
...Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu...
...Kita tak akan mampu mengubah apapun jika kita tak mengubah cara pikir kita...
__________
.
.
Debora termenung dalam ruangannya seorang diri, banyak hal dalam kepalanya saat ini. Beberapa jam lalu, rekannya sempat meramaikan ruangan ini, namun setelah suara gema merasuki penjuru Rensuar. Seluruh rekannya berbondong-bondong pergi, Riley yang bahagia pergi kembali ke markas, ia bilang ingin mengambil beberapa camilan disana. Sedang Justice dengan muka masamnya tanpa sepatah katapun mengekori Riley, begitupun dengan Mikhail.
Gema itu adalah cara Harith memberi pengumuman, selain lewat hologram sihir Harith juga mampu memberi pesan melalui mantra gema. Gema pesan itu berisi, bahwa waktu lomba diselenggarakan maka seluruh kegiatan Rensuar, termasuk kegiatan belajar akan diliburkan sampai acara perlombaan selesai, kecuali kegiatan penjagaan benteng.
Meriahnya sorak tawa dari lorong-lorong menggema terdengar bahagia, diiringi dengan suara langkah kaki berlarian yang mulai redup, menjauh keluar dari Rensuar. Beberapa dari mereka memilih pergi ke markas, terlihat para Khufra berterbangan dari atas langit mereka memenuhi panggilan penunggangnya. Khufra-Khufra itu melesat, tepat ke arah Asrama mereka masing-masing.
Ada banyak hal berterbangan dalam kepala Debora saat ini. Gadis bersurai putih ini duduk bersandar dikepala ranjang, jari telunjuknya sedikit bermain-main dengan sebuah bulu merak yang ia layngkan. Debora termenung, pandangannya kosong, seluruh isi kepalanya berisi tentang Rey. Mengapa manusia dengan Baron dalam tubuhnya bisa kehilangan kendali semacam itu. Lantas, efek samping apakah yang akan terjadi jika hal serupa itu dibiarkan.
Noella berdiri tepat di ambang pintu, netranya memperhatikan gadis bersurai sama dengannya, Debora terlalu terlarut dalam renungannya tak menyadari keberadaan Noella yang saat ini berjalan masuk menghampirinya. Sebuah nampan berisikan ramuan itu berada tepat ditangannya. Noella adalah pengurus seluruh tindakan medis dalam Rensuar, itulah mengapa ketika Seorang Musketeers terluka, Noella-lah yang paling repot disini.
"Kau sedang melamun kan apa, Debora?"
Noella bertanya sembari meletakkan nampannya di atas meja, meja itu tepat berada disisi Debora. Sama sekali tak ada jawaban, Debora masih terlarut dalam pikirannya sendiri.
Pukkkkk
Noella menepuk pelan bahu gadis itu, mencoba menyadarkannya membawanya kembali dari lamunannya.
"Eh?"
Debora terkejut merasakan sentuhan sesuatu dibahunya, sontak netranya beralih ke arah Noella yang berada disampingnya itu. Sebuah sunggingan senyum dari Noella membuatnya juga ikut tersenyum.
"Kau sedang memikirkan apa?"
Kali ini Noella bertanya sambil meracik tiga ramuan yang ia letakkan diatas meja itu. Disana juga ada sebuah cangkir kecil, itu adalah cangkir wadah untuk hasil racikannya, dimana nanti hasilnya akan ia berikan pada Debora. Debora memperhatikan Noella, terampil sekali tangannya meracik ramuan itu.
"Nona Noella!"
Sapa Debora, Noella yang masih fokus hanya membalasnya dengan deheman. Mungkin ini saatnya menanyakan mengenai apa yang terjadi pada Rey. Debora mencoba mencari tau segala efek samping apakah yang akan terjadi, pada Rey.
"Aku ingin menanyakan sesuatu perihal Rey!"
Mendengar hal itu Noella tersenyum, tak menghentikan kegiatannya, ia hanya memberi sebuah anggukan pertanda bahwa Noella setuju mendengarkan seluruh pertanyaan itu.
"Apakah tidak apa membiarkan Rey bergabung dalam turnamen ini?"
Noella merasakan ada kekhawatiran besar tersimpan dalam kalimat itu. Semakin hari semakin kesini, tindakan Debora pada Rey memberinya sedikit titik terang. Debora, apakah ia menyimpan perasaan lebih terhadap Rey.
