
Semalam tak ada acara makan bersama. Mereka sama-sama makan di tempat yang berbeda. Kali ini Rey sedang duduk di ruang tamu. Disana ada Justice dan Riley, mereka berdua sedang bercengkrama perihal Silver Alaska.
"Hari ini libur tetapi pikiranku sama sekali tak ingin berlibur." Ucap Riley menyamankan dirinya bersandar di samping Justice.
"Benar, liburan memang mengasyikkan. Hanya saja, ketika tugas belum sepenuhnya usai rasanya seperti ada yang mengganjal." Justice memainkan Surai milik Riley.
"Hufttt... Aku lelah sejujurnya jika seperti ini terus." Rey bersandar lalu menatap ke arah langit-langit atap.
"Rasanya seperti kita sedang berjalan di satu jalur tanpa ada jalan keluar." Tambah Riley lagi.
"Mengapalah lama sekali penumpasan ini di umumkan?" Gerutu Rey lagi.
Mikhail mulai menuruni anak tangga. Pagi ini ia akan berada di Land White mencari beberapa tanaman obat.
"Mikha kau akan kemana?" Tanya Riley ketika Mikhail sampai tepat di lantai bawah.
"Aku akan mencari tanaman obat di Land White, apakah kau mau ikut?" Tanya Mikhail sembari merapikan jubahnya.
Ketiga rekannya itu mengangguk, setelah usai merapikan jubahnya tak lama suara langkah kaki lain mulai datang menuruni anak tangga. Itu adalah Syena, ia juga sudah sangat rapi dengan jubah putihnya.
"Syena kau akan kemana?" Tanya Rey pada adiknya itu.
Syena berhenti lalu tersenyum ke arah Rey.
"Aku akan ke lapangan terbang bersama Aum! Kakak aku harus melatih kemampuanku." Jawab Syena pada kakaknya.
Riley dan Justice saling tatap sejenak namun tak lama ia kembali menatap ke arah Syena dan Mikhail bergantian.
"Kenapa kau menatapku semacam itu Riley?" Tanya Mikhail bingung di tatap berulang kali oleh Riley.
"Mikha, akhir-akhir ini aku melihatmu sering keluar bersama dengan Syena? Bahkan semalam kau mengantarku pulang juga bersama dengan Syena." Ucap Riley menggoda.
Mikhail terkejut mendengar itu, berbeda dengan Syena yang hanya diam sambil tetap menatap ke arah Riley.
Syena paham, saat ini Riley sedang mengintrogasi Mikhail disini. Sekilas ia menatap ke arah Mikhail, terlihat disana Mikhail hanya terpaku. Namun tak lama suara helaan nafas itu membuat Syena tersenyum lalu berpaling ke arah lain.
"Aku dan Syena tidak sengaja bertemu! Semalam aku sedang berada di toko Alkemis. Dan disana aku bertemu Aum, lalu kami keluar dari toko itu dan bertemu dengannya. Lalu, aku menemukan dua orang kapten Rensuar terkulai mabuk di antara kerumunan orang." Jelas Mikhail ia berjalan melewati rekannya.
"Sudahlah, aku akan berangkat!" Mikhail berhenti ketika tepat berada di depan pintu, berpamitan lalu membukanya.
Melihat itu Syena pun berjalan ke arah Riley. Kemudian Syena teringat sesuatu. Kemarin, tepatnya sesudah mengantar Riley dan Justice ke markas Syena keluar lagi.
__ADS_1
Ia hanya berjalan-jalan menenangkan pikirannya. Di dalam belantara luas tempat dimana para Muskeeters berlalu lalang masuk keluar Kastil Sihir. Ia melihat Elvas, duduk termenung sambil menatap ke arah danau.
Semalam ia membicarakan perihal Debora. Elvas disama mengeluh perihal Rey yang terus saja menyakiti Debora. Namun apa yang Syena lihat tidak begitu, sebab Syena selama ini hanya melihat cinta dalam diri kakaknya untuk Debora.
"Kakak..." Ucap Syena menunduk.
Ketiga rekannya itu segera menatap ke arah Syena. Ketika perhatian itu Syena dapatkan ia pun menatap tepat ke arah Rey.
"Kakak, jangan menyakiti Kakak Debora lagi ya!"
Deggggg
Rey terkejut mendengar itu. Apa yang Syena katakan rasanya seperti menamparnya. Berbeda dengan Justice dan Riley keduanya terkejut namun kemudian tersenyum.
