Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Merenung Sejenak


__ADS_3

...Saat aku mulai mencintaimu, saat itulah aku mulai belajar mencintai diriku sendiri...


...Keluargamu adalah pahlawanmu...



Setelah pertempuran hebat itu. Mereka bertiga memindahkan seluruh Musketeer ke dalam kastil putih.


Tak ada pertanda bagi mereka untuk bangun seluruhnya terlelap. Rupanya efek sihir perasuk itu seperti ini ya? Kuat sekali!


Sembari memindahkan para Muskeeters dengan sihirnya, Rey dan Syena sejak tadi hanya terdiam. Mereka memikirkan sesuatu perihal biarawati itu.


Saat ini harapan Rey sudah hilang sepenuhnya. Hatinya yang berharap bahwa susternya masih hidup.


Seketika Harapan itu sirna begitu saja. Memori ketika susternya dibunuh benar-benar membuatnya sakit hati.


Detik ketika Cronus musnah dan lebur. Gambaran mengenai kematian susternya terlintas jelas disana. Sebagai anak asuh suster Agarwa, mereka berdua merasakan dilema besar dalam hatinya. Rasa bersalah itu lagi-lagi datang menghantui Rey.



Syena memperhatikan Rey dengan seksama. Pemuda itu terlihat murung. Syena yakin sekali bahwa ada sesuatu di dalam kepala Rey saat ini, sesuatu yang membuatnya sedih.


Hal itu terjadi ketika mereka bertemu dengan suster Agarwa. Sejak tadi dia juga bertanya-tanya. Mengapa hatinya juga merasakan kesedihan, padahal Ia sama sekali tidak mengenal biarawati itu.


"Kakak apakah kau memikirkan hal yang sama denganku?" Tanya Syena mengawali percakapan.


"Memangnya Apa yang sedang kau pikirkan, Syena?"


Tanya Rey sambil menoleh ke arah adiknya. Rey tau sebenarnya apa yang sedang Syena pikirkan. Ia hanya sekedar berbasa-basi.


"Entahlah sesuatu perihal biarawati itu cukup mengganggu pikiranku rasanya aku tidak asing dengan wajahnya. Apakah kita juga sama sama memikirkan tentangnya? Lantas siapakah dia? Mengapa aku sama sekali tidak mampu mengingat satu memori tentangnya, namun ketika aku melihat wajahnya hatiku selalu menghangat." Jelas Syena.


Kenangannya mungkin hilang tetapi perasaan juga hatinya tidak. Perasaan juga hatinya masih tetap melekat, mengenali Suster Agarwa.


Rasanya ingin sekali menjelaskan pada Syena, perihal siapakah biarawati itu. Namun itu tidak akan berguna, sekeras apapun Rey menjelaskan pada Syena.


Dia tidak akan pernah mengingatnya. Selama iblis kutukan itu masih bersemayam di mata kirinya, iblis itu akan tetap menekan menghapus seluruh ingatan Syena.

__ADS_1


Jika Syena memaksa mengingatnya, Iblis sialan itu pasti akan menyiksa adiknya. Rey tidak ingin melihat hal itu terjadi. Satu-satunya cara mengembalikan Syena kembali adalah dengan mengalahkan Bars.



"Jadi Kakak apakah kau mengenalinya?"


Tanya Syena, mencoba membuyarkan lamunan Rey. Mendengar itu Rey mengangguk. Ia tidak akan pernah melupakan sosok Suster Agarwa dalam hidupnya, sungguh.


"Aku mengenalinya dan akan selalu mengenalinya dia adalah sosok yang sudah aku anggap sebagai ibuku. Tidak ada satu hari pun bagiku melupakan dirinya! Sebab Dia adalah orang yang paling menyayangiku di bumi ini."


Jelas Rey padanya, hatinya kembali perih. Mungkin jika ia meneruskannya ia akan menangis.


"Apabila ingatan seseorang ada pada iblis, maka iblis itulah yang membunuhnya." Jelas Syena.


Sebuah ungkapan pahit kembali dilontarkan. Kenyataan memang menjelaskan bahwa susternya sudah tidak ada.


Tetapi hatinya masih berharap, ia masih ingin melihat susternya itu kembali. Namun nyatanya realita sepahit ini. Menerima dan ikhlas adalah kodrat manusia. Sebab mereka tidak akan pernah mampu mengembalikan jiwa yang mati kembali.



" Aku turut berduka cita atas kehilanganmu! Aku memang tidak terlalu mengenalinya, tetapi aku juga merasakan kesedihan yang sedang kau alami. Aku mendengar sedikit isu tentangmu kakak!" Ucap Syena.


