
...Ketika kau kalah dari seseorang yang lebih kecil darimu, itu membuat jiwamu hancur...
...Sesuatu yang paling melelahkan adalah berjuang...
_____________
Para serdadu Iblis berbondong-bondong menuju ke arah Kastil. Mereka membawa beberapa jasad manusia hasil tangkapan, mayat-mayat itu tubuh mereka sudah tak utuh. Beberapa ada yang tercerai berai, seluruh serdadu itu berhenti tepat didepan kastil. Mereka bersimpuh dihadapan gerbang kastil, tempat dimana raja mereka bersemayam.
Kepakan sayap itu membawa Verozi mengamati para serdadu dari atas angkasa. Suara-suara terompet dari atas kastil mulai berkumandang. Verozi, adalah Iblis generasi pertama bagian dari yang paling Mulia disini, pemegang tahta Silver Alaska, Iblis seratus juta jiwa.
Wushhhhhhh
Verozi mengitari langit-langit kastil, arah terbangnya mulai menukik sekarang. Tukikan dari tubuhnya membawanya tepat berdiri diatas tanah sekarang.
Verozi berdiri disanaematap lekat para serdadu yang sedang menunduk padanya. Tak ada sepasang netra yang berani menatapnya. Kepatuhan itu mengundang seringai dari wajah Verozi.
"Tuanku, ini hasil perburuan kami!"
Serdadu paling depan mulai berucap, menjelaskan perihal kedatangan mereka kemari. Bahkan untuk sekedar berucap mereka tak berani menatap langsung ke arah Verozi.
Ketakutan mereka beralasan, banyak rumor beredar di Alaska, kekejaman para petinggi pada Iblis rendahan sangat mengerikan. Verozi dengan seksama memperhatikan hasil perburuan itu. Rasanya itu membuatnya muak, hasil semacam apa yang mereka bawah kemari.
"Kalian sebut ini hasil perburuan?"
Suara itu intonasinya meninggi, netranya memerah, amarahnya memuncak. Suara kemarahan itu seakan mendekap mereka, ketakutan dalam diri mereka semakin besar. Verozi tertawa tatkala melihat ketakutan semakin menjalari diri serdadunya.
Inilah kesenangan yang tiada tara baginya, kepatuhan para bawahannya. Ketakutan mereka pada para petinggi, menciptakan kesombongan kuat menebal memenuhi dirinya.
"Hahahaha... hahahaha... Raut wajah ini, aku menyukai kepatuhan dan ketakutan kalian padaku! Bawa gerobak-gerobak itu masuk kedalam!"
Sambil tertawa Verozi mengarahkan tangannya ke arah gerbang masuk. Beberapa gerobak disana mulai dibawa masuk, kali ini Verozi kembali menatap lekat kearah sisa serdadunya yang masih membungkuk. Sambil tersenyum, Verozi mengepakkan sayapnya. Hembusan angin berserta kekuatan didalamnya, berhembus ke arah mereka.
Wushhhhhhhh
"Bodoh!"
"Arghhhhhhh... Arghhhhhhhhh!"
Angin-angin itu dalam sekejap, memenggal kepala serdadunya. Semacam bermain game rasanya, Verozi terus mengepakkan kembali sayapnya berulang kali ke arah serdadunya. Teriakan mereka seakan adalah hiburan bagi rungunya.
"Perburuan semacam apakah itu hah! Darah mereka harus dimusnahkan sebanyak mungkin, jatah makan sebanyak itu hanya bertahan dalam tiga hari!"
Amarah itu memuncak menggila, gerakan sayap miliknya mencincang seluruh serdadunya tanpa ampun. Teriakan demi teriakan menggema bersaut-sautan.
Syena menyaksikan sendiri kekejian itu dari atas kastil, tak ada yang bisa ia lakukan selain melihat dan membisu rasanya hal semacam itu sudah biasa bagi Syena.
Tubuh-tubuh terpotong itu perlahan mulai pulih kembali, regenerasi mereka bekerja sangat cepat, namun disana Verozi sepertinya tak puas. Kembali ia mencincang para serdadunya lagi dan lagi. Syena memutuskan pergi dari sana, siksaan brutal pagi itu membuatnya muak. Syena berjalan menyusuri kastil, panggilan dari Barsh beberapa jam lalu menuntun dirinya masuk menuju ruang rahasia Kastil.
