Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Rensuar Champion (Opening)


__ADS_3

...Zona nyaman adalah musuh besar keberanian dan kepercayaan diri...



___________


.


.


"Movolous!"


Axcel menggerakan tangannya ke atas, muncul sebuah meriam diiringi dengan warna sihir hijau miliknya. Noella disana dibuat tercengang, untuk apakah meriam itu dibawa kemari jika Axcel menghentikan sihirnya mungkin yang tertimpa meriam itu bisa mati.


"Hei itu untuk apa, Headmaster?"


Lapu-lapu wanita berambut merah, atau yang akrab dipanggi Madam Geralda menghampiri Axcel.


"Madam Geralda, tentu saja ini untuk perayaan kita!"


"Lantas mengapa kau menggunakan meriam? Bukankah sihir bola api sudah cukup memeriahkan langit?"


"Itu sudah kuno, sekarang waktunya mencoba hal baru!"


Noella menggelengkan kepalanya mendengar itu, ia berjalan mendekati Axcel mereka berdiri berdampingan sambil netranya masih sama-sama mematri meriam melayang itu.


Sepertinya memang orang-orang bar-bar ditakdirkan hidup disekitarnya. Pertama Baron Putih, kedua Axcel ketiga adalah Rey.


Lapangan terbang masih kosong, para petinggi Rensuar mendahului siswanya datang kemari, mempersiapkan segala keperluan lomba.


Syutthhhhhh


Melalui mantra Leviousa-nya, Harith datang tepat melayang dibelakang mereka. Dirinya dari Istana Putih melesat kemari.


"Bagaimana Tuan dan Nyonya, apakah segalanya sudah siap?"


Mendengar suara yang familiar, tiga petinggi Rensuar berbalik menatap Harith yang melayang mendekati mereka.


"Itu untuk apa Axcel?"


Harith bertanya sambil jarinya menunjuk satu melayang di atas langit. Axcel merentangkan tangannya seraya tersenyum.


"Penyambutan!"


Sorak Axcel bahagia, Harith Hanya mengangguk tak ada yang akan ia cekal dari Axcel saat ini, lagi pula ini adalah hari bahagia.


"Kita akan membangun kubah sesuai yang sudah kita rancang."


Ujar Harith, ia memijakkan kakinya di atas tanah. Para petinggi paham apa yang Harith maksudkan, bersamaan dengan itu mereka mulai menggerakkan tangan mereka serentak, mengarah ke arah langit. Sambil tersenyum mereka bersamaan berucap.


"Vextoum Vaxxio!"


Glummmmmmm



Itu adalah mantra kesatuan. Sihir didalam Rensuar memiliki dua macam, pertama adalah sihir Abjad, kedua adalah sihir kesatuan. Dimana biasanya mantra kesatuan ini hanya digunakan untuk keperluan umum. Menghilang, terbang seperti apa yang dilakukan Harith, mantra pengunci masih banyak lagi.


Vaxxio adalah mantra pembentuk sekat atau kubah, kubah itu akan membentuk mengikuti apa yang ada dalam pikiran perapalnya. Cahaya-cahaya putih di atas langit mulai membentuk sebuah kubah menutup langit-langit lapangan yang terbuka, kubah itu berwarna emas.


Syutthhhhhh


Beberapa detik kemudian kubah emas itu sudah menutupi langit-langit. Sekali lagi, mereka menggerakan tangannya kali ini mereka akan membuat sebuah portal berbentuk persegi, dimana dalam portal itu seluruh penyihir akan menyaksikan, perlombaan pertama dalam Rensuar.


"Auluss Axxio!"


Darrrrrrr


Wushhhhh


Gemuruh petir langit turun masuk kedalam angin topan, kedua unsur itu menyatu, membentuk persegi. Sebuah portal berwarna hitam pekat tercipta di atas mereka, portal itu nantinya adalah sebuah penghubung untuk memantau seluruh pergerakan peserta dalam perlombaan.


"Akhirnya, waktunya menyaksikan perlombaan!"


Axcel menghela nafas ketika seluruh persiapan telah usai. Tak jauh dari sana, ramai suara musik mulai mendekat menuju kemari. Mungkin beberapa menit lagi para peserta dan penonton akan memasuki lapangan ini.


"Mereka sudah datang! Mari kita mulai!"


Ujar Harith, bagaikan mendengar aba-aba mereka para petinggi bersila, melayang. Satu persatu dari mereka menghilang, yang tersisa disana adalah lapangan kosong, sebuah meriam melayang, juga sebuah portal berwarna hitam pekat.


Sebelum Harith menghilang mengikuti mereka, Harith membuka telapak tangannya mengeluarkan satu piala emas yang bersinar. Piala itu ia arahkan ke atas ditengah-tengah lapangan, bagaikan sebuah lampu, piala itu adalah icon dari acara ini. Tanda kemenangan bagi siapa saja yang berhasil nantinya.



____________


Dentuman dari drum menggema mengiringi para penyihir, berbondong-bondong ke arah Rensuar. Mereka berjalan diatas jembatan batu dengan wajah yang berseri-seri. Dunia yang kejam ini terkadang perlu sedikit hiburan, sebagai sebuah reward Harith menyelenggarakan acara ini.


Penyihir yang rela mati demi buminya, sejenak biarkan mereka tertawa bahagia apa salahnya. Dunia sudah suram, tak ada salahnya menciptakan kebahagiaan, walau hanya sesaat.



Debora yang masih berada dalam Rensuar, dari atas sana melipat tangannya, memperhatikan rombongan manusia dibawah sana.


Berbekal drum dan terompet, hanya dua alat itu yang mereka bawa kemari. Tanpa adanya Mich atau pengeras suara yang mereka pakai, sihir gema mereka manfaatkan disini. Selain untuk media komunikasi skala besar, sihir gema juga cukup efisien untuk memperkeras musik tanpa adanya Mich.


Mereka tak memainkannya secara fisik, namun alat musik itu bertebangan diatas kepala mereka, sihir-sihir merekalah yang memainkan itu. Alunan musik itu sudah diatur, sesuai dengan nada-nada yang mereka pikirkan. Ada banyak keuntungan dalam sihir, namun ada pula resikonya. Dimana ada kekurangan disitu ada kelebihan juga bukan, Tuhan selalu membuat segalanya berpasangan, melengkapi, komplementer.


Ini sudah tepat pukul tiga, ajang perlombaan pertama yang diadakan Harith akan segera dimulai. Atas kesepakatan para petinggi acara itu diberi nama Rensuar Champion. Piala pertama yang akan menghiasi asrama mereka, jika mereka keluar sebagai pemenang nanti.


Sembari iringan musik masih dimainkan, para penyihir Rensuar juga menghiasi langit sore itu menggunakan sihirnya. Warna-warni mantra mereka yang berbeda, mereka arahkan ke arah langit.

__ADS_1


Hasilnya beragam warna itu membentuk sebuah pelangi, indah sekali.


Rombongan pertama adalah divisi Crusher, digaris terdepan mereka, sepuluh ksatria terbaik berjajar, berjalan dengan gagah diiringi tiap sorakan semangat yang kawanannya lontarkan.


Rombongan kedua adalah divisi pertahanan, Fortressia, rombongan mereka terlihat sedikit namun sebenarnya jumlah mereka pun sama dengan yang lain. Setengah dari mereka sedang bertugas, menjaga benteng, yang kemari adalah mereka para peserta.


Rombongan Ketiga adalah divisi pengintai kota, Scouting Legion, barangkali ada Iblis yang masuk kemari sudah tugas mereka untuk menangkap juga memusnahkan mereka.


Rey berada di barisan paling depan, divisi Crusher. Divisi Crusher, Asrama Elang Putih, adalah para ksatria yang nantinya akan ditakdirkan ikut serta dalam satu misi besar, misi yang tiap taruhannya di tingkatan lima nanti adalah nyawa. Pada tingkatan keempat tugas Crusher adalah keluar benteng, mereka akan menyelidiki area luar Alaska.


"Yeayyyyyy! Kita akan menang!!!"


Rey bersorak seraya mengangkat tangannya, Kebahagiaan melekat jelas di wajahnya. Dadanya dipenuhi ambisi, tak sabar rasanya ingin segera melesat ke arena.



"Lakukan yang terbaik Rey! Kita rekan saat ini!"


Ujar Dion yang berada tepat disamping Rey.


"Rey selalu melakukan yang terbaik, kau tenang saja!"


Ujar Rey penuh ambisi bersemangat kedua bola matanya memancarkan tekad yang kuat.


Sekitar dua puluh menit mereka berjalan, tibalah mereka tepat dihadapan gerbang area terbang, mereka berdiri tepat diatas jembatan, dibawahnya ada sebuah danau. Sebelum menuju ke podium penonton.


Grepppp


Riley meletakkan camilannya tepat didada Justice, spontan Justice merengkuh camilan itu agar tak jatuh. Bersamaan dengan itu Riley berlari, menerobos barisan manusia didepannya. Ketika tubuhnya sampai tepat dibelakang Rey, Riley menepuk bahunya.


"Ada apa Riley?"


Rey bertanya sambil berbalik menatap Riley yang masih terengah-engah. Sambil menggelengkan kepalanya Riley tersenyum, lalu memeluknya.


"Selamat berjuang, kau harus kembali!"


"Aku pasti kembali, ini hanya perlombaan kau tenang saja!"


Ujar Rey mencoba menenangkan Riley. Justice beserta Mikhail juga ikut menghampiri Rey. Teringat sesuatu Justice pun berucap pada Rey.


"Ingat, kau harus menang! Jangan kecewakan ramuan Brolavor yang kita upayakan!"


Kalimat dari Justice itu membuat Rey membulatkan matanya begitupun dengan Mikhail. Bagaimana mungkin buku yang diberikannya disalah gunakan rupanya.



Rey melepas pelukan Riley perlahan, lalu menatap ke arah Justice, mereka berdua saling berseringai. Justice membuka telapak tangannya.


Syungggggggg



"Hei, aku tanpa botol itupun mampu masuk kemari!"


Ujar Rey tak terima, geram rasanya mendengar itu sungguh, Justice mencengkram kerah baju Rey seketika.


"Bocah, kau sombong sekali!"



Pekik Justice padanya, sepertinya sebuah perdebatan kecil akan mereka mulai lagi. Dion mencoba melerai keduanya, namun Rey malah mendorongnya membuatnya ikut tersulut emosi.


"Hah! Rey kau mendorongku beraninya kau!"


Ujar Dion murka, Rey dan Justice masih bersikukuh dengan perdebatannya. Debora yang baru saja bergabung dalam rombongan itu, ia menghela nafas ketika melihat pemandangan itu didepannya. Sudah biasa rasanya melihat pertengkaran konyol ini. Sambil mengunyah permen dalam mulutnya, Debora mulai merapal mantranya, mengirim sulur cahayanya.



"Hah!"


Keduanya memekik ketika tubuh mereka terlilit sulur itu. Tak segan-segan untuk menghentikan mereka, Debora mengarahkan sulur-sulurnya keluar dari area jembatan dimana dibawah jembatan itu adalah sebuah danau.


"Perlombaan akan segera dimulai, daripada kau babak belur disini lebih baik ku ceburkan saja kau kebawah! Lebih baik mandi lagi daripada terluka bukan?"


Ucap Debora, Rey dan Justice berontak mencoba melepaskan sulur-sulur itu namun nyatanya semakin mereka berontak, sulur itu semakin kuat melilitnya.


Riley tersenyum melihat apa yang dilakukan Debora, sedangkan Mikhail menatap itu dengan tatapan ngeri. Sekalipun Debora lembut, tapi ada juga sisi kasarnya, sepertinya dia gadis dalam timnya ini orang-orang berbahaya, Riley yang liar, Debora yang liar, keduanya sama-sama liar.


Berbeda dengan Dion, bagaikan bertemu seorang bidadari netranya sama sekali tak berkedip dari Debora. Beberapa bulan lalu mereka memang bertemu, hanya sekedar menuntun mereka untuk mengikuti seleksi. Namun siapa sangka perubahan secepat ini, gadis ini semakin cantik saja tiap harinya.


"Turunkan kami Debora!"


Justice memekik kali ini, mereka berdua masih berontak.


"Awhhhhh!!!"


Teriak keduanya tatkala sulur itu semakin erat melilit mereka.


Brukkkkkkk


Debora menjatuhkan begitu saja keduanya di atas tanah. Suara tawa dari orang-orang membuat Rey kesal sungguh, apa-apaan itu? Rey baru saja mendapat sanjungan, sekarang ditertawakan. Mereka berdua berdiri, membersihkan baju mereka.


"Debo, kau..."


Grepppp



Belum sempat Rey mengoceh, Debora menabrak tubuh Rey memeluknya. Rey terkejut melihat itu, disitu ia diam mematung, pelukan ini berbeda dari pelukan Riley padanya. Gadis ini seakan memberi energi lain pada Rey saat ini.


"Selamat berjuang Rey! Semoga kau selamat, kembalilah!"

__ADS_1


Ujarnya pelan, tutur kata itu menghangatkan hatinya. Belum sempat Rey membalas pelukan itu, Debora sudah melepaskannya.


"Mari pergi! Kita menangkan piala pertama ini, untuk menghiasi Asrama Elang Putih!"


Ujar Debora, Dion gelap mata rasanya melihat momen didepannya itu, cemburu rasanya. Namun mendengar Debora menyerukan perihal piala dan kemenangan itu membakar semangatnya kembali. Mereka bersorak ria, mulai berjalan lagi masuk kedalam lapangan terbang.



Satu piala ditengah lapangan melayang, piala itu bercahaya. Dibawah piala itu bertuliskan Rensuar Champion.


Ajang perlombaan pertama yang Harith selenggarakan akan segera dimulai. Tiga puluh peserta dari ketiga divisi Rensuar, masing-masing dari mereka sudah ada ditengah lapangan. Sedang para penonton mulai berjalan ke arah podium, duduk disana.


"Kemana si cebol itu?"



Gerutu Rey, netranya mencari-cari keberadaan Harith disana. Lapangan ini sepi tak ada siapapun kecuali piala melayang, juga meriam melayang. Hening, sunyi, tenang dan damai.


"Kau bilang cebol pada siapa Rey?"


Dion yang berada disampingnya bertanya perihal si cebol yang Rey maksud.


"Tentu saja Harith!"


Mendengar itu sembilan seniornya termasuk Dion dibuat terkejut. Berani sekali bocah ini menghina Kaisar Putih.


Wushhhhhhhhhh


Wushhhhhhhhhh


Suara angin topan muncul di atas mereka, angin itu diiringi petir dan cahaya didalamnya.


"Apa itu?"


Dion mengangkat bahunya tak tau, sementara netra mereka memperhatikan serius angin topan itu. Cahaya didalam topan itu semakin membesar, dan membesar.


Dummmmmmm


"Selamat datang di Ajang perlombaan sihir pertama, para Musketeers!"


Suara sambutan itu berasal dari Axcel yang keluar dari dalam topan itu.


Clingggggg


Clingggggg


Clingggggg


Ketiga petinggi datang tiba-tiba, mereka berada tepat dibelakang Axcel, melayang.


"Ajang perlombaan akan segera kami mulai, sedikit penjelasan mengenai perlombaan ini. Dimana perlombaan ini akan dibagi menjadi tiga sesi. Sesi Pertama, Simulasi Alaska, itu adalah tempat latihan para Musketeers tingkat lima. Kalian akan memasuki hutan Alaska, dengan Iblis sungguhan disana. Bagi siapa saja yang mampu bertahan hidup, siapa saja yang mampu membunuh seratus iblis disana dalam waktu tiga jam, mereka akan dinyatakan lolos."


Penjelasan itu sedikit memberi kengerian bagi para peserta, namun tidak dengan Rey ia masih memperhatikan tiap apa yang Axcel katakan.


"Kedua adalah pertandingan bertahan hidup selama sepuluh hari, dalam hutan berbentuk labirin. Disana tanpa makanan juga minuman para penyihir akan ditempa untuk menemukan sembilan pecahan emblem Rensuar, yang disebar di tempat yang berbeda. Mereka yang berhasil menemukan salah satu emblem itu otomatis akan tertarik kembali, ke lapangan terbang ini. Dan yang ketiga..."


Ketika perlombaan ketiga akan diumumkan Debora memperhatikan Rey, sesi terakhir ini mungkin bagian terberat nantinya. Rey tak mampu melihat rekannya terluka, Debora yakin Rey pasti akan melindungi rekannya sekuat tenaga. Jika kekuatannya tak memadai mungkin kejadian yang sama itu akan terulang lagi.


"Ketiga, adalah Garena Rensuar. Pertandingan ini akan diselenggarakan besok, para pemenang sesi kedua akan dibiarkan beristirahat untuk memulihkan tenaga, juga mana mereka. Pemenang sesi kedua akan dipertemukan dalam pertarungan besar, Garena Rensuar Putih."


Rey mengepalkan tangannya kuat, ambisi besar itu menyelimuti dirinya.


"Mari kita mulai!"


Bommmm


Bommmmm


Bommmmm


Axcel menepuk tangannya, suara meriam melayang itu diledakkan tiga kali. Setelah itu Axcel kembali berdiri disamping Harith, keempat petinggi Rensuar itu berdiri tepat diatas udara.


"Selamat berjuang, Musketeers!"


Ujar mereka berempat bersamaan menyatukan sihir mereka, membuka sebuah portal. Portal itu muncul tepat dibelakang para peserta, mereka berbalik memperhatikan portal yang terbuka.



Drttttttttttt


Drttttttttttt


"Mari menangkan pertandingan ini, Dion!"


Rey yang bersemangat pun berlari masuk kedalam portal gelap itu, melihat semangat yang berapi-api itu Dion bersama dengan sembilan rekannya mengekori Rey mereka bersamaan masuk kedalam portal itu dan menghilang. Hilangnya mereka serentak, membuat satu portal hitam di atas mereka memperlihatkan dimanakah mereka dibawa pergi sekarang.


...Seseorang harus pindah dari zona nyamannya untuk menantang dirinya sendiri...


...Lakukan satu hal setiap hari yang membuatmu takut...



__________


Ensiklopedia :


KY Cygni adalah bintang Superraksasa merah dari kelas spektrum M3.5la yang terletak di rasi bintang Cygnus. KY Cygni merupakan salah satu bintang terbesar dan paling bercahaya yang pernah diketahui, dengan luminositas sekitar 300.000 kali lebih dari matahari dengan radius 1.000 kali ruas jari jari matahari.



__ADS_1


__ADS_2