Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Pertemuan dan Kematian


__ADS_3

...Kalau kau dikalahkan oleh kelemahan dan ketakutanmu sendiri...


...Nyalakan api di hatimu, gertakan gigimu dan terus maju!...



___________


Bruakkkkkkk


Crashhhhhhhh


Suara pertempuran mereka menggelora, banyak iblis rendahan mulai datang membantu. Dentingan pertemuan pedang Rey beradu kuat, Verozi berungkali menangkis serangan yang Rey berikan padanya. Baron ini kekuatannya besar, Verozi hampir dibuat kewalahan mengatasi tiap serangannya.


Harith tak jauh dari Rey, juga bertarung dengan Barsh dan Syena. Dua sosok itu menggempur Harith terus menerus. Barsh dibuat takjub akan kemampuan Harith, sihir ilusi lima pedang semesta miliknya membakar hampir separuh hutan Alaska.


Verozi dan Barsh sengaja menggiring Rey mundur kebelakang, mereka akan membawa mereka ke sebuah tempat, tempat yang akan menguntungkan mereka.


"Mati kau, Bedebah?" Pekik Verozi, sebuah sihir hitam datang mengarah ke arah Rey.


Clashhhhhhhh


Rey menangkis kekuatan sihir itu menggunakan pedangnya, aliran sihir listrik dalam diri Baron mencoba menahan serangan itu.


Akibatnya, Rey terhempas ke belakang bersama dengan Harith disampingnya. Mereka dibuat terkejut ketika kaki mereka menabrak sesuatu, sejenak Rey menatap kebawah.



Betapa terkejutnya netranya menemukan ribuan mayat tergeletak disini. Ini seperti tempat pembuangan mayat. Hamparan luas ini, adalah tempat Iblis membuang hasil santapannya.


"Keji sekali kalian!" Ujar Rey seraya menatap mereka bertiga tajam.


"Lihatlah betapa lemahnya manusia! Mereka berakhir tragis dibawah kaki kami, sekarang, kau disini? Betapa beraninya kau menginjakkan kaki kemari, menemui kematianmu?" Ujar Verozi.


"Kelak kau pun akan mati serendah ini dibawah kaki kami!" Tambanya lagi.


Ucapan dari Verozi membuat Rey berseringai, ambisi untuk membunuh Iblis bejat dihadapannya itu semakin memuncak.


Bersama dengan Baronnya, Rey mulai mengalirkan lagi sihirnya kedalam pedangnya, perpaduan antara kekuatannya dan Baron dijadikan satu disana. Rey mengarahkan ujung pedangnya tepat ke arah Verozi.


"Dengarkan aku nyamuk sialan, kau tidak akan pernah mampu menghabisi diriku jika kau hanya mampu mengoceh! Mungkin masih membutuhkan seribu langkah untuk bisa mencapai posisi lebih tinggi bagiku. Itulah mengapa aku, Rey Arlert tidak akan pernah berhenti melangkah!"


Tiap ucapan yang Rey ucapkan membawa amarah semakin menumpuk dalam diri Verozi. Barsh yang geram mendorong tubuh Syena kedepan, Syena yang tau apa maksudnya pun melaksanakan tugasnya.



Syena bersimpuh, tangannya terulur menyentuh tubuh salah satu mayat disana. Ada yang aneh disini, baik Rey dan Harith mereka sama sekali tak merasakan aura kelam dari dalam tubuh Syena. Sekilas Harith dan Rey saling bertatapan, disana Rey mengucapkan sesuatu.


"Dia manusia?"


Lirih Rey, Harith mengangguk cepat. Netranya kembali menatap kedepan, barangkali serangan balasan akan berlanjut mereka sudah siap.


"Kalian masuk untuk bunuh diri! Maka akan ku bantu kalian menemui ajal lebih cepat, sepertinya santapan leonin juga cukup nikmat!" Ujar Barsh sambil melirik ke arah Harith.


"Kalau kau menggunakan taringmu pada orang-orang yang tidak berdosa, pedang cahaya Rey ini akan membakar hingga tulang-tulangmu!"


Kedua iblis dihadapannya tertawa mendengar itu, ucapan Harith konyol menurutnya. Tak ingin tersulut emosi, Harith dan Rey lebih memilih fokus mencoba menerka-nerka pergerakan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Aveus Assiros!"