Dimana dalam ruang rahasia terdapat onggokan daging besar memenuhi langit-langit. Daging-daging itu masih sama, berdenyut, suara jeritan manusia didalamnya bersaut-sautan .
Srettttt
Syena menarik tudungnya, mencoba menutupi kepalanya. Selama disana, kastil adalah rumah bagi Syena. Disinilah Syena tidur dan makan. Seandainya Syena tau, daging yang selama ini ia konsumsi adalah milik manusia, mungkin Syena akan memuntahkannya kembali.
"Sepanjang hari semakin brutal saja makhluk-makhluk ini. Mereka benar-benar memuakkan, sungguh!"
Batin Syena, semakin bertambahnya usia, gadis itu semakin iba melihat kekerasan, pembunuhan, bahkan mutilasi yang mereka berikan pada mamusia. Tiga tahun bergulir dan Syena tumbuh didalam tekanan para Iblis dan Alaska. Suramnya suasana disini, menjadikan gadis berusia tiga belas tahun ini tumbuh penuh tekanan.
Silver Alaska selalu dipenuhi suara-suara neraka, berteriak, mengeram, bahkan tertawa menyeramkan. Suara-suara itulah yang melekat dalam rungu Syena sampai saat in, sudah terbiasa rasanya.
Grekkkkk
Sebuah gerbang besi dihadapannya terbuka otomatis. Disana terlihat Barsh seorang diri, dihadapan gumpalan daging besar. Barsh seperti sedang memegangi sesuatu, rapalan demi rapalan dari dalam lisannya keluar seperti sebuah alunan. Perlahan Syena maju mendekatinya, ketika ia berada disampingnya rupanya ia sedang membawa potongan tubuh manusia. Upacara ini, adalah penyambutan.
Tiap tahun, Generasi dari Iblis seratus juta jiwa akan lahir. Onggokan daging itu tiap tahun adalah tempat lahirnya seorang Iblis. Jika dihitung sudah ada sekitar delapan Iblis Generasi dari Tuan mereka.
Sebuah cawan kecil beserta belati Syena ambil, cawan itu adalah wadah untuk memberikan hidangan pertama bagi Sang Generasi.
__ADS_1
Srettttttttttt
Ketika teriakan dari gumpalan daging dihadapannya bersuara, Syena menyayat telapak tangannya membiarkan darah segar miliknya menetes memenuhi cawan.
Darah Syena adalah sajian pembuka terlezat bagi mereka. Onggokan daging itu mulai melahap, potongan tubuh manusia didalam dekapan Barsh.
Beberapa menit kemudian reaksi yang sama mulai terulang lagi. Daging itu, membentuk sesuatu. Perwujudan dalam kelahiran kelam ini adalah siluman berbentuk laba-laba. Siluman itu bertubuh besar dengan satu tanduk berada tepat disisi kiri kepalanya. Mata memerahnya itu penuh kebencian, empat tangan miliknya itu besar dan kekar.
"Trounom! Selamat datang, Tuan!"
Barsh membungkukan tubuhnya dihadapan Iblis itu, begitupun dengan Syena.
"Wah, bau anyir dari dalam cawan itu melegakan sekali! Bolehkah kuteguk itu?"
Mendengar hal itu, Barsh mengambil cawan kecil dari tangan Syena. Sebuah cawan berisi darah segar, dari kulit yang baru saja disayat. Barsh menyerahkan cawan itu kepada Trounum.
Glekkkkk
Glekkkkk
Trounum meneguk genangan darah dalam cawan itu cepat. Habisnya darah dari dalam cawan membawa Trounom pergi merayap melalui langit-langit. Syena dan Barsh menatap kepergiannya itu.
"Sebenarnya, Tuan akan membuat Iblis baru dalam jumlah berapa?"
Pertanyaan dari Syena perlahan membuat Barsh beralih.
Settttttttt
Pertanyaan dari Syena membuat Barsh beralih ke arahnya, Barsh mencengkram telapak tangan Syena, disana Barsh menekan lukanya. Syena memekik ketika Barsh menjilati luka itu secara brutal, tekanan dari tangan besar itu membuat darah dari dalam sana semakin mengucur deras.
"Pada tiap kelahiran, kau selalu menanyakan hal yang sama, Syena?"
