
...Tuhan tak akan menempatkan kita di sini melalui derita demi derita...
...Bila Ia tak yakin kita bisa melaluinya...
...Ketika kau bekerja keras dan gagal, penyesalan itu akan cepat berlalu...
...Berbeda dengan penyesalan ketika tidak berani mencoba...
____________
.
Syena berlari sambil menutup mulutnya mencoba menahan, tiap tetesan darah yang berlomba-lomba keluar tiap kali dirinya terbatuk. Sesak sungguh dadanya.
Iblis-iblis ini mulai menggila, sejak lenyapnya generasi pertama Verozi. Amarah mereka memuncak, menyalahkan perihal Syena yang tak becus melindungi Generasi Tuannya.
Saat itu, Barsh yang murka menjambak kuat surai Syena, menggiringnya tepat dihadapan persidangan Alaska. Tubuh kecil itu dihempaskan begitu saja, dipaksa tunduk tepat dihadapan kaki para petinggi.
Para petinggi murka, dalam sidang Syena disiksa. Cambukan demi cambuk an itu diberikan, sebagai balasan atas ketidak bergunaannya menjaga para Generasi.
Suara Tuan mereka menggema saat itu. Wujudnya tak ada, namun suaranya menyelimuti ruangan. Gema itu memerintahkan, bahwa selama satu bulan sebagai hukuman.
Dahaga mereka bisa dipuaskan melalui darah Syena. Itu artinya selama satu bulan Syena akan menyerahkan segelas darah dari dalam tubuhnya. Ini sudah memasuki satu bulan.
Lemas rasanya tubuhnya, sayatan demi sayatan masih menganga perih disana. Beberapa luka itu membekas, mungkin akan meninggalkan bekas.
Sejak tadi ia tertatih menyelusuri belantara. Tujuannya adalah melampiaskan lelahnya, sejenak ia ingin lepas dari penjara ini. Tepat diujung belantara ada sebuah tebing, dengan kegelapan jurang yang curam.
Suara burung hantu dari kegelapan menambah nuansa mencekam disana. Perihal bunuh diri jika itu tidak dilarang, mungkin melompat adalah pilihan Syena saat ini.
Deppppp
Tepat diujung tebing Syena bersimpuh, netranya menatap lekat kebawah ke arah jurang kelam itu. Mananya terkuras, tenaganya habis, lemah rasanya. Terbesit pikiran dalam kepalanya, apakah ini yang disebut sekarat.
Rasanya sangat menyakitkan. Tubuhmu hidup, namun tidak ditakdirkan untuk bebas. Kau hidup menghirup udara dalam bumimu, tetapi nyawamu dan ragamu bergerak atas perintah orang lain.
"Uhukkkk... Uhukkkk.."
Crattttt
Lagi-lagi batuk itu mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya. Syena kembali membekap mulutnya, namun kucuran darah itu masih deras disana. Kulitnya mulai memucat, mata kirinya perlahan mulai menampakkan cahaya. Syena ingat sekali, tiap kali jika mata kirinya bereaksi, kehadiran pemuda itu selalu dekat dengannya.
"Mengapa mata kiriku bersinar? Jika memang ada seseorang disini, kumohon selamatkan aku.
Jeritan putus asa dari dalam hatinya membuat sesuatu dalam jurang itu bergerak. Sesuatu itu panjang menyerupai sulur, berwarna hitam pekat.
Sesuatu itu sedang memanjat tebing sekarang. Mencoba menghampiri hal menarik diatas sana. Syena yang masih bersimpuh diatas sana, nafasnya terengah-engah.
Sulit baginya untuk sekedar menghirup, manusia memang makhluk fana, batasan untuk mereka itu berlaku.
Dari dasar jurang sesuatu itu mulai merayap menuju permukaan. Tangisan keputusasaan itu membawa Syena menemui sesuatu.
Clashhhhh
Dua sulur hitam bercabang menjulang menampakkan dirinya dihadapan Syena. Syena membulatkan matanya disana, ia terkejut namun tubuhnya terlalu lelah.
Alih-alih berlari pergi dari sana sambil merengkuh rasa takut, Syena, disini hanya mampu mematung. Kelopak mata sayu miliknya menatap pasrah ke arah sulur hitam yang mulai datang padanya.
'Kebebasan itu, bagaimana rasanya?' Jerit Syena dari dalam hati, pejaman matanya saat itu menjatuhkan buliran air mata.
