
...Kau akan menemukan musuh yang paling buruk atau sahabat yang paling baik...
...Lebih baik punya satu musuh daripada punya seribu teman tapi cuma datang kalau ada butuhnya saja...
________
Semalam adalah tragedi paling pahit yang belum pernah mereka alami. Sepulang dari sana, Syena di antar ke Istana putih untuk pengobatan. Kemampuan yang ia kerahkan semalam, cukup menguras banyak mana dalam tubuhnya.
Bersama dengan Noella disampingnya, ia sedang berdiri. Ditangannya ada sebuah ramuan, sejenak Noella memperhatikan wajah Syena. Disamping Syena, juga ada Debora, semalam karena perkataan Rey padanya, Debora benar-benar menjaga Syena.
"Pola pada matanya ini, pengaruh Iblis!" Batin Noella.
Jarinya bergerak mengoles cairan ramuan yang dibawanya. Noella mengoleskan cairan itu tepat, diantara pola mata Syena. Akibat ulahnya, pola itu kembali bersinar namun hanya sebentar.
"Pengaruhnya tidak bisa di keluarkan, itu artinya ini semacam kutukan berjangka. Matanya akan kembali, apabila Para Iblis kembali ke kodrat mereka. Hilang, tak kasat mata!"
Argumen itu sejenak memenuhi kepalanya. Ia yang notabennya seperti seorang tabib, ahli ramuan, mencoba menguak segala kenyataan dan faktanya.
Depppp
Noella meletakkan ramuan miliknya di atas meja. Kemudian, tubuhnya berjalan mendekati Debora. Dari sana, terlihat kedua mata gadis itu membengkak. Lihatlah, betapa dalamnya hatinya mencintai Rey disini.
Rasanya iba melihat kondisinya saat ini, duka itu pasti mendalam. Debora sebelumnya adalah gadis yang menarik diri dari sosialisasi. Dia gadis yang bahkan tak peduli pada apapun, acuh, mungkin jika baru saja bertemu dengannya kalian akan beranggapan bahwa gadis ini sangat sombong.
Namun nyatanya, tragedi misi perta itu membuatnya dan Rey menjadi dekat. Noella tau apa yang dilakukan Rey padanya saat itu. Dari sana, ketertarikan Debora pada Rey semakin besar. Pada akhirnya ketertarikan itu menariknya dalam satu perasaan, cinta namanya.
Noella mengulurkan tangannya, membelai lembut Surai putih Debora yang sama dengan miliknya. Merasakan sesuatu diatas kepalanya, Debora perlahan membuka kelopak matanya.
Sesekali bola mata itu mengerjap mencoba mengumpulkan kembali partikel nyawa yang berlabuh di alam mimpi.
"Nona Noella?" Lirih Debora, sambil meregangkan otot-ototnya.
"Ya Debora, ini sudah pagi! Apa kau tak ingin pulang ke markas untuk sekedar mengisi perutmu?"
Pertanyaan itu membuat Debora diam, netranya kembali menatap tubuh seorang gadis yang berada diatas ranjang. Rupanya, Syena belum siuman.
"Dia belum siuman ya?" Tanya Debora sambil menatap sendu ke arah Syena.
"Iya, kemungkinan sadarnya kecil! Namun bukan berarti dia akan mati, tetapi memang. Kekuatan yang ia kerahkan itu besar sekali!" Jelas Noella.
"Nona Noella, aku sedikit curiga pada sulur yang keluar dari dalam tanah. Aura mereka, tidak jahat!"
Noella yang juga tak tau, benda apakah yang datang dari dalam tanah itu hanya diam. Namun kepalanya tetap bekerja, baik dirinya dan Debora mereka berdua sama-sama mencari tau. Asal muasal sulur itu.
Kedua tipe pemikir ini berusaha menguak, barangkali ada fakta menarik dari hal ini. Barangkali fakta itu membantu mereka, menaklukan Silver Alaska.
Brakkkkk
"Nona Noella, Kaisar!!!"
