Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Diamlah Sebentar Rey!


__ADS_3

Kegiatan di dalam markas masih tetap sama. Tak ada yang berubah sama sekali. Riley dan Justice saat ini berada di balkon lantai lima. Mereka sedang duduk berdampingan sambil menatap ke depan menikmati pemandangan sore ini.


Senja, matahari mulai lelah membagi cahayanya. Saat ini redup dan tidur perlahan adalah pilihannya. Lalu, semesta memanggil purnama untuk menggantikan dirinya membagi cahayanya.


Purnama memang tak sehangat Mentari. Cahayanya tidak semegah mentari. Namun keduanya tetap benda langit yang indah sangat indah. Keduanya adalah benda langit yang luar biasa memukau.


Lembayung adalah satu-satunya objek yang mereka tatap. Sambil menggenggam secangkir minuman hangat, Riley menyandarkan kepalanya nyaman di antara pundak Justice.


"Sayang, tau lah apa yang membuatku begitu bersyukur sekalipun dunia ini begini keadaannya?"


Tiba-tiba Justice menanyakan sesuatu pada Riley. Riley yang bersandar hanya menggelengkan kepalanya pertanda bahwa ia tak tau apa penyebabnya.


"Memangnya apa yang membuatmu bersyukur?" Tanya Riley padanya.


"Kau Riley!"


Riley terkejut, namun kemudian ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Riley mengangkat tangan kanannya ke atas ke arah langit.


"Justice, terima kasih sebab kau sudah mencintai Riley dengan segenap hatimu." Ucap Riley lembut.


Adalah nada bicara yang jarang sekali Justice dengar dari seorang Riley. Dalam pertarungan gadisnya ini begitu liar. Begitupun ketika di luar, sifat bar-bar dan tegas seorang kapten yang selalu ia lihat.


Justice kembali di ingatkan perihal janji Riley sebelum mabuk. Sebelum mereka di bopong pulang oleh Syena dan Mikhail. Sebuah janji perihal ciuman.


"Riley, apakah kau mengingat sesuatu?" Tanya Justice padanya.


Riley menaikkan salah satu alisnya. Ia sama sekali tak ingat perihal apa yang Justice tanyakan. Melihat itu tentu saja Justice kecewa. Namun jika Riley tidak mengingatnya lantas mau bagaimana lagi.


"Hmmm.. Ya sudahlah!" Justice pasrah kemudian ia meletakkan minumannya di meja sampingnya.


Riley juga mengikuti itu. Ia meletakkan minumannya di meja sampingnya. Keduanya sama-sama terdiam menatap lekat lembayung yang mulai meredup.


Menit-menit itu di lewati dengan kesunyian. Hingga pada akhirnya cahaya itu pun lenyap. Digantikan purnama yang tak semegah mentari, namun tetap indah.

__ADS_1


Ketika keremangan mulai mendatangi mereka. Riley beranjak dari sandarannya pada Justice. Kemudian ia tersenyum lalu menoleh ke samping ke arah Justice.


"Justice..." Lirih Riley padanya.


Hal itu tentu membuat Justice menoleh ke samping menatap ke arah Riley. Disana Justice menemukan satu senyuman yang sangat tulus. Satu senyuman yang seketika menyihir hatinya. Ia bahagia sekali ketika menemukan wajah itu dengan ekspresi itu.


Tanpa berkata-kata apa-apa lagi. Kedua telapak tangan Riley menangkup wajah itu mendekatkannya padanya. Pelan perlahan, keduanya mulai menikmati ciuman itu.


Tidak ada hal yang lebih indah daripada ini bagi Justice. Hal yang jarang sekali ia dapatkan dari seorang Riley. Keduanya hanyut cukup lama dalam ciuman itu.


Mereka bahkan tidak menyadari bahwa Rey sempat datang tadi. Namun melihat keduanya yang sedang mesra. Rey pun mengurungkan niatnya untuk mengambil jubahnya.


Rey kembali turun kebawah tepat ke lantai satu. Dimana disana itu adalah ruang mereka makan. Ruang dimana mereka akan berdiskusi dan berkumpul satu sama lain.


Ketika kakinya berada disana, Rey mengedarkan pandangannya. Ia kembali di ingatkan perihal pertama kali ketika mereka datang kemari. Masa-masa itu adalah masa dimana mereka masih belum mengenal apa itu cinta.


"Hmmm..." Rey menghela nafas. Ia tidak menyadari sejak tadi Debora sedang memperhatikannya di meja makan.


