Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Pembicaraan Di antara Kami


__ADS_3

...Hidup ini seperti pensil yang lama lama akan habis, tetapi akan meninggalkan tulisan yang indah dalam kehidupan...



Rey melemaskan otot-ototnya. Jubah putihnya sedikit lusuh dengan debu-debu menghiasi. Setelah pertemuannya bersama Kaisar dan Axcel, Rey lebih memilih pergi ke lapangan terbang.


Sekalipun efek ramuan itu sudah meredam seluruh kekecewaannya. Namun yang namanya efek ramuan pasti berdurasi. Ketik durasi itu hilang, Rey kembali di landa kekecewaan.


"Wah aku mungkin terlalu bersemangat sampai seperti ini jadinya!"


Ucap Rey ia memandangi telapak tangannya yang berasap. Asap itu adalah tanda bekerjanya regenerasi miliknya.


Kedua telapak tangan miliknya melepuh. Kulit-kulit tangannya terlihat terkelupas disana. Sehebat apapun Rey Arlert ia tetap manusia biasa.


Tubuh manusia tidak akan mampu menahan sihir guardian begitu lama. Dan Rey sudah berlatih hingga berjam-jam disana demi untuk melupakan sejenak kekecewaannya.


"Kau memang dungu! Sudah kubilang untuk berhenti bukan?" Tutur Baron Putih dari dalam domain.


Mendengar petuah itu Rey tersenyum. Mengapa Baron Putih begitu emosional disini padanya.


"Wah kau menyayangiku ya! Itulah mengapa kau marah kepadaku ketika aku terluka."


Ujar Rey percaya diri, terkesan menggoda Baron Putih miliknya.


"Tidak, aku geram rasanya melihatmu Arlert!"


"Mengapa? Aku semanis ini kau geram padaku? Arlert ini menawan, tidak mungkin kau bisa geram padanya. Kau pasti sangat gemas padaku hingga takut kehilangan diriku!"


Lagi-lagi ucapan Rey membuat Baron Putih kesal rasanya. Entah mau bagaimana lagi ia berbicara pada seorang Rey Arlert.


Sejujurnya Baron Putih memang khawatir terhadapnya. Sebab Rey adalah Muskeeters gila yang akan sanggup mengorbankan apapun demi kemenangan buminya.


Perjanjian memang sudah dilakukan. Ketika terdesak nantinya, ketiga Baron yakin bahwa suatu saat Rey Arlert akan menggunakan satu-satunya kesempatan milik Dandelion.


Bagian dari tubuhnya sudah digantikan oleh Dandelion. Saat ini Rey, hanya memiliki satu kesempatan saja. Ketika situasi terdesak dan dirinya sama sekali tak memiliki peluang untuk kabur atau menang.


Kekuatan Dandelion adalah yang paling mampu menolongnya. Namun ketika satu kesempatan itu digunakan, maka durasi kehidupan penggunaannya akan lenyap.


Krekkkkk



Rey berdiri tepat dihadapan pintu ruang rawat rekannya. Ketika membukanya kedua matanya berbinar rasanya. Seluruh rekannya sudah sadar bahkan mereka sudah bersandar di kepala ranjang juga bercengkrama. Seluruhnya sadar kecuali Debora kekasihnya.


"Hei Rey!"


Ucap Riley girang. Rey tersenyum menanggapi itu. Tubuhnya berjalan mendekati seluruh rekannya disana.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi kalian?" Tanya Rey memilih duduk disamping ranjang Justice.


"Ya, tentu saja kami baik-baik saja Rey!" Jawab seluruhnya bersamaan.


Ada satu hal yang kurang disana. Bukan tentang Debora yang masih belum sadar. Namun Rey mencari keberadaan Syena adiknya. Kemanakah gadis itu, mengapa masih belum kembali?


"Syena dimana? Apakah kalian melihatnya?" Tanya Rey pada mereka.


Riley tersenyum mendengar itu. Tentu saja, tak adanya Syena dalam rombongannya akan menjadi satu tanda tanya besar bagi Rey Arlert.


"Syena bilang ia ingin kembali ke markas!" Jawab Riley menenangkan.


Rey mengangguk mendengar itu. Kembali Rey menyamankan dirinya duduk di kepala ranjang Justice.



"Hei, kau bisa memakai kursi bukan? Mengapa kau berada disamping ku hah?" Tanya Justice padanya.


"Ah mungkin dia sedang merindukanmu Justice!" Tambah Mikhail sambil tersenyum.


Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Rey bahas disini. Perihal sebuah rapat yang baru saja ia bahas bersama dengan Harith dan Axcel.


"Aku memiliki satu berita dari Kaisar Putih!" Ujar Rey memulai pembicaraan.


Kepala itu menunduk mencoba mengingat perihal betapa kecewanya Harith pada daya tempur pasukannya.


Mereka mulai serius mendengarkan Rey sekarang. Rey mengangguk mendengar pertanyaan itu, kepalanya kembali mendongak menatap ke arah rekannya satu persatu lalu di akhiri dengan helaan nafas panjang. Layaknya manusia yang sedang kelelahan.


