Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Satu Hal Untukmu


__ADS_3

...Kau harus menilai temanmu dengan sudut pandang yang lebih bijaksana...



Garena Rensuar adalah arena pertandingan yang paling ditakuti. Apabila di dalam markas Rey dan Debora sedang memulai obrolan hangat.


Disini tepat dihadapan gerbang masuk Garena Rensuar, Syena berdiri bersama Aum di sampingnya. Didepannya ada Elvas sambil membawa pedangnya.


Raut wajah mengesalkan itu semakin membuat Syena geram rasanya. Manusia ini setengah iblis setelah memukuli para Muskeeters sesamanya bahkan ada yang sampai cacat karenanya. Raut wajah itu masih tetap sama mengesalkan tak ada perubahan.


"Kau masih ingin melawanku bocah?" Tanya Elvas sambil menghunuskan ujung pedangnya ke arah Syena.


Syena tidak bergerak tidak pula takut disana. Gadis yang matanya hanya berfungsi satu itu berseringai.


"Sepertinya disini yang tidak yakin dengan kemampuannya adalah dirimu sendiri? Mengapa kau mempertanyakan pertanyaan itu berulang kali? Aku jadi ragu, apakah kau kira-kira mampu melawanku?" Ucap Syena dengan nada menyindir.


"Hahahaha... Sombong sekali kau pada senior mu ini! Seharusnya kau menundukkan kepalaku ketika bertemu denganku! Apa itu hah, kau mendongakkan kepalaku tanpa rasa hormat. Pantaskah itu?"


Sungguh adu argumen bukan tipe Syena. Dia adalah gadis yang akan membungkam mulut kurang ajar manusia dengan kekuatannya.



"Kau terlalu banyak bercakap disini! Jadi apakah kau ingin bertarung denganku tidak?"


"Tentu saja, mari kita mulai pertarungan kita yang sempat tertunda itu. Aku harap, mentalmu akan tetap aman setelah pertarungan ini!"


"Khawatirkan lah dirimu sendiri! Kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan aku disini!"


Elvas berbalik ke arah gerbang masuk Garena. Ia menyentuhkan telapak tangannya disana. Detik kemudian sebuah cahaya putih menghilangkan tubuhnya masuk kedalam Garena Rensuar.


"Aku pergi, Aum!" Ucap Syena bergegas mengikuti Elvas.


Grepppp


"Kau jangan bodoh Syena! Sudah cukup bagimu meregang nyawa berulang kali!"


Tutur Aum, muak rasanya melihat apa yang Syena lakukan. Bukan sebab ia memberi atau iri padanya. Namun sebab Syena adalah temannya itulah yang membuatnya berat melepas Syena untuk meladeni tantangan Elvas.


"Aku tidak biasa menolak tantangan!" Ucap Syena.


Dua orang sahabat itu saling tatap satu sama lain. Mereka sama-sama mempertahankan wajah datarnya.


"Hei, dengarkanlah aku! Aku berbicara semacam ini sebab kau adalah temanku. Bagaimana jika kau tak mampu mengalahkannya nanti?" Tanya Aum meninggikan intonasi suaranya.

__ADS_1


"Aum.. Bagaimana kita bisa tau hasilnya jika kita tidak mencobanya?"


Perlahan Syena mencoba melepaskan cengkraman tangan Aum dari pergelangan tangannya. Syena tau benar Aum sangat mengkhawatirkannya. Namun menyerah bukan lah hal yang akan Syena lakukan.


"Teman-temanmu yang akan menopang ketidakmampuanmu, dan mencegah dari hal bodoh yang mungkin akan kau lakukan! Jadi sebagai seorang teman, maka hargai pintaku disini!"


Deggg



Kalimat itu sejenak membuat Syena berhenti. Dia yang sejak tadi sudah membelakangi Aum tersenyum.


"Begini rasanya di khawatirkan oleh manusia! Hangat sekali rasanya!" Batin Syena dalam hatinya.


"Hei Aum!"


Pada akhirnya Syena kembali berbalik menatap temannya itu. Raut wajah khawatir itu terlukis jelas disana.


"Keyakinan adalah lebih baik dari rencana apapun. Seseorang yang tidak tahu apa itu rasa sakit, tidak akan tahu apa itu kedamaian sejati. Dia yang berdiri disana bukan manusia saat ini. Dia perlu di merasakan banyak rasa sakit untuk belajar! Sisi manusia nya harus di kembalikan. Aku tidak bertempur disini. Aku tidak akan melawan sesamaku, tetapi aku disini untuk membawanya kembali ke jalan yang benar."


Ucapan itu benar-benar membuat Aum terpaku rasanya. Teman yang selama ini ia anggap liar dan bar-bar rupanya punya sisi kebijaksanaan sedalam ini.


Dalam hatinya Aum bertanya-tanya. Apa saja yang sudah Syena lewati selama ini sehingga membuatnya tumbuh menjadi gadis yang kuat dan hebat.


