
...Derita masa lalumu itu terlalu jauh untuk menyentuhmu hari ini...
...Tapi pengulangan kenangan dan rasa sakitnyalah yang bisa melemahkanmu...
____________
Dreppppp
Dreppppp
"Errrrrrrrrrrr!"
Suara langkah kaki terbirit-birit itu berlari sekencang-kencangnya berusaha menghindari aura kelam sepanjang jalanan, bunyi teriakan para Iblis mengiringinya, kota terbakar kepulan asap hitam itu terselubung menyeluruh seakan melahap jalanan dimanapun. Debora menangis, surainya acak-acakan, matanya penuh dengan ketakutan, dari kejauhan diujung jalan sana terlihat beberapa aparat melambaikan tangannya seakan menyerukan, cepatlah cepat atau Iblis akan memakanmu melenyapkan nyawamu tanpa ampun.
Debora diselimuti ketakutan hanya nyawanya yang kini begitu penting untuknya, beberapa manusia sekarat dijalanan melambai ke arahnya seakan meminta tolong padanya untuk membawanya, tapi, tapi perkataan itu beberapa menit lalu seakan mendoktrin dirinya, jiwanya untuk patuh dan selalu menjalankannya. Ucapan dari sosok yang sangat ia cintai, sosok kepala keluarga dalam rumahnya.
Kita kembali ke menit dimana malam ini tepat puku sembilan, lentik jari milik Debora masih berkutat diatas kertas menari-nari disana ada harapan juga kebahagian dalam hatinya selama menulis secarik kertas itu. Sesekali Debora melihat satu ranjang yang masih kosong disampingnya, kamar miliknya memiliki dua ranjang satu untuknya sedang yang satu untuk Desta, kakak perempuannya yang sedang milipir mengarungi perkotaan mencari lembaran uang disana.
Tokkkkkk
Tokkkkkk
Suara ketukan pintu dari lantai bawah mulai terdengar, terdengar juga suara Ayah mereka datang membukakan pintu itu, ah itu dia, suara itu sampai tepat memenuhi rungu miliknya, itu suara Desta. Debora meringkas seluruh peralatan yang dipakainya tadi dengan segera termasuk secarik kertas itu menyembunyikannya.
"Ya Ayah, aku akan bangun pagi-pagi besok!"
Suara dari anak tangga yang akan mengarah ke kamar itu terdengar cukup dekat, Debora menarik selimutnya lalu berpura-pura tertidur.
Klekkkkkk
Pintu kamarnya terbuka, remang kamarnya terusik tatkala Desta menekan tombol lampu disampingnya. Netranya memperhatikan satu manusia bergumul dibawah selimut nyaman, terlelap mengarungi lautan mimpi.
Pelan-pelan Desta menutup pintu kamar itu, melepas jaket miliknya menggantungnya. Desta masuk tepat kedalam kamar mandi mencoba membersihkan dirinya sejenak disana, mengusir debu-debu kota yang hinggap di tubuhnya barangkali virus atau bakteri melekat padanya mungkin itu akan luruh setelah mandi.
Debora membuka matanya lalu tersenyum puas akhirnya mungkin malam ini adalah malam kebahagian untuk Desta kakaknya.
Menit itu tiba, tepat tengah malam Debora berada dikamar Ayahnya mereka sedang menghias sebuah kue, dimana sejak pagi buta mereka setia didalam dapur mereka memanggang beberapa ayam dan daging juga membuat satu kue sederhana untuk diberikan pada Desta, ini adalah hari ulang tahun Desta. Kepala keluarga yang juga berprofesi sebagai seorang ibu, menggantikan mendiang Istrinya yang tiada lima tahun lalu sambil membawa kanker itu mati bersamanya.
"Wahhhh ini bagus sekali, Ayah! Debora suka sekali!"
Binar kagum itu terlukis jelas didalam mata Debora, sambil mengatupkan tangannya senyumnya merekah mencoba mengapresiasi karya yang ia buat bersama ayahnya.