Grekkkkkkkkk



Syena merapalkan mantranya, membangkitkan ribuan orang mati disana. Benang-benang cahaya menyatu dalam jarinya, Rey membulatkan matanya melihat ribuan pasukan mayat yang berdiri mengepung dirinya dan Harith.


Sihir pembangkitan semacam ini sama sekali belum pernah mereka saksikan, bocah bertudung itu ilmunya lebih tinggi rupanya.


Syena mundur ke arah pepohonan setelah melakukan itu, dari atas sana jari jemarinya mulai bergerak. Syena mengendalikan tumpukan mayat itu menggunakan benang yang terhubung antara dirinya pada mayat disana.


Keterkejutan itu membuat Barsh dan Verozi tersenyum. Bersamaan dengan itu, Verozi dan Barsh mulai menyerang mereka begitupun dengan Syena diatas sana. Ketiga serangan serentak melesat ke arah Rey dan Harith.


"Mati kau!" Ucap Barsh dan Verozi serentak.


Clashhhhhhhh


Pertarungan kali ini cukup sengit, cukup membuat kedua ikon tangguh dalam Rensuar kewalahan. Tiga serangan sekaligus mereka lawan, tak ada jeda disana keduanya sama-sama ingin meraih kemenangan. Keduanya sama-sama mendominasi disini.


Rey memperhatikan serangan Verozi, kelelawar sialan ini menyerang menggunakan sayapnya berulang kali. Tiap kali serangan pedang datang ke arahnya, Verozi selalu melindungi bagian tubuhnya dengan sayapnya.



Sayap-sayap itu seakan seperti sebuah perisai, pedang Baron, juga sihir tak mampu menembusnya. Namun sejak tadi benang kesempatan sudah terlihat, Rey tau kelemahan Iblis hina ini. Area leher itu harus dipenggal.


Rey memilih mundur sejenak, begitupun dengan Harith. Kali ini ada sebuah taktik yang akan Rey mainkan. Taktik yang dalam sekejap muncul dalam kepalanya. Rey yakin serangan ini akan berhasil.


Jika serangan dilakukan didaratan, Rey tidak mungkin mampu menembus tubuh kelelawar laknat itu menggunakan pedangnya.


Namun jika ia bertarung diatas udara, kedua sayap sialan itu pasti akan sibuk terbang. Akan minim sekali perlindungan diri yang ia lakukan dengan sayapnya. Rey kembali memasukan Baron dalam domainnya, ini akan jadi serangan fatal untuk Verozi.


"Kau akan apa Rey?" Harith heran melihat Rey tanpa senjata.


"Apa kau akan menyerah?"


Tanya Verozi jauh disana sambil menatap lekat bola mata Rey. Rey hanya berseringai menanggapi itu, ia menunjukkan raut wajah mengesalkan miliknya.


"Setan pedofil, diam kau!"


Cacian dari Rey membuatnya semakin murka, betapa beraninya bocah itu menghina salah satu petinggi Silver Alaska.



Geram sejak tadi mendengar ocehan Rey, emosi Verozi mulai tersulut Iblis hina itu berjalan santai mendekati Rey.

__ADS_1


Tangannya sejak tadi gatal ingin segera mencabik-cabik tubuh Rey, sungguh. Diantara barisan mayat itu, Verozi memusatkan sihirnya tepat pada cakar-cakarnya.


"Lima pedang semesta, kemampuan yang Harith tunjukkan padaku apakah bisa ku kuasai saat ini?"


Melalui telepati, Rey mencoba berkompromi dengan Baron miliknya. Pria tua itu masih menatap Rey lekat dalam domainnya.


"Kegilaanmu tak terbendung Arlert! Kau memahami konsekuensi pada perjanjian yang kau ambil, mengapa kau ingin melakukannya? Fanamu akan memakanmu lebih cepat daripada sebelumnya!"


"Untuk mendapatkan sesuatu, kau harus rela mengorbankan sesuatu yang lain."


"Mengesankan, kau hendak meminta kekuatan melebihi kapasitasmu lagi?"


Dari dalam domain Rey mencoba meyakinkan Baron, mananya tidak akan cukup mampu melawan tiga serangan mereka. Rey juga manusia, energinya juga bisa terkuras. Tubuhnya membutuhkan kombinasi bersama kekuatan Baron saat ini.


