Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Sihir Baru dan Persiapan


__ADS_3

...Rasakan kebebasan, hargai perbedaan dan raih kemajuan...


...Harga yang harus dibayar untuk kenyamanan adalah kebebasan untuk berpikir...


...Kita punya kebebasan untuk menentukan pilihan, tetapi kita tidak akan bebas dari tanggung jawabnya...



Penguasaan sihir pamungkas sedang Rey usahakan. Sihir pamungkas milik Baron emas ini sedikit membuatnya pusing. Pasalnya penggunaan ilmu matahari ini tak ada peragaan.


Rey mengambil tiga unsur sihir berbeda dari dalam domain. Ketiga aliran sihir itu dipaksa membentuk sesuatu.


Elden Ring adalah sebuah cincin legenda. Baron Emas mengatakan padanya, bahwa cincin ini pernah digunakan oleh Lunox sebanyak lima kali. Itupun terjadi karena ulah sisi lain dari ketiga Baron.


Sisi lain milik Baron Putih bernama Dandelion. Sisi lain milik Baron hitam bernama Zatzuya. Sedangkan sisi lain Baron emas bernama Shabura. Ketiganya adalah pembuat onar di angkasa.


Banyak masalah yang mereka ciptakan sehingga membuat mereka harus di kurung dalam domain pengekang. Sebuah domain dimana para sisi lain tidak akan mampu keluar dari dalam sana, kecuali ada seseorang yang meminta kekuatannya.


Ada dua hal yang membuat mereka bebas dari dalam domain pengekang. Dua hal itu adalah, mereka menyadari kesalahannya lalu bersedia patuh dan bekerja sama dengan Tuan mereka. Kedua, adalah ketika ada yang meminta kekuatannya.


Ciri khas sisi lain adalah, penggunaan kekuatan mereka selalu membutuhkan tumbal. Mereka pasti akan meminta sesuatu dari tubuh kita. Ketika mereka menyukainya, maka mereka akan memotongnya lalu mengganti bagian tubuhmu dengan miliknya.


Namun apa yang mereka berikan hanyalah sebagai penambal berdurasi. Itu tidak kekal berada dalam tubuh seorang manusia. Mereka berbeda dengan para penghuni langit, tak berkemampuan juga tak beregenerasi. Itulah yang membuat mereka sebenarnya tak mampu menampung sihir mereka.


Apa yang membuat seluruh Musketeers mampu menampung Ilmu sihir ini adalah, keterkaitan mata mereka dengan hal ghaib. Tidak seluruh umat manusia memiliki mata penjelajah ghaib.



"Berusahalah kumpulkan aliran sihir itu menjadi satu Rey! Gerakan, bentuklah cincin Elden Ring itu." Jelas Baron emas di atas singgasananya.


Urat-urat dikepalainya menandakan bahwa dirinya sedang berusaha saat ini. Peluh menetes, seluruh kemampuan sihir miliknya sedang berusaha Rey satukan.


"Apa kegunaan cincin ini?" Tanya Rey disela-sela fokusnya. Baron Emas disana tersenyum.


"Penguasaan atas tujuh Matahari! Ky Cygni, Matahari, UY Scuti dan beberapa matahari lainnya akan berada dalam kendalimu. Sama seperti Baron Hitam yang memberikan sihir penyerapan berupa Black Hole. Cincin Elden Ring, akan memberikanmu sihir pamungkas pengendalian panas seluruh semesta termasuk matahari. Mereka akan tunduk dibawa kehendakmu, Rey Arlert!"


Penjelasan itu semakin membuat Rey bersemangat rasanya. Hanya ini saja kemampuan pamungkas yang masih belum Rey kuasai. Saat ini, Arlert sedang berusaha menguasainya.


Kulit tangannya perlahan mulai terkelupas. Bersatunya Dandelion untuk menerima kekuatan ini bersamanya, membuat kupasan perih itu sama sekali tak ada rasanya bagi Rey.


"Ayo Rey, kau pasti bisa! Memang butuh sedikit pengorbanan dalam membentuk sihir ini." Ucap Dandelion.


Dirinya dan Baron Putih duduk di atas singgasananya. Mereka membiarkan Rey menyerap seluruh kekuatan yang ia inginkan dari mereka.


"Arghh... gila, separah ini tingkat kesulitannya!" Pekik Rey.


