
Malam gelap pada akhirnya sirna juga. Kali ini matahari yang perkasa mulai menampakkan dirinya. Rey sudah bangun sejak tadi. Saat ini ia sedang berada di dapur.
Kedua tangannya sibuk meracik sesuatu di sana. Ia ingin membuatkan Debora sesuatu. Ketika ia keluar dari dalam kamar. Rey melihat pintu kamar Debora masih tertutup. Rey tau, bahwa Debora pasti masih tertidur di sana.
Sebuah inisiatif dalam kepalanya muncul. Membawanya masuk ke dapur, meracik sesuatu sesuai apa yang dia ingat. Rey sama sekali tak tau, sejak kapan dia mempelajari cara memasak.
Namun tangannya seperti bergerak dengan sendirinya. Mengikuti tiap apa yang dia ingat. Hari ini Rey ingin membuat sup, sup dengan banyak sayuran di dalamnya.
Kira-kira sudah sekitar satu setengah jam dia sibuk di sana. Makanan buatannya sudah selesai. Rey menaruhnya di atas meja menatapnya sedemikian rupa. Ketika seluruh makanan selesai ia buat, Rey pun melepas celemeknya lalu menggantungnya lagi di tempatnya.
Lega rasanya melihat jerih payahnya sudah berbuah hasil. Di tengah dirinya yang sibuk memandang lega makanannya, bel rumah Debora berbunyi membuat Rey mengalihkan perhatiannya ke arah pintu depan.
Rey membuang nafasnya pelan lalu berjalan mendekati pintu depan. Ketika Rey membukanya ia terkejut melihat begitu banyak rombongan manusia datang dan berdiri di hadapannya.
"Ya Tuhan!" pekik Riley tak percaya menatap ke arah Rey.
Ya, mereka yang datang adalah para rekannya. Tapi, Rey sama sekali tidak mengenal mereka ia tak ingat. Di sana ada Syena juga Mikhail.
"Rey Arlert!!!" teriak Riley berhambur memeluknya.
Hal itu tentu tidak dilakukan sendiri. Baik Syena, Mikhail, Justice pun ikut serta memeluknya. Rey yang masih tak tau apapun hanya diam sambil menatap mereka yang memeluknya saat ini.
Semalam, di telepon Debora menghubungi Riley. Dia menceritakan segalanya kepada Riley. Awalnya Riley tidak mempercayai itu. Namun pada akhirnya karena penasaran ia pun datang kemari. Dan inilah yang terjadi, dia terkejut juga senang bahkan menangis bahagia sekarang.
"Ini kau kan kakak?" tanya Syena sambil mengeratkan pelukannya.
Rey hanya diam sambil tersenyum tipis. Suara dari Syena membuatnya menghangat. Rey membiarkan para manusia yang tidak ia kenal ini memeluknya.
Debora yang baru saja bangun menuruni anak tangga lalu berjalan ke depan hanya tersenyum menatap para rekannya yang datang sambil memeluk Rey.
Debora bersandar di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya. Surainya sedikit berantakan, maklum saja dia baru saja bangun.
Ketika Riley dan seluruh rekannya melepas pelukan itu. Riley yang tak sengaja menatap Debora tersenyum. Debora hanya melambaikan tangannya saja ke arah Riley di sana.
__ADS_1
"Berantakan sekali penampilanmu!" sindir Riley kepada Debora di sana.
Mendengar itu Debora bersemu seketika. Riley mengatakan hal yang konyol menurutnya.
"Jadi kalian ini siapa?" tanya Rey kepada seluruh rekannya.
Justice hanya tersenyum tipis mendengar itu. Tak lama ia pun mendekati Rey lalu merangkulnya dan berkata,
"Aku bisa menceritakan semuanya di dalam! Jadi, mari kita masuk dan bercengkrama." ujar Justice kepada Rey.
Mendengar itu Rey pun mengangguk. Mereka masuk ke dalam bersama-sama. Mereka duduk di meja makan saat ini bersama.
Di sana Justice menceritakan segalanya kepada Rey. Mulai dari siapa mereka dan di mana mereka saling mengenal. Lalu, Justice pun juga menceritakan perihal hal apa saja yang sudah mereka lalui.
Terakhir, Justice juga menceritakan tentang Rey yang pernah mengorbankan nyawanya untuk dunia. Setelah seluruh kisah itu usai, Rey masih tidak mempercayainya.
Debora tersenyum tipis mendengar seluruh penyangkalan yang Rey berikan terhadap penjelasan Justice. Seluruh argumennya seakan menolak apa saja yang Justice katakan perihal sihir.
