Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Ada yang Melihat


__ADS_3

"Bagaimana ya? Kau ini terlalu rupawan untukku Debora!" ujar Rey lirih membelai lembut Surai Debora, yang saat ini terpejam kehilangan kesadarannya.


"Aku dilema Tuhan! Benar-benar tak mampu rasanya!" kali ini Rey berteriak kepada langit malam.


Rembulan yang singgah di atas sana seakan menatapnya. Rey menggaruk kepalanya yang tak gatal, mengacak-acak surai miliknya.


Seorang pemuda sejak tadi duduk di atas dahan pohon. Dari dalam belantara, sejak Rey datang sampai Debora tertidur ia melihat segalanya.


Merasa iba melihat apa yang Rey lakukan. Pemuda itu pun turun dari atas pohon. Kakinya melangkah menyusuri rerumputan, menghampiri Rey yang frustasi di sana. Setibanya di sana, sambil mengunyah makanan yang masih belum habis di mulutnya ia bicara,


"Kau jadi gila sekarang sepertinya?" ucapnya, suara itu seketika membuat Rey terdiam.


Ia menoleh ke samping mendapati Elvas di sana. Elvas berdiri melipat kedua tangannya tanpa menatap ke arah Rey. Ia hanya fokus ke depan, ke arah hamparan rumput luas.


"Sejak kapan kau di sini?" tanya Rey padanya, ia curiga sekarang.


"Sejak awal!" jawab Elvas singkat sambil menoleh ke arah Rey.


Rey tertegun mendengar itu, artinya sejak tadi Elvas mendengar pembicaraan antara dirinya dan Debora. Tak hanya itu, Rey juga mengingat bahwa ia sempat mengecap manisnya bibir Debora. Rey membuang kasar nafasnya.


"Kau menguntit kami ya?" tanya Rey kepadanya, Elvas hanya berseringai.


Netranya menatap ke arah Debora kali ini. Telapak tangan kanannya terbuka, muncul selimut dari sana. Elvas melemparkan selimut itu ke arah Rey.


"Selimuti dia, di sini dingin!" ujar Elvas kepadanya.


Rey mengangguk kemudian ia menyelimuti tubuh Debora dengan selimut itu. Rey tidak akan membangunkan kucing putihnya ini, baginya biarlah Debora bangun dengan sendirinya.


"Aku juga mencintainya, apakah boleh?" tanya Elvas tiba-tiba.


Pernyataan itu memang membuat Rey kesal. Namun, ia tidak berhak menghentikan perasaan itu.

__ADS_1


"Debora sudah bilang padaku bahwa kau menyukainya! Aku menghargai keputusan kucing putih, dia bilang padaku bahwa perasaan cinta datang itu wajar bagi setiap manusia." ujar Rey sambil mengingat kembali apa yang Debora katakan padanya.


"Kau beruntung dicintai olehnya di sini!"


"Ya, kau benar! Aku beruntung, dan aku bahagia sekali!"


Elvas tersenyum mendengar itu. Kemudian pandangannya beralih lagi kepada Rey yang juga menatapnya.


"Rey, dengarkan aku! Aku tidak pernah berharap atas kematianmu walaupun aku membencimu. Kau tau, melihatnya menangis adalah hal menyakitkan buatku. Jadi, ketika kau mati nanti! Bolehkah aku berdiri di sampingnya setelahmu?" tanya Elvas kepada Rey.


Rey tertegun mendengar itu. Jika Elvas mengetahui perihal nasibnya, artinya ia benar-benar mendengarkan pembicaraan antara dirinya dan Debora.


Entah mengapa Rey paham sekali atas perasaan Elvas kepada Debora. Menurutnya benar, apabila Rey mati Elvas berada di sampingnya nanti.


Kesedihan itu pasti akan membekas cukup lama dalam hatinya. Debora membutuhkan seorang teman yang mengerti perihal laranya. Rey juga tau, bahwa Elvas tulus perasaannya kepada Debora.


Sekalipun hatinya berat menyerahkan Debora kepada orang lain setelahnya. Namun Rey, memaksa kepalanya untuk mengangguk. Ketika ia akan berbicara,


"Aku mencintaimu, Rey!" lirih Debora menggigau, Rey yang terkejut sontak menatapnya.


"Bahkan ketika kesadarannya hilang, dia tetap berbicara semacam itu untukmu!" sindir Elvas kepada Rey.