"Jadi, biarkan aku pergi ya! Kau bisa memanggil Rey beserta kakak ku yang lain kemari. Bilang pada mereka, Syena sedang menghajar seorang Iblis!"


Sekalipun hatinya berat melepas Syena. Tetapi nuraninya juga memiliki keyakinan bahwa, Syena akan memenangkan pertarungan ini. Lalu menundukkan ego juga rasa sombong yang Elvas miliki disana.


Clashhhhh


"Nyalimu boleh juga bocah kecil!" Ujar Elvas meremehkan.


"Aku siap, mari kita mulai!"


Keduanya sama-sama berseringai. Lalu sebuah suara dari dalam Garena mulai menggema.


[Sistem lima menit, mulai!]



Ketika pengaktifan pertempuran Garena diaktifkan. Dia belah kubu itupun melesat masing-masing mencoba menyerang satu sama lain.


Bak sebuah petasan mereka bertarung diangkasa. Saling adu sihir, saling bergesekan antar pedangnya. Melihat Syena yang begitu unggul disana Aum merasa lega.

__ADS_1


Dua menit pertarungan Syena sedikit dibuat kewalahan. Sebab Elvas kembali menggunakan permainan Domain. Namun Syena yang menghindar sejak tadi mencoba mempelajari serangannya.


Empat menit terakhir Syena mulai mampu membedah apa yang sedang Elvas lakukan. Ia membaca tiap serangan yang Elvas luncurkan padanya.


Tipe pemikir juga tipe petarung. Dari dua divisi berbeda bertarung demi keunggulan. Dan durasi lima menit menjawab segalanya. Ribuan dahan meruncing dari cahaya mulai berlomba-lomba mengarah ke arah Elvas.


**Clashhhhh


Bruakkkkkk**



Tubuh Elvas terhempas ke belakang menabrak dinding Garena. Akibatnya batuk darah keluar begitu saja dari dalam mulutnya.


Melihat Elvas sudah tak berdaya. Syena memutuskan untuk menghentikan serangannya. Dari atas sana Syena memandangi tubuh Elvas yang sudah banyak belur.


Perlahan Syena mendekat ke arahnya. Masih dengan ribuan dahan cahaya di balik tubuhnya, Syena mendekat.


"Apa kau sudah mengakui kekalahan mu?" Tanya Syena padanya.


"Uhukkk... Arghhhhhhhh... kau hampir saja membunuhku!" Jawab Elvas seraya meringis.


Syena tersenyum mendengar itu, lalu ia mengulurkan tangannya ke arah Elvas. Namun disana Elvas hanya menatap aneh ke arah uluran tangan Syena.


"Apa hah?" Tanya Elvas padanya.


"Biar ku bantu kau berdiri!" Jawab Syena padanya.


"Mengapa kau tidak menghajar ku berulang kali? Bukankah kau sudah melihat sendiri aku sedang terkulai lemah disini?"


Pertanyaan itu membuat Syena menghela nafasnya. Apa yang Elvas katakan tidak lebih adalah tindakan dari orang-orang gila.


"Coba pikirkan! Manusia yang kau hajar berulang kali hingga cacat dan babak belur itu adalah sesamamu. Kanibal sekali dirimu ini menyiksa sesamamu. Pikirkan juga, manusia yang sudah kau hajar itu nantinya adalah salah seorang Muskeeters yang menolongmu kelak. Lantas apakah kau tak malu?"


Elvas tertegun mendengar itu. Gadis ini adalah orang kedua yang mampu mengalahkannya. Ia sedikit di ingatkan perihal dimana Rey menemuinya saat bertugas di atas benteng. Mengingat hal itu iapun tersenyum di sela-sela sakitnya.


"Kau saat ini hidup dalam bumi yang penuh ke ketergantungan. Jika kau berjuang secara individu maka kau akan mati. Sebab tim Muskeeters adalah senjata terbaik milik Rensuar. Kemampuan individu seorang Muskeeters memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah kerjasama tim! Jadi hargai nyawa temanmu selagi dia masih hidup!"


Ucap Syena sambil mengulurkan tangannya lagi. Kali ini Elvas tersenyum dengan bangga ia menerima uluran tangan Syena. Elvas sedikit tertatih disana. Tepat ketika tubuhnya berdiri, telapak tangan kekar miliknya menye tuh lembut kepala Syena.


"Kau memang hebat! Terima kasih!"


Ucap Elvas lalu pergi meninggalkan Syena disana. Tepat ketika Elvas pergi dari sana, Syena pun kembali keluar dari dalam Garena. Terlihat disana Aum mengacungkan kedua jempol nya pertanda bahwa ia bangga terhadap apa yang Syena lakukan.

__ADS_1


...Jika kau benar benar mau melindungi temanmu kau harus lebih kuat dan tak melarikan diri, itu baru namanya persahabatan...



__ADS_2