"Kenapa kau mendadak mengatakan itu Syena?" Tanya Rey padanya.
"Sebab jika kau teruskan menyakitinya, aku akan membiarkan manusia lain merebutnya darimu."
Syena sengaja memang mengancam Rey disini. Agar Rey sadar, perihal emosi yang menguasainya tidak perlu di lampiaskan pada orang lain.
Rey menunduk, kembali ia di ingatkan lagi perihal kesalahannya. Namun ia sudah menyesal bukan. Sungguh jika di ingatkan lagi rasanya hatinya benar-benar tak sanggup.
Kemudian Syena hanya mengangguk lalu kembali menghadap ke arah Riley disana.
"Kakak, kuncinya?" Ucap Syena seraya membuka telapak tangannya lalu menyodorkannya ke arah Riley.
"Ah iya, ini!"
Riley menyerahkan kunci yang baru saja ia ambil dari dalam domain. Syena menerimanya lalu bersorak riang, kemudian ia pun pergi meninggalkan mereka.
Suara Aum di halaman sudah cukup ramai sejak tadi. Hal itu membuatnya mempercepat langkahnya untuk segera menemui sahabat baiknya itu. Mereka berdua pun pergi dari markas menuju peternakan Riley, mengambil Khufra disana untuk latihan.
"Dengar Rey! Jangan sakiti dia lagi!" Ucap Riley kembali mengulangi apa yang Syena katakan.
Rey hanya mendengus kesal menanggapi itu, kemudian ia mengangguk.
"Aku tidak melihat Debora sejak tadi pagi, kemana dia?" Tanya Rey pada kedua temannya.
"Ahhh.." Justice menggaruk pelan belakang kepalanya lalu kembali menatap Rey.
"Dia sedang berbicara empat mata bersama Noella. Kau tau, ada berita baik perihal penyerangan. Katanya, penyerangan akan segera di lakukan besok. Mungkin nanti malam Debora akan membahas sesuatu dengan kita." Ujar Justice menjelaskan.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak mengajakku? Biasanya jika rapat ia akan mengajakku!"
"Mungkin dia masih kesal perihal ucapanmu Rey!" Tambah Justice.
"Semalam bahkan kami makan berdua!"
"Ha, kemana?"
"Di kedai mie ramen!"
"Kau cabuli dia lagi Rey?" Tanya Justice padanya.
"Hah!!!" Pekik Rey sambil menatapnya.
"Kapan aku pernah mencabuli nya hah? Jangan gila kau Justice!" Ucap Rey padanya.
Riley tertawa mendengar itu. Kedua manusia ini benar-benar konyol. Adu argumen mereka cukup panjang mengundang tawa Riley meledak kencang.
Glekkkkk
Debora baru saja kembali ia masuk di sambut dengan ketiga orang rekannya yang duduk saling tertawa satu sama lain.
Melihat itu Debora menarik sudut bibirnya, kebersamaan ini indah sekali sungguh. Debora menaruh jubahnya lalu berjalan menghampiri mereka yang tertawa.
"Aku pulang!" Lirih Debora pada mereka.
Ketiga rekannya kemudian tersenyum mengangguk menyambutnya. Debora berjalan ke arah dapur, ia ingin membuat segelas matcha hangat untuk sekedar menenangkan pikirannya.
Sesekali Rey memperhatikannya. Ada sesuatu dalam mata itu. Mata itu sepertinya menyimpan sesuatu yang sendu.
"Rey, apakah kau tidak masalah jika pujaan hatimu di rebut orang lain?"
Rey membulatkan kedua matanya kali ini Baron Putih berkata padanya. Bercengkrama dengan ketiga Baron dalam tubuhnya jarang baginya sekarang.
"Mengapa kau bertanya seperti itu hah?"
"Santai saja, mengapa kau jadi tersulut emosi akhir-akhir ini!"
"Aku mencintainya, namun kau tau bukan aku ini tidak memiliki waktu banyak di bumi. Hidupku hanya untuk mengabdi pada bumi beserta kebebasan. Bersamanya disini sambil memandangi nya saja sudah cukup bagiku. Kelak nanti dia juga akan ingat bukan, perihal pengakuan perasaan kita berdua nanti." Jelas Rey pada mereka.
Apa yang Rey katakan membuatnya tersenyum.
__ADS_1