
Seorang gadis berjalan menuju ke arah Gereja. Sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya akibat cuaca pagi ini yang cukup dingin. Pakaian yang ia kenakan juga cukup tebal.
Hari ini Minggu, sudah selalu baginya datang kemari tiap Minggu pagi. Gadis berambut coklat panjang terurai ini adalah Aum.
"Cuacanya dingin sekali! Sebenarnya ingin juga tidak keluar rumah jika cuacanya semacam ini! Tak apalah, lagi pula aku datang dengan niat mulia!" ucap Aum sambil tetap berjalan ke arah Gereja.
Setibanya di depan pintu besar gereja. Aum membuka pintu itu perlahan. Para jemaat di sana sudah duduk masing-masing sambil melantunkan apa yang ada di buku.
Di sana Aum pun duduk di salah satu kursi yang kosong. Di sampingnya ada seorang pemuda yang diam memejamkan matanya sambil mengatupkan tangannya.
Pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Elvas. Dia juga sering datang kemari tiap Minggu. Ketika seluruh doa sudah dipanjatkan, Elvas pun membuka kedua matanya. Saat dia menoleh ke arah samping dia terkejut melihat keberadaan Aum di sampingnya.
Aum di sana masih memejamkan kedua matanya. Dia masih berdoa begitu khusyu di sana. Elvas tersenyum sambil tetap memperhatikannya. Surai terurai yang jatuh menjuntai itu menarik perhatiannya.
Ditambah, wajah polos menawan yang cukup membuat kaum Adam betah memperhatikannya berjam-jam.
Ketika Aum membuka kedua matanya, Elvas segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aum menoleh ke samping. Dia juga terkejut melihat keberadaan Elvas di sana.
"Kakak Elvas?" lirih Aum padanya.
Elvas yang berpura-pura tidak melihatnya pun menoleh.
"Wah, Aum ya?" ucap Elvas tersenyum.
Aum mengangguk mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman sebentar. Uluran tangan itu disambut hangat oleh Elvas.
"Aku tidak tau jika sebelahku sejak tadi kakak!" ucap Aum padanya.
"Sama, aku juga tidak tau jika kau yang sejak tadi ada di sampingku!" ucap Elvas sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Kakak di sini sendirian?" tanya Aum sambil mencari-cari keberadaan seseorang barangkali itu adalah kerabat Elvas.
__ADS_1
"Iya, aku sendirian! Kau juga sendirian?" tanya Elvas padanya.
Aum mengangguk mengiyakan apa yang Elvas katakan. Kemudian keduanya kembali menatap ke depan. Keduanya diam mendengarkan musik gereja yang mulai menggema.
"Aku sering datang kemari setiap Minggu!" ucap Elvas padanya tanpa menoleh.
"Aku juga!" jawab Aum.
"Sebab kita para Muskeeters saat ini sudah tidak memiliki siapa-siapa. Bisakah tiap Minggu kita datang berdua kemari, Aum?" tanya Elvas menoleh pada Aum di sampingnya.
Aum mendengar itupun menoleh ke arah Elvas. Dia tersenyum lalu mengangguk. Jujur saja, Aum pun juga merasa kesepian setelah bumi kembali pulih.
Sekalipun mereka para mantan Muskeeters diberi kemewahan oleh negara. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa mereka dilanda kesepian.
Sebab saat perang dengan iblis itu. Banyak keluarga mereka yang mati dibunuh. Meninggalkan mereka para pemilik mata penjelajah ghaib tinggal seorang diri tanpa hadirnya keluarga.
Di sini Aum menjadi teringat oleh para rekannya yang beberapa dari mereka sudah berkeluarga. Sepertinya mereka bahagia sekarang.
"Oh ya, apa itu?" tanya Elvas penasaran.
"Ya, kita dulu digabungkan dalam satu asrama sekalipun dunia hancur! Tetapi, kita masih memiliki rekan seperjuangan yang selalu ada di samping kita. Mendengar seluruh keluh kesah kita!" ucap Aum.