"Aku hanya ingin memastikan saja, tiap kali mereka lahir darahku adalah yang pertama memuaskan dahaga mereka."
Seringai dari dalam wajah Barsh menampakan taring-taring miliknya. Dahaganya terbayar sudah sekarang, Barsh melepaskan Syena dari cengkramannya.
"Mungkin jika populasi manusia habis, aku adalah manusia terakhir yang akan kalian mangsa."
Sebuah kenyataan pahit itu Syena ungkapkan tepat dihadapan Barsh.
"Atas perintah dari Tuan, kami tidak bisa memakanmu. Lagi pula, kau adalah bagian dari kami!"
"Lantas mengapa seluruh pertanyaanku tidak kau jawab?"
Lagi, lagi Barsh lebih memilih bungkam daripada menjawab seluruh pertanyaan Syena yang sama sekali tak penting baginya. Barsh mengambil wujud serigalanya, lalu berlari pergi meninggalkan Syena seorang diri.
_______
Mentari masih belum menampakan dirinya, wajar saja ini masih pukul tiga pagi. Debora dan Riley terlihat begitu sibuk didalam dapurnya. Sambil mengaduk masakannya Riley sesekali menguap. Dibelakangnya terlihat Debora sedang mengupas beberapa sayuran. Hari ini adalah jadwal mereka memasak. Buku resep milik Mikhail memandu mereka berdua, semoga saja Rey dan Justice tidak melontarkan komentar pedasnya. Harum masakan mereka mulai menguar. Suara langkah kaki dari anak tangga membuat Riley mengalihkan netranya.
"Bagaimana?"
Langkah kaki itu milik Mikhail rupanya, setibanya dibawah Mikhail melipat tangannya sambil bertanya ke arah mereka.
"Apanya yang bagaimana?" Protes Riley.
Pertanyaan itu membuat Mikhail menunjuk ke arah masakan mereka. Debora dan Riley saling menatap satu sama lain, pemuda dihadapannya ini meragukan mereka rupanya.
"Apa kalian bisa?"
Satu pertanyaan terkesan meremehkan itu, menciptakan aura seram dari keduanya, mereka berdua masing-masing melempar tatapan tajam ke arah Mikhail.
"Mikha! Kau pikir kita sedang apa disini hah! Bisa ataupun tidak kami akan tetap berusaha!" Protes Riley.
"Pertanyaan meremehkan itu tidak patut diampuni, apa harus kugantung kau didepan markas hari ini sebelum misi?"
Mendengar itu dari anak tangga Rey dan Justice turun. Rey merangkul Mikhail sambil tersenyum ke arah Riley dan Debora. Sepertinya pagi ini sedikit menambah perdebatan cukup bagus.
"Ah tentu saja, lebih baik manusia semacam dia digantung saja disana!" Ujar Rey.
__ADS_1
Rey berucap sambil menepuk-nepuk bahu Mikhail, Justice datang melewati keduanya ia duduk dimeja makan sekarang.
"Gantung dia didepan, atau biarkan dia memberi makan Khufra!"
Protesan itu membuat Rey sumringah, benar sekali apa yang Justice katakan. Mikhail memang tidak pernah memijakkan kakinya dihutan, ia tidak pernah memberi makan Khufra. Sejak Riley sibuk mengurus hewa-hewan buas milik Axcel, melatihnya di lapangan terbang.
Profesi penggembala buas dinobatkan pada Justice dan Riley, merekalah yang sering datang dan pergi mengunjungi peternakan Riley dihutan. Kiloan daging mereka bawa kesana, demi untuk mengenyangkan perut eksekutor liar itu.
"Benar! Riley, kau tidak boleh pilih kasih! Sepulang dari misi ini, Mikha harus memberi makan mereka!"
Peraduan mulut mereka semakin memanas, Rey masih terus memojokkan Mikhail disini.
"Hah! Kenapa harus aku? Aku juga sibuk..."
"Berkencan dengan Madam Geralda didalam ruangannya?" Rey menyambar segala penyangkalan yang Mikhail lontarkan.
Cukup, geram rasanya mendengar ocehan Rey pagi ini. Gemas dengan itu, Mikhail mencubit kedua wajah itu brutal. Disana Rey memekik sambil meminta tolong pada Justice.
"Cukup! Hentikan ocehan gilamu ini Rey!"
"Huwahh.... aku akan dibunuh!"
