Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Purnama Malam Ini


__ADS_3

...Yang lemah tidak punya hak atau pilihan...


...Satu-satunya takdir mereka hanyalah dihancurkan tanpa henti oleh yang kuat...


...Berlatihlah hingga melebihi batasmu!...



____________


Berbeda dengan Rey, dirinya masih terjaga malam ini. Rey memilih tidur dilantai lima markas mereka, ada banyak kamar disini. Biasanya Rey akan tidur bersama dua rekannya dalam satu ruangan, namun malam ini Purnama mungkin akan sedikit menenangkan hatinya. Kekosongan itu selalu menghinggapi hatinya tiap malam, Syena adalah alasan dari kekosongan itu.


"Tolong aku kakak!"


Samar-samar kalimat terakhir dari adiknya itu selalu menghantuinya. Perasaan muak akan dirinya sendiri selalu membalutnya, bodohnya, sungguh, itulah yang saat ini Rey rasakan. Sejenak Rey memperhatikan tangannya yang tadi terluka, itu sudah sembuh.


Rey beranjak dari atas ranjang, ia menuju ke arah balkon. Sepoian angin malam itu semakin sejuk menerpanya, langit malam bertabur bintang, purnama juga indah malam ini.



Dibalkonnya terdapat sebuah ayunan panjang, mungkin cukup untuk lima orang. Rey membiarkan tubuhnya duduk diatas ayunan itu, sejenak ia bersandar sambil menatap langit.


Besok adalah hari besar untuknya, ia harus mampu memenangkannya. Kualitas dirinya akan bertambah seiring berjalannya waktu, namun Rey ingin menyingkat itu semua. Ia ingin secepatnya masuk ke Alaska, ia ingin segera membawa Syena kembali. Mengingat itu semua rasanya Rey lelah, ia memejamkan matanya sejenak.


Dari dalam domainnya ia mengambil sesuatu, topi kupluk rajut milik Syena. Rey memakai topi itu, meletakkannya di atas kepalanya.


Lagi, dari dalam domainnya ia mengeluarkan Baronnya, memangkunya. Pedang yang saat ini bersamanya, pedang yang membuatnya terpilih sebagai anak yang disegani. Pedang yang akan membantunya mengembalikan dunia seperti semula.


"Ini sudah malam, kau tak tidur?"


Suara dari Baron membuat Rey tersenyum, sosok tua ini sejak kapan mempedulikannya.


"Kau, khawatir padaku?"


"Tidak, hanya saja jika staminamu masih rendah esok aku yang akan berkorban lagi untukmu."


"Bukankah aku sudah menerima perjanjiannya?"


"Hmmm... Baiklah aku mengerti, itu bukan suatu perjanjian Rey. Namun itu adalah syarat dan peraturan. Mereka yang meminta lebih banyak..."


"Ya aku sudah tau! Aku tetap akan melakukannya, tak apa! Pada dasarnya tujuan manusia disini sama, sama-sama menginginkan kedamaian dunia kembali!"


"Kau benar sekali! Lantas setelah kau mendapatkan itu semua, bagaimana dengan dia?"


"Aku akan bertanya padamu!"


"Apa itu?"


"Apakah menurutmu dia.."


Sebelum Rey menyelesaikan ucapannya, Baron dalam domainnya sudah tau. Dia yang Rey maksud adalah Debora, keduanya sama sebenarnya. Keduanya sama-sama tertarik.


"Hahahaha... Kau ini bodoh atau apa Rey? Sebelum kau menanyakan itu, aku akan menjawabnya. Iya, dia sangat mengagumimu."


Rey tercengang mendengar itu, mereka baru saja berkenalan tetapi mengapa perasaan muncul secepat ini.


"Sejak kapan itu?"


"Entahlah, aku bukan peramal Rey. Tapi aku bisa merasakan tiap perasaan manusia, perasaan miliknya adalah yang paling murni. Jadi, apakah kau akan menemuinya lalu mengatakan jika kau juga memiliki perasaan padanya?"

__ADS_1


Mendengar itu Rey menunduk, mengapa kenyataan seperih ini. Namun tak lama ia kembali tersenyum. Ada yang lebih penting daripada itu disini, hal yang genting harus diutamakan.


"Aku ada tekad yang lebih besar lagi daripada cinta!"


"Hah?"


"Itu adalah kedamaian dunia!"


Baron diam mendengar itu, benar, mungkin menyisihkan cinta disini sejenak itu perlu. Nyawa manusia sedang dalam bahaya, manusia sedang dalam ambang kepunahan.


"Aku harap kau pandai caranya menyatakan cinta setelah ini semua berakhir."


"Sekalipun Rey terlihat konyol didepan dunia, namun untuk satu gadis yang berani mengorbankan nyawanya demi dirinya. Demi apapun, Rey tidak akan melukainya ataupun membuatnya kecewa."


Baron dari dalam domainnya tersenyum mendengar itu. Perjanjian yang mereka lakukan hari itu, akan membawa dampak besar setelah ini. Bahkan Harith pun tidak akan mengetahui apa rencana Rey saat ini, hanya dirinya dan Baron. Dalam perjanjian, keduanya sudah saling terikat satu sama lain. Terikatnya mereka berdua membuat Baron terpaksa bungkam, dari Harith dan segala pertanyaannya nanti. Saat ini pemegang dirinya adalah Rey, Tuannya adalah Rey.


Dibawah, Debora berjalan gontai sambil menguap diantara keremangan ruangan. Ia berjalan ke arah dapur mengambil segelas air. Debora meneguk air itu sambil berjalan ke arah balkon, dari atas ketika dirinya memandangi langit tak sengaja Debora melihat cahaya terang dari atas balkon lantai lima. Siapa yang masih terjaga malam ini, mengapa ia tak tidur.


Penasaran akan hal itu, Debora pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Dengan hati-hati pada akhirnya Debora sampai juga diatas sana. Rupanya itu Rey, mengapa pemuda itu tak tidur malam ini bukankah esok adalah hari besar untuknya.


Perlahan Debora mulai mendekati Rey yang memunggunginya, sejenak ia berhenti memperhatikan Rey bersama pedang Baronnya. Rey sedang membersihkan Baron disana, dengan sehelai kain. Disana Debora tersenyum tak ingin mengganggu momen itu bersama Baronnya, Debora pun memilih kembali ke kamarnya.


"Debora.."



Suara itu mengurungkan niat Debora seketika, Rey tau keberadaannya. Disana Debora menoleh, terlihat Rey juga menatapnya keduanya tersenyum.


"Kau belum tidur?"


Keduanya bertanya serentak, bersamaan. Sontak mereka terkejut mendengar itu, mereka sama-sama tertawa setelahnya.


"Kemarilah!


"Kenapa kau masih terjaga Rey?"


Tanya Debora sembari menatap langit-langit, Rey menghela nafasnya mendengar itu.


Syuthhhhhhh


Rey menghilangkan Baronnya, membawanya masuk kembali dalam domainnya.



"Bagaimana ya, kekosongan dalam hatiku sering mengusikku tiap malam."


"Hmm... Tentang adikmu ya?"


"Iya."


Keduanya bicara tak saling menatap, keduanya bicara sambil menatap langit-langit.


"Rey, aku berdoa semoga kau selalu berhasil dalam tiap perjuanganmu."


Kalimat itu membuat Rey tersentuh, setelah suster Agarwa ternyata ada manusia lain yang mampu menghangatkan hatinya disini.


"Ini perjuangan kita semua, kita berlima!"


"Yang kuat harus membantu dan melindungi yang lemah. Kemudian yang lemah akan menjadi kuat, selanjutnya giliran mereka yang akan membantu dan melindungi yang lebih lemah dari mereka. Itu adalah hukum alam. Aku selalu kagum padamu, kau selalu tersenyum meskipun berat beban yang kau pikul itu besar."

__ADS_1


Sejenak Rey tertawa mendengar itu, sejujurnya itu adalah topeng. Barangkali kalian tau tiap malam, manusia ini selalu menangis sambil memeluk topi milik adiknya.


"Tidak peduli berapa banyak kau kehilangan seseorang, kau tidak punya pilihan lain selain terus hidup. Tidak peduli berapa dahsyatnya pukulan dunia menghantammu, teruslah maju ditengah gempuran itu!"


Debora mencoba memikirkan segala kenyataan pahit mungkin, jika keduanya bertemu lalu Syena telah tiada. Atau mungkin ketika mereka bertemu, Syena malah berada dipihak musuh lantas apa yang akan Rey lakukan padanya.


"Rey!"


"Iya?"


"Bagaimana jika pertemuan kalian dihadapkan pada kenyataan pahit?"


Pertanyaan itu membuat Rey diam sejenak, memang benar segala hal bisa saja terjadi disana. Namun bagaimana pun, Syena adalah satu-satunya keluarganya. Satu-satunya manusia yang selalu berada disamping Rey.


"Jangan berhenti! Lari! Kau harus melindungi Syena! Biarpun itu berarti ditebas olehnya disaat yang sama. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, kau harus membawanya."


Kali ini Baron ikut memberi semangat dalam domainnya, disana Rey memejamkan matanya terlihat jelas buliran air mata itu turun dari dalam kelopak matanya.


"Rey?"


Debora menyentuh bahu Rey kali ini, sepertinya pertanyaannya tadi cukup Emosional bagi Rey.


"Aku bersumpah kakakmu ini akan menyelamatkanmu apapun yang terjadi! Aku bisa melakukannya. Aku tau aku bisa melakukannya. Akulah orang yang akan menyelesaikannya, walaupun patah tulang atau tidak. Tidak peduli apa, aku bisa melakukannya! Aku bisa bertarung!Siapapun yang menyakiti adikku, aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja!"


Rey mengepalkan tangannya kuat, sambil menatap langit ada ambisi dalam dirinya, ada amarah dalam matanya. Air mata itu masih turun, rasanya Debora juga ikut merasakan betapa tersiksanya Rey selama ini sebenarnya. Perkataannya pada langit malam ini membuat hatinya bergetar, kagum dan iba itu menjadi satu rasanya. Tak lama Rey mengusap wajahnya, menghapus tiap air mata yang turun dari matanya.


Grepppp


Debora kembali menyentuh bahu Rey kali ini.


"Debora.."


Lirih Rey padanya namun tetap menunduk. Rasanya ia lelah sekali hari ini, biasanya ketika di panti asuhan saat Rey merasa sangat sakit dan hancur, satu-satunya obat yang mampu menenangkan dirinya adalah meletakkan kepalanya diatas pangkuan Susternya, Suster Agarwa, ia sangat merindukan momen itu.


"Aku lelah..."


"Mengapa kau tak tidur Rey?"


"Perihal hari ini, jangan katakan pada siapapun jika aku menangis ya!"


"Tentu saja tidak Rey!"


Greppp


Rey meraih tangan gadis itu meletakannya diatas kepalanya, Debora terkejut melihat itu. Sambil sedikit bersemu, Rey mengutarakan keinginannya.


"Bolehkah aku tidur dipangkuanmu malam ini? Aku membutuhkanmu."



Mendengar itu Debora tersenyum, Rey yang terpuruk membuatnya iba saat ini. Debora mengangguk, ia meraih kepala itu melatakannya diatas pangkuannya.


"Tidak peduli kemanapun Iblis itu pergi, Dia tidak akan bisa lolos! Aku akan mengikutinya sampai ke ujung Neraka dan aku bersumpah aku akan memotong kepalanya dengan pedangku! Aku tidak akan memaafkannya apapun yang terjadi!"


Amarah dalam hati Rey berujar, ia bersumpah demi apapun dengan kedua tangannya ia pasti akan mengembalikan lagi ketenangan dalam buminya. Malam bersama purnama, malam itu diatas pangkuan Debora sungguh hangat rasanya, tenang sekali, ini nyaman dan Rey tidak akan pernah melupakannya.


...Karena manusia bertindak atas keinginan hatinya...


...Hatinya pun akan terus bertambah kuat sekuat yang kau inginkan...

__ADS_1



____________


__ADS_2