Suara pintu terbuka tiba-tiba itu, menyita perhatian Noella dan Debora. Seorang Musketeers datang, terengah-engah. Raut wajahnya penuh dengan ke khawatiran. Mendengar nama Harith disebut, Noella yang tadinya tenang sekarang kalut rasanya.
"Ada apa?" Noella bertanya seraya menghampiri Musketeers itu. Disana, Musketeers itu menunduk.
"Kaisar, jatuh sakit!"
"Huh?"
Jawaban itu membuat Noella semakin gundah. Debora dibelakangnya juga terkejut mendengar hal itu. Usai pertempuran, rasanya Harith masih baik-baik saja saat itu. Namun mengapa, pagi ini Leonin itu jatuh sakit.
"Apa maksudmu, katakan dengan jelas!" Pekik Noella.
"Nona, alangkah baiknya jika Anda melihatnya secara langsung." Jawaban itu seketika membuat Noella berlari, meninggalkan tempat itu.
Debora masih mematung disana sambil menatap Musketeers itu yang mulai berdiri. Musketeers itu memberi hormatnya juga pada Debora sebelum pergi.
Debora yang penasaran, ada apa dengan Harith disana. Memilih untuk pergi dari dalam kamar rawat Syena. Debora menutup pintu rawatnya, lalu bergegas menuju ruangan Harith.
Depppp
Depppp
Depppp
"Arghhhh..." Erangan dari diri Harith membuat Debora yang baru saja tiba di ambang pintu terhenti.
Kaisarnya itu kondisinya mengenaskan sekali. Ia mengerang kesakitan sambil wajahnya, seperti terkikis sesuatu. Sesuatu itu menyala-nyala seperti bara api.
"Harith, bukalah matamu! Kumohon tahanlah sebentar!"
__ADS_1
Ucap Noella, tangannya cekatan meracik ramuan bersama dengan Mikhail disampingnya, disana ada pula madam Geralda. Seisi ruangan pagi ini dibuat ketakutan akan kondisi Harith.
"Kita tidak bisa menghentikan fananya! Kikisan itu datang karena fananya melahap kehidupannya!" Madam Geralda beserta Mikhail saling berargumen.
"Aku akan buat ramuan penenang, madam bisa menambahkan ramuan penghambat."
Dentingan wadah kaca berisikan cairan menggema. Dua spesialis medis disana kembali cekatan meracik ramuannya. Debora datang menghampiri Noella, saat ini Elf itu sedang bersimpuh memangku kepala Harith yang sedang kesakitan, leonin itu seperti seseorang yang sekarat.
"Sudah selesai, tolong bantu dia minum!"
Mikhail beserta Madam Geralda menghampiri Harith. Mereka bersimpuh disana, Noella meraih botol ramuan itu membantu Harith meminumnya.
Tegukan botol pertama berhasil, cairan itu masuk seluruhnya kedalam tubuhnya. Kali ini ramuan kedua pun sama, Harith meneguknya.
Reaksi ramuan itu cepat, Harith yang tadinya mengerang kesakitan kini diam memejamkan matanya. Nafasnya masih ada, begitu pula dengan kikisan semacam bara api diwajahnya.
Namun saat ini kikisan bara api itu tidak secepat tadi. Kikisan itu melambat, Harith mulai tenang disana. Dengan sihirnya, Noella memindahkan tubuh kecil itu di atas ranjangnya.
"Sebenarnya ada apa dengan Kaisar?" Tanya Mikhail sambil menatap ke arah Kaisarnya.
Pagi ini baru saja ia memijakkan kakinya di Istana, namun suara teriakan dari beberapa Musketeers penjaga, membuat Mikhail berlari terbirit-birit menghampiri ruangan Harith.
Rupanya Kaisar nya itu sudah tergeletak disana sambil mengerang kesakitan. Beberapa Musketeers berlari keluar, berusaha mencari pertolongan. Mereka mencari Madam Geralda beserta Noella.
Saat itulah Mikhail dengan cekatan mulai mengeluarkan beberapa bahan ramuan dalam domainnya, meraciknya saat itu juga. Bersamaan dengan itu, Madam Geralda datang membantunya.
