita kedua netra Tuan mereka. Tuan mereka menatap tepat ke arah Rauw.


Clashhhhh


Telapak tangan yang tadinya mengepal seketika dibuka di arahkan tepat ke arah Rauw. Detik itu juga iblis itu terbelah berkeping-keping.


Barsh gemetar rasanya melihat kebolehan yang di tunjukkan Tuannya. Tak butuh waktu lama untuk regenerasi Rauw bekerja. Iblis itu kini kembali pada bentuk tubuhnya semula.


"Mengapa kau bersimpati pada Iblis rendahan? Tidakkah kau tau, sejak awal aku sama sekali tak masalah dia kalah atau menang. Saat ini tujuan kita hanya satu!"


Berbicara perihal tujuan membuat seluruh pasukan iblisnya mendongak kali ini.


"Bawa Harith padaku!"


Perintah itu sedikit menciptakan pertanyaan dalam diri Barsh saat ini. Mengapa hanya ada perintah tanpa perencanaan disana. Apakah Tuanya ini waras?


"Tuanku..." Lirih Barsh sepelan mungkin.


"Ada apa?" Tanya Iblis seratus juta jiwa padanya tanpa menoleh.


"Tuan, apakah kau akan mengirim kami tanpa adanya perencaan yang matang? Lantas bagaimana caranya kami memanglah leonin kecil itu?"


Ucapan itu membuat Iblis seratus juta jiwa tertampar rasanya. Apa yang Barsh katakan itu benar. Sejak kapan dungu ini menguasainya. Mungkin ini salah satu efek kemarahan yang sedang melandanya.


"Kau benar! Baiklah aku akan memikirkannya lagi setelah ini. Beberapa jam lagi aku akan memanggil kalian kemari! Saat ini, bertugas lah kembali menjaga benteng kita."

__ADS_1


"Baik Tuan!"


Ucap Para pasukannya serentak memberi hormat lalu pergi dari sana. Ketika seluruh anak buahnya sudah tak ada. Gerbang ruangan besar itu tertutup dengan sendirinya.


Dengan tatapan kosong terkesan tajam itu, Iblis seratus juta jiwa ini berpikir keras. Merencanakan satu rencana lagi. Perihal penangkapan Harith.


"Ada banyak alasan mengapa aku tidak menyerang Rensuar secara langsung saat ini! Untuk menguasai bumi, aku harus menciptakan satu rencana yang matang. Sekali serang menangkap seluruh lalat lalu menunduk kannya!"


Iblis seratus juta jiwa berseringai usai mengatakan itu. Dalam kepalanya ada banyak sekali Konspirasi jahat. Sebuah Konspirasi gelap yang akan mengarah ke arah Rensuar.


Selama dirinya masih berpijak di bumi. Selama tubuhnya masih nyaman berada didalam Silver Alaska. Rensuar tidak akan pernah ia biarkan tenang. Kodrat para manusia baginya adalah musnah.


"Tidak akan ku biarkan kalian tenang! Aku akan selalu memberi teori kepada kalian. Memusnahkan kalian adalah satu-satunya inginku. Lihat saja nanti, ketika rencanaku sudah matang! Kau, Rey Arlert, Pemuda yang dibicarakan ramalan pasti akan ku lenyapkan. Enyahlah kau setelah ini, sebab kau manusia fana yang berhak mati!"


Kebenciannya terhadap Rey semakin meningkat tiap hari. Rasa ingin melenyapkan Rey tentu ada dalam dirinya. Sebab Rey adalah ancaman besar bagi kejayaannya. Mengalahkan Rey adalah tugasnya.


________



Di lain tempat saat ini Rey duduk di sebuah kedai mie. Bersama dengan Debora disampingnya. Kedai ini cukup sepi wajar saja mereka baru saja membukanya.


"Ohayou, selamat datang di kedai mie kami. Ramen kami adalah ramen terbaik disini. Apakah anda ingin memesan sesuatu?"


Jarang bagi Rey berkeliaran di kota selain berbelanja. Ini adalah kali kedua dirinya makan di kota berbaur dengan orang-orang kota. Orang-orang tanpa kekuatan sihir.


"Kau sedang memikirkan apa Rey?" Tanya Debora sambil memperhatikan Rey yang terpaku.


"Uh.. tidak Debora!" Jawab Rey yang baru saja sadar dari lamunannya.


Sebelum memesan Rey merogoh saku miliknya. Ia mencoba menghitung uang miliknya disana. Hitungan kepingan terakhir membuat Rey membuang kasar nafasnya.


Rupanya kepingan uang miliknya di saku hanya mampu membeli satu porsi ramen beserta satu minuman.


Rey lupa tidak mengambil uang dulu di markas tadi. Raut wajah Rey yang kecewa membuat Debora tersenyum. Ia paham betul apa penyebabnya. Namun sial rasanya, saat ini ia pun tak mampu menolong Rey.



"Makanlah Rey, aku akan makan saat tiba di markas saja!"

__ADS_1


Ucap Debora sambil menepuk pelan bahu Rey disampingnya. Namun disana Rey menggelengkan kepalanya.


Rey memberikan kepingan uang miliknya tepat di atas tangan pelayan muda itu.


"Aku pesan satu porsi, berikan kami dua sumpit!"


"Hah!"


Debora dibuat terkejut ketika Rey memesan satu porsi dengan dua sumpit. Yang artinya adalah, Rey ingin mereka makan berdua dalam satu wadah.


"Baiklah Tuan, mohon di tunggu ya! Kami akan memasaknya!" Ucap Pelayan muda itu ramah lalu pergi dari sana.


Sejenak pemilik Surai putih itu keduanya saling menatap satu sama lain. Debora dengan semu merah di wajahnya. Rey dengan tatapan lembutnya pada Debora nya.


Momen berdua ini sungguh adalah hal yang tidak akan Rey lupakan. Duduk manis disini berdua tanpa berucap hanya saling menatap. Adalah hal terindah yang paling Rey rasakan.


"Mengapa kau memesan satu porsi dengan dua sumpit Rey?" Tanya Debora lirih padanya.


Terlihat disana Rey berseringai menanggapi pertanyaan itu. Bagi Rey tak masalah makan satu wadah dengan pujaan hatinya ini. Sebab ia tak ingin Debora kelaparan.


Terbuai dengan paras cantiknya, Rey mengarahkan telapak tangannya tepat ke arah Debora. Membeli wajah itu pelan dan lembut. Debora mematung merasakan apa yang sedang mengelus wajahnya itu.


"Kucing putih, bahkan aku akan membiarkan dirimu kelaparan? Tidak, aku tidak mau! Kau sedang terluka, pemulihan mu lambat. Maka sayangilah dirimu dan makanlah yang banyak!"


Ucap Rey padanya. Debora menunduk mencoba mengalihkan netranya dari tatapan Rey. Tatapan itu terlalu hangat untuknya ia tak sanggup terus berlama-lama menatapnya sungguh.


"Makanan sudah siap Tuan! Silahkan menikmati hidangannya!"


Suara dari pelayan itu membuat Rey sadar. Seketika Rey menarik tangannya menjauh dari Debora Nya.


"Mari makan Debora!" Ucap Rey sambil meraih sumpitnya.


Debora mengikuti apa yang Rey lakukan. Ia mengambil sumpitnya lalu memakan sajian hangat yang berada di dalam mangkuk.


...Dunia sering terbolak-balik...


...Orang yang menyayangimu sepenuh hati, bisa berubah membencimu setengah mati....


...

__ADS_1



...


__ADS_2