Rey berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Mikhail. Untuk pertama kalinya Justice melihat Mikhail sekesal itu pada Rey, hal itu membuatnya tertawa.
Debora mematikan kompornya, baik dirinya dan Riley keduanya mulai menyuguhkan makanan mereka di atas meja. Mikhail menghentikan aksinya ketika hidangan lezat itu tertera di atas meja.
Baik dirinya dan Rey, mereka berdua duduk disana. Hari ini giliran Justice memimpin doa sebelum makan, ketika doa itu dipanjatkan dengan sepenuh hati, ucapan amin mengakhirinya. Mereka pun mulai makan bersama seperti biasanya.
Sejujurnya hari ini perasaan mereka tak karuan, ini adalah misi besar. Alaska adalah sesuatu yang paling ditakuti manusia. Coba pikirkan, siapa manusia yang ingin datang pada kematiannya secara suka rela. Tidak ada bukan.
Sumpah yang mereka lakukan sebelum menjadi seorang Musketeers sudah diucapkan, dunia sedang bergantung pada mereka. Mengeluh dan terus mengeluh bukan jawaban atas kehancuran ini. Seberapapun berat beban diatas pundak mereka, seberapapun takut mereka pada kematian, hari ini mereka akan menerjangnya.
Setelah segala hal selesai dalam markas, mereka berlima mulai membentuk satu lingkaran. Mereka menggenggam tangan mereka satu sama lain, rapalan mantra Leviousa sekejap memindahkan mereka tepat di Istana Putih, tempat Harith berada. Tempat itu sesuai dengan apa yang ditulis di misi. Harith tersenyum melihat Rey beserta rekannya datang, kali ini Dion juga ikut serta dalam misi.
Axcel bilang ia akan menyusul kesana, itulah mengapa Harith mengajak Dion terlebih dahulu alih-alih untuk menggantikan Axcel sementara.
"Siap, Anak-anak?"
Harith bertanya pada para Musketeers nya.
"Aku akan selalu siap!"
Semangat berapi-api itu Rey tunjukkan. Beberapa rekannya terlihat ikut tersulut. Riley yang berada agak jauh dari mereka perlahan mulai mendekati, sambil mengacungkan jempolnya Riley tersenyum. Justice melihat tangan rekannya itu gemetar.
"Riley, kau gemetar?"
Justice mencoba antusias bertanya pada Riley, ketika gadis itu tepat berada disampingnya. Sontak Riley memegang tangannya yang gemetar itu, mencoba meredam getarannya.
"Hah, aku kedinginan sepertinya!" Ujar Riley.
"Ah kau pasti ketakutan ya?" Protes Rey padanya.
"Tidak! Riley tidak pernah takut!"
"Sudahlah mengakulah!"
Adu argumen sebelum pergi terjadi lagi, Debora menepuk keningnya. Sedangkan Harith, leonin itu terbang melayang ke arah mereka.
"Jika kalian terus berucap, kita tidak akan pergi!"
Penuturan itu membuat keduanya diam serentak. Harith turun dari posisinya terbang, mereka berdiri membentuk sebuah lingkaran, tangan mereka saling terpaut. Lisan mereka serentak mengucapkan satu mantra sama, sebuah mantra teleportasi bernama Leviousa. Dalam sekejap, penantian mereka selama bertahun-tahun ini pun, kini membawa mereka berpijak tepat diatas tanah Iblis, daerah terkontaminasi bernama Silver Alaska.
...Jangan pernah menyerah!...
...Meskipun itu menyakitkan, meskipun itu membuatmu menderita...
...Jangan mencoba mengambil jalan keluar yang mudah...
________
Ensiklopedia :
Lapisan stratosfer atau stratosphere adalah lapisan atas atmosfer Bumi yang berada pada ketinggian 7 mil atau 11 kilometer hingga 30 mil (50 kilometer) di atas permukaan Bumi. Stratosfer adalah lapisan bersuhu dingin yang ditempati lapisan ozon.
Sama seperti lapisan lain yang ada di atmosfer, stratosfer juga punya fungsi dan manfaatnya sendiri. Manfaat utama dari stratosfer bagi kehidupan manusia di Bumi adalah untuk melindungi dari gelombang radiasi ultraviolet Matahari. Radiasi ini sangat membahayakan kalau terkena kulit manusia.
__ADS_1