Namun Rey juga menemukan sesuatu bahwa apa yang Justice katakan itu tidak bohong. Rey tau raut wajah itu sama sekali tidak berbohong. Pada akhirnya Rey memaksa pikirannya untuk mengingat tiap peristiwa yang Justice ceritakan namun nihil. Rey sama sekali tidak mampu mengingat itu.
"Rey, kau kenapa?" tanya Debora sambil memegang bahu Rey.
Namun di sana Rey tetap saja mengerang kesakitan. Sekelebat memori-memori kecil yang tak jelas menurut Rey mulai berkeliaran. Sungguh ini membuatnya semakin kesakitan.
Pada akhirnya ketika ia sudah tidak kuat lagi, Rey pun kehilangan kesadarannya. Justice dan Mikhail membopong tubuh itu ke sofa meletakkannya di sana.
"Sebaiknya biarkan saja, biarkan ingatannya kembali dengan sendirinya! Sudah jangan ceritakan apapun perihal masa lalu! Aku percaya, kelak nanti Rey akan mengingat itu dengan sendirinya!" ujar Debora sambil mengusap lembut Surai kepala Rey.
"Maaf Debora!" ucap Justice merasa bersalah.
Debora hanya mengangguk. Mereka di sana bercengkrama cukup lama hingga senja datang, namun Rey masih belum sadar juga.
Ketika seluruh rekannya pulang, Debora masih di sana menunggu Rey membuka kedua matanya. Hingga malam terus berlalu semakin petang.
__ADS_1
Di sela-sela ia memandangi wajah Rey. Sebuah ketukan pintu membuat Debora terkejut. Debora berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu. Ketika ia membukanya ia terkejut melihat keberadaan Elvas.
"Hai Debora!" ucap Elvas sambil melambaikan tangannya, tak lupa sebuah senyuman manis ia berikan pada Debora.
"Kenapa kau kemari, ini sudah malam?" tanya Debora kepadanya.
Elvas hanya mengangguk lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah coklat, lalu memberikannya kepada Debora. Sejenak Debora memandangi itu namun tidak menerimanya.
"Untuk apa?" tanya Debora mendongak menatap Elvas sambil tersenyum.
"Untukmu, ini Valentine! Sebab aku menyayangimu maka kuberikan ini untukmu!" ucap Elvas.
Di sini Debora sedikit tidak enak rasanya. Dia belum memberi tahu Elvas perihal Rey. Melihat Debora tetap diam, Elvas pun meraih tangan kanannya lalu meletakkan coklat itu di sana.
"Terima ya, aku menyayangimu!" ucap Elvas lagi lalu meraih kepala Debora dan hendak menciumnya.
Sebelum itu terjadi, Debora lebih dulu mundur. Elvas terkejut melihat itu, namun Debora hanya menunduk.
"Maaf ya, aku tidak bisa melakukan itu bersamamu!" ucap Debora.
Elvas tau di sini bahwa Debora masih belum mampu menerimanya. Hatinya masih mencintai Rey.
"Aku tau, aku akan menunggumu!" ucap Elvas padanya.
Hal itu membuat Debora mendongak menatapnya lagi. Tidak, Debora tidak boleh memberi Elvas banyak harapan padanya. Debora kemudian mendekati Elvas lalu meraih pergelangan tangannya, menariknya untuk mengikutinya.
Elvas diam melihat itu, ia hanya mengikuti apa yang Debora inginkan. Hingga ketika mereka sampai di ruang tamu, Elvas membulatkan kedua matanya.
Itu Rey, dan dia benar-benar tak percaya saat ini. Cukup lama Elvas memandangi Rey yang terpejam. Lalu netranya kembali menatap ke arah Debora yang masih menatap Rey.
"Maaf Elvas, aku tidak ingin kau berharap terlalu banyak padamu. Aku tau kau baik, aku tau kau menyayangiku. Tapi, bukan nama Elvas yang ada didalam hatiku saat ini. Tetapi, ada namanya di dalam sini. Dan Debora, hanya milik Rey Arlert seorang! Maafkan aku ya!" ucap Debora menunduk.
Berat memang, tapi mau bagaimana lagi? Jika memang takdir menciptakan Debora untuk Rey, maka Elvas harus mundur. Sebab puncak tertinggi dari mencintai adalah merelakan.
__ADS_1
"Bohong jika aku katakan bahwa aku tidak kecewa, Debora! Tapi, rupanya Tuhan memang menciptakan kalian untuk bersama, ya? Jadi, aku tidak berhak menentangnya. Semoga kau selalu bahagia bersamanya, Debora! Aku pergi dulu!" ucap Elvas lalu pergi dari sana.
Hatinya cukup sakit menerima kenyataan yang Debora ucapkan. Berlama-lama di sana akan membuatnya mati perlahan rasanya.