"Setelah pertempuran yang baru saja terjadi.Kaisar mengutarakan berapa kecewanya dia terhadap kekuatan para Muskeeters."


"Uh?"


Seluruh rekannya tertegun mendengar apa yang Rey utarakan. Sejenak mereka merenung benar rasanya. Kekuatan mereka masih sangatlah lemah.


Ditambah para Muskeeters yang sudah masuk juga bertarung dalam Silver Alaska hanya tim mereka. Sedangkan divisi lain mereka hanya akan di tugaskan menyelediki area luar benteng.



"Jadi apa yang kaisar katakan selanjutnya?" Tanya Riley penasaran.


"Kaisar meminta kita untuk melatih para Muskeeters! Ia ingin para Muskeeters di tempa sekuat tim kita."


Mikhail mencoba mencerna tiap apa yang Rey katakan.


"Jika begitu, bukan para petarung yang harus di asah lebih baik disini?" Tanya Mikhail, namun rupanya Rey menggeleng mendengar itu.


"Tidak ada perbedaan! Baik para petarung, ahli ilusi, juga pertahanan, ahli serangan jarak jauh, juga tipe pemikir. Seluruhnya akan di latih sama! Tidak ada perbedaan dalam pelatihan ini. Sebab diluar sana, kita bertarung bukan secara individu namun kerja sama tim!"

__ADS_1


Justice mengangguk mendengar penjelasan Rey. Apabila menyangkut kerja sama tim. Tim mereka sudah tidak di ragukan lagi rasanya.


"Mau sampai kapan kita terus berada didalam kukungan kandang ini?"


Ujar Rey lagi sambil menatap ke arah langit-langit ruangan. Menerka mengingat kembali betapa mirisnya nasib manusia saat ini. Tunduk pada penindasan juga pasrah menerima kematian mereka yang datang kapan saja.


"Tidak, kita tidak boleh menyerah! Manusia berhak memiliki kebebasan mereka kembali. Apakah kalian akan terus pasrah lalu membuat bumi ini hancur lebur dan kejahatan menang? Tidak bukan? Kalau begitu, mari kita melangkah lebih jauh lagi. Membabat seluruh pasukan iblis dalam bumi ini! Bumi ini rumah kita, maka jangan serahkan dia begitu saja pada mereka!"


Lagi-lagi sebuah petuah keramat berhasil membakar semangat para rekannya. Jika bukan Rey yang menyulutnya, lantas siapa lagi. Seluruhnya hanya mampu tersenyum takjub mendengar petuah itu.


Netra mereka kembali menatap ke arah Debora saat ini. Sihir Abjad E memang sangat lemah. Tiap kali mereka terluka, pemulihan mereka adalah yang paling lambat.


"Kucing putih itu masih tertidur pulas disana!" Ucap Rey sambil menunjuk ke arah Debora yang terlelap.


Ketiga rekannya melihat bola mata Rey. Disana jelas terpancar adanya asmara yang mendalam dalam hatinya. Ketiganya sejenak saling tatap satu sama lain.


Sepertinya mereka harus membiarkan manusia yang sedang di mabuk cinta ini berdua disini. Mereka tau, Rey tidak akan menunjukkan perasaannya pada Debora apabila mereka tetap disini.


"Ah sepertinya aku letih sekarang! Rembulan juga sudah menampakkan diri!" Ucap Riley mengawali pembicaraan.


"Kita tidur saja bagaimana?" Tambah Justice sambil menatap Riley nya.


"Tapi jangan disini! Ranjang ini seperti balokan kayu, lebih baik kita kembali ke markas bersama dengan Syena disana." Ujar Riley mengusulkan.



Mikhail disampingnya hanya manggut-manggut saja menanggapi apa yang Riley katakan. Rey menoleh ke arah ketiga rekannya, terlihat mereka sudah berdiri saat ini.


"Kalian benar akan pergi?" Tanya Rey meyakinkan.


Ketiganya mengangguk menanggapi apa yang Rey tanyakan.


"Iya kami akan pergi, apa kau akan ikut?" Tanya Riley padanya.


Dengan cepat Rey menggeleng. Sebab hatinya berat jika harus meninggalkan kucing putih kesayangannya sendiri disini.


"Baiklah, jaga Debora ya, Rey!" Tutur Riley.


Ucapan itu membuat Rey mengacungkan kedua jempol nya ke arah Riley. Detik kemudian, rapalan mantra Leviousa mulai bekerja. Membawa tubuh seluruh rekannya pergi dari sana.


Seperti biasa lagi-lagi keadaan menyisakan dirinya saja bersama Debora nya dalam satu ruangan. Rey bukan pemuda hidung belang yang akan merusak Debora nya.


Namun sungguh, ia hanya ingin terlelap disamping ranjang Debora sambil menggenggam tangannya, hanya itu saja.


...Mati atau hidup terserah yang Diatas, yang takut mati itu adalah pecundang sejati...


__ADS_1


__ADS_2