"Ini Fananya!" Jawab Debora, Madam Geralda memperhatikan apa yang Debora ucapkan.
"Fana akan memakan hal yang hidup, jika hal itu meminta lebih dari kapasitas tubuhnya." Ucap Debora menjelaskan.
Dua Musketeers muda, Debora dan Mikhail sama sekali tak paham perihal apa yang Noella jelaskan namun mereka berusaha menuntut, kapasitas otak mereka agar memahami hal itu.
"Fana dan Mana, apa bedanya Nona?"
Pertanyaan dari Mikhail membuat Noella mengangguk. Pelajaran mengenai Fana memang belum mereka dapatkan. Mereka hanya mengerti dan paham, perihal apa itu Mana.
"Mana, adalah energi kalian! Dimana disana kalian tau, untuk membuat sihir bekerja maka diperlukan mana disana. Sebut saja, mana adalah bahan bakarnya."
Ya, dari situ mereka masih memahaminya. Pelajaran mengenai mana adalah hal yang paling dasar.
"Fana, dia adalah sistem mana yang tidak boleh digunakan. Seorang penyihir akan lebih baik, menggunakan sihirnya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan mananya. Jika batas manamu, ada di level 3, misalkan, maka seluruh sihir level 3 saja yang mampu kau gunakan. Untuk membuka level berikutnya, kau harus bekerja lebih keras lagi meningkatkan manamu. Namun jika kau seorang penyihir yang berani mengambil resiko, maka kau bisa menggunakan Fanamu. Fana adalah sesuatu yang akan membawamu melampaui batasanmu secara instan, dengan syarat."
Penjelasan itu membuat Debora dan Mikhail saling tatap. Rupanya penyihir bisa melampaui batas mereka secara instan, namun mendengar pernyataan bahwa ada syarat disana.
"Ini bersyarat, juga beresiko. Kepada jiwa-jiwa yang hidup, fana akan memakan bagian dirimu yang hidup. Mereka yang sering menggunakan fananya, ketika batasan penggunaannya sudah dilampaui. Maka, mereka akan hilang dari dunia ini." Jelas Noella.
Disana Debora teringat akan apa yang sudah Rey sering lakukan untuk mereka. Tiap kali Rey kehilangan kendali atas kekuatannya, artinya, tiap saat itu Rey sering menggunakan Fananya.
"Artinya, sama dengan bunuh diri secara perlahan?" Tanya Debora, ia menunduk.
"Iya, aku yakin ada sesuatu yang sudah Harith lakukan disini. Mungkin kalian tidak memperhatikannya, namun jika ia sampai menggunakan Fananya. Maka, ada sesuatu besar yang sudah ia lakukan!" Jelas Noella.
Sejenak Debora menatap ke arah Kaisarnya. Tubuh mungil itu terbaring lemah diatas ranjang. Tanpa sepatah katapun, Debora pergi meninggalkan ruangan itu.
Mikhail disampingnya menatap heran kepergian Debora. Tak biasanya gadis itu pergi tanpa berpamitan. Noella yang tau apa yang Debora rasakan, memilih membiarkannya, ia tidak menegurnya. Gadis itu, masih berduka. Biarlah kesendirian yang menyembuhkan lukanya, perlu cukup waktu untuk bangkit memang.
_______
Debora yang berjalan dalam kesendiriannya, sejak tadi tak menyadari. Dibelakangnya, Riley membuntutinya. Bagaimana pun juga Debora adalah rekan yang sudah ia anggap sebagai keluarga. Mereka sudah cukup lama bersama, tumbuh dalam Asrama dan Markas yang sama.
Sejenak Debora berhenti tepat didepan ruang medis, dimana didalam sana ada Syena yang masih belum sadar. Namun, Debora tak masuk kesana. Ia berbalik membelakangi ruangan itu, netranya menatap lekat pemandangan benteng Rensuar beserta kota dibawahnya.