"Oh itu ya, kau tak perlu mengkhawatirkannya Debora! Dalam pertandingan ini, memang cukup berbahaya namun Harith dan Axcel sudah memanggilnya ke ruangannya."
Noella berucap sambil menuangkan hasil racikannya ke dalam cangkir. Disana Debora menaikkan satu alisnya, itu bukan jawaban yang ia mau.
"Mengapa ia di panggil dua petinggi?"
Debora penasaran mencoba kembali menanyakan perihal Rey. Untuk apa dua petinggi Rensuar, secara VIP memanggilnya datang.
"Ah, Semua sudah siap! Ramuan penghilang rasa nyeri sihir, dibuat langsung dari tanganku. Minumlah!"
Noella memberikan cangkir kecil itu kepada Debora. Gas biru itu menguar dari dalam cangkir itu, disertai dengan cahaya birunya. Debora meraih cangkir itu, menerimanya.
"Tapi, Nona Noella! Aku ingin penjelasan tanpa berbelit-belit."
Ujar Debora lagi, Noella tersenyum lalu mengangguk. Jari telunjuknya bergerak, melalui sihirnya kursi diujung ruangan ini ia tarik mendekat ke arahnya. Kursi itu menghadap langsung ke arah Debora, Noella duduk disana sambil memperhatikan Debora. Ia menaikkan kedua alisnya sambil tetap tersenyum.
"Baiklah, aku akan menceritakan satu kisah sejarah yang seharusnya bab ini, akan ada di pelajaran tahun keduamu. Sebelum aku bercerita, minum dan habiskan ya!"
Suara lembut milik Noella itu membuat Debora terenyuh. Dengan senang hati Debora meneguk habis seluruh ramuan pahit didalam cangkir itu, lalu meletakkannya kembali di atas mejanya.
"Mari kita mulai!"
Wushhhhhhhhhh
Sebuah sulur cahaya datang dari dalam dinding, sulur-sulur itu membuat sebuah portal disana.
__ADS_1
"Hah, itu apa?"
Debora yang bingung itu dibuat terkejut, tembok-tembok itu terkikis masuk kedalam sebuah lubang membentuk sebuah portal.
"Untuk mengetahui tentang seluruh kejadian ini. Maka kau harus masuk dalam kenanganku, maka segala pertanyaan dalam otakmu akan terjawab sepenuhnya."
Slinggggggggg
Wushhhhhhhhh
Sulur-sulur itu mendekat tepat ke arah Noella yang membelakanginya. Debora memperhatikan sulur itu, seperti miliknya. Sulur-sulur itu mencakup keduanya, melilitnya tak lama bagaikan sebuah setruman, Debora dibuat terkejut pada dimensi yang ia lihat saat ini. Mereka berdua berpindah tempat secepat kilat.
_________
Dimensi itu memperlihatkan Harith ia sedang bertarung dengan biang masalah itu, sosok keji, kejam, tak berperasaan, Iblis seratus juta jiwa. Debora juga Noella berdiri disana menyaksikan itu.
"Ini adalah permulaan, dirinya kehilangan Baronnya. Kali pertama kakinya berpijak dibelahan Timur, sosok laknat itu datang menghajarnya. Namun Harith adalah sosok Guardian, sekalipun pedang Baron miliknya tak ada bukan berarti ia kalah."
Terlihat Harith melempar sosok itu berulang kali, agar mundur menjauhinya. Merasa sudah terpojok, namun Iblis itu tau Harith tak mampu menggores dirinya dengan pedang-pedangnya.
"Harith tak mampu melukainya dengan pedangnya! Namun Iblis seratus juta jiwa itu sudah terpojok. Seandainya Baron ada ditangannya hari itu, maka mungkin bumimu akan kembali lagi seperti sediakala."
Sambil tetap mendengarkan narasi dari Noella, Debora memperhatikan sesuatu disana. Iblis itu, kemanakah jiwa-jiwa yang dilahapnya itu.
"Nona Noella, aku berpikir ada alasan mengapa tubuhnya tak mampu dilukai oleh Kaisar!"
Ujarnya seraya masih memerhatikan pergulatan mereka. Nyawa manusia adalah nyawa mereka, sekalipun mereka makhluk mati namun rupanya kelemahan mereka juga berada disana.
"Apa maksudnya?"
Debora menatapnya mendengar itu, jarinya menunjuk tepat ke arah Iblis itu lalu kembali lagi menatapnya.
