Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Penyatuan itu Berhasil (Last Chapter)


__ADS_3

Dering lonceng gereja beberapa Minggu lalu menjadi saksi satu sumpah. Pernikahan Debora dan Rey digelar. Mereka menggelarnya cukup megah. Para Muskeeters seluruhnya diundang saat itu. Tak terkecuali Elvas dan Aum.


Sumpah setia sudah diucapkan oleh kedua mempelai. Penyatuan itu saat ini membuat mereka berada di atas ranjang saling berhadapan satu sama lain.


"Kau tidak bangun?" tanya Debora sambil mengusap-usap lembut surai milik Rey memainkannya.


Sedangkan Rey dia hanya diam sambil masih tetap memejamkan kedua matanya. Dia tetap membiarkan tangan sehalus sutra itu bermain di atas kepalanya.


"Sudah pagi, Pak Arlert!" ucap Debora lagi padanya.


Namun Rey hanya melenguh kecil lalu mengeratkan pelukannya di pinggang Debora. Kepalanya juga semakin masuk beristirahat tepat di dada Debora.


"Hei, ini sudah pagi!" tutur Debora lagi padanya.


"Aku tidak ingin bangun!" jawab Rey pelan.


Debora terkekeh mendengar itu. Rasanya ia seperti sedang menghadapi seorang anak kecil di sini.


"Rey, aku ingin makan es krim!" pinta Debora padanya.


"Nanti kita akan membelinya sayang! Aku masih mengantuk. Ah.. Lebih tepatnya aku masih ingin di sini bermanja-manja denganmu!" ujar Rey jujur.


Debora kembali dibuat tersenyum atas perkataan itu. Dia tidak menolak sama sekali apa yang Rey lakukan padanya.


"Debora..." lirih Rey memanggil namanya.


"Hmm.." lirih Debora menyahuti.


"Menurutmu berapa banyak anak yang harus kita miliki nanti?" tanya Rey spontan pada Debora.

__ADS_1


Pertanyaan itu sontak membuat Debora bersemu. Kepalanya kembali terngiang perihal malam pertama mereka. Astaga, rasanya kuduknya meremang saja saat ini. Bukannya dia menakuti itu. Tapi, ada sensasi lain di sana yang bahkan ia ingat sampai saat ini.


"Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?" tanya Debora padanya.


Pertanyaan itu membuat Rey mendongak seketika. Rey menatapnya serius kali ini. Debora yang ditatap seperti itupun mengalihkan netranya ke arah lain. Ketika ia hendak bangkit, Rey menahannya.


Rey merubah posisinya menjadi berada di atas Debora saat ini. Dengan kedua tangan yang Rey tahan, Debora tidak mampu berbuat apapun.


Tatapan itu selalu saja mampu menghipnotisnya. Sungguh, dalam posisi ini Debora rasanya tak berdaya. Bukannya dia ingin menolak apa yang Rey minta. Tetapi, jika berbicara perihal intim rasanya bahkan dirinya sampai saat ini masih malu-malu.


"Jangan acuh begitu!" ucap Rey pelan namun dalam.


"Ak.. Aku.. Tidak mengacuhkanmu!" ucap Debora menjawab.


Rey tersenyum mendengar itu. Tangan kirinya mulai membelai lembut wajah cantik itu.


"Kalau begitu, aku ingin mengalahkan Mikhail di sini! Bisa-bisanya dia punya lima anak sekaligus dalam waktu singkat. Gila sekali dia!" gerutu Rey.


"Ini masih pagi astaga!!!" pekik Debora sambil mencubit gemas wajah Rey.


"Hei, aku tidak peduli! Intinya pagi ini, aku menginginkanmu. Jadi, jangan menolakku! Atau aku akan gila mungkin setelah ini!" bisik Rey tepat di telinga Debora.


Setelah mendengar itu Debora diam. Ketika Rey menatap lagi wajahnya. Sontak pada saat itu Debora mengalungkan kedua tangannya. Dari bisikan merambat melalui tatapan.


Lalu berangsur menjadi sentuhan. Tiap sentuhan adalah euforia terindah yang menciptakan irama diantara pasangan.