Pola cincin itu mulai terbentuk. Ketiga aliran sihir yang keluar dari dalam telapak tangannya berusaha membentuk satu lingkaran kecil.


Baron emas memperhatikan itu. Sepertinya Rey akan berhasil membentuk polanya. Disitu, Baron emas semakin menambah kekuatannya. Matahari ketiga, keempat hingga sampai pada tingkatan tujuh. Seluruh unsur itu disatu padukan dalam aliran sihir Rey.


"Panas sekali gila!" Pekik Rey. Bara-bara api mulai bermunculan.


Kepulan asap juga bara-bara api, panasnya mulai sempurna membentuk lingkaran kecil. Beberapa menit setelah seluruh hal yang Rey lakukan, cincin kecil itu pada akhirnya terbentuk.


Brrrrrrrrr


Brrrrrrrr



Suara kobaran api di sisi cincin itu menggema. Padahal kobaran itu kecil, cincin itu seperti terbuat dari lava. Rey berpikir kecil dalam kepalanya, jika cincin lava itu masuk kedalam jarinya, apakah ia tidak akan kehilangan jarinya nanti.


Syuthhhh


Rey menarik kembali sihirnya ketika cincin kecil itu sudah terbentuk. Dari dalam domain ketiga Baron miliknya saling menatap satu sama lain, terlihat wajah mereka begitu bahagia disana. Sedangkan Rey, ia masih tak habis pikir apabila nantinya Baron emas menyuruhnya memakainya.

__ADS_1


"*Bagus Rey, kau berhasil! Inilah cincin Elden Ring!" Baron Emas menjelaskan perihal cincin itu. Sebuah cincin yang masih melayang dihadapan Rey Arlert.


"Kenapa kau masih terdiam Rey? Kau terpaku terpukau atau apa ini?" Tanya Baron Emas lagi*.


Kepulan asap dari cincin itu membuatnya takut sungguh. Panasnya luar biasa, apakah Baron gila ini akan menyiksanya.


"Kau berusaha memutilasiku kah? Sekalipun aku memiliki regenerasi, apakah cincin ini tidak akan mematahkan jariku nanti? Cobalah kau lihat betapa menyeramkannya cincin lava ini!"


Ucap Rey dalam domain ia menatap lekat ke arah Baron Emas yang duduk diatas singgasananya. Ucapan itu membuat Baron emas juga kedua Baron lainnya terkekeh.


"Dangkalnya isi otakmu ini, Rey Arlert!" Pekik Dandelion, ia juga dibuat geleng-geleng rasanya akan apa yang Rey tanyakan.


"Kenapa, kenapa kalian menertawakan ku? Apakah ada yang salah disini? Tidak bukan?"


Ucap Rey tak terima. Ia benar bukan, menanyakan sesuatu sebelum mencobanya itu wajar.


Deppp


Depppp



Terlihat Baron Emas bangkit dari duduknya. Ia menuruni anak tangga singgasananya untuk mencapai Rey disana. Sesampainya dihadapan Rey, Baron Emas mengulurkan tangannya menyentuh kening Rey Arlert.


Syuthhhh


Kristal pengendali matahari itu menempel lekat ditengah kening Rey Arlert. Sebab ia mampu memanggil Elden Ring, kristal itu sama sekali tak menolak masuk menyatu dengan Rey dalam satu tubuh. Bertambahlah lagi satu kekuatan dalam tubuhnya.


Clinggggg


Kristal itu mulai bersinar. Warna sinarnya seperti kobaran api.


"Mulai sekarang, kau mampu menggenggam ilmu sihir matahari ini. Coba pusatkan manamu, seperti saat kau menggunakan sihir petirmu. Mantra Accow Axlinow, begitulah caramu menggunakan Elden Ring. Jarimu yang memakai cincin ini, sudah membuka seluruh portal matahari. Kau hanya tinggal mengola manamu untuk membentuk sihir sesuai dengan kehendaknya."


"Lalu ini untuk apa?" Rey bertanya sambil menunjuk ke arah keningnya.


"Domain kekuatannya masih kosong! Kau harus memberinya energi dengan cara memasukkan manamu didalamnya." Jelas Baron Emas.


Rey Arlert mulai fokus memindahkan mana murninya kedalam domain kristal. Ketika domain itu terisi penuh, Baron emas mengangguk.


