
...Ketakutan bukanlah kejahatan. Itu memberi tahu apa kelemahanmu...
...Dan begitu tahu kelemahanmu, kamu bisa menjadi lebih kuat...
Depppp
Depppp
Rey berjalan cepat ke arah ruang medis tempat dimana Noella bersemayam disana bersama para Lapu-lapu nya. Kastil ini sepi, sepertinya para Musketeers lain sedang mengamankan manusia non sihir ke bawah tanah.
Syena masih terpejam dalam gendongan Rey. Gadis kecil itu nampak begitu letih, bibirnya memucat. Sesekali Rey mematri wajah adiknya itu. Betapa lugunya raut wajah itu disana. Begitu damai dan menawan ketika terpejam.
Gadis ini manis, sungguh. Apalagi ketika ia tersenyum. Syena dan tingkahnya memiliki kharisma yang unik. Sampai saat ini Rey masih memikirkan perihal Mikhail yang jatuh hati pada adiknya.
Sungguh itu adalah hal yang ajaib menurutnya. Karakter Syena hampir mirip dengannya dalam segi bar-bar dan liar dalam pertarungan. Nyatanya, pria setenang dan secerdas Mikhail mampu jatuh hati pada Syena.
"Bagaimana bisa ya? Tapi hal itu mungkin sama dengan kondisi ku saat ini. Mengingat Debora juga sangat mencintaiku yang dungu ini. Padahal otaknya lebih cerdas dariku. Tuhan memang maha membolak-balikkan hati." Ujar Rey.
Ketika kakinya sampai tepat dihadapan ruang medis. Rey menendang pintu itu hingga terbuka. Ia terkejut mendapati sapah satu Musketeers yang terkontaminasi berada disana.
Mata memerah itu menatap tajam ke arahnya. Taring-taring dari mulutnya itu dipenuhi darah. Jantung Rey berdegup kencang rasanya. Apakah manusia ini sudah memangsa manusia lain.
Debora adalah satu nama dalam kepalanya saat ini. Musketeers yang terkontaminasi itu mengaum ke arah Rey. Tubuhnya bergerak maju ke arah Rey, dengan cakar yang hendak mengoyak tubuh Rey.
Clashhhh
"Argggggggggghhh.." Geramnya.
Jubah putih Rey sedikit terkoyak disana. Akan sangat bahaya apabila ia bertarung sambil membawa Syena disini.
"Jika makhluk ini ada disini, lantas dimanakah Debora dan Noella berada?" Pikir Rey.
Ketiga Baron dalam domain juga nampak terkejut menyaksikan apa yang sedang menyerang Rey.
"Aku takut jika racunnya menyebar pada manusia lain disini!" Ucap Baron Emas.
Ya itulah yang Rey khawatirkan saat ini. Dimana Axcel, Noella juga Debora. Mengapa kehadiran mereka sama sekali tak Rey temukan.
Sosok itu kembali menatap ke arah Rey saat ini. Bola mata merah itu hendak memangsanya kembali. Sepertinya lagi-lagi ia harus kabur sebentar. Rey akan memindahkan Syena ke tempat yang aman dulu.
Rey berbalik memunggungi iblis itu. Ketika Rey berlari ke arah balkon kastil, Musketeers yang terkontaminasi itu mengejarnya sambil terus mengaum-aum.
"Arghhhhhh..." Teriaknya.
"Dandelion!"
Ucap Rey ketika tepat berada di balkon lalu melompat. Kepakkan sayap dari punggungnya muncul, membawa Rey terbang bersama Syena mencari keberadaan Harith sekarang.
Clashhhhh
"Kaisar!" Teriak Rey ketika menemukan keberadaan Harith yang masih melayang terbang berkeliling menyusuri Rensuar.
__ADS_1
"Ada apa Rey?" Tanya Harith padanya menoleh.
"Aku tidak menemukan keberadaan Noella disana! Dimana dia? Kastil begitu sepi! Dimana para Musketeers?"
Apa yang Rey ucapkan membuat Harith kalut rasanya. Sejak tadi ia tak hanya diam disana. Tetapi ia mencari keberadaan manusia lain.
