Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Berita-berita dan Teror


__ADS_3

...Berkatalah sesuka hatimu, walaupun aku harus mati, aku akan tetap menolongmu...


...Ada kalanya kata hatilah yang menggerakan tubuh kita...



_________


.


.


Terpotongnya kepala Akaza beberapa waktu lalu membuat Tuan para Iblis geram. Barsh mengatakan pada Tuannya, bahwasannya Rey sebenarnya masih hidup disana.


Namun Tuan mereka hanya diam mendengar itu, bagaimana dirinya bisa mempercayai itu. Sementara tak ada bukti kuat yang mendukung argumen Barsh.


Kekuatan mata Syena saat itu menghasilkan ledakan besar. Ditambah serangan refleks dari belukar hitam dan pusaran hitam membawa tubuh hampir mati itu lenyap bersamanya. Lantas kemungkinan manakah yang membuat, Rey masih hidup sekarang.


Barsh diperintahkan masuk ke dalam Rensuar, mencari keberadaan Syena disana. Duka akibat matinya Generasinya, membuat Iblis seratus juta jiwa tak mampu berpikir jernih.


Barsh diperintahkan membawa Syena kembali masuk kedalam Silver Alaska. Disana Tuan mereka juga mengatakan pada Barsh, supaya tidak gagal dalam misinya. Tuan mereka juga memberitahu bahwa, Barsh tidak boleh mati dalam misi ini.


Anggukan kepalanya saat itu, membawa tubuhnya masuk ke dalam Rensuar. Berbekal ilmu penyamaran aura, juga membunuh tiga Musketeers di pintu masuk tubuhnya pun berhasil masuk kemari.



Saat ini posisinya cukup menguntungkan bagi Barsh. Syena berada disebuah hamparan salju bertiga bersama dua rekan Rey. Disana sepi, mereka sedang berada didalam sebuah peternakan.


"Aku tidak mengerti mengapa kau datang kemari membantuku, Debora?" Ujar Justice seraya memberi potongan daging kepada para Khufra Riley.


"Aku hanya merindukan Rey! Lagi pula, Syena juga mengatakan bahwa ia ingin melihat peternakan Riley."


Mereka bertiga berjalan kedepan melewati para Khufra. Sesekali Debora mengusap lembut kepala para Khufra itu. Tunggangan kesayangan timnya ini tidak buas, Riley sudah melatihnya dengan baik. Didepan mereka terlihat Syena yang girang memberi makan para Khufra.


"Bukankah kau ada rapat bersama para petinggi, tentang perancangan strategi?" Tanya Justice lagi pada Debora.


"Terkadang aku harus mengatakan tidak pada mereka! Apa salahnya jika sehari saja aku memilih libur?"


"Rupanya kau pun juga bisa merasakan jenuh ya?"


Ucapan Justice membuat Debora mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja ia bisa merasa jenuh disini, lagi pula ia juga adalah seorang manusia bukan.


"Aku juga seorang manusia yang rawan bosan, Justice! Perbedaannya adalah, bosanku tidak sepertimu dan Rey!"


"Wah kau menyindir rupanya!" Ucap Justice, Usai mengatakan itu Debora tertawa.


Khufra terakhir dalam peternakan ini membuat Syena berbalik menatap ke arah dua orang manusia dibelakangnya. Debora yang ditatap pun tersenyum ke arahnya.


"Ada apa Syena?" Tanya Debora lembut padanya, gadis muda itu menggeleng pelan.


"Aku sudah puas memberi makan mereka kakak!" Ucap Syena riang.


"Wah bagus, kalau begitu kita bisa kembali ke markas atau jalan-jalan di kota?"


Ajakan itu membuat Syena sama sekali tak melepas senyumannya. Gadis muda itu terlihat sangat bahagia, tiap kali bersama Debora.


Debora tau apa yang membuat Syena bahagia disini. Gadis muda ini membutuhkan belaian kasih sayang juga kepedulian, itulah yang membuatnya terbuka pada Debora.


Debora memberikan wadah berisi daging itu kepada Justice disampingnya. Lalu tangannya terulur ke arah Syena mengajaknya pergi, dengan senang hati Syena membalas uluran tangan itu. Mereka berdua pun memutuskan pergi dari sana meninggalkan Justice seorang diri.


"Ketua tim kami memang terkadang mengesalkan!" Pikir Justice.


Disana Justice mulai membereskan beberapa wadah makan itu. Meletakannya di tempatnya, setelah seluruh peralatan tertata rapi Justice pun berinisiatif kembali ke markas untuk istirahat.