"Hei, Debora!" Sapa Riley, ia berinisiatif mendekati Debora saat ini. Mereka berdiri berdampingan, menatap kota bersama.
"Apa kau sudah makan? Pagi tadi Justice dan Mikhail membuat sarapan onigiri. Apa kau mau?" Tanya Riley padanya, Debora hanya mengangguk.
Syuthhhh
Dari dalam domain Riley mengambil beberapa onigiri. Disana ia menyerahkannya pada Debora, sambil menatap kota sembari berdiri perlahan Debora mulai mencicipinya. Gigitan pertama membuatnya kembali mengingat Rey, isian onigiri pagi ini adalah daging Wagyu.
"Hmm... Aku memahami bagaimana rasanya kehilangan ini." Riley disampingnya berucap sambil tetap mengunyah onigirinya.
"Aku merasa terpukul sekali!" Ucap Debora.
"Memang, kita semua, bukan hanya dirimu. Rey adalah harapan Rensuar, bisa dibilang saat ini kita berada dalam krisis yang besar."
"Bahkan dia pedang Legendaris itu belum ditemukan. Lantas bagaimana kita, umat manusia mampu mengalahkan mereka? Apa memang kepunahan itu pantas bagi kita?"
Kalimat putus asa semacam itu, sama sekali tak mampu Riley terima. Disini ia menggeleng cepat, mencoba menepis tiap ungkapan pahit yang Debora katakan.
__ADS_1
"Tidak, mereka yang seharusnya kembali dan pergi! Selama ini kita hidup berdampingan tanpa mengusik mereka. Namun ketika, mereka diberkahi kekuatan dari suar ini, mereka melunjak. Terkutuklah sungguh mereka!"
Riley geram rasanya sungguh. Kejahatan mereka pada manusia selalu menyulut amarahnya.
"Dasar, Bedebah Sialan!" Geram Riley ia murka.
Dummmmm
Brukkkkkkkk
Riley mengarahkan sihir miliknya ke arah satu pondasi gedung. Akibatnya, beberapa partikel batuan itu terkikis ambruk. Namun beruntungnya, Riley masih berakal disini. Mana yang ia gunakan tidak terlalu kuat, jika saja sihirnya saat ini dilempar kuat mungkin bagian kastil ini akan roboh.
"Hah, kau gila Riley?" Pekik Debora tak percaya melihat tingkah rekannya.
"Maaf aku hilang kendali!" Jawab Riley santai sembari menatap ke arah kota kembali.
"Konsekuensi hidup didunia kacau ini. Secara batin aku tersiksa, secara emosi aku kacau, secara mental aku depresi, tapi secara fisik dunia menyuruhku kuat dan baik-baik saja." Ujar Debora.
"Kekacauan ini masih terjadi. Tapi kita harus tetap berdiri! Ada banyak harapan yang kita pikul disini, gelar Musketeers berat memang. Tapi ini kewajiban!" Tambah Riley, kedua hati mereka sama-sama kosong.
Bagi pertemanan mereka, Rey adalah nyawanya. Ikatan mereka tidak akan pernah sekuat ini, jika disana Rey tak ada. Rey lah yang menyadarkan Debora dari keegoisannya.
Rey pula yang membuat Justice semakin dekat dengan mereka, dia adalah pion penting dari ikatan mereka. Kehilangan dirinya ibarat seperti kehilangan lampu.
"Rey tidak akan menyukai kita yang terpuruk terlalu lama. Jadi, untuk menghormati segala kerja keras dan pengorbanannya. Mari kita berjuang sampai titik darah penghabisan!" Ujar Riley kembali bersemangat.
Onigiri ditangannya sudah habis, sambil berucap sesekali ia memakannya. Kali ini Riley tersenyum ke arah Debora, mengulurkan tangannya. Dalam senyuman itu, Debora melihat ada pilu dibaliknya. Namun beginilah cara hidup dalam dunia yang kejam. Manusia akan hidup sambil mengenakan topeng dalam wajahnya.
Manusia dibawah sana yang berharap, tidak akan tau betapa sulitnya hal yang dialami para Musketeers. Hanya wajah setabah dan setangguh inilah yang wajib, seorang Musketeers tunjukkan pada dunia. Bukan wajah penakut dan pengecut.
"Perjalanan kita masih panjang, mari berjuang kembali!"
Debora menyambut uluran tangan Riley disana. Mereka berdua tersenyum tipis.
"Tentang Syena, apakah gadis itu akan ikut bersama kita ke markas jika sudah siuman?" Tanya Riley.
Hal itu membuat Debora sedikit berpikir. Tentu saja, Syena akan ikut bersama dengan mereka. Bagaimana pun, yang paling mengenal Rey adalah mereka.
"Tentu saja, dia akan ikut bersama kita. Dia akan tinggal bersama kita." Jawab Debora mantap.
"Menurutmu, apakah Syena akan mengingat segalanya?" Tanya Riley.
Debora yang sudah diberitahu segalanya oleh Noella pun tersenyum iba, lalu menggeleng.
"Tidak ada cara menghilangkan kutukan itu dari dala. matanya. Awalnya dia hanyalah manusia biasa, seseorang tanpa kemampuan sihir seperti kita. Namun karena adanya kutukan itu, itulah yang membuatnya mampu menggunakan kekuatan Baron putih dalam tubuhnya." Jelas Debora.
"Sebenarnya kutukan apa yang ada padanya?"
Mendengar Riley yang masih belum memahami sihir perasukan, Debora menghela nafasnya.
"Sebuah sihir perasuk dibentuk seperti lintah. Sihir itu dipaksa masuk kedalam matanya, akibatnya, lintah sihir itu bersemayam dalam matanya. Pola yang ada dekat dengan matanya, adalah lintah itu. Bagian dari Iblis masuk kedalam tubuhnya."
Riley mendengarkan itu dengan seksama. Ia ingin tau apa sebenarnya yang terjadi pada Syena.
"Indigo berkaitan dengan hal-hal ghaib. Dan itulah yang terjadi pada Syena saat ini. Mata normalnya, terkontaminasi oleh Iblis dalam lintah itu. Iblis itu hanya mampu digerakan oleh para petinggi Alaska. Namun jika saat ini kita membawanya, mereka tidak bisa melakukan pengendalian. Hanya dia yang memberi lintah itu pada matanya lah, yang mampu mengendalikannya." Jelas Debora, disana Riley teringat sesuatu.
"Guguk sialan itu!"
Jawaban itu membuat Debora mengangguk. Tebakan Riley benar, pengendali tubuh Syena yang tak mampu menolak segala perintah Alaska adalah ulah Barsh.
"Jika dia jauh dari Alaska, pengaruhnya akan hilang. Pengaruh pengendali maksudnya. Noella bilang minim rasanya bagi Syena mengingat segalanya, jika keberadaan lintah itu masih ada didalam matanya."
Ucapan itu membuat keduanya tersenyum iba. Namun Rey sudah berpesan padanya, untuk menjaga Syena dengan baik. Maka Debora akan melakukan itu sesuai dengan permintaan Rey.
...Luka akan membuat seseorang berubah...
...Cinta dimulai dengan senyuman, tumbuh dengan dekapan, dan seringkali berakhir dengan air mata...
...
...
________
Ensiklopedia :
Lubang hitam bermassa menengah adalah lubang hitam hipotetis yang memiliki massa antara seratus hingga beberapa ratus ribu kali massa matahari.
Lubang hitam semacam ini mungkin akan menjadi pusat bagi galaksi katai yang lebih kecil. Hingga saat ini belum diketahui pasti bagaimana mereka terbentuk, berbagai model teoritis dapat menjelaskannya, tetapi hingga saat ini tidak akurat.
Hingga saat ini, kemungkinan yang mendasar adalah mungkin terbentuk dari penggabungan dua lubang hitam.
__ADS_1
Gugus bola Mayall II yang mungkin merupakan kandidat yang menampung lubang hitam bermassa menengah di pusatnya.