
...Jika kamu hanya menyerahkan diri pada takdir, maka itulah akhirnya...
...Terkadang perlu melakukan hal-hal yang tidak perlu...
...Aku menolak untuk membiarkan rasa takut menguasaiku lagi...
___________
"Debora!!!" Pekik Riley yang sedang duduk dimeja makan.
Seluruh rekannya sudah naik ke lantai atas. Mereka sedang mengganti pakaian mereka dengan balutan piyama. Riley sejak tadi duduk disana atas perintah dari Debora, dimana disana ia memerintahkan Riley untuk mengawasi Syena melalui burung gagaknya.
"Ada apa Riley?!"
Debora dari lantai atas segera mungkin turun menemui Riley. Hal itu mengakibatkan dua pemuda dilantai atas juga ikut turun.
"Ada apa?" Tanya mereka serentak.
"Kita harus pergi sekarang, Syena bertemu seseorang disana!" Jelas Riley ia berdiri dan bergegas pergi.
Beberapa detik hal itu membuat ketiga rekannya saling tatap. Namun melihat Riley yang berlari itu menandakan satu hal yang buruk terjadi.
Tanpa berpikir panjang mereka pun berlari keluar mengikuti Riley. Rasanya percuma Debora menghentikan Riley saat ini, pasalnya gadis itu letaknya sudah cukup jauh darinya.
"Padahal jika kita berempat bisa memakai mantra Leviousa!" Gerutu Debora sembari berlari.
"Astaga, kekasih tercintaku itu memang dungu!" Ucap Justice seraya menepuk keningnya.
"Hah, mau bagaimana lagi ini sudah terlanjur! Lagi pula Syena dalam bahaya saat ini."
Bersamaan dengan perkataan Mikhail tentang Syena. Baik Debora dan Justice menatap heran ke arah Mikhail.
"Jiwa pedofil!" Batin mereka sama.
Perihal Riley dan Justice mereka memang saling menyukai. Itu terjadi ketika jadwal mereka berbelanja harinya di samakan. Saat itu Rey adalah manusia yang sibuk, Axcel dan Harith sering memanggilnya.
__ADS_1
Jadwal Rey berbelanja akan sama dengan jadwal Justice. Dikarenakan kesibukan itu, Rey mengatakan pada mereka untuk oper saja. Rey akan mendapatkan jadwal belanja bersama Debora tiap hari Minggu. Sedangkan Justice ia akan berbelanja dengan Riley tiap hari Senin.
Untuk Mikhail, ia adalah yang istimewa disini. Selain profesinya dalam markas banyak, dia juga memiliki profesi tetap dalam Rensuar yaitu Musketeers pengajar ahli ramuan.
Secara tidak langsung Madam Geralda mengangkat Mikhail sebagai seorang pengajar. Mikhail memang sangat ahli dalam bidang racik meracik. Ramuan miliknya selalu sempurna juga sesuai takaran.
_______
Tepat di lapangan terbang baik Syena dan Rey mereka sedang beradu diatas langit. Aum melihat kemampuan sihir milik Syena aliran abjadnya sama seperti Rey. Pembedanya adalah Syena sama sekali tidak menggunakan senjata, ia disana melawan Rey murni dengan kemampuan sihir tanpa senjata.
Mereka berdua bertarung secara imbang. Tak ada yang unggul disini, mereka sama-sama hebat dan brutal tentunya. Keduanya sepertinya sangat mencintai adrenalin.
"Jangan alihkan pandangan saat bertarung! Sebab musuh akan menunggumu lengah! Perhatikan!" Tutur Rey.
Mereka kembali mempertemukan aliran sihir mereka. Beradu sekacau mungkin di angkasa, rasanya seperti melihat petasan di atas langit. Kedua sihir menyala saling bertabrakan mencoba menjadi dominan.
Rey terlihat begitu menikmati pertarungan ini. Ia bangga ia juga sangat senang sebab Syena tumbuh sekuat ini. Namun rasanya tak adil jika gadis ini tak menikmati masa mudanya dengan benar. Jika isinya adalah pertarungan saja, Syena akan tumbuh menjadi manusia kaku.
"Skenario tidak selalu mendukung kita, Syena! Dunia tidak akan selalu mulus jalannya. Sebuah cobaan datang untuk menempa manusia, menjadikannya tumbuh menjadi seorang manusia kuat! Setiap perjalanan dimulai dengan satu langkah. Kita hanya harus memiliki kesabaran."
"Sejujurnya aku tidak memahami siapa diriku disini! Yang aku tau, aku adalah sekutu Iblis beberapa saat lalu. Lalu di tampung oleh orang-orang baik yang sempat ku sakiti! Maka aku berjanji, untuk perasaan yang indah ini aku akan melindungi mereka bagaimana pun caranya!"