"Jangan dimakan ya Sayang! Ayah kedalam sebentar mengambil kado."
Ucap ayahnya, beliau sungguh sosok yang tegar nan sabar sungguh. Debora mengangguk cepat mendengar itu, topi kerucut kecil dari kertas menghiasi kepalanya, ketika ayahnya sudah berada dikamar jari telunjuknya usil mencolek krim kue dihadapannya.
"Hei, sudah kubilang kan?"
Bagaikan dijerat oleh pasal pembunuhan, Debora membulatkan matanya seraya menatap sosok ayah yang sudah ada didepan pintu itu.
__ADS_1
"Iya ayah, aku tidak tahan melihat kue manis ini. Boleh kita ke kamar kakak Desta sekarang? Supaya kita bisa segera menikmati kuenya secepatnya."
Ujar Debora, raut muka polos itu selalu terukir dalam dirinya sambil berucap pada Ayahnya.
"Baiklah, ayo kita beri kejutan pada Desta!"
Ujar Ayahnya sambil mengangkat sepiring kue itu, mereka berjalan menaiki anak tangga melangkah mendekati kamar milik Debora yang jadi satu dengan Desta. Terdengar suara rusuh didalam bilik itu, pintunya masih tertutup disana sebelum membuka pintunya Ayahnya berhenti sejenak lalu menatap Debora seraya tersenyum seakan mengatakan ini saatnya. Rasanya bahagia sekali, keinginannnya untuk melahap sepotong kue selarut ini akan segera terpenuhi. Tatkala tangan kekar itu membuka pintu itu, sebuah makhluk aneh menindih anak sulungnya.
Ayahnya membulatkan matanya terkejut peristiwa mengerikan macam apa yang terjadi tepat dihadapan matanya. Melihat itu Debora bingung ia semakin dibuat bingung ketika kue yang dipegang Ayahnya jatuh. Debora yang penasaran memilih melihat apa yang terjadi disana sehingga membuat Ayahnya tercengang.
Demi Tuhan, terguncang rasanya ketika disuguhkan pemandangan itu. Desta sekarat diatas ranjangnya, dengan tubuh terlentang, darah keluar dari mulutnya, dadanya dikoyak begitu saja, sosok itu, sosok hitam pekat dengan mata merah menyala menikmatinya.
Suguhan jantung dari dalam tubuh Desta seakan nikmat sekali untuknya. Taring-taring itu melahap begitu nikmat, menikmati cuilan daging tubuh Desta.
Disana syok itu membuat Debora mundur sambil membungkam mulutnya dengan telapak tangannya, Air mata dari kelopak mata Ayahnya keluar. Sakit hatinya melihat anak gadisnya itu mati mengenaskan, amarahnya memuncak, bagaimana tidak anak yang di jaganya, dirawatnya sampai sebesar itu dibunuh dengan keji dihadapan matanya.
"Sialannnnnn kau!"
Ayahnya berteriak seraya masuk kedalam mencoba memberi pelajaran Iblis itu. Bola mata merah itu menangkap sosok Ayah itu, lalu berseringai seakan bahagia mendapatkan tumbal keduanya. Perlawanan antara kedua belah pihak terjadi tak lama, beberapa detik kemudian Iblis itu sudah menindih ayahnya sepertinya hal sama akan terulang lagi.
"Lari... lari.... kau harus selamat! Utamakan nyawamu, apapun yang terjadi!"
Susah payah ayahnya menyampaikan itu pada Debora yang masih terpaku. Debora gemetar sungguh ia ketakutan, kemanakah ia akan melarikan diri, apakah pantas membiarkan keluarganya binasa disini. Detik itu Debora bergelut antara pikiran juga hatinya yang tak sejalan.
"Lari, jangan pedulikan siapapun larilah! Ini perintah ayah menyuruhmu hidup dan menghindari kematian."