Seluruh rekannya masih belum lengkap. Sepertinya mereka memutuskan untuk makan di luar. Hal itu terbukti, sebab Syena juga Mikhail keduanya masih belum pulang.


Di depannya ada sebuah buku yang sedang ia baca. Mendengar namanya di panggil, Rey pun menoleh ke samping. Terlihat Debora duduk disana sambil menyeruput matchanya.


"Debora.."


Ucap Rey lalu berjalan mendekati Debora. Rey duduk di sampingnya lalu menatap buku yang sedang Debora baca disana.


"Buku keramat lagi?" Tanya Rey sembari menatap buku itu.


"Tentu saja, sebentar lagi kita akan menyerang!" Jawab Debora meletakkan matcha nya lalu tersenyum ke arah Rey.


"Debora, apakah kau tidak lelah?" Tanya Rey padanya.


Debora terkekeh lalu menggeleng pelan.

__ADS_1


"Rey, aku tidak sekuat dirimu! Aku hanya mampu mengandalkan kepalaku juga kecerdasanku. Sihir milikku tidak sepertimu atau yang lainnya. Setidaknya aku akan memikirkan serangan terbaik tanpa adanya korban jiwa. Namun dalam perang mustahil jika tak ada korban jiwa. Tapi, serangan kali ini hanya akan melibatkan dirimu seorang bersama dengan Syena."


Penjelasan terakhir itu membuat Debora tertunduk. Ya, itulah keputusan dari Noella. Noella mengatakan padanya, untuk mengirim Rey juga Syena saja dalam penyerangan tentakel raksasa ini.


Sebab Noella memaparkan beberapa argumen mengenai tentakel ini. Selama ini iblis seratus juta jiwa hanya diam ketika areanya di rebut. Dan hanya menyisakan sekitar tiga puluh persen luas area.


Sekarang ketika wilayahnya sudah terpojok barulah ada perlawanan darinya. Noella mengatakan bahwa perlawanan ini ada maksudnya. Perlawanan ini juga pasti menyimpan banyak konspirasi di dalamnya.


Kepada Debora, Noella mengatakan bahwa ia akan menggunakan Rey dan Syena untuk mengetahui maksud dan tujuan musuh. Dengan lembut Debora menjelaskan segala yang Noella katakan pada Rey.


"Jadi begitu Rey!" Jelas Debora, ia tak berani menatap ke arah mata Rey saat ini.


Sepanjang penjelasan itu ia hanya menatap bukunya. Di atas lembaran itu ada sebuah hologram yang muncul menunjukkan tahap-tahap penyerangannya nanti.


Melihat itu Rey tersenyum. Adalah berita baik baginya, berbeda dengan Debora yang merasa itu adalah berita yang buruk. Terlalu beresiko untuk terbunuh.


"Hei kucing putih..." Panggil Rey padanya. Debora kembali mempertemukan tatapannya dengan Rey.


Disana Rey hanya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


"Kau tenang saja, Arlert ini tidak akan mati semudah itu! Jika kau mengkhawatirkan Syena, kau juga harus tau bahwa ada aku di samping Syena. Kau tau aku tidak akan membiarkan Syena ku terluka. Sebisa mungkin aku akan melindungi adikku."


Ucapan itu begitu meyakinkan. Namun tetap saja, sekuat apapun Rey pasti akan ada situasi dimana hal-hal fatal terjadi. Itulah mengapa sebisa mungkin Debora merancang taktik dimana taktik itu akan sangat menguntungkan Rey. Menjaga nyawanya agar tetap aman.


"Aku boleh meminta satu hal darimu?" Tanya Debora padanya.


Rey yang masih tersenyum pun mengangguk. Ia menyetujui apa yang akan Debora minta darinya.


"Sekuat apapun dirimu, tolong Rey, jangan pernah memaksakan kekuatan mu. Jika batasnya sudah habis, jika waktu di jam kesepakatan itu sudah habis. Maka kau harus mundur! Berjanjilah padaku!"


Ucap Debora padanya. Kedua bola mata begitu mengkhawatirkan Rey. Dan Rey tau itu, segera ia pun membelai lembut Surai putih milik Debora sambil tetap tersenyum.


"Ya, aku berjanji!" Jawab Rey mantap.

__ADS_1


Debora membalas senyuman itu. Hatinya lega rasanya mendengar kesepakatan ini.


__ADS_2