"Tiap Iblis yang pernah kami temui. Mereka memiliki aura pekat, dalam area leher mereka. Itu seperti sebuah benang pertanda bagi kami, bahwa letak kelemahan mereka disana, dan pedang Pembinasa sekali menebasnya iblis itu akan melebur, musnah."
Jelas Debora, kembali ia menunjuk lagi area tubuh Iblis seratus juta jiwa.
"Mungkin ini alasan para Indigo di dunia diberi evolusi yang ekstrim, mereka dan ghaib itu terikat. Mereka adalah kunci solusi untuk masalah ini, Tuhan sendiri yang memberikan tugas itu pada kami. Mata ini, ditakdirkan untuk melihat kelemahan mereka sejak awal."
Segala argumen yang ia tau dari analisisnya ia paparkan, Noella mendengar hal itu dengan seksama.
Jelasnya, Noella terhenyak baginya paparan argumen itu cukup masuk akal. Mungkin setelah ini Noella akan pergi mengatakan hal itu pada Harith.
"Aku akan mendiskusikan itu bersama dengan Harith. Namun sekarang sudah saatnya kau tau mengenai sembilan kristal dalam Asteroid."
Noella menggerakan tangannya kembali, membelah dimensi ini membawanya masuk kembali dalam satu dimensi lain.
Clingggggggg
Redupan cahaya dari dalam portal, membawa mereka masuk menyaksikan. Terlihat Iblis seratus juta jiwa itu itu menyentuh tanah.
Brushhhhhh
Akibat sentuhan itu, seseorang keluar dari dalam tanah. Debora membulatkan matanya melihat itu, keluarnya tubuhnya dari dalam tanah membawa tangan Iblis itu berlabuh diantara lehernya, mencekiknya.
"Ahhhhh... Lepaskan aku! Kau berani mencekik seorang guardian?"
Noella menatap miris mendengar itu, sosok yang sedang disiksa itu adalah Bembi, salah seorang Guardian.
"Siapa dia?" Tanya Debora penasaran.
"Dia adalah Bembi, penguasa Baron Hitam. Kuburan angkasa adalah salah satu kekuatannya, itu disebut black hole oleh manusia."
Debora terkejut, lantas mengapa Bembi tidak melakukan perlawanan ia hanya meringis dan memekik. Apakah Guardian itu selemah ini, lantas mengapa mereka berdiri di atas alam semesta dengan embel-embel sebagai seorang penjaga.
"Dia tidak lemah, hanya saja ketika tubuhnya masuk menyatu dalam Asteroid itu, mungkin mananya pada saat itu terserap. Penyihir yang kelelahan, penyihir yang habis seluruh mananya tak akan berdaya merapal apapun."
Debora paham sekarang, Noella membawa kembali Debora masuk ke dimensi lain. Dimana dalam dimensi ini kejadian yang sama juga terjadi pada Lunox.
"Sembilan pecahan Asteroid itu, menyimpan kekuatan beragam. Itu bukan yang Harith sebutkan?"
Tanya Noella, Debora mengangguk mendengar itu.
__ADS_1
"Sembilan pecahan itu terhitung dari dua tubuh pemilik senjata, dan satu untuk senjata. Yang artinya, ketika Iblis sudah mendapatkan kedua pemiliknya maka mereka sudah mendapatkan empat pecahan kristal suci itu."
Debora terbelalak mendengar itu, Iblis lebih unggul dari mereka. Noella kembali melanjutkan narasinya.
"Dan pihak kita, mendapatkan tiga, dua adalah Harith, satu adalah Rey Baron Putih Legendaris. Misinya adalah menemukan kedua pedang yang hilang, hanya Rey yang mampu menyatukan ketiga pedang itu. Karena hanya dirinyalah pemilik istimewa pedang Guardian. Senjata itu tidak ditakdirkan untuk saling menyakiti sesamanya, senjata itu ditakdirkan untuk menyatu untuk melawan segala ancaman, suatu saat nanti ketika Rey datang memijakkan kakinya di Alaska, kedua pedang yang hilang itu pasti merasakan kehadirannya, namun Rey yang sekarang masih perlu banyak ditempa."
Debora berfikir lagi kali ini, satu pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa Rey selalu kehilangan kendali saat menggunakan Baronnya.
"Pertanyaan terakhir hanya satu, mengapa Rey selalu kehilangan dirinya saat menggunakan kekuatan Baron?"
Debora berkata sambil menatap lekat bola mata Noella. Surai putih keduanya berkibar di terpa angin dari dalam dimensi itu.
