
"Noella, kau di sini?" tanya Rey kepada Noella yang menghadapnya.
"Tentu saja aku di sini, Debora pasienku bukan?"
"Ah iya tentu saja, tapi bukankah kau bilang dia sudah cukup baik?" tanya Rey kepadanya.
Noella menaikkan salah satu alisnya mendengar ucapan Rey. Kemudian ia berlalu pergi dari sana.
"Dia sudah cukup baik, tapi jangan buat dia terlalu lelah ya!" ujar Noella berada di ambang pintu, tanpa menoleh ke arah Rey.
"Tentu saja Noella! Kau tenang saja!" jawab Rey mencoba meyakinkan Noella.
Noella mengangguk ia pun pergi dari sana meninggalkan Debora dan Rey berdua dalam satu ruangan.
Suara langkah kaki itu mulai mendekat. Debora menghela nafas sebelum berbalik ke ara Rey. Ketika Debora berbalik ke arah Rey, pemuda itu menunjukkan satu bungkusan di tangannya.
"Aku membelikannya!" ujar Rey kepadanya, Rey menyerahkan bungkusan itu kepada Debora.
Dengan senang hati, Debora pun menerimanya. Jari jemari itu mencoba membuka bungkusan itu, namun Rey melarangnya.
"Jangan dibuka di sini, kau harus membuka lalu memakainya di markas. Mari kita pulang, Debora!" ujar Rey kepadanya.
Debora mengangguk mendengar itu, Rey mendekat ke arah Debora menggendongnya. Sambil membawanya ia berjalan ke arah balkon.
Sayap-sayap dandelion itu kembali di keluarkan. Kemudian Rey melompat dari sana membawa Debora terbang bersamanya.
"Apakah kau tau acara apa yang Riley maksud Debora?" tanya Rey di sela-sela terbangnya.
Debora yang melingkarkan tangannya di leher Rey hanya menggeleng, pertanda bahwa ia pun juga tak tau acara apa yang akan diadakan para manusia non sihir itu.
"Aku dengar sekilas, katanya mereka akan menuju ke arah kuil paling tinggi. Lalu di atas sana mereka berdoa, terakhir mereka menerbangkan lentera di atas kuil itu." jelas Rey kepadanya.
Hal itu pun menciptakan satu ide licik dalam kepala Debora untuk Rey.
"Bagus, jika ini acara suci maka kita tidak boleh curang! Kau dan aku, mari kita sepakat tidak menggunakan sihir selama menunju kuil." ucap Debora kepadanya, memberi Rey sebuah tantangan.
Sekilas Rey melirik kecil gadis dalam gendongannya itu. Kemudian ia berseringai lalu menatap ke depan.
"Boleh saja!"' jawab Rey mantap.
Rey terbang lebih rendah ketika sampai tepat di depan gerbang masuk asrama. Debora turun dari gendongan Rey, alunan satu mantra dari keduanya membuka gerbang besar itu. Mereka pun masuk ke dalam.
__ADS_1
Setibanya mereka di dalam markas, di sana mereka tak menemukan apapun. Markas itu kosong sepenuhnya. Mikhail dan Syena pun juga tak ada di sana.
"Sepertinya mereka sudah pergi berkencan masing-masing ya?" ujar Rey sambil mengedarkan pandangannya.
Debora yang berdiri di sampingnya terkekeh mendengar itu. Benar, apa yang Rey ucapkan. Seluruh rekannya saat ini pasti sedang menikmati acara yang Riley bicarakan.
"Kalau begitu, aku akan bersiap-siap dulu!" ujar Debora kemudian ia berjalan menaiki anak tangga.
Dari belakang Rey memperhatikan itu. Tak lama ia pun juga menuju kamar mandi membersihkan dirinya lalu bersiap.
Selang dua puluh lima menit kemudian keduanya sudah cukup rapi. Rey dengan setelan jas putih miliknya, tak lupa sebuah topi Cowboy menghiasi kepalanya.
Debora yang baru saja tiba memperhatikan Rey dengan pakaiannya. Entah mengapa, Debora tidak menyukai topi yang Rey kenakan.
"Arlert! Mengapa kau harus memakain topi?" tanya Debora kepadanya.
Rey yang masih sibuk berkaca hanya diam tidak memperdulikan Debora yang berprotes.
"Rey!" panggil Debora lagi. Panggilan itu membuat Rey menoleh ke arahnya pada akhirnya.
"Ya," ucapnya menjawab.
"Ada apa, Debora?" tanya Rey kepadanya lagi.
"Begini saja, aku lebih suka melihat suraimu! Aku benci ketika kau menutupinya!" jelas Debora padanya.
Rey tersenyum mendengar itu, Rey meraih pergelangan tangan kanan Debora.
"Ayo berangkat!" ajak Rey kepadanya.
Mendengar itu Debora pun mengangguk. Dengan penuh kebahagiaan, mereka berdua pun berjalan keluar dari dalam markas menuju ke arah satu kuil paling tinggi di kota.