"Dari dalam kristal itu kau mampu menembakkan sihir peluru matahari, mantranya adalah Shabura. Itu adalah sisi lain dari diriku, sama seperti Dandelion. Mulai saat ini, Shabura dan Baron Emas ini melayanimu sepenuhnya!"


Ucap Baron emas, bersamaan dengan berakhirnya perkataan Baron emas. Sosok Shabura dengan Surai panjangnya sekejap namun samar muncul dibalik tubuh Baron Emas. Shabura tersenyum tepat ke arah Rey, ia mengacungkan jempolnya seakan itu adalah pesan untuknya bahwa ia mempercayai Rey saat ini.


"Apakah ini yang disebut mahkotanya Lunox?" Tanya Rey lagi pada Baron Emas.


"Ya, apa yang berada ditengah keningmu itu hampir mirip dengan milik Lunox. Seluruh generasi Sun memiliki kristal ini, hanya saja tidak seluruhnya mampu mengendalikan kekuatannya. Lunox adalah leonin pengendali terbaik matahari. Dia dengan seluruh kemampuannya mampu mengendalikan tujuh matahari. Generasi Sun menunjuknya sebagai seorang guardian. Saat itu, Penguasa langsung memberikanku ke tangan Lunox sebagai pengingat bahwa ia adalah Guardian penguasa panas alam semesta. Kita memiliki kekuatan kita sendiri Rey!"


Jelas Baron Emas pada Rey. Rasanya ia bangga sekali saat ini pada dirinya. Pada akhirnya kemampuan tiga pedang legendaris sudah ia kuasai. Ia hanya perlu mengasahnya lagi agar semakin mahir menggunakan juga mengkombinasikannya.


Syuthhhhhh



Sekejap Baron emas berpindah kembali duduk diatas singgasananya. Dari atas sana ketiga Baron itu tersenyum ke arah Rey. Suatu kehormatan menerima kekuatan mereka.


Seorang Rey Arlert bersimpuh, itu adalah sebuah tanda terima kasihnya untuk apa yang sudah para Baron berikan padanya. Rey mengepalkan tangan kanannya menaruhnya tepat di atas dada, layaknya seorang pejuang yang sedang bersumpah.


"Terima kasih, aku akan berjuang bersama kekuatan ini. Untuk kebebasan dunia, aku Rey Arlert akan berjuang sampai pada titik penghabisan! Sebelum bumi ini kembali seperti semula, Arlert tidak mati! Aku bersumpah, makhluk ilusi itu akan ku buat kembali pada kodrat mereka. Kembali tak nampak seperti dahulu, kembali tak mampu menyentuh kami seperti ini, bahkan menyiksa kami. Sudah saatnya bagi dunia menghirup kebebasan! Aku akan berjuang!"


Ketiga Baron disana bersamaan berdiri sambil menatap Rey Arlert. Sambil berdiri, mereka menirukan apa yang sedang Rey lakukan. Mereka sama-sama menempatkan tangan kanan mereka di atas dada mereka, sebagai rasa terima kasih.


________


__ADS_1


Kembali didalam Rensuar tepatnya didalam markas. Syena sedang duduk sambil memandangi taburan bintang di atas langit. Saat ini ia sedang berada di balkon lantai lima. Jam disana menunjukkan pukul dua pagi, namun netranya masih enggan terpejam.


Tepat tengah malam Syena bangun ia meninggalkan Debora juga Riley didalam kamar. Tempat ini adalah tempat yang sama, dimana Rey untuk pertama kalinya meletakkan kepalanya di atas pangkuan Debora.


"Hoamm..." Mikhail menaiki anak tangga, ia akan menuju lantai lima saat ini. Ia lupa membawa masuk selimut kesayangannya.


Ketika kakinya berpijak dilantai lima kedua netranya tak sengaja menangkap kehadiran Syena. Gadis itu duduk di kursi ayunan panjang di salah satu kamar. Kamar itu terbuka, menampakkan Syena yang duduk disana.


"Malam ini cukup dingin, lalu mengapa gadis kecil itu disana? Ini tidak bisa dibiarkan!" Lirih Mikhail. Ia meraih selimut miliknya lalu membawanya.


Mikhail berjalan mendekati Syena disana. Gadis itu sama sekali tak mengetahui kehadirannya. Ketika sampai tepat di belakangnya, Stevan membuka lipatan selimutnya. Lalu membalut tubuh Syena dengan selimut itu, memakaikannya.


