Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Terkuaknya Satu Fakta


__ADS_3

...Tidak peduli mereka kuat atau tidak...


...Kuncinya adalah seberapa besar tekad kita untuk menang dan jika kita kalah, itu adalah kesempatan kita berjuang lebih keras...



"Syena, apakah kau lapar?" Tanya Rey.


Syena menoleh ke samping mendengar pertanyaan yang Rey ajukan. Sejak tadi Rey memperhatikan adiknya itu memegangi perutnya sesekali. Itu membuatnya berasumsi bahwa Syena pasti sedang lapar saat ini.


"Sepertinya begitu kakak! Lagi pula kau lihat sendiri bukan seberapa banyak mana milikku terkuras."


"Hