
Pertanyaan itu berulang kali Noella dengarkan. Tiap pagi, ketika ia sibuk memberi Debora obat, Rey yang baru saja datang akan selalu bertanya,
"Noella, kapankah aku bisa membawa Debora pulang?" tanya Rey kepadanya.
Entah sudah berapa ratus kali rungunya mendengar pertanyaan itu. Sedangkan Debora, yang duduk sambil bersandar memperhatikan Rey. Pemuda itu saat ini berdiri di belakang Noella, sambil memperhatikan kegiatannya.
"Noella, apa kau mendengarku? Jawablah!" ujar Rey lagi.
Kemudian hal itu membuat Noella sedikit kesal rasanya. Ketika Noella menghela nafas Debora pun terkekeh, sebelum Noella menjelaskan kepada Rey di sana Debora lebih dulu berucap,
"Rey, aku akan pulang secepatnya!" jawab Debora kepadanya.
"Bagus, kau harus pulang! Sebab aku merindukanmu!" ujarnya frontal dan spontan, mengakibatkan Debora sedikit bersemu rasanya.
"Bawalah dia pulang hari ini, kondisinya sudah cukup baik!" jelas Noella kepada Rey.
Seulas senyum terbit di wajahnya tatkala Noella mengatakan itu. Sungguh ia bahagia, sangat bahagia. Sebab Riley mengatakan bahwa di kota akan ada satu festival cukup terkenal di Jepang. Mereka sedang menempati area timur bukan. Warga cina, warga Jepang menjadi satu padu dalam satu tanah.
Budaya mereka, kebiasaan mereka juga akan tetap terjadi. Noella memasukkan beberapa peralatannya ke dalam domain. Lalu ia berbalik ke arah Rey yang berada tepat di belakang tubuhnya.
"Bahagia sekali wajahmu itu!" sindir Noella kepada Rey yang masih tersenyum.
"Mengapa tidak, rekanku sudah diperbolehkan pulang! Itulah mengapa aku turut bahagia di sini." jawab Rey apa adanya kepada Noella.
Noella memperhatikan raut wajah Rey. Kemudian ia tersenyum lalu menunduk, sedikit ingatan perihal Harith terlintas begitu saja.
Noella menyentuh dadanya sejenak, ia rindu. Namun takdir pasti akan mengembalikan Harith kembali padanya, Noella yakin itu.
"Nikmati waktu kalian berdua, selagi masih mampu saling tatap muka seperti ini, Rey!" ujar Noella tepat di hadapan Rey.
Ada kesedihan setelah kalimat itu terucap. Jelas sekali, kesedihan itu tersirat sangat jelas dalam wajah Noella. Rey paham, Noella pasti sedang merindukan Harith.
"Aku akan membawanya pulang, aku janji itu, Noella!" Rey berucap ketika Noella berjalan mendekati pintu keluar.
Mendengar itu, Noella berhenti masih membelakangi Rey dan Debora di sana. Tangan kanannya membuka pintu keluar, kemudian ia tersenyum dan keluar dari dalam sana. Meninggalkan sepasang kekasih itu berdua di ruang itu.
"Debora!" panggil Rey kepada Debora yang duduk di atas ranjang.
__ADS_1
Rey berbalik menatap tepat ke arah Debora, menghampirinya. Sedangkan Debora yang di hampiri hanya mampu menatap juga memperhatikan Rey yang semakin mendekat padanya.
Pemuda itu kemudian berhenti, duduk manis di sisi ranjang Debora.
"Apa?" tanya Debora kepadanya. Rey hanya menggeleng pelan, tangan kanannya meraih salah satu tangan Debora, menggenggamnya.
"Aku ingin mengajakmu keluar malam nanti!" ujar Rey kepadanya.
Debora mengernyitkan keningnya, mendadak sekali menurutnya. Ada acara apa nanti malam sampai Rey ingin sekali mengajaknya keluar.
"Kucing putih, Riley bilang akan ada acara khas Jepang katanya. Aku ingin, melihat dirimu memakai kimono. Semalam aku melihat milik Riley, ia memakai itu memakannya di hadapan kami. Itu indah sangat indah, aku ingin melihatmu memakainya. Aku akan membelinya untukmu!" ujar Rey bercerita perihal apa yang terjadi di markas mereka.
Debora menganggukkan kepalanya mendengar apa yang Rey katakan. Sepertinya itu adalah hal yang menarik buatnya. Hatinya sedikit tergiur, walau ia tak tau acara apa itu sebenarnya.
"Kita hidup di wilayah timur! Ada banyak budaya di sini, random. Kurasa tak apa jika kita mengikutinya!" jawab Debora kepadanya.
Rey tersenyum, sejenak Rey mendekatkan tangan yang ia genggam ke arah wajahnya menciumnya lembut. Lalu tatapannya kembali beralih ke arah Debora.
Jelas saja, diperlakukan demikian oleh pemuda yang teramat sangat ia cintai membuat debaran jantungnya tak karuan.
Tak mampu rasanya bagi Debora, menatap lama mata itu. Debora pun memilih berpaling ke arah lain, membiarkan Rey tetap menatapnya. Membiarkan genggaman tangan itu tetap di sana.
Debora mengangguk menanggapi itu, kembali netranya memperhatikan Rey yang tersenyum kepadanya. Lihatlah, betapa hangatnya senyuman itu menembus masuk membelai hatinya rasanya.
Lagi, Rey mendekat ke arah Debora ia menunduk kemudian. Mencium lembut keningnya singkat lalu mundur.
"Aku akan kembali nanti sore! Akan kubawa kau pulang ke markas, lalu kita akan pergi ke kota. Istirahatlah yang cukup, Debora!" tutur Rey kepadanya.
Debora mengangguk, setelah itu Rey melambaikan tangannya perlahan pergi dari ruangan itu. Ketika tak ada siapapun di sana, Debora pun memilih untuk terlelap.
Sejujurnya hatinya tak sabar menanti malam. Di mana dirinya bersama Rey akan menikmati keramaian kota kembali. Status hubungan keduanya memang mengambang, namun nyatanya keduanya masih mampu bahagia satu sama lain walau begitu.
_________
Mikhail bersama dengan Syena sedang berada di dalam ruang ramuan. Hari ini adalah ujian ramuan bagi para pendatang baru. Syena bersama dengan Mikhail adalah dia orang cerdas ahli ramuan.
Keduanya diminta oleh madam Geralda untuk menilai juga menjaga ujian ini. Syena berkeliling di antara meja satu hingga meja lainnya. Para Muskeeters baru sedang sibuk meraciknya.
__ADS_1
Tak hanya dirinya, Mikhail pun juga begitu. Ketika bunyi jam kesepakan mulai menggema, para Muskeeters pun mengangkat kedua tangannya.
"Baiklah, ujian sudah selesai! Kami akan berkeliling menilai hasil racikan ramuan kalian!" jelas Mikhail kepada mereka.
Mikhail dan Syena beralih ke depan. Para Muskeeters baru masih berdiri di hadapan meja mereka masing-masing. Tak lama keduanya mulai berkeliling dari meja ke meja, menilai kualitas ramuan.
Satu persatu mereka nilai, sampai pada meja terakhir. Setelah kegiatan itu memakan cukup banyak waktu, pada akhirnya yang mampu menguasai racikan secara benar hanya ada lima orang.
Sedangkan dua puluh orang lainnya mendapat nilai di bawah rata-rata. Kelas selesai meninggalkan Syena dan Mikhail berdua disana. Keduanya membereskan hasil dari ujian itu.
Mengosongkan kembali botol-botol ramuan, menggunakan sihir lalu menatapnya rapi ke dalam rak.
"Brolavor kita di markas habis! Kakak tidak ingin menyetoknya?" tanya Syena kepada Mikhail.
Tangannya masih sibuk menggerakkan beberapa botol yang masih berada di atas meja. Tak jauh dari sana, Mikhail pun tersenyum.
"Boleh, aku akan menyetoknya, besok!" jawab Mikhail kepadanya.
"Baiklah, ada yang bisa kubantu lagi?" tanya Syena menghadap ke arah Mikhail.
Sejenak Mikhail berpikir, sepertinya tidak ada yang perlu dibantu lagi. Mikhail menggelengkan kepalanya kepada Syena, di situ Syena hanya mengangguk lalu pergi dari sana. Sebelum Syena pergi, Mikhail menahannya.
"Ada apa, kakak?" tanya Syena kepadanya.
Syena yang berbalik menatapnya itu membuat Mikhail tersenyum. Entah mengapa senyuman itu hari ini berbeda. Syena merasakannya, merasakan sesuatu yang hangat sedang menyelimuti hatinya.
"Syena, aku ingin mengajakmu ke kota malam ini! Apakah kau mau?" tanya Mikhail kepada Syena sambil tersenyum.
"Emmmhh... Ya, aku akan ajak Aum dulu..."
"Jangan!!!" rengek Mikhail tiba-tiba ketika Syena akan mengajak Aum.
"Kenapa?" tanya Syena kepadanya dengan wajah polosnya.
Sungguh Mikhail harus sabar menghadapi bocah ini. Syena lebih muda darinya, dan dia belum sepenuhnya mengerti kan perihal perasaan.
"Aku ingin kita pergi berdua, sudah itu saja! Apakah boleh?" tanya Mikhail lagi kepadanya.
__ADS_1
Melihat itu, Syena berpikir sejenak lalu mengangguk menyetujui apa yang Mikhail inginkan. Melihat itu Mikhail pun tersenyum puas. Lega rasanya sungguh. Syena berpamitan kepada Mikhail untuk keluar, hal itu membuat Mikhail mengangguk menyetujuinya. Syena pun pergi dari sana.