Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Pertempuran 6 (Sekuat Tenaga)


__ADS_3

Dentuman keras menggelora memenuhi Medan pertempuran. Rombongan Axcel beserta Debora dan rekannya pergi ke arah suara dentuman. Mereka tau, dentuman itu berasal dari tempat di mana Rey berada.


Riley melompat dari tugangan naga yang baru saja ia taklukan. Dengan sihirnya ia mengekori Debora beserta rekannya yang terbang ke arah suara dentuman.


Rey! Apa kau baik-baik saja?. ujar Debora dalam hatinya, ia masih terbang menuju ke arah tempat Rey berada.


Ketika mereka hampir saja sampai di sana. Axcel membulatkan kedua matanya, ia tidak pernah menyangka akan bertemu Harith lagi di sana.


Axcel mempercepat laju terbangnya mencoba menghampiri Harith yang sedang berusaha mendobrak masuk kubah pertarungan milik iblis seratus juta jiwa di sana.


"Harith!!!" teriak Axcel mulai mendarat lalu berlari sekencang-kencangnya ke arah Harith.


Ketika Harith menoleh ke belakang, Axcel memeluknya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Axcel sambil melepas pelukannya kepada Harith.


Harith mengangguk mendengar itu. Dia memang baik-baik saja, namun kemudian telunjuknya mengarah ke arah Rey yang terjebak dan masih bertarung di sana bersama dengan Iblis seratus juta jiwa.


Debora yang baru saja tiba juga terkejut melihat itu. Ada pertanyaan dalam kepalanya, mengapa para Guardian tidak ikut membantu Rey? Mengapa mereka hanya diam di sana?


"Kenapa kalian di sini? Kenapa kalian tidak membantu Rey?" tanya Debora kepada mereka.


Mereka menunduk kemudian. Keinginan mereka memang seperti itu, dan mereka sudah berusaha membobol masuk pertahanan iblis ini. Namun nyatanya mereka sama sekali tak mampu masuk ke dalam.


Debora tau, ada sesuatu yang tidak benar di sini. Debora pun pergi mendekat ke arah Rey. Namun ketika telapak tangan itu menyentuh portal perbatasan iblis, Debora tersetrum.


"Awhh..." pekik Debora pelan.


"Ini adalah tameng perbatasan! Sepertinya ini khusus dibuat olehnya." ujar Mikhail sambil memperhatikan Rey di sana yang masih bertarung.


"Lalu?" tanya Debora sambil menoleh ke samping ke arah Mikhail.


"Apakah kita akan menunggu dan diam membiarkan Rey bertarung sendirian di sana?" tanya Debora kepadanya.


Kesabarannya sudah habis rasanya sungguh. Bagaimana mungkin ia bisa diam dan hanya melihat di sini. Sedangkan Rey di dalam sana sedang berusaha mati-matian mengerahkan seluruh tenaganya untuk dunia.


"Hancurkan!" ucap Debora mencoba memukul-mukul portalnya.


"Hancurkan! Ayo bantu aku menghancurkannya!" ujar Debora lagi masih memukul-mukul portalnya.


Riley iba melihat itu, ia pun mendekati Debora lalu menghentikan tindakannya.


"Bantu dia!" ucap Debora kepada Riley.


Di sana Riley hanya memberi anggukan kepadanya. Lalu memegang kedua bahu sahabatnya itu, menatapnya lekat sambil tersenyum.


"Kau membuang manamu sia-sia jika begitu! Aku juga ingin membantu Rey! Saat ini yang mampu kita lakukan adalah menunggunya di sini sambil memperhatikan serangan iblis itu." tutur Riley padanya.


Debora menundukkan kepalanya. Tak lama ia kembali menatap ke depan, ke arah pertarungan sengit antara Rey dan Iblis seratus juta jiwa.


Gelora tarung mereka luar biasa kuat. Keduanya berharap kemenangan yang sama. Mereka berdua bertarung menyerang mencoba melukai satu sama lain. Nafsu membunuh yang membara membuat keduanya bergerak secara brutal.