Jika kematian miliknya hari ini, ia akan menerimanya. Syena memejamkan matanya pasrah dihadapan dua sulur bergerak dihadapannya.
Clashhhhh
Dua sulur itu seketika mengambil tubuh Syena, seakan menelannya. Ketika tubuh itu masuk kedalam, sulur itu kembali bergerak masuk kedalam jurang yang curam.
Sulur itu mengirim tubuh Syena tepat dihadapan dua sosok. Disana Syena dibaringkan diatas batu besar, semacam batu persembahan. Syena kehilangan kesadarannya, ketika tubuh kecilnya itu dibawa masuk kedalam sulur.
Dua sosok asing itu memandangi tubuh Syena yang masih terlelap diatas batu. Mereka berwujud seorang manusia, dengan baju zirah yang melekat ditubuhnya.
Zirah itu berbeda warnanya, satu diantaranya memiliki zirah berwarna hitam, sedang satu lainnya memiliki zirah berwarna emas.
"Darimana datangnya manusia ini, auranya cukup aneh!"
Sebut saja mereka Emas dan Hitam. Sang Emas berkata seraya melipat tangannya, matanya menyipit memperhatikan Syena yang masih terpejam.
"Aku merasakan dua unsur lain hinggap dalam tubuhnya! Neutron ada dalam dirinya, cahaya dari salah satu pedang."
Hitam menggaruk kepalanya, rasanya mendengar seluruh penjelasan itu membuatnya muak. Penasaran dengan apa yang Sang Emas maksud, Hitam mengarahkan telapak tangan miliknya ke arah kepala Syena.
Disana ia memejamkan matanya, ketika telapak tangannya menyentuh kening gadis itu. Gambaran tentang Baron Putih Legendaris masuk kedalam kepalanya. Gambaran-gambaran itu jelas sekali.
__ADS_1
"Hah?!"
Sang Hitam mundur perlahan, menjauhkan tubuhnya dari diri Syena. Sang Emas disampingnya acuh, netranya masih menatap lekat ke arah Syena. Sebuah sihir penyembuhan mulai ia kerahkan.
Perlahan sihir penyembuhan milik Sang Emas bekerja. Luka-luka dalam tubuh Syena mulai menutup. Pendarahan yang terjadi pada luka itu, pulih perlahan.
"Dia terkontaminasi!"
Hitam berucap dari balik tubuh Sang Emas. Disana Sang Emas masih acuh, fokusnya masih mengarah pada Syena.
Ketika pemulihan tubuh itu usai, Sang Emas berbalik menatap lekat kedua netra Sang Hitam.
"Keberadaan Baron, berada dalam tubuhnya! Kau melihat hal itu bukan?" Ujarnya, Hitam tersenyum sinis mendengar itu.
"Separuh dari dirinya memiliki aura Iblis?"
Sang Emas menghela nafas mendengar itu. Belum sempat perdebatan mereka berlanjut, Syena terbangun. Syena terkejut mendapati dirinya terbaring diatas batu besar.
Sontak, netranya mengarah pada dua sosok di sampingnya. Kedua sosok itu menoleh ke arahnya, fokus mereka memperhatikan Syena yang sigap menggunakan sihirnya disana.
"Siapa kalian?"
Tanya Syena berdiri, perlahan gadis itu mundur. Syena membuat sebuah ranting cahaya runcing, hal yang sama yang pernah ia lakukan saat itu pada Dion.
"Tenanglah manusia, aku hanya ingin berbicara padamu!"
"Mengapa kalian berada dalam wilayah Alaska? Kalian juga manusia bukan?"
Pertanyaan itu membuat Sang Hitam tertawa. Sena menyebut mereka berdua seorang manusia. Kalimat itu geli rasanya terlintas dalam rungunya.
"Mengapa kau tertawa?" Syena memicingkan matanya tepat ke arah Hitam.
"Anak manusia, bisakah kau turunkan senjatamu? Dengan hal itu, kau pun tak mampu mengalahkan kami."
Ujar Sang Emas menenangkan. Syena memperhatikan sejenak mereka berdua. Nampaknya mereka memang bukan sosok yang jahat.
Slepppp
Syena kembali menghilangkan sihirnya, kali ini mereka bertatapan serius. Seakan ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan satu sama lain.
"Kau, manusia?"
Tanya Emas padanya. Disana Syena kembali memakai tudungnya, tak ada suara dari dirinya namun ia hanya memberi anggukan.