"Aaaaaaa!!!"

__ADS_1


Suara teriakan dari Syena seketika membuat Justice terkejut. Refleks ia meninggalkan kegiatannya dalam peternakan lalu berlari keluar dari sana.



Betapa terkejutnya Justice melihat keberadaan Barsh disana. Syena berada tepat didepan Debora sambil memegang mata kirinya. Gadis muda itu berteriak kesakitan disana.


"Bedebah, bagaimana kau sampai kemari?" Pekik Justice tak percaya.


"Muda saja, aku membunuh tiga orang Musketeers untuk masuk kemari!" Jawaban itu semakin membuat Justice geram disana.


"Kau mengambil properti kami, sudah seharusnya kami mengambilnya kembali!"


Jawaban itu membuat Debora teringat akan ucapan terakhir yang Rey ucapkan. Disana ia mengepalkan tangannya sambil menatap ke arah Barsh.


"Sampai mati pun, kami tidak akan menyerahkan Syena!"


Barsh tertawa mendengar itu. Tekad semacam itu membuatnya geli rasanya.


"Menjijikan sekali, kau melindungi seorang pengkhinat?"


"Dia dibawah pengaruhmu!"


"Kalian memelihara seekor anjing yang bahkan sama sekali tak mampu mematuhi kalian!"


Crashhhhhhh


Baik Debora dan Justice keduanya saat ini sama-sama mengeluarkan senjata mereka. Mereka tidak perlu takut bertindak disini, mereka akan terus maju tanpa henti.


Ini adalah rumah mereka, area mereka. Jikalau mereka mati disini, maka akan ada para Musketeers datang kemari melenyapkan Barsh disini.


"Aaaaaaaa.... sakit!!!"


Teriakan Syena membuat Debora dan Justice iba rasanya. Mereka tau, Barsh lah yang membuat mata kiri Syena seperti itu.


"Kau tidak bisa mengendalikannya disini, itulah mengapa kau hanya mampu menyiksanya disini. Dengar ya anjing bodoh, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu sampai aku mati!"


Ketika Debora hendak maju meluncurkan serangannya. Justice disampingnya menahannya, hal itu membuat Debora heran. Mengapa Justice menahannya tidak biasanya emosinya tak tersulut.


"Sebenarnya kedatanganmu kemari ada tujuan lain bukan?" Tanya Justice padanya.


"Tujuanku hanya dia!"


Barsh menjawab ambil menunjuk ke arah Syena. Mendengar itu Justice pun berseringai, sepertinya memang mereka harus bertarung disini.


"Sepertinya kau harus mendengar ini, Guguk! Kami tidak akan menyerahkan Syena padamu, sekalipun kami harus mati melawanmu!"


Crashhhhh



Justice mulai mengaliri pedang miliknya dengan sihir begitupun dengan Debora disana. Syena mendengar segala ucapan yang Justice katakan tentangnya.


Dua orang manusia disini membelanya, mereka mempertahankan Syena sekalipun harus mati untuknya. Rasanya hatinya bergetar tiap kali mendengar ucapan pembelaan itu padanya.


Tapi Barsh adalah lawan yang sangat tangguh. Sihir tiga puluh kloning adalah senjata pamungkasnya. Syena mencoba meredam rasa sakitnya dengan cara mencengkram hamparan salju dibawah tempatnya bersimpuh.


Bunyi peraduan pedang dan sihir disana mulai terdengar. Misinya adalah, sebelum senjata pamungkas Barsh di aktifkan. Syena harus mampu membuka kembali mata kirinya, ia harus melawan segala mantra perasuk yang berusaha memasuki tubuhnya.


______



Ditengah peraduan mereka dalam jurang yang gelap. Rey yang sedang duduk diatas batu besar sambil memejamkan matanya, terhubung jelas dengan Syena disana.


Bagian diri Baron pada tubuh Syena memperlihatkan padanya bahwasanya dua rekannya beserta adiknya sedang dalam bahaya.

__ADS_1


"Aku harus membantu mereka!" Pekik Rey membuka matanya.


"Aku memahami dilemamu Rey! Tapi bukankah kau sudah bilang, bahwa kau tidak akan keluar dari Silver Alaska jika belum membunuh para generasi?"


Baron Hitam dalam tubuhnya mencoba menentang keinginan Rey. Sejenak Rey terdiam, ia ingat bahwa misinya disini adalah melenyapkan para generasi.