"Pembicaraan perihal isu itu hanya terjadi diantara rekan kita. Tidak ada yang tahu bahwa kau adalah anak yang dibuang di panti asuhan. Nyatanya dibalik sifatmu itu, Kau adalah orang yang paling merasa sendiri. Sepertiku, aku bahkan tidak pernah merasakan apa itu kebersamaan sebelum sampai disini."


Rey kembali dibuat tertegun atas apa yang Syena ucapkan. Tanpa menjelaskan apa yang sedang ia rasakan adiknya ini masih mengerti.


Rey mengusap pelan puncak kepala Syena. Hal itu membuat Syena membulatkan kedua matanya. Ada apa ini, mengapa manusia di hadapannya ini bersikap seperti ini?


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Syena bingung.


"Tidak apa, aku hanya kagum padamu! Padahal aku sama sekali tidak menjelaskan tentang apa yang aku rasakan. Kau tahu, tanpa aku harus menjelaskannya padamu! Sungguh itu adalah hal yang luar biasa. Kita tidak saling mengenal katamu. Namun nyatanya, kau begitu paham denganku, dengan hatiku juga diriku. Terima kasih Syena!" Ucap Rey seraya tersenyum.


Syena kembali diingatkan pada sosok biarawati itu, ia benar-benar ingin tahu siapakah orang itu.


"Lantas jika memang aku sama sekali tidak mengenal biarawati itu. Mengapa hatiku sedih ketika melihatnya mati? Mengapa rasanya sangat sakit di sini? Apakah, apakah aku memiliki hubungan dengannya? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Mengapa aku sama sekali tidak mengingat segalanya jika memang aku mengenalnya."


Ragam pertanyaan kembali diajukan kepada Rey oleh Syena. Dilema rasanya, apakah ia harus mengatakan segalanya tetapi hal itu akan sangat percuma. Sebab mata kiri Syena masih memiliki kutukan.

__ADS_1


Rey hanya menunduk sambil tersenyum miris. Akan lebih baik jika Syena mengingatnya ketika Barsh sudah mati.


Itu akan sangat baik untuknya daripada dia memaksakan kepalanya untuk mengingat segala kenangan, yang memang tidak mampu ia ingat.


"Baiklah, sepertinya cukup sampai di sini saja! Mari kita fokus pada pekerjaan kita. Masih banyak para Musketeers yang belum dipindahkan."


Ucap Rey berusaha mengalihkan pertanyaan Syena.


Nyatanya tak ada penolakan atau protes lagi yang Syena ucapkan.



Syena mengangguk mendengar apa yang Rey katakan. Sudah cukup, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Mereka pun kembali mengurus para Musketeer yang masih kehilangan kesadarannya.


Ada beberapa dari mereka yang disadarkan oleh Harith. Disana Harith arit lebih memprioritaskan untuk membangunkan para lapu-lapu juga Noela. Sebab merekalah yang tahu perihal obat-obatan juga ramuan.


Bersyukur sekali rasanya ketika melihat Noela juga Debora baik-baik saja di sana. Mereka hanya sekedar pingsan Rey lega sekali. Pujaan hatinya itu baik-baik saja, dan masih bernafas disana.


Ancaman, mungkin akan datang lagi dan lagi. Iblis menyerang tanpa ada tanda-tanda, mereka menyerang secara langsung.


Tidak ada Muskeeters yang mati di sini, tidak ada korban jiwa yang jatuh di sini. Mereka seluruhnya selamat hanya kehilangan kesadarannya saja, juga ada sedikit yang terluka.


Mungkin masih akan ada banyak sekali teror yang akan bermunculan dan datang. Tetapi apapun itu, Rey akan selalu berada tepat di garda depan melindungi mereka semua.


Dia adalah anak dalam ramalan. Dia akan selalu berada di garda depan untuk melindungi para jiwa hidup. Tak peduli apabila nyawanya menjadi taruhan disini.


Hal inilah yang membuat Debora jatuh hati padanya. Kegigihannya dalam berkorban juga berjuang membuat hati kecil Debora tersentuh.


Pemuda ini memang konyol, tetapi dia memiliki banyak sekali petuah yang indah tentang kehidupan. Tak hanya itu, pemuda ini pun juga sangat kuat gigih dan tidak terkalahkan.


Sekalipun dia nantinya kalah atau terdesak ia akan tetap bangkit dan berdiri tidak ada kata menyerah di dalam kamus Rey.


...Manusia pasti akan berubah selama mereka hidup, belajarlah untuk menghargai dirimu sendiri...


...


__ADS_1


...


__ADS_2