__________


..."Aku Debora Defanny, perjuanganku untuk sampai pada titik ini sangat berat. Aku masih mengingat tiap detik keluargaku dibunuh malam itu. Lalu aku yang lemah berlari menyusuri bumi yang berubah bak neraka. Lalu kemampuan aneh datang bersemayam dalam tubuhku. Mengantarkan diriku masuk ke dalam sebuah Asrama Sihir. Aku tidak pernah tau bahwa di sana aku akan menjadi peran penting. Sebagai seorang ahli strategi. Saat itu juga aku bertemu dengan Rey Arlert. Satu-satunya pemuda yang aku cintai. Satu-satunya pemuda yang membuat kehidupanku penuh arti. Rey, terima kasih ya! Aku menyerahkan diriku padamu. Jadi, tolong jaga aku ya!" ~Debora Defanny. ...

__ADS_1


..."Aku Rey Arlert, dulu yang membawaku masuk ke dalam Asrama Rensuar adalah kegagalan diriku. Pada waktu itu aku tidak mampu melindungi satu-satunya keluarga milikku. Syena, adik terkasihku, Kesayanganku! Dia adalah segalanya untukku. Karenanya aku bertekad mengalahkan Iblis-iblis laknat itu sendiri. Tapi ada satu suara yang menyerukan padaku. Bahwa berjuang sendirian itu adalah bunuh diri. Suara itu adalah suara seorang gadis bersurai putih. Dia selalu datang padaku membantuku. Bahkan mempertaruhkan nyawanya buatku. Hei Debora, bukankah aku sudah berulang kali bicara padamu. Jangan mati terlalu cepat ketika kau bersamaku. Lalu mengapa kau selalu meregang nyawamu demi diriku? Kucing putih, dari seluruh rentetan perjuangan itu. Pada akhirnya setelah kematian kutempuh, aku di sini bersamamu melalui kesempatan kedua dari Tuhan. Maka, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku mencintaimu!"~Rey Arlert. ...


Aksara di atas adalah rentetan goresan pena. Pena yang menari beberapa tahun lalu. Pena, yang mereka berdua tulis bersama setelah menikah.


Sepuluh tahun silam dari segala perjuangan itu. Kini membawa mereka tidur terlentang di atas hamparan rumput hijau. Langitnya indah. Mereka di sana mematri keindahan itu sambil tersenyum.


Tangan mereka terangkat seolah mencoba menggapai langit. Saat ini di tengah mereka sedang tidur satu makhluk kecil yang menawan. Surainya sama seperti Rey. Namun wajahnya lebih mirip Debora.


"Daddy, kenapa langit selalu indah?" tanya Ken anak pertama dari Debora dan Rey.


Debora dan Rey sejenak saling tatap setelah mendengar pertanyaan dari anak pertama mereka.


""Kita semua hidup di bawah langit yang sama, tetapi kita tidak semua memiliki cakrawala yang sama. Jika pemandangan langit biru memenuhimu dengan sukacita, jika sehelai rumput muncul di ladang, memiliki kekuatan untuk menggerakkanmu, jika hal-hal sederhana dari alam memiliki pesan yang kamu pahami, bersukacitalah, karena jiwamu itu hidup. Aku selalu percaya bahwa langit adalah awal dari batas. Masa depan ada di langit." jelas Rey pada anaknya.


Setelah penjelasan itu dikatakan. Dua orang gadis kecil datang bersama dengan Syena dan Mikhail. Langkah kaki mereka berlari terdengar. Membuat Rey dan Debora terbangun, duduk lalu menatap ke belakang.


Rupanya itu adalah Vinora dan Vans. Anak kembar identik dari Debora dan Rey. Mereka adalah adik Ken. Sekaligus anak terakhir dari kedua pasangan ini. Mereka berteriak ke arah Ken mengajaknya bermain bersama.


Ken bangun ketika mendengar ajakan itu. Ken berlari menghampiri kedua adiknya di sana. Mereka pun mulai bermain bersama berlarian di hamparan rumput luas itu. Tak lama anak-anak Syena juga datang menemani mereka bermain.


"Wah menikmati bulan madu kalian!" sindir Mikhail duduk di samping Rey.


"Kenapa tidak? Selagi masih bisa dinikmati, maka nikmatilah!" jawab Rey padanya.


"Kakak, apa kau sehat?" tanya Syena pada Rey. Syena memeluk kakaknya itu. Rey tentu saja membalas pelukan itu.


"Aku selalu sehat, Syena!" jawab Rey.


Mereka pun duduk bersama di sana saling bercengkrama satu sama lain. Perjuangan mereka sudah selesai.

__ADS_1


Yang tersisa saat ini bagi mereka adalah. Menikmati kehidupan bebas yang sudah mereka capai dengan keringat dan darah. Sambil bersyukur di sela-sela kebahagiaan itu.


__ADS_2