Elvas tersenyum miring mendengar itu. Benar sekali apa yang Aum katakan. Setidaknya sekalipun dunia hancur dan manusia hampir punah. Kebersamaan juga kehangatan itu masih ada di sana.
"Kau benar sekali! Tapi dunia terus berputar, kita tidak akan ada di fase itu lagi sekarang. Perlu banyak nyawa dan jiwa yang harus dikorbankan untuk meraih itu. Dan sebagai tanda terima kasih atas darah dan nyawa yang mati dulu. Negara memberikan kita para Muskeeters jaminan sampai mati!" ucap Elvas.
"Iya kau benar! Tapi tidak menutup kemungkinan juga kita masih merasa sunyi di sini!" ucap Aum sambil menyentuh dadanya.
Elvas menoleh ke samping. Kebenaran itu membuatnya iba. Akibatnya sontak saja dia menarik Aum mendekat ke arahnya membiarkan gadis itu meletakkan kepalanya di atas bahunya.
"Kak Elvas!" pekik Aum.
__ADS_1
"Kau masih memiliki banyak rekan seperjuangan! Jadi jangan merasa sendiri di sini. Jika kau membutuhkan aku, maka panggil atau setidaknya hubungi aku. Aku akan menemanimu, kemanapun kau pergi jika kau minta!" ucap Elvas pada Aum.
Ucapan itu membuat hati Aum menghangat. Rupanya masih ada yang peduli padanya di sini. Aum diam, membiarkan tubuhnya tetap dalam posisi itu.
Tak hanya merangkul, bahkan Elvas pun juga membelai lembut puncak kepala Aum. Mereka berdua di dalam gereja menikmati nyanyian rohani dengan posisi itu.
Ketika urusan mereka di gerakan selesai. Keduany pun keluar dari sana. Aum mengajak Elvas untuk makan. Di sana Elvas menurutinya. Mereka berdua pun pergi bersama ke restoran.
Pagi yang dingin itu mereka lewati berdua. Akibat ucapan manis yang Elvas lontarkan, membuat Aum menjadi sedikit berani mengajaknya untuk menemaninya menikmati durasi waktu.
"Makanan di sini lezat ya!" ucap Aum pada Elvas.
Elvas yang duduk di hadapannya pun tersenyum ia mengangguk. Jika diperhatikan dari sisi manapun, Aum ini manis sekali buatnya.
"Ya, kau benar! Dan kau menghabiskan tiga porsi es krim dalam cuaca dingin!" ucap Elvas padanya.
Aum mengacungkan kedua jempol nya pada Elvas. Dia mera bangga bisa menghabiskan tiga porsi es krim tadi.
"Itu rasanya luar biasa kakak! Kau harus mencobanya lain kali!" ucap Aum padanya.
Elvas tertawa mendengar itu. Aum memang lima tahun lebih tua darinya. Sifat kekanak-kanakannya jelas masih ada.
Elvas tak sengaja melihat sudut bibir Aum. Di sana ada bekas es krim yang masih ada. Di sela-sela bicaranya, Elvas mengarahkan jarinya ke arah Aum.
Jempol miliknya mengusap lembut sudut bibir itu. Mencoba menghapus sisa es krim yang tertinggal di sana.
"Makanlah pelan-pelan! Dan jangan memesan makanan dingin saat cuacanya juga dingin. Sakit itu bertahap, mungkin kau bisa saja sakit setelah ini! Kurangi makanan dingin ya, Aum!" tutur Elvas lembut padanya.
Nada bicara yang cukup santun itu membuat Aum tertegun. Dia terpaku di sana sambil menatap lekat ke arah Elvas. Entah mengapa, kharisma pemuda ini seperti menusuk hatinya.
Aum mengalihkan netranya ke arah lain. Ia tidak tau ada apa dengan jantungnya kali ini. Debarannya di sana kencang sekali, seperti ingin melompat saja sekarang jantungnya.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di sana. Mereka pun pergi ke suatu tempat. Mereka ingin menghabiskan waktu sampai senja datang katanya.