Ujar Ayahnya berteriak cukup kencang, seakan terdoktrin dengan kalimat itu. Debora memilih lari meninggalkan Ayah dan Desta disana. Ia lari membawa segenap penyesalan dalam hatinya, ia lari sebagai manusia baru saat itu, manusia yang akan tumbuh dengan ucapan baru sebuah perintah dari ayahnya untuk menghindari kematian, berusaha tetap hidup itulah pesan ayahnya sampai saat ini yang ia rengkuh, sekalipun banyak jutaan penyesalan dalam relung hatinya. Ia lari, dengan segala trauma atas kejadian itu.
Disanalah bersama dengan Riley yang juga kehilangan keluarganya mereka hidup, hidup di dalam hutan penampungan dimana mereka yang tergolong Indigo dibuatkan area penampungan khusus didalam hutan dengan fasilitas pelayanan yang cukup baik disediakan langsung oleh kaisar. Dari sana sedikit demi sedikit sihir itu diasah sendiri, Debora mendapatkan sihir sejak ketika Asteroid itu jatuh ke bumi.
Dimana para Indigo, manusia penjelajah ghaib ini, mereka diberkati kemampuan dari kehancuran bumi, kemampuan sihir juga senjata Pembinasa. Inilah yang disebut, dimana ada kehancuran disitulah solusi itu juga muncul. Tuhan membuatnya selalu komplementer, melengkapi.
Debora meneteskan air matanya mengingat Riley adalah satu-satunya teman yang baik juga selalu ada disampingnya. Namun apa ini, hari ini ia melakukan kesalahan, ketakutannya juga ucapan perintah dari ayahnya membuat Riley hampir tewas. Rey disampingnya memperhatikan itu raut muka kecewa itu jelas sudah, Debora muak pada dirinya sendiri karena tak mampu mengendalikan perasaan juga traumanya.
"Ahhhh cerah sekali pagi ini!"
Kali ini Rey mencoba mengalihkan suasana duka yang ada dalam hati Debora, sembari matanya menatap langit-langit, sekalipun dunia hancur namun langitnya tetap cerah. Itulah yang ingin Rey katakan setelah ini, sebagaimana pun keadaan menghajar kita tetaplah terbit dengan senyuman walaupun perih lara itu menyeruak. Tak ada gunanya menyesali, merenunginya berkala bukan, itu tak merubah apapun. Berjalanlah dan belajar apapun, jadilah manusia yang lapang.
"Kau mengesalkan sekali Rey! Kau tidak mendengar ceritaku?"
Debora kesal tatkala menemukan sunggingan senyum juga netra milik Rey yang menatap langit-langit, seakan tak peduli padanya seakan Debora bercerita tadi sia-sia. Bahkan tak ada kalimat apapun yang dilontarkan Rey, ia hanya melontarkan kalimat tentang keindahan langit.
"Narasimu terlalu panjang, IQ Rey tidak diciptakan untuk mendengar khotbah sepanjang itu. Rasanya kau cocok sekali menjadi pendeta!"
Gurauan asal milik Rey membuat Debora semakin kesal rasanya. Sungguh manusia dihadapannya ini, kadang mencuri perhatiannya, kadang menenangkan hatinya, kadang juga membuatnya kesal. Gatal rasanya, jemarinya ingin menjambaki Surai putih Rey yang sama dengan miliknya. Ketika Debora akan beranjak Rey mencegahnya, mencengkram pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Hei Kucing Putih, aku meninggalkan Justice istriku disana untuk berselingkuh disini bersamamu, kau malah akan pergi meninggalkanku. Kejam sekali!"
Ujar Rey menatap Debora yang membelakanginya, Debora mengalihkan pandangannya memicingkan matanya kali ini. Apakah manusia ini tak tau apa yang hatinya rasakan saat ini, campur aduk, itulah kalimat yang jelas menjelaskan keadaan saat ini.
"Duduk!"
Apa itu baru saja Debora mendengar perintah, perintah dari manusia lain selain Ayahnya.
