Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Kembali ke Lalu (Suster Agarwa)


__ADS_3

...Lebih baik menerima kejujuran yang pahit, dari pada kebohongan yang manis...



Gema suara ledakkan membuat beberapa manusia didalam panti asuhan terkejut. Mereka yang tadinya beraktivitas mendadak berhenti. Beberapa manusia didalam panti asuhan berbondong-bondong keluar, mencoba mencari tau. Suara apakah itu dan bersal dari mana.


Ini adalah panti asuhan Rey dan Syena. Kejadian ini bertepatan ketika mereka sedang berada di kota. Hari ini adalah hari ulang tahun Syena.


Suster Agarwa sontak menjatuhkan makanan yang ia bawa sejak tadi. Tercengang rasanya melihat kepulan asap tebal disana. Asap itu berasal dari kota, ia mengingat bahwa dua orang anak asuhnya sedang berada disana.


"Rey, Syena..." Lirihnya.


Salah seorang ketua dari mereka menepuk pundaknya. Beberapa dari mereka mulai berlari pergi menjauh dari tempat ini.


"Suster Agarwa, mari kita pergi dari sini! Kepulan asap itu pertanda bahaya! Kita harus segera menyelamatkan diri."Jelas Suster Angela padanya.


Namun bagaikan orang Ling Ling, suster Agarwa masih terpaku disana. Suara manusia yang menyuruhnya pergi saat itu sama sekali tak ada artinya baginya.


Rey dan Syena adalah prioritas utamanya saat ini. Tangannya bergetar menunjuk tepat ke arah kepulan asap itu.


"Rey dan Syena ada disana!" Ucap Suster Agarwa sambil menunjuk ke arah kepulan asap itu..


Suster Angela terkejut seketika mendengar apa yang suster Agarwa ucapkan. Namun mau bagaimana lagi, Pastor selaku ketua mereka sudah berada tepat mendahului mereka.



Pastor itu menggiring anak-anak pergi meninggalkan panti asuhan. Berat memang meninggalkan salah satu dari mereka disini. Tetapi kepulan asap disana pasti sudah menghancurkan segalanya.


Bahkan rasanya Suster Angela tak percaya apabila Rey disana mampu selamat. Namun doa terbaik masih ia panjatkan untuk kedua anak asuhnya itu.


"Suster, kita tidak bisa berlama-lama disini! Kita harus pergi!" Ucap Suster Angela lagi.


Suster Angela menarik pergelangan tangan suster Agarwa, menuntunnya untuk mengikutinya. Dengan berat hati, masih dengan hati yang berat. Suster Agarwa pun pergi meninggalkannya.


Ditengah pelarian mereka itu. Sesuatu dari dalam tanah mulai bergerak. Hentakan kaki mereka adalah pemancar bagi sesuatu itu. Rombongan mereka yang berlari adalah santapan terlezat baginya.


Itu adalah Cronus, dengan wujud aslinya ia mengikuti hentakan rombongan suster Agarwa. Rombongan mereka sama sekali tak tau bahwa didalam tanah ada sesuatu yang sedang mengintai mereka.


"Kita harus segera pergi dari sini! Area Barat ini sudah tidak aman lagi!" Jelas Pastor ketika tepat berada didepan mobil.


Pastor itu memindahkan anak-anak satu persatu masuk ke dalam mobil.


"Lantas kemanakah kita akan pergi Pastor?" Tanya salah satu suster padanya.


"Area timur aman! Kita akan kesana, membawa anak-anak ini kesana! Disana mungkin akan ada naungan untuk kita." Jelas Pastor.

__ADS_1


Seluruh anak-anak sudah berada tepat didalam mobil. Hanya tinggal Pastor juga para biarawati.


"Mari masuk!" Ajak Pastor itu pada mereka.


Para Biarawati itu mengangguk. Mereka pun mengikuti Pastor Nick masuk ke dalam mobil. Sebuah tujuan aman akan membawa mereka berlindung.


Namun ketika kaki mereka hampir masuk ke dalam. Satu getaran besar membuat mereka terdiam. Getaran itu berasal dari bawah tanah. Getaran itu kuat sekali, semakin kuat dan kuat.


Brakkkkk



"Hmmmmm..."


Sebuah kepala kelabang raksasa datang menjulang meraup tubuh Pastor Nick. Detik itu juga ketegangan menyelimuti mereka. Bunyi tulang-tulang remuk itu membuat bulu kudukku mereka berdiri.


Kelabang itu sangat besar. Para Biarawati berteriak histeris melihat keberadaannya. Darah-darah segar dari tubuh Pastor Nick jatuh begitu saja..