Pertarungan antara dirinya dan Harith sebelum ini membuatnya terpukau. Sihir lima pedang semesta itu pasti berguna disini, itulah mengapa Rey ingin Baron membantunya lagi kali ini.


"Untuk menghilangkan penyesalan mereka yang terbunuh, untuk menghentikan lebih banyak korban yang muncuk, Aku akan tanpa henti menggunakan pedangku melawan Iblis dan itu adalah faktanya. Maka serakanlah apa yang ku minta, dan bantu aku! Dunia butuh penanganan cepat!"


Usai pembicaraan dari dalam domain, kilatan petir berada dibelakang punggung Rey sekarang. Kilatan itu sekejap, mengubah Rey bak seorang dewa petir.


Rangkaian cabang petir itu membentuk sepasang sayap. Verozi menghentikan langkahnya, ia terhenyak, aura Rey sekejap berubah.



Lima pedang dari balik tubuhnya berterbangan. Rey hanya memiliki satu pedang dalam tubuhnya, tapi Baron menyimpan banyak pedang dalam domainnya.


Pedang yang disimpan adalah pedang biasa, pedang seperti milik rekannya, sebuah pedang tak istimewa tanpa pemikiran sendiri tak sama seperti Baron.


Namun pedang-pedang itu berasal dari tempaan Lapu-lapu, hanya pedang dari tangan merekalah yang mampu meleburkan Iblis-iblis laknat ini.


"Autrom, Abyass!"


Krasssssssssss


Darrrrrrrrr


Jutaan petir itu sekejap mengiringi melesatnya lima pedang dari balik tubuhnya, lima pedang itu menyapu bersih para mayat yang dikendalikan. Syena dari atas dahan terbatuk seketika, mana miliknya disapu bersih oleh kekuatan itu. Ini sudah melebihi batas kemampuannya.



Batuk darah itu tak mau berhenti, Rey yang menggila melesat ke arah Verozi. Peraduan fisik itupun terjadi, Barsh yang geram melihat rekannya terpojok hendak membantunya namun Harith secepat kilat menghalaunya.


Clashhhhhh


"Kau akan kemana hah? Lawanmu disini, jangan jadi pengecut dan menghindar!" Ucap Harith, peraduan senjata mereka bertemu begitupun dengan tatapan mereka.


"Serangga kecil, sialan kau!" Geram Barsh.


Mereka berdua sama-sama terpojok sekarang. Tanpa ada campur tangan Syena disana, kekuatan mereka masih belum cukup mampu menandingi Rey dan Harith.


"Autrom Abyas!" Rey mengarahkan kedua tangannya ke arah langit.


Kilatan petir dari atas langit turun menyambar Verozi diudara. Sambaran itu memaksanya turun kebawah. Menghempaskan tubuh laknat itu ke atas tanah, memberikan kesakitan yang luar biasa pada tubuhnya.


Brukkkkkkkk


Clashhhhhh


Untuk mencegah Verozi bangkit lagi, Rey memanggil sekat cahaya turun dari langit. Sekat-sekat itu menancap tepat ke arah sayap-sayap Verozi. Akibatnya kelelawar laknat itu tak berdaya sekarang sambil terlentang.


Bagaikan seorang dewa kematian, Rey datang ke arah Verizo dengan sambaran petir dibelakang tubuhnya. Petir-petir itu masih setia mendekap tubuhnya, bola mata putih itu menatap tajam ke arah Verizo.


Clashhhh


Baron kembali berada ditelapak tangannya, disini Verizo dibuat ketakutan olehnya. Rey akan mengakhirinya disini.


Syena berusaha bangkit kali ini, tubuh kecil itu berlari sambil menahan sakit didadanya juga batuk darah yang terus keluar dari dalam mulutnya.


Begitupun Barsh saat ini tak mampu berbuat apapun, ia hanya menyerahkan segalanya pada Syena yang berlari disana.


"Lenyaplah kau!"


Clashhhhhhhh


Krashhhhhhhh



Ketika Rey mengayunkan pedangnya ke arah leher Verizo, Syena tepat waktu menghalau hal itu. Sekat miliknya datang turun dari langit, menghalau pedang milik Rey saat itu juga.