Crashhhhh
Sabitan sihir ranting milik Syena menebas sekat pelindung Rey. Akibatnya Syena membuat Rey terpojok disana. Seandainya ini pertarungan asli, maka mungkin Rey akan tamat saat ini.
"Beginilah seharusnya Syena! Jangan beri musuhmu kesempatan untuk berpikir. Jika kau tidak ingin mereka menang, maka jangan biarkan mereka berpikir. Hadang, halau, tetapi jangan jadi kejam atas itu. Jika kau tau kemampuanmu lebih besar darinya, cukup buat dia tak berdaya dan menyerah jangan menyiksanya."
Sejak tadi segala petuah itu mampu diterima baik oleh Syena. Musketeers ini benar-benar seperti Debora. Nada bicaranya, petuah santunnya, segala hal itu membuat Syena kembali merasakan sebuah kehangatan dalam hatinya.
Syuthhhhh
Rey merentangkan kedua tangannya ketika mereka sama-sama menarik masuk sihir mereka. Syena mengerutkan keningnya tak tau, apa sebenarnya yang Rey inginkan.
__ADS_1
"Sebagai tanda terima kasih, peluklah aku!" Ucap Rey padanya, sedang Syena hanya melongo tak percaya pada a yang Rey ucapkan.
"Gila ya, aku bahkan tidak mengenalmu disini!" Jawab Syena, sekejap Rey langsung bungkam.
Rey menunduk, tak lama ia tersenyum. Ada bagusnya memang melihat Syena jual mahal seperti ini. Akan bagus jika sifat itu tetap ada padanya.
"Baiklah, ada satu hal yang belum kukatakan padamu!" Ucap Rey.
"Apa itu?"
"Berhati-hatilah dengan salah satu Musketeers berna Elvas! Dia tidak memiliki nurani layaknya seorang manusia. Baginya Medan tempur atau perlombaan itu sama."
Jelas Rey padanya. Syena sedikit berpikir kali ini, Musketeers dihadapannya ini tangguh bahkan kemampuannya bisa dibilang melebihi dirinya. Namun mengapa ia tidak ikut serta dal perlombaan.
"Kau begitu tangguh! Lantas mengapa kau tidak ikut serta dalam perlombaan?"
"Tugas diluar Rensuar jauh lebih penting dibandingkan perlombaan ini. Biarlah para junior menikmati kebahagian sederhana dalam benteng kecil ini. Diluar, ada bahaya yang harus kami halau. Sebab kami, sangat mencintai jiwa-jiwa yang masih hidup. Melindungi seseorang berarti memberi mereka tempat tinggal. Memberi mereka tempat di mana mereka bisa bahagia. Dan itulah yang sedang ku perjuangkan disini!"
Luar biasa, Syena semakin dibuat terpakai olehnya. Bersyukur rasanya malam ini bertemu dengan orang asing ini.
Untuk setiap jawaban darinya, membuat Syena mengoreksi satu hal. Pemuda ini sudah melewati banyak hal, itulah mengapa dirinya tumbuh menjadi seorang manusia kuat.
Tubuh Syena perlahan bergerak mendekatinya. Tawaran tentang pelukan tadi memasak Syena lakukan. Di atas udara mereka kedua saudara ini saling melepas rindu tanpa, sekalipun Syena tak ingat apapun. Namun berada dalam dekapan Rey, membuat dirinya tenang.
..."Aku juga akan mendapatkan semua yang ku inginkan. Bukan karena seseorang memintaku untuk melakukannya, tetapi karena aku tahu di dalam hati bahwa aku memiliki sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Adikku dan dunia adalah alasanku untuk bertarung. Sebab takdir memilihku, dan Syena membutuhkanku! Kau tidak bisa memenangkan permainan dengan tidak melakukan apa-apa. Dan jika orang lain memenangkannya untukmu maka kau belum mencapai apa pun. Hidup juga sama! Jika kamu hanya menyerahkan diri pada takdir, maka itulah akhirnya." ...
Suara hati setulus itu mengalun sampai tepat pada ketiga Baron disana. Mereka tersentuh melihat kedua saudara ini kembali bertemu. Rasanya menyaksikan segala perjuangan Rey membawa Syena kedalam Rensuar membuat mereka tak karuan. Namun, pedang pun juga bisa menangis. Dan inilah yang terjadi didalam domain, mereka bertiga sama-sama meneteskan air mata.
...Aku ingin kau bahagia...
...Aku ingin kau banyak tertawa...
...Aku tidak tahu persis apa yang bisa dilakukan untukmu, tetapi aku akan selalu berada di sisimu...
__ADS_1