"Kau memerintahku, Tuan Arlert? Berani kau perintah ketuamu?"
Ujar Debora kesal, namun Rey hanya tersenyum sekalipun kalut dalam hatinya tentang Riley menjalar namun ada rekannya yang juga membutuhkan kekuatan.
"Duduklah!"
Ucap Rey lagi kali ini ia menarik kebawah tangan itu, sehingga Debora terpaksa menuruti permintaan Rey. Mereka berdua meringkuk saling diam sekarang.
"Jika kau ingin mempelajari sesuatu yang benar-benar akan membantumu, belajarlah untuk melihat dirimu sebagaimana Tuhan melihatmu dan bukan seperti Kau melihat dirimu sendiri dalam cerminan dirimu yang terdistorsi. Faktanya, kau mencoba membuat keadaan itu, perintah itu kau terapkan dalam nafasmu yang ini. Doktrin itu ada di nafasmu dulu, ketika kejadian itu masih kau rasakan, namun jika waktu membawamu kemari, maka hiduplah dengan peraturan baru. Terima dirimu, terima jika memang kau muak pada dirimu, tapi jangan, jangan membawa masa lalumu juga aturannya dalam kehidupanmu yang baru. Karena masyarakatnya beda, manusianya beda. Tetaplah berjalan, aku paham segala laramu karena kita semua berada disini karena kehilangan yang sama-sama menimpa kita. Terimalah Skenario Tuhan, mari nikmati jalani hidupmu dengan kami yang sama-sama memiliki pilu atas kehilangan. Kami keluargamu juga Debora!"
Ujar Rey, kalimat panjang itu seakan mengusir mendung-mendung dalam hatinya. Menciptakan pelangi disana, Rey sambil berucap netranya menatap langit-langit sedang Debora netranya sedaritadi memperhatikannya. Mendengar segala petuah mulia itu Debora tersenyum, telapak tangannya terangkat menyentuh surai Rey, mengacak-acaknya.
"Hentikan, kau ini apa-apaan?"
Rey risih dengan kelakuan Debora yang mendadak mengacak-acak surainya. Namun lega rasanya ketika melihat sunggingan senyum itu berada di wajah rekannya. Sepertinya Rey berhasil menyadarkan gadis ini, semoga saja Rey juga mampu merubahnya.
"Lantas Rey, bagaimana caraku menyampaikan permohonan maaf ku?"
Kali ini Debora menunduk mencoba mengingat raut muka kecewa Justice dan Mikhail, juga Riley yang masih terbaring didalam.
"Kalau kau meminta saran lagi, tandanya setelah Riley pulih kau harus menyiapkan kami steak Wagyu secara cuma-cuma."
Ujar Rey, Debora kembali tertawa mendengar itu lihatlah masih ada pemerasan rupanya disini untuknya.
"Baiklah, aku akan melakukannya!"
Ujarnya, Rey mengacungkan kedua jempol nya setelah mendengar itu.
"Minta maaflah seperti biasa, aku yakin mereka pasti akan memaafkanmu."
Ujar Rey seraya berdiri kali ini tanpa berpamitan dengan Debora, Rey pergi begitu saja entah kemana. Debora menatap heran punggung manusia yang mulai jauh dari penglihatan netranya. Terkadang ia begitu konyol, terkadang juga keberaniannya menggetarkan hatinya, terkadang dia menjadi seorang Kisana yang bijak sekali dengan untaian petuahnya.
...Tidak ada yang benar-benar bisa melenyapkan kenangan lalu...
...Kita hanya bisa menimbunnya dengan kenangan baru yang lebih besar nilainya...
_____________
Ensiklopedia :
__ADS_1
Venus adalah planet terdekat kedua dari Matahari setelah Merkurius. Planet ini mengorbit Matahari selama 224,7 hari Bumi. Karakteristik yang membedakan Venus dari planet lainnya, salah satunya adalah memiliki suhu paling panas di antara tata surya.