"Rey sudah terluka cukup parah!" ujar Justice sambil memperhatikan pertarungan itu.


Debora diam mendengar itu, netranya mencoba mencari-cari kelemahan Iblis di sana. Ia sedang mencoba mencari celah untuk menyerangnya. Atau paling tidak sebuah celah untuk membawa mereka masuk dan membantu.


"Sial kau, Rey Arlert!!!" teriak iblis itu kembali mengayunkan pedang miliknya.


Clashhhhhhh

__ADS_1


"Kau lah yang biadab di sini! Kau membunuh seluruh manusia di bumi ini demi kepuasanmu!" balas Rey ketika pedang mereka bertemu.


Adu mekanik kedua kekuatan besar itu benar-benar luar biasa. Mereka cepat, mereka beringas, saling menuntut mati satu sama lain.


Debora yang bersimpuh sambil memperhatikan itu tiba-tiba teringat sesuatu. Perihal satu mimpi yang Noella bicarakan. Kepalanya mulai sakit perlahan. Kenapa dia harus mengingat mimpi itu lagi? Apakah memang waktunya sudah dekat saat ini?


"Kau kenapa Debora?" tanya Riley kepada Debora sambil menyentuh bahunya.


Debora hanya menggelengkan kepalanya mendengar itu. Netranya kembali menyipit menatap fokus ke arah Rey yang masih bertarung.


Debora, apakah kau mendengarku?. Suara itu, gema suara ini milik Noella. Debora terkejut sebentar, lalu mengangguk menanggapi suara itu.


Pertarungan terakhir ini, aku tidak tau berapa lama mereka akan tetap bertarung! Tapi, kalian sudah ditakdirkan menang oleh sang penguasa. Dan lagi, Syena dibawa kemari oleh seorang Muskeeters. Dia pingsan, sepertinya iblis kutukan yang ada di dalam matanya sudah terlepas. Kemungkinan ketika sadar nanti dia akan mengingat semuanya, tentang Rey! Aku harap, kau tidak lupa untuk tetap menjalankan tugasmu Debora. Aku tau ini sulit, namun ini harus dilakukan olehmu!. Jelas Noella di sana, Debora hanya tersenyum getir mendengar itu.


"Habisi dia Rey!!!" teriakan dari rekannya membuat Debora beralih lagi ke arah Rey.


Dan benar saja, Rey mulai unggul di sini. Ia bahkan mampu melucuti senjata iblis itu. Iblis itu tak bersenjata sekarang, ia hanya mengandalkan sihirnya untuk melawan Rey saat ini.


Rey tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia terus menyerang dan menyerang tanpa henti, menyudutkan iblis itu hingga menyerah.


Terlihat juga di sana iblis itu regenerasinya melambat. Sepertinya ia mulai kelelahan akibat pertempuran yang lama bersama Rey di sini. Ketika Rey hampir menusuk dadanya, Iblis itu berhasil mengelak. Pedang miliknya berhasil ia ambil lagi.


Ketika Rey akan menyerangnya lagi, menghunuskan pedangnya. Iblis itu juga mengikuti pergerakannya. Mereka sama-sama menghunuskan pedangnya dan saling berteriak.


"Mati kau!!!" teriak keduanya.


Jlebbbbbb


Keduanya sama-sama tertusuk satu sama lain. Mereka berdua saling tatap satu sama lain sambil menahan rasa sakit akibat benda tajam yang menusuk tubuh mereka.


"Kau manusia! Regenerasimu lambat, tubuhmu tidak akan mampu menahan kekuatan ketiga pedang secara lama. Kau pasti akan mati!" ujar Iblis itu sambil menatap tajam ke arah Rey.


"Hahaha... Bahkan regenerasi milikmu juga melambat! Aku akan meleburkanmu sebelum aku mati!" ucap Rey sambil berseringai kepadanya.


"Aku tidak akan mati, sebab jika aku mati! Tubuhmu akan kukuasai! Pedang ini, adalah pedang kutukan! Jika aku mati, kau juga akan mati! Lalu aku, akan bersemayam dalam tubuhmu!" jelas Iblis itu kepada Rey.


Rey menundukkan kepalanya, nafasnya mulai terengah-engah. Sekuat apapun dia, Rey juga seorang manusia. Tubuhnya sudah habis masanya menerima kekuatan Dandelion.


"Jangan bermimpi untuk menguasai tubuhku! Aku tidak Sudi ada iblis yang datang lalu masuk ke dalam tubuhku. Biadab sepertimu, mati sajalah!" ujar Rey.


Namun iblis itu hanya berseringai. Ia benar-benar sama sekali tidak takut atas gertakan yang Rey berikan.


Sambil menahan sakit, Rey memejamkan kedua matanya. Debora di sana sejak Rey tertusuk berusaha masuk merusak portal itu sambil berteriak histeris.


Kepada seluruh Muskeeters di dalam area Silver Alaska! Aku, Rey Arlert ingin meminta bantuan kalian!. Ucap Rey kepada seluruh rekannya yang berada di Silver Alaska.


Rey berbicara melalui sihir gema. Sebuah sihir penyalur suara yang akan di dengar dalam jarak jauh.


Peleburan atas nama kebebasan akan segera terwujud. Maka untuk itu, aku membutuhkan kalian! Tancapkan seluruh pedang kalian ke dalam tanah. Rapal mantra peleburan! Mana milikku tidak memadai untuk meleburkan iblis ini, itulah mengapa aku membutuhkan kalian untuk membantuku. Ketiga pedang Baron ini, sudah cukup banyak bertempur. Kekuatan mereka juga tidak memadai lagi. Mari kita lakukan!. Ujar Rey lagi.


Para Muskeeters yang mendengar itu pun segera menancapkan pedang mereka ke dalam tanah. Setelah itu, Rey mengeluarkan ketiga pedang Baron dari dalam domain.


Pedang itu muncul dari balik punggungnya. Aliran kekuatan pedang pelebur seluruh Muskeeters kini tersalur menyatu ke dalam ketiga pedang milik Rey.


Iblis itu masih tersenyum disana, ia begitu yakin akan menang kali ini. Iblis itu begitu yakin dia akan menang. Sebab pedang kutukan sedang menancap dalam tubuh Rey. Dimana dia bisa memindahkan separuh dari tubuhnya ke dalam sana. Lalu mengambil alih tubuh Rey.


"Kau akan mati Arlert!" ucap Iblis itu kepadanya.


"Benar... Maka kematian itu tidak akan kuhadapi sendirian! Kau akan ikut juga bersamaku!" ujar Rey pelan.

__ADS_1


Debora, lakukan!. ujar Rey pelan kepada Debora di sana.


Debora hanya diam mematung ketika peleburan di aktifkan. Portal penghalang itu juga memudar. Iblis yang tertusuk perlahan menghilang, namun pedang yang tertancap dalam tubuh Rey masih ada.


Kekuatan gelap di dalam pedang itu masuk ke dalam tubuh Rey. Debora menggenggam kuat pedang miliknya, sambil menatap Rey yang di penuhi aura gelap Debora masih berat melangkah.


"Debora, Lakukan!" ucap Riley padanya.


Namun Debora tetap diam, sungguh ini berat untuknya. Namun tidak ada yang mampu mendekati Rey kecuali dirinya. Sebab kekuatan Baron yang bertabrakan dengan iblis itu, hanya dia saja yang mampu menahan. Sebab Debora masih memiliki kekuatan Baron dalam tubuhnya.


"Lakukan Debora! Sebelum dia menjadi seorang iblis!" teriak Riley lagi.


Debora menggertakan giginya lalu berlari ke arah Rey. Mengangkat pedangnya, menebas lehernya.


"Aaaaaaaaa!!!" teriak Debora kemudian ia bersimpuh menangis.


Menatap ke arah langit yang perlahan berubah menampakkan sinarnya. Ilusi dalam area itu seketika lenyap, para iblis menghilang dan ketiga pedang legenda itu masing-masing terbang menghampiri pemiliknya.


Tubuh Rey tanpa kepala tergeletak di sana, tepat di hadapan Debora. Saat itu sambil menatap lekat ke arah langit menyampaikan kesedihannya. Debora ingat segalanya, perihal di mana untuk pertama kalinya Rey dan dirinya saling mengungkapkan perasaan.


Perihal saat itu di bawah jurang yang dalam, ketika Rey berlatih bersama ketiga pedang Baron. Saat ketika dirinya terjebak di dalam Silver Alaska lalu Rey menyelamatkannya. Menciumnya lembut di sana, sambil kembali menyatakan cintanya.


Debora menunduk, cipratan darah kekasihnya itu menghiasai telapak tangannya. Sambil masih bersimpuh Debora menghampiri kepala pemuda yang ia cintai, memeluknya sambil terisak.


"Kau mencintaiku, Rey! Terima kasih, terima kasih untuk segalanya." lirih Debora mencium lembut kepala puncak kepala itu.


Baik seluruh rekannya juga para guardian yang menyaksikan itu ikut merasakan pilu. Mereka menghampiri Debora di sana, tak lama muncul dari belakang mereka Syena beserta dengan Noella. Syena berlari mendekati Debora yang bersimpuh membelakanginya.


Ketika ia sudah dekat, ia terpaku menatap potongan kepala Rey di sana. Kakinya lemas seketika melihat apa yang ada di hadapannya.


"Kakak!!!" teriak Syena sambil memandanginya.


"Kau terlalu baik kakak! Kenapa kau harus menyerahkan nyawamu di sini?" isak Syena sambil menyentuh surai Rey yang sudah kembali menghitam.


Perlahan para penduduk langit mulai menghilang satu persatu. Sepertinya batas waktu mereka di bumi sudah habis. Sudah waktunya bagi mereka untuk pulang.


Riley beserta ketiga rekannya yang masih menangisi kepergian Rey, tak sadar jika para Khufra yang ada di atas langit mulai menghilang.


Ketiga Guardian berjalan mendekati Debora. Mereka kemudian bersimpuh di hadapan Debora. Harith mengulurkan tangannya ke arah Debora.


"Apa?" tanya Debora padanya sambil mendongak.


"Bolehkah aku berpamitan padanya untuk yang terakhir?" tanya Harith kepadanya.


Debora mengangguk lalu menyerahkan kepala Rey kepadanya. Harith memandangi wajah yang terpejam itu. Wajah yang mulai dingin.


"Arlert, terima kasih! Jika bukan atas bantuan di sini, bumi ini tidak akan terbebas dari para iblis. Kau luar biasa mengorbankan nyawamu untuk mereka! Kami tidak akan melupakan itu, Rey Arlert!" ucap Harith.


Bembi dan Lunox hanya menunduk tak mampu berkata-kata apa-apa lagi. Apa yang akan mereka katakan kurang lebih sama seperti Harith.


Perlahan cahaya dari langit mulai membawa ketiga Guardian pergi. Seluruh makhluk sihir yang ada di sana menghilang.


Debora berinisiatif membawa kepala Rey lalu menguburnya. Namun ketika kepala itu akan ia bawa. Cahaya dari langit menyinarinya.


Perlahan, kepala juga tubuh Rey menghilang begitu saja. Tentu saja hal itu membuat Debora terkejut. Namun itu tidak mengusir kenyataan bahwa Rey, sudah tidak ada sekarang.


Peradaban bumi perlahan mulai ditata kembali. Kehidupan dan kebebasan yang selama ini didambakan perlahan mulai terlahir dan dibangun lagi.


Seperti apa yang Rey katakan kepada Elvas. Tiga tahun sejak kepergian Rey dan bumi mulai kembali pulih. Elvas selalu berada di samping Debora.

__ADS_1


Sekalipun Debora masih belum mampu membuka hatinya, dan dia masih berharap Rey akan kembali. Perihal takdir siapa yang tau? Barangkali ada keajaiban, mungkin yang Debora minta saat itu adalah,


Bawalah Rey pulang, Tuhan!. Ucapnya memanjatkan doa sambil menatap langit.


__ADS_2