"Tapi adikku dalam bahaya! Gadis yang kucintai juga dalam bahaya!"


"Arlert kau memang tangguh, tetapi coba pikirkan! Diluar sana ada tujuh generasi yang masih belum lebur. Kau ini masih lemah Rey, jika mereka menyerangmu secara serentak. Mungkin kau akan benar-benar mati!"


Rey mengepalkan tangannya kuat, petuah dari Baron Emas benar. Dirinya tidak bisa mati sekarang, dirinya disini karena sebuah misi. Sebuah tuntutan melenyapkan para generasi.


Rey mengiyakan seluruh resiko besar demi menjauhkan teman-temannya dari marah bahaya yang fatal. Rey ingin hanya dirinya sajalah yang menyelesaikan misi ini. Lenyaplah para generasi nanti, akan menciptakan keuntungan besar bagi Rensuar.


Dimana nantinya tubuh Iblis seratus juta jiwa akan mudah diserang. Rey akan membawa para Musketeers kemari, meleburkan tiap Iblis didalam Silver Alaska.


Itu akan terjadi apabila Rey berhasil menaklukan para generasi disini, dan hanya menyisakan Iblis seratus juta jiwa saja, beserta para Iblis rendahan.


Gemertak gigi Rey beradu, sungguh rasanya seperti sedang di uji. Baron Hitam disana memahami kegelisahan yang Rey rasakan. Dalam kepalanya muncul satu ide yang cukup menarik.


"Bagaimana dengan kloning?"


Pertanyaan itu membuat kedua Baron didalam terhenyak. Mengapa tak terpikirkan oleh mereka hal itu.


"Benar, kau bisa membuat satu kloning! Lalu kami akan mengirim mu kesana melalui belukar! Sekalipun kloning mu nantinya diketahui, kau bisa menghilangkan kloning mu dalam sekejap. Namun apabila, dia terserang dia juga akan hilang. Kloning tidak beresiko Rey, kau bisa melakukannya. Sisanya, kami akan bantu!"


Lega rasanya mendengar solusi cerdas dari Baron Hitam. Rey mulai berkonsentrasi disana.


"Abonoeraa Atrem Aveluska!"


Syuthhhhh


Satu kloning sekejap muncul di hadapan Rey. Disana Baron Hitam memanggil sulurnya. Tubuh kloning itu masuk kedalam belukar. Dari dalam domain, Baron Hitam mulai mengendalikan belukar itu menuju area Rensuar.



Mereka tidak bisa menggunakan sihir teleportasi seperti halnya Leviousa. Sebab mereka adalah senjata, hanya penyihir lah yang mampu menggunakannya.


Rey memang seorang penyihir, namun butuh keahlian yang lebih besar lagi untuk merapal mantra itu agar bekerja. Keahlian layaknya Harith juga Axcel. Namun nyatanya, Rey masihlah seorang pemula.


Dalam peraduannya di Rensuar. Debora dan Justice mulai terengah-engah disana. Syena disana juga masih bersimpuh, dalam hatinya ia ingin membantu. Namun apa daya dirinya yang tak mampu bergerak.


Mana milik mereka berdua sudah hampir mencapai puncaknya. Berulang kali Barsh tersayat pedang mereka, namun regenerasi miliknya selalu saja mampu menutup luka-lukanya.


Rasanya Debora mulai kehabisan akal saat ini. Ditengah keputusasaan itu, ketika Barsh berlari ke arah mereka berdua. Dari atas langit seseorang berjubah putih melompat.


Crashhhhhhh


Wushhhh


Sabitan pedangnya sekejap menghalau apa yang akan Barsh lakukan. Bola mata mereka membulat menyaksikan, seseorang berjubah putih melayang di udara sambil menahan serangan Barsh.


"Mundurlah!" Ucapnya.


Pemilik suara itu besar menggema. Debora masih terpaku disana memperhatikan sosok berjubah itu. Justice yang merasa ada kesempatan pun, membawa Debora menjauh dari sana. Mereka tidak tau bahwa manusia berjubah itu adalah Rey, sebab disana Rey membelakangi mereka.


Sebab disana Rey mengambil wujud baru. Penampilannya yang baru membuat para rekannya tak menyadari bahwa itu dirinya. Bahkan suara yang ia keluarkan, itu adalah suar milik Baron Putihnya.


...Kalau aku tidak ada di saat dia menderita, aku tidak pantas lagi disebut sebagai temannya...


...Wanita itu untuk dicintai dan dilindungi bukan untuk disakiti...



__________

__ADS_1


__ADS_2