Bahkan dibawah tanah mereka sama sekali tak ada. Kemana sebenarnya perginya orang-orang ini. Terlebih lagi, para Lapu-lapu juga leonin kepercayaan Kaisar, Axcel. Dimana mereka?
"Ini aneh Rey!" Ucap Harith padanya.
Lagi, ketakutannya kini semakin menjalar. Pikirannya pada gadisnya kian menguat. Debora juga rekannya mungkin saja dalam bahaya saat ini.
"Kaisar, apakah ketika kukungan itu menghilang ia benar-benar melebur?" Tanya Rey memastikan.
Harith membulatkan kedua matanya mendengar apa yang Rey tanyakan. Sungguh kacau rasanya hatinya, apakah ketika iblis itu mengukungnya, itu hanyalah satu pengalihan.
Atau apakah ketika Iblis itu mengukungnya, ada para iblis lain dalam Rensuar selain si Kelabang. Pertanyaan demi pertanyaan itu muncul bertubi-tubi menciptakan berbagai teka-teki tak terpecahkan.
"Arghhhhhhhh!!!"
Lagi-lagi auman dari salah satu Musketeers yang terkontaminasi mulai terdengar. Saat ini, para Musketeers itu sedang berada tepat dibawah kaki mereka.
Rey memperhatikan Musketeers itu dengan seksama lalu menyuruh Baron Emas didalamnya untuk menganalisanya.
"Hei, apa ini?!" Pekik Baron Emas dalam domainnya.
"Ada apa?" Tanya Rey padanya.
"Bagaimana aku menjelaskan perihal ini Rey? Dibawah tanah sana, ada sesuatu yang memanjang. Ada sekitar sepuluh selubung hitam menggeliat disana. Dan Musketeers itu, diantara jari-jari nya, ada sebuah benang hitam tipis yang menyatu tepat dengan sepuluh selubung besar dibawah tanah."
Rey benar-benar tak percaya rasanya. Apakah pengorbanan Syena saat ini sia-sia. Apakah iblis kelabang laknat itu masih ada? Padahal Rey sendiri melihat bahwa pedangnya memenggal tepat kepalanya.
"Aku akan membunuh Musketeers itu!" Ucap Rey.
"Jangan, bagaimana jika racun itu ada obatnya? Apa kau akan membunuh sesamamu?" Tanya Harith mencoba menghentikan apa yang akan Rey lakukan.
"Tapi dia.."
"Dia tidak bersalah, dan bukan keinginannya untuk jadi seperti itu."
Lagi, Rey benar-benar tak mampu melawan Harith sekarang. Apa yang Harith katakan benar, menghukum seorang Musketeers lalu menghilangkan nyawanya. Hanya karena ia malang menjadi sebuah objek percobaan Cronus, itu adalah hal yang tidak benar.
"Ada sepuluh selubung besar didalam tanah! Baron Emas menganalisa tempat ini, dan dia baru saja menemukannya. Aku yakin, ketika kita berada tepat didalam sana, ada sesuatu yang sudah kelabang sialan itu lakukan!" Jelas Rey padanya.
Harith menganggukkan mendengar itu. Kepalanya sedang berfikir keras saat ini. Hilangnya orang-orang dalam Rensuar, tak ada suara sama sekali disini.
Bawah tanah tempat mereka berlindung juga kosong. Mungkin sudah waktunya bagi Harith untuk bertindak disini.
Harith memejamkan kedua matanya. Tangannya bergerak memutar aliran sihirnya, aliran sihir itu membentuk sebuah pusaran.
Sihir biru itu kini di arahkan tepat ke arah langit. Dan dari sana, muncul beraneka ragam pedang terbang tepat di angkasa. Pedang itu diselimuti kilatan petir.
Kedua bola mata Harith saat ini memutih. Surai putihnya berkibar-kibar. Sambil menatap ke depan, Harith menggerakan telunjuknya tepat didepan wajahnya.
"Domain!" Ucapnya.
Crashhhhhh
__ADS_1
Ribuan pedang di angkasa itu seketika menukik kebawah, mengusik ke dalam tanah. Setibanya mereka dibawah tanah, Harith memejamkan kedua matanya.