"Huh?" Syena terkejut mendapati kain hangat datang merengkuhnya. Sontak netranya beralih kebelakang, rupanya itu adalah ulah Mikhail.


"Kakak Mikha?" Sapanya pada Mikhail, Pemuda itu langsung duduk disamping Syena saat ini.


Kedua netra mereka kembali menatap ke arah langit. Sebenarnya Mikhail canggung, jujur saja saat ini detak jantungnya tak beraturan rasanya. Mengapa ini selalu saja terjadi tiap kali berada disamping Syena.



"Malam ini dingin, dan kau mengapa masih disini? Apa kau tak tidur?" Tanya Mikhail yang masih menatap langit.


"Aku sudah cukup istirahat beberapa jam saja!" Mikhail tersenyum mendengar jawaban itu.


"Apakah ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" Tanya Mikhail padanya, namun dengan cepat Syena menggeleng.


Sebenarnya ada, hanya saja Syena berusaha menutupinya. Salah satu hal yang mengusiknya adalah, bagaimana ketika Iblis nantinya menyerang ia akan kembali bertemu Barsh.


Hanya Iblis itu saja yang mampu mengendalikan Syena. Bahkan Iblis itu saja yang mampu membuat Syena berteriak kesakitan sebab mantra siksaan yang ia rapalkan padanya.


Sampai saat ini Syena masih mengingat jelas bagaimana rasanya sakit itu menerjang tubuhnya.


"Kakak Mikha, kehidupan sebebas kalian ini sangat menyenangkan! Aku menyukainya, namun ada satu sosok yang memegang penuh atas diriku tiap kali aku bersamanya." Ucapan itu membuat Mikhail tersenyum.


Mikhail tau benar siapakah sosok yang sedang Syena maksudkan disini. Sosok itu adalah Barsh, siluman serigala keji yang membuat mata kiri Syena selalu menutup.


"Teman adalah mereka yang memungkinkanmu memiliki kebebasan secara total untuk menjadi diri sendiri. Kami ini bukan hanya sekedar temanmu, tetapi kami ini keluargamu. Aspek terakhir dari kebebasan manusia adalah menentukaan sikap dalam keadaan yang sulit."



Rasanya bahasa yang Mikhail ucapkan terlalu tinggi untuknya. Syena dibuat sama sekali tak berkutik, Mikhail mengerti apa arti dari ekspresi wajah itu.


Wajar saja, Syena adalah adiknya Rey, bukan? Butuh dijelaskan secara pelan-pelan dan rinci memang.


"Baiklah jadi begini, sekalipun Barsh memegang kendali atasmu. Tetapi tidak menutup kemungkinan dia juga mampu kami kalahkan bukan. Jika Barsh kalah, maka kutukan dalam matamu itu akan hilang. Menurut buka sejarah sihir begitu katanya! Sihir kutukan akan hilang apabila Sang Pengutuk Mati!"


Jelas Mikhail, hal itu di sambut anggukan dari kepala Syena. Ia paham sekarang tentang apa yang Mikhail katakan.


"Selama orang terus mencari arti sebuah kebebasan, maka orang itu tidak akan pernah menyerah. Kebebasan terbesar adalah kebebasan untuk memilih sikap. Ada kebebasan yang menunggumu di atas angin sepoi-sepoi di langit."


Ucap Mikhail lagi, Syena dibuat tersenyum rasanya mendengar seluruh petuah yang Mikhail lontarkan. Sungguh itu kalimat-kalimat yang sangat indah.


"Dunia juga menginginkan kebebasan. Sebab itulah kita berdua berada disini saat ini, Musketeers adalah seorang pengayom. Mereka adalah perisainya Rensuar! Aku tidak akan pernah menyerah dalam Medan pertempuran ini! Terima kasih, kakak Mikhail."


Malam itu ucapan terima kasih itu mengakhiri segalanya. Setelah ucapan itu, Syena kembali masuk kedalam kamarnya lalu terpejam disana. Mikhail berhasil mengusir mendung dalam hatinya. Itu cukup baginya untuk tenang saat ini.


...Terkadang satu-satunya kebebasan yang benar-benar kita miliki ada di dalam pikiran sendiri...


...Aku selalu tertawa melihat mereka yang menyukai kebebasan dan aku tersenyum melihat diriku yang selalu membatasi diri...


...Dalam kebebasan berpikir, dalam kebebasan bersuara, hanya etika jembatannya...



________

__ADS_1


__ADS_2