"Itu adalah cara Rey menyayangi kalian! Manusia itu rela melakukan apapun, asalkan kekuatan yang ada dalam dirinya mampu melindungi kalian. Sejujurnya dalam lubuk hatinya, ia muak sekali pada dirinya, perihal insiden adiknya. Rey pada tiap pertarungannya, akan berusaha membuka kekuatan-kekuatan besar yang dimiliki Baron. Rey masih belum cukup di level itu, namun memaksa untuk meraihnya. Ketika Baron membuka kekuatan itu untuknya, Rey yang masih pemula akan saling tarik menarik. Kekuatan yang berusaha melahap Rey, juga Rey yang berusaha mendapatkan kekuatan. Namun yang bagus adalah, ketika Rey mendapatkan kekuatan itu padanya, kekuatan mutlak. Kekuatan itu tak perlu diambil dengan susah payah lagi, sekali Rey memanggil, kekuatan itu akan datang."
Pada akhirnya seluruh pertanyaan Debora terjawab, ia tersenyum mendengar seluruh penjelasan itu.
"Tapi ketika kalian menemukan Rey kehilangan kendali lagi, sadarkan dia! Jika kekuatan melahapnya, Rey akan kehilangan fananya. Merusak jiwanya hidup, yang artinya jika itu terjadi maka Rey akan mati."
Debora tersenyum iba mendengar itu, Rey yang baik hati yang paling ia pedulikan. Hanya doa saja yang mampu Debora panjatkan untuknya dalam situasi ini, lagi pula saat ini segalanya sudah terlanjur.
___________
Rey terlihat gugup ketika dua pasang mata dihadapannya sudah lima menit menatapnya tanpa sepatah kata pun. Muak dengan hal itu, Rey memasang muka masam pada keduanya. Saat ini Rey sedang berada didalam ruangan Axcel, gema dari pemberitahuan diakhir itu menyuruh Rey datang keruangan ini.
**Prokkkkk
Prokkkkk**
Axcel menuruni anak tangga berjalan seraya bertepuk tangan ke arah Rey. Rey heran melihat itu, disana Harith masih data memandanginya.
"Wah Kaisar, inilah anak kesayanganku! Kesayangan Rensuar, Baron Putih Legendaris."
Ujar Axcel ceria seraya menepuk-nepuk bahu Rey. Harith masih diam menatap dingin ke arah Rey.
"Hei, kau ada masalah apa sebenarnya denganku?"
Rey muak melihat bola mata menyeramkan itu seakan mengintimidasinya. Pertanyaan itu ia lempar layaknya seorang preman yang sedang memalak korbannya. Disana Harith tersenyum, sarkasme, itulah Rey.
"Wahhhhhh, aku senang Rey!"
Ujar Harith, sejujurnya dirinya ingin melompat-lompat sekarang mengekspresikan apa yang ada dalam hatinya. Harith sengaja membawa Rey kemari sebelum acara dimulai, karena ia adalah peserta termuda Harith ingin memberikan sesuatu pada Rey disini.
"Terima kasih, aku memang banyak membawa kebahagiaan hari ini."
Ujar Rey, Axcel terbang melayang berdiri lagi disamping Kaisar Putih.
"Sebelum pergi aku ingin kau menerima ini."
syutthhhhhh
Harith membuka telapak tangannya, tepat pada saat itu juga sebuah cahaya ke emasan mendatangkan satu benda dalam sana. Rey menyipitkan matanya, mencoba memperhatikan benda itu.
"Sebut saja ini perlindungan darurat!"
Sebuah benda berbentuk peluit berwarna emas itu melayang ke arah Rey. Rey bertanya-tanya untuk apakah benda itu.
"Itu asuransi Rey, potong gaji nanti!"
Ujar Axcel sambil tersenyum. Rey paham sekarang, Harith sedang mengkhawatirkannya. Ia memang peserta yang termuda disini, Rey memaklumi itu, menerima peluit itu menyimpannya.
"Selamat berjuang, Rey!" Ujar Harith.
"Selamat berjuang, Arlert!" Ujar Axcel.
Mendengar ucapan semangat diberikan padanya, Rey mengacungkan kedua jempol nya ke arah mereka sambil tersenyum. Melihat keyakinan penuh dalam diri Rey, Harith dan Axcel pun menghilang secara bersamaan.
...Ada dua aturan untuk menjadi sukses...
...Pertama, cari tahu hal yang ingin kamu lakukan...
...Kedua, lakukan hal tersebut...
_________
__ADS_1