Pertanyaan dari Hitam membuat Syena mengangkat bahunya. Dua sosok itu dibuat kesal sekarang. Apakah gadis ini tak punya mulut untuk bersuara. Hitam dan Emas saling menatap satu sama lain. .
Sang Emas berjalan mendekati Syena, sedangkan Syena disana mencoba melindungi dirinya dengan rapalan mantra yang sudah bekerja ditangannya.
"Kau tenang saja, aku tidak akan menyakitimu!"
Namun ucapan itu sama sekali tak membuat Syena menghentikan sihirnya. Antisipasi perlu bukan, lagi pula mereka belum mengenal satu sama lain.
"Huh?"
Syena heran ketika uluran tangan dari Sang Emas terulur padanya. Sejenak Syena menatap uluran tangan itu, lalu kembali menatap Sang Emas.
"Jabat tanganku!"
Syena memilih mengikuti perintah sosok ini. Tanpa berpikir panjang, telapak tangannya mulai membalas jabat tangan itu. Ketika tangan mereka terpaut, Syena dibuat syok.
Gambaran-gambaran mengenai Baron Putih Legendaris itu datang kembali. Syena masuk kembali kedalam kenangan beberapa hari lalu.
Kenangan ketika dirinya pertama kali melihat Rey dihadapan benteng Alaska. Kenangan ketika pertama kali ia melawan Rey, bahkan menyusup ke dalam Rensuar.
"Apa ini?" Tanya Syena, sambil memegangi kepalanya.
Sang Emas melepaskan jabat tangan antara mereka berdua. Itu adalah kilas balik, isi kepala Syena sedang dipenuhi Rey saat ini.
Tak hanya itu, Sang Emas pun juga mampu merasakan emosi Syena. Sejujurnya hatinya ingin melarikan diri dari dalam Alaska.
Sang Emas tau betul, bahwa manusia ini memiliki partikel pecahan Baron. Itulah mengapa Iblis, tak akan mampu membunuhnya. Para Iblis hanya mengambil keuntungan dari Syena.
"Syena, apakah kau tidak ingin pergi dari sini?"
Pertanyaan itu, adalah harapan yang benar. Syena ingin melarikan diri dari dalam neraka ini, netranya membulat menatap lekat ke arah Sang Emas yang juga menatapnya.
"Mengapa kau tau inginku selama ini?"
Pertanyaan itu membuat Sang Emas beserta Hitam tersenyum.
"Aku mampu, merasakan betapa pedihnya nasibmu selama disini. Ini adalah belahan Utara, butuh sekitar beberapa kilometer lagi kau akan menemui kutub Utara. Sebelum sampai kemari, kami berada jauh didalam dasar es di kutub Utara."
Rasanya apa yang Sang Emas ceritakan sama sekali tak mampu dicerna oleh Syena. Merasa tak ada gunanya menjelaskan asal muasal mereka, pada gadis dihadapannya ini. Sang Emas kembali maju mendekati Syena.
__ADS_1
Dua jari miliknya mulai menyentuh salah satu mata Syena yang tertutup, pola mata disana bersinar ketika Sang Emas menyentuhnya, Syena memekik berusaha menjauh dari Sang Emas. Namun tubuhnya terpaku, layaknya ada sebuah magnet disana, ini begitu panas juga sakit.
Gambaran mengenai asal-usul sosok ini mulai terlukis jelas disana. Layaknya sebuah film yang sedang dimainkan.
Ketika Asteroid terjatuh saat itu, mereka berdua adalah salah satu dari Asteroid. Mereka berasal dari sana. Dua diantara bagian Asteroid jatuh bersamaan tepat dibagian utara.
Asteroid itu menabrak gunung Es, kehancuran gunung es saat itu membawa masuk batu langit itu ke dasar lautan kutub Utara.
Ketika sesuatu dari dalam Asteroid itu muncul, itu berupa kristal yang menguar. Kristal itu memiliki warna suar emas dan hitam. Itu adalah mereka, dua sosok yang sedang berdiri dihadapan Syena.
Syena bersimpuh ketika gambaran itu berakhir, kedua telapak tangannya menyentuh tanah mencoba menopang tubuhnya, yang ambruk akibat ulah Sang Emas.
Disana Syena lega, pada akhirnya dirinya lah yang menemukan keberadaan dua pedang legendaris. Disini ada sesuatu yang akan Sang Emas minta.
"Syena, kami membutuhkanmu!"
Kedua bola mata Syena menatap tajam ke arah Sang Emas. Disana Sang Emas tau, sebagian dari tubuh Syena ada pengaruh sihir Iblis.