Rey menatap lekat ke arah pemilik sekat itu, tudung itu terbuka, Surai itu terhempas oleh angin. Kedua mata mereka saling bertemu. Kedua saudara ini dipertemukan sekarang, mereka berada didalam dua kubu berbeda.


"Syena?" Pekik Rey tak percaya.



Sambil terus terbatuk Syena menahan serangan Rey, berusaha menyelamatkan Verozi disana. Syena menarik kembali sekat miliknya, tanpa peduli pada Rey.


Syena mengeluarkan senjatanya, sihir ranting cahaya ia hunuskan tepat ke arah Rey yang masih mematung disana.


"Rey!!!"


Clashhhh


Jlebbbbbb


Tusukan dahan runcing itu menusuk masuk kedalam tubuh Dion. Musketeers senior itu tertusuk, Verozi berseringai menyaksikan itu.


Sihir milik Rey hilang seketika tatkala melihat Dion bercucuran darah dihadapannya, merasa itu adalah sebuah kesempatan Syena membantu tubuh Verozi mundur.



Dion jatuh tepat dihadapan Rey, kepalanya jatuh tepat dibahu Rey. Rey yang masih terkejut hanya bisa membulatkan matanya terpaku, seakan tak percaya seseorang datang mempertaruhkan nyawa untuknya.

__ADS_1


"Hah? Apa-apaan ini!" Pekik Rey.


Debora beserta rekannya yang baru saja datang terpaku, Dion sedang sekarat disana.


Darah segar itu mengucur deras dari dalam tubuh Dion, luka itu tembus. Justice mengepalkan tangannya kuat, tak terima rasanya salah seorang dari mereka gugur.


"Sesuatu yang melelahkan adalah berjuang ya Rey! Tapi kita hidup dalam dunia yang sulit, berjuang adalah asupan agar kita tetap hidup, jangan berhenti!"


Ujaran kalimat itu membuat Rey mengepalkan tangannya. Rasanya dadanya sesak sekali, sekalipun Rey dan Dion baru saja saling mengenal, pilu atas kehilangan itu menyelimuti hatinya.



Rey mengepalkan tangannya ketika melihat seringai dalam wajah dua Iblis dihadapannya. Syena disana masih terengah-engah. Adiknya itu, masih terbatuk disana sambil memegangi dadanya. Melawan Syena adalah satu hal yang tak mampu Rey lakukan.


Rey membaringkan tubuh Dion yang lemah itu diatas tanah, ia berdiri. Sumpah demi apapun, tak ada kata ampun untuk mereka para Iblis.


Syuthhhhh


Baron dalam tangannya mulai menyala, hari ini kematian Verizo harus diwujudkan.


"Guguk dan nyamuk hina! Pengecut sekali cara kalian bertarung! Menggunakan sesuatu yang lemah sebagai tameng kalian!"


Mantra kloning kembali digunakannya, kali ini empat kloning. Dalam hitungan detik Rey yang berapi-api mulai melesat ke arah Verozi.


Tiga Kloningnya menghadang Barsh dan Syena, Rey tidak akan pernah menyakiti adiknya ia hanya akan menangkis seluruh serangannya dan bertahan tanpa balasan. Sedangkan Barsh, dibuat kewalahan dengan dua kloning Rey disana.


Harith menghampiri tubuh Dion yang terkapar, pemuda itu masih terengah-engah, Mikhail mencoba meredam pendarahannya dengan sihirnya namun nihil.


Disela-sela keputusasaan itu, Rey berhasil membawa posisi itu kembali. Verozi terhempas ke tanah, detik itu juga Rey mengayunkan pedangnya.


"Matilah kau!"


Slatttttttt



Kepala kelelawar busuk itu terpenggal sudah, bersamaan dengan itu Dion berhenti bernafas disana.


Barsh dan Syena membulatkan mata, Verizo berhasil dikalahkan oleh seorang bocah. Jasad iblis itu perlahan melebur, potongan kepalanya menggelinding tepat ke arah Barsh dan Syena.


Rey menarik kembali Kloningnya itu membuat Barsh dan Syena mundur mendekati hutan. Sambil tertatih Rey berjalan, ia terbatuk juga disana.