Rey masih tak tau apa yang sedang Harith lakukan saat ini. Singkatnya, ribuan pedang yang menancap tepat kedalam tanah itu adalah pedang yang di kosongkan domainnya.
Akibatnya, aliran sihir atau kekuatan lain yang ada didalam tanah saat ini akan terserap masuk kedalam pedangnya. Namun itu tidak akan berlangsung lama.
Harith sengaja memang memasukkan aliran kekuatan dari dalam bawah itu masuk kedalam pedangnya. Pedang-pedang itu berfungsi sebagai pelacak, juga pengamat perihal apa yang ada dibawah tanah saat ini.
Satu menit berlalu, pada akhirnya Harith membuka kedua matanya. Ada sepuluh selubung disini, namun hanya tiga selubung yang menampung para Musketeers juga orang-orang disini.
Mereka semua terjebak disana, mereka masuk kedalam sihir perasuk tingkatan paling kuat. Racun kontaminasi, juga sihir perasuk adalah perpaduan serangan yang kuat.
Benar apa yang Rey katakan padanya. Ketika mereka masuk kedalam lilitan kelabang itu, saat itulah Cronus menggunakan Musketeers yang terkontaminasi itu sebagai pengecohnya.
Saat itu juga mereka tidak menyadari bahwa tubuh asli Cronus masih berada tepat dibawah tanah. Yang artinya ketika melawannya tadi, tubuh itu hanyalah salah satu tubuh lain miliknya. Tubuh Cronus ada dalam salah satu selubung itu.
"Hahahaha..."
Suara tawa itu menggema, asalnya dari bawah tanah. Seketika Rey dan Harith mematung mendengarnya. Hanya ada mereka disini, mau tak mau mereka harus siap menerima segala serangan yang akan diberikan untuknya.
"Ku bilang apa, kalian tidak akan mampu mengalahkanku!"
Ucapnya lagi, Rey mengepalkan kedua tangannya yang sedang menggendong Syena. Saat itu juga Syena terbangun, samar-samar ia melihat wajah Rey. Gadis itu memilih menjauh dari tubuh Rey.
"Syena!" Pekik Rey ketika melihat adiknya itu menjauh turun dari gendongannya.
Dengan sihirnya Syena masih mampu terbang. Ia menatap lekat ke arah satu Musketeers yang terkontaminasi disana. Mata kirinya masih menyala, Syena mampu melihat apa yang ada didalam tanah dengan jelas.
"Sepuluh selubung itu, itu adalah kelabang! Tiga selubung di tengah adalah tempat Cronus menyimpan para Musketeers juga para Lapu-lapu. Tiap selubungnya terdapat para iblis rendahan. Kelemahannya, terletak dalam sepuluh kepala kelabang itu. Maka hancurkan kepalanya!"
Ucap Syena, darah segar mengalir tepat di antara mata kirinya. Namun Syena masih berusaha kuat disana. Ia menggerakan kedua tangannya.
"Abonoeraa Atrem Aveluska!"
Mantra pemanggilan kloning itu Syena rapalkan. Dengan kekuatan nya saat ini ia hanya mampu membentuk lima kloning.
"Kita cukup beruntung, sebab kita pemilik sihir Abjad A disini. Hanya kita saja yang mampu memperbanyak diri." Ucap Syena berseringai.
Rey dan Harith paham apa maksudnya. Mereka berdua juga membentuk kloning. Ada dua puluh lima kloning disini.
"Kakak, Kaisar! Hanya aku yang mampu melihat letak keberadaan para jiwa hidup dibawah tanah ini. Maka penyerangan ini, aku yang akan memimpin!" Ucap Syena.
"Ya!" Ucap Rey dan Harith.
"Kerahkan lima kloning kalian bersama dengan satu kloningku. Lima kloningku akan berpencar menuntun kalian menghancurkan kepala kelabang sialan ini!"
"Baiklah, mari kita mulai!" Ucap Rey tak sabar.
Syena mengangguk, detik kemudian lima kloning miliknya mulai berpencar menghampiri tiap kepala kelabang itu.
...Jangan khawatirkan apa yang dipikirkan orang lain. Tegakkan kepalamu dan melangkahlah ke depan...
...
__ADS_1
...