________
Canda tawa juga obrolan kecil mengiringi perjalanan mereka. Tanpa sihir, dari asrama mereka hingga sampai ke kota membutuhkan waktu yang cukup lama sekitar setengah jam berjalan.
Setibanya di kota, beberapa manusia dengan pakaian adat mulai berbondong-bondong menuju ke arah kuil. Bak seperti kawanan pawai, dengan wajah ceria mereka berjalan ke arah sana.
Bunyi musik mulai mengalun mengiringi para pejalan kaki ini pergi ke arah kuil. Debora jadi terbawa suasana rasanya, segera ia menarik pergelangan tangan Rey mengikutinya. Sejak tadi, tangan keduanya masih terpaut enggan terlepas.
Debora membawa Rey masuk ke dalam barisan bersamanya. Bersama dengan para manusia non sihir merekapun pergi berjalan ke arah kuil.
__ADS_1
Setibanya di depan kuil para rombongan itu berhenti. Beberapa pasangan muda, lelakinya mulai menggendong pasangannya. Melihat itu, Rey pun mengerti. Tanpa sepengetahuan Debora, Rey pun juga menggendongnya.
"Rey!" pekik Debora kepadanya, namun Rey lagi-lagi memperhatikan para manusia di rombongan itu.
"Aku hanya melihat apa yang mereka lakukan, Debora! Lagi pula, ini tidak melanggar kesepakatan kita bukan? Aku tidak menggunakan sihir!" ucap Rey kepadanya.
Hal itu membuat Debora tersenyum. Perlahan satu persatu dari mereka mulai memasuki kuil. Kaki mereka mulai menapak satu demi satu di atas anak tangga.
Peluh membanjiri kening Rey, ini adalah pertama kalinya baginya berjalan menaiki kuil setinggi ini dengan Debora dalam gendongannya.
Debora melihat kegigihan tersirat dalam wajah Rey. Wajah itu tetap mendongak menatap ke arah bangunan kuil yang masih jauh letaknya.
"Semangat Rey! Jangan kalah dariku!" Justice dari belakang mulai mendahului Rey dengan Riley dalam gendongannya.
"Hei kau!"' pekik Rey kepada Justice yang mulai membalapnya.
"Tunjukkan nyalimu Rey!" ujar Riley sambil melambaikan tangannya ke arah Rey.
Melihat itu semangat Rey semakin terbakar rasanya. Sekalipun mereka ini orang barat, tidak pernah pergi ke kuil tapi Rey tidak boleh kalah. Ia harus mengalahkan Justice.
Sekuat tenaga Rey pun mulai mempercepat langkahnya. Bak seorang ninja ia berlari menaiki anak tangga itu dengan cepat. Ini bukan sihir, namun ini asli kekuatan murni seorang manusia yang berasal dari latihan.
Setibanya di atas sana, baik Justice dan Rey di kejutkan dengan Mikhail yang sudah berdiri tepat di hadapan mereka, dengan membawa Syena dalam gendongannya.
"Hei kenapa kau bisa lebih dulu datang hah?" tanya Justice tak terima.
"Sebab aku kuat, lebih kuat dari kalian!" ucap Mikhail bangga.
Baik Rey dan Justice keduanya pun naik pitam, memaki-maki Mikhail. Rey dan Debora memilih turun dari gendongan mereka begitupun dengan Syena.
Beberapa menit kemudian para manusia non sihir sudah berada di atas kuil. Mereka mulai berdoa di sana, tentu saja Rey beserta seluruh rekannya juga mengikuti itu. Memejamkan kedua mata, sambil mengatupkan tangan.
Beberapa manusia non sihir mulai berkeliling membagikan lampion. Ketika seluruh orang di sana sudah memegang lampion, bersama mereka menatap ke arah langit. Lampion di pegang bersama dengan tangan pangan mereka, sebelum lampion di terbangkan, mereka berdoa perihal harapan mereka agar di kabulkan.
Setelah doa itu dipanjatkan, ribuan lampion mulai di terbangkan. Ribuan lampion itu datang menghiasi langit, dari bawah sana Rey merasa beruntung sekali bisa melihat pemandangan menakjubkan seperti ini.
Rey menarik Debora ke arah pohon besar, di sana mereka duduk berdua dengan Debora yang berada di depan Rey. Entah mengapa malam itu sama sekali tak ada canggung dalam hatinya, Debora menyandarkan tubuhnya kepada Rey di belakangnya.
Keduanya menatap penuh ke arah langit malam dengan ribuan lampion suci, yang membawa harapan mereka satu sama lain.
"Terima kasih ya, sudah membawaku kemari! Ini indah sekali, Rey!" lirih Debora sambil masih memandangi langit.
__ADS_1
"Sama-sama kucing putih, aku senang jika kau senang!" jawab Rey kepadanya.