"A..ap..apa itu?" Suster Angela terbata-bata ketakutan sambil jari telunjuknya mengarah tepat ke arah kelabang raksasa itu.


"Mari kita pergi!" Ucap Suster Angela.


Berbeda dengan para Biarawati yang melarikan diri. Suster Agarwa justru menghampiri anak-anak. Ia ingin membebaskan mereka agar mereka bisa berlari kabur dari sana.


Sebab ia sudah meninggalkan Rey dan Syena. Maka untuk kali ini, ia tidak akan mungkin meninggalkan anak-anak asuhnya yang lain. Tidak akan pernah.


"Hahahaha... berani sekali manusia ini!"


Cronus berucap sambil terus mengunyah tubuh Pastor Nick dalam mulutnya.


"Suster tolong kami!" Ucap anak-anak didalam mobil.


"Sekalipun kalian berlari pergi dariku! Kalian tidak akan mungkin selamat, sudahlah serahkan saja diri kalian padaku hahahaa.."


Bahak tawa itu menggema begitu menyeramkan. Namun tidak dengan Suster Agarwa. Biarawati itu membuka mobil yang isinya adalah anak-anak asuhnya.


"Suster kami takut!!!" Pekik mereka semua ketika pintu mobil terbuka.


Clashhhhh


Clashhhhh



Hujan darah itu jatuh mengguyur pakaian serba putihnya. Darah-darah itu berasal dari para biarawati yang di ambil oleh Cronus.

__ADS_1


Melihat guyuran darah deras itu, para anak-anak di dalam mobil menjerit. Mereka benar-benar sangat ketakutan tak tau harus bagaimana lagi.


"Tetap panjatkan doa!" Ujar Suster Agarwa pada mereka.


Namun tetap saja, mental anak mana yang tidak terserang melihat pembantaian keji ini dilakukan tepat dihadapan mereka.


"Hahahaha... Teruslah menangis ketakutan kalian, wahai makhluk fana!" Ucap Cronus.


"Aku akan memakan kalian semua disini! Tidak akan ada satupun dari kalian yang selamat!" Ucapnya lagi mencoba menakuti anak-anak di dalam mobil itu.


Suster Agarwa benar-benar tak tega rasanya melihat raut wajah anak-anak asuhnya. Suster Agarwa berbalik menatap tepat ke arah Cronus yang berwujud kelabang itu.


Cronus masih mengunyah salah satu potongan tangan biarawati disana. Pijakan mereka kini benar-benar memerah, berkat darah-darah rekannya yang mati di lahap oleh Cronus.


"Iblis semacam mu melupakan kodratnya!" Ucap Suster Agarwa padanya.


"Kodrat apa maksudmu hah?" Tanya Cronus pada Suster Agarwa disana.


"Kau sebutkan makhluk fana! Lalu kau apa, kau pun juga sama fana nya daripada kami!"


Glekkkkk



Retakan tulang belulang dalam mulutnya di akhiri dengan satu picingan mata ke arah suster Agarwa. Melihat raut wajah biarawati ini, Cronus semakin geram. Tak ada tanda-tanda ketakutan disana.


Berani sekali manusia ini menghadap ke arah eksekutor dengan wajah setenang ini, juga sedatar ini. Cronus merasa dihina disini rasanya. Cronus membuka mulutnya lebar-lebar. Detik ketika taring-taring nya mengoyak tubuh suster Agarwa, ada secercah cahaya yang ikut masuk kedalam tubuhnya.


Tubuh itu hancur, tetapi darah sama sekali tak keluar dari sana. Sebelum Cronus melahapnya, suster Agarwa memejamkan kedua matanya. Sambil terpejam ada dua nama yang ia sebut dalam kalimat terakhirnya. Kalimat itu berisi.


"Tuhan maafkan aku, dan jagalah anak-anak ku disini ataupun disana. Terlebih untuk Rey dan Syena ku yang mungkin juga sedang menghadapi situasi yang sama sepertiku. Aku gagal melindungi mereka, sebab aku hanya manusia yang mampu berserah."


Cronus memang terlihat lega usai memakan tubuh suster Agarwa. Namun ada banyak keganjalan setelah itu terjadi.


Seperti ketika ia akan meraup membantai para bayi. Kekuatannya sama sekali tak mampu ia keluarkan. Tiap kali hal itu terjadi, bayangan Suster Agarwa adalah penyebab utamanya.


...Kalau itu adalah kenangan yang berarti, jangan dilupakan...


...Sebab jika manusia mati, mereka hanya bisa hidup dalam kenangan orang lain...


...



...

__ADS_1


__ADS_2