Tangannya terulur ke arah Syena, seakan ingin meraihnya. Mana miliknya sudah hampir ia gunakan seluruhnya.


"Syena!" Panggil Rey, namun Syena sama sekali tak menggubris itu.


"Bunuh dia!" Bisik Barsh disampingnya, kalimat laknat semacam itu adalah pilihan seorang pecundang.


"Tapi dia sekarat! Aku tidak mengerti kenapa kau mengincar orang yang sedang terluka."


Pekik Syena, Barsh menatap tajam ke arahnya mata miliknya memerah, Syena membulatkan matanya melihat itu.


Ada sesuatu dalam dirinya setelah Barsh menatapnya seperti itu, sesuatu itu menggerakkan tangannya kembali mengeluarkan sihir miliknya.


Beberapa dahan runcing mulai Syena keluarkan, ini bukan atas kemauannya sungguh. Tubuh ini bergerak sendiri, tubuh ini seperti sedang dikendalikan. Rey berhenti sejenak melihat perlawanan yang akan Syena lakukan.


Gadis itu hanya diam terpaku disana sambil menatap aneh ke arah Rey. Mengapa pemuda yang kehabisan mananya berani berjalan ke arah musuhnya.


"Syena ini aku, Rey! Kita berdua saudara!"


Degggggggg


Ucapan itu refleks membuat Syena meneteskan air matanya, rasanya itu kalimat yang tulus sekali. Namun apa dayanya, ia hanya boneka saat ini.


Untuk kebenaran akan pernyataan itupun, ia tak ingat apapun, tak tau apapun. Syena hanya ingat satu hal, dirinya adalah bocah yang dikasihani Iblis seratus juta jiwa.


Debora yang berada tak jauh dari Rey berlari sekencang-kencangnya. Debora berdiri tepat dihadapan Rey sekarang.



Clashhhhh


"Debora?" Pekik Rey.


Debora menangkis serangan sihir milik Syena, sambil netranya masih menatap lekat ke arah gadis itu, gadis yang Rey sayangi, adiknya.


"Guguk sialan, apa yang kau lakukan pada Syena ku?"


Geram Rey, ia hendak meluncurkan kembali serangannya. Namun dari atas langit, rombongan iblis berbondong-bondong sedang menuju ke arahnya.


"Rey, waktunya pergi!" Ucap Debora sambil menatapnya.


"Tinggalkan aku disini, aku tidak akan pergi tanpa adikku!"


Debora tertegun mendengar itu, di samping Harith terlihat Axcel yang baru saja datang. Axcel memberi isyarat pada Debora agar mendekat, Debora menarik paksa tangan Rey namun Rey menepisnya.


"Pergilah tanpaku!" Pekik Rey sambil memaksa kakinya berjalan menghampiri adiknya.


"Sadarlah!!! Kita baru saja kehilangan satu nyawa Rey!!! Kau jangan bodoh dengan menetap kemari, kendalikan perasaanmu, ini bukan perihal dirimu saja!!!"


Rey tertegun mendengar itu, itu seperti sebuah tamparan, namun hatinya masih ingin menetap disana.


Membumi hanguskan guguk sialan itu, lalu membawa Syena kembali bersamanya. Merasa bicara saja tak cukup, Debora menggunakan sihir pelumpuhan, dengan sihir itu sekejap Rey dibuat tak sadarkan diri disana.


Justice dan Mikhail membantu Debora membawa tubuh Rey mendekat ke arah Axcel.


Mantra teleportasi pun dirapalkan, dalam sekejap membawa mereka kembali kedalam istana putih. Hari itu Rensuar kehilangan seorang Musketeers, seorang Musketeers hebat yang datang menjadikan tubuhnya tameng bagi rekannya.


Dua hari setelah kematian Dion, Rey menjadi pemurung, ia menarik diri dari rekan-rekannya. Rey lebih sering berada didalam hutan, tepat didekat peternakan Khufra milik Riley.


Malam hari ia akan kembali ke markas dan tidur. Kematian salah seorang rekannya membuatnya sangat terpukul.


...Prajurit yang berjuang menentukan hidup orang lain sangatlah berharga...

__ADS_1


...Mari lakukan yang terbaik, mari kita bekerja keras dalam hidup! bahkan jika kita kesepian!...



__ADS_2