Rey tersentuh mendengar itu, kembali ia belai Surai putih Debora.


"Untuk saat ini aku tidak mampu menjawabnya! Tapi, jika memang takdirku sepahit itu. Maka, orang yang kupercaya untuk menjaganya adalah dirimu, Elvas!" ucap Rey kepada Elvas.


"Tentu saja, kau tidak perlu memintanya!" jawab Elvas.


"Bolehkah aku meminta satu hal?" tanya Rey kepada Elvas.


"Apa?"

__ADS_1


"Perihal pembicaraan kita, dan apa yang kau dengar dan kau lihat antara diriku dan Debora. Pendamlah sendiri, jangan ceritakan kepada siapapun!" jelas Rey kepada Elvas.


Elvas mengangguk, ia tau itu. Rey sudah menghapus ingatan Debora di sini. Elvas hanya menepuk pelan bahu Rey, lalu mengangguk dan tersenyum.


"Aku tidak akan mengatakannya! Kau tenang saja!" ujar Elvas.


Lega rasanya saat Rey mendengarnya. Rupanya sekalipun manusia di hadapannya ini sempat sombong. Ada juga sisi manusiawi dalam hatinya. Setelah mengatakan itu, Elvas memakai kembali tudung jubahnya.


"Aku pergi, malam semakin dingin! Bawalah dia pulang ke markas!" ucap Elvas berpamitan lalu berlalu dari hadapan Rey dan Debora.


Rey hanya memandangi punggung Elvas yang semakin menjauh. Apa yang Elvas katakan benar, ia harus membawa Debora kembali ke markas. Sebab malam semakin dingin.


"Ayo pulang, kucing putih!" ajak Rey sambil mengangkat tubuh Debora dalam gendongannya.


Dandelion kembali ia kenakan, satu kepakan sayapnya kembali membawanya terbang ke angkasa. Rey terbang untuk kembali pulang ke markasnya.


_________


Setibanya di markas, Rey tidak melihat siapapun di ruang tamu. Aneh rasanya, namun, ketika netranya beralih menatap ke arah jam sihir ia pun sadar bahwa ini sudah terlalu larut. Dan jelas saja suasana markas sudah setenang ini. Penghuninya sudah terlelap mengarungi lautan mimpi mereka masing-masing.


Perlahan Rey mulai menaiki anak tangga. Jika ia masuk ke dalam kamar Riley itu tidak akan mungkin. Sebab Riley selalu mengunci kamarnya. Jika tidurnya seorang Riley diganggu, maka Riley akan mengamuk.


Kekasih Justice itu terlalu buas jika sudah melibatkan amarah. Tak ingin itu terjadi, Rey membawa Debora ke atas. Tepat di lantai lima markas mereka.


Di sana ada satu ayunan panjang berwarna putih. Alasnya cukup empuk, sepertinya semalam ini Rey akan memilih terjaga sambil memandangi wajah Debora di atas pangkuannya.


Setibanya di sana, dengan hati-hati Rey mulai membaringkannya. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya di atas ayunan itu, sambil menatap langit dengan taburan jutaan cakrawala.


"Untung saja, besok masih menyiapkan pasukan ya! Jadi, aku bisa puas memandangi wajah ciptaanmu yang jelita ini. Tiap detik waktu yang aku lewati bersamanya, akan selalu terpatri lama dalam ingatanku. Jaga kucing Putihku ya, Tuhan, ketika aku tidak bersamanya!" ujar Rey kepada langit.


Tangan kanannya masih setia membelai lembut kepala Debora. Malam tenang itu cukup memanjakan matanya, sampai pada akhirnya kedua matanya mulai lelah. Rey terpejam dengan posisi duduk bersandar, dengan Debora berada di atas pangkuannya.

__ADS_1


Sampai akhirnya mentari mulai menampakan dirinya. Silaunya membuat Debora terusik, ditambah suara-suara merpati yang berkicau bersaut-sautan. Ketika Debora membuka kedua matanya, ia melihat wajah yang menunduk sambil masih terpejam.


Debora tersenyum ketika melihat wajah Rey yang pertama kali ia lihat. Namun kepalanya juga dihinggapi ragam pertanyaan. Mengapa ia bisa tidur di sini bersama dengan Rey? Sebenarnya apa yang terjadi semalam?


__ADS_2