Sihir itu tidak akan bekerja apabila Syena jauh dari pengendalinya, juga jauh dari sarang Iblis ini. Untuk mengembalikan Syena yang dulu, keluar dari sini adalah jawabannya. Ingatannya perlahan akan pulih seiring waktu berjalan.
"Jika aku membantumu, lantas apa yang akan kudapatkan?" Tanya Syena padanya.
"Kau akan mendapatkan kebebasan diluar Alaska."
Kali ini Sang Hitam mulai bersuara, untuk menghentikan basa-basi tanpa arti ia menawarkan kebebasan tetap pada Syena.
Bagian dari iblis itu mulai merasuki Syena, itu membuat kepala Syena hampir pecah rasanya. Sambil memekik, merintih Syena menahan segala sakit dari dalam kepalanya.
"Aku akan menerimanya!"
Melihat Syena yang berusaha melawan sisi Iblis dari dalam dirinya, Sang Emas tersenyum. Segalanya akan berjalan sesuai dengan rencana mereka.
Sang Emas bersimpuh menyamai tinggi gadis dihadapannya. Disana ia kembali mengulurkan tangannya. Syena membalas jabat tangan itu lagi. Kedua netra mereka saling menatap, sebuah senyuman dari wajah Sang Emas mulai tersungging.
"Baron Cahaya!"
**Drtttttttttt
Clashhhhhh**
Bersamaan dengan perkataan itu, Syena kembali berada di permukaan. Begitupun dengan sesuatu diluar Alaska, Rey yang sedang berlatih didepan halaman bersimpuh.
Suara itu membuat dirinya ambruk seketika. Namun Rey masih sadar disana. Baron dalam domain juga merasakan hal yang sama.
"Apa ini Baron?"
Pertanyaan itu sama sekali tak membuyarkan lamunan Baron yang terpaku dari dalam domain. Dari atas singgasana domainnya, Baron berjalan mendekati Rey.
Rey yang sedang berdiri didalam domain memperhatikannya. Itu adalah pesan dari Baron Emas, artinya didalam Alaska, Syena berhasil menemukan keberadaan dua senjata yang hilang.
Tiga senjata ini memiliki pikiran sendiri, masing-masing dari mereka apabila saling bersentuhan. Mereka mampu berbicara melalui telepati.
"Rey, ini adalah sebuah pesan!"
Pernyataan itu membuat Rey kembali bangkit. Disampingnya terlihat Debora membantunya berdiri, bersamaan dengan itu dari dalam domain Baron mulai menjelaskan sesuatu.
Sambil dituntun Debora kembali masuk kedalam markas. Rey mendengarkan seksama tiap ucapan yang Baron katakan.
Mendengar nama Syena disebut, lagi-lagi bayangan ketika adik kesayangannya itu terjatuh bersimpuh sambil terbatuk, kembali menyulut amarahnya.
"Rey?"
Debora disampingnya terlihat khawatir. Mendengar lirihan lembut menyapanya, Rey mengembalikan kembali Baron kedalam domain. Netranya kembali terarah pada Debora.
"Kau kenapa?"
Tanya Debora lagi, namun Rey menggeleng pelan. Rey menjauhkan tubuhnya dari Debora yang membantunya. Disana ia mengambil jubah putih miliknya yang ia letakkan di atas tumpukan jerami.
Tanpa ada sepatah katapun, Rey pergi meninggalkan Debora berdiri disana dengan ribuan pertanyaan dalam kepalanya. Harith, adalah tujuan utamanya saat ini.
...Seseorang tidak akan berjuang sekeras itu jika dia tidak menyukainya...
...Hidup bukanlah permainan keberuntungan...
...Jika kau ingin menang, kau harus bekerja keras...
_________
Ensiklopedia :
Termosfer atau Ionosfer adalah lapisan tempat terjadinya ionisasi partikel-partikel. Hal ini memberikan munculnya efek perambatan atau pemantulan gelombang radio, baik dengan frekuensi rendah maupun tinggi. Lapisan atmosfer keempat ini terletak pada ketinggian 80 sampai 100 kilometer di atas permukaan Bumi.
Fungsi lapisan Termosfer, sebagai tempat terjadinya proses ionisasi, terjadi ketika oksigen dan gas lainnya terpecah menjadi bentuk oksigen atomik. Sebagai pemantul gelombang elektromagnetik untuk gelombang radio, yang sangat bermanfaat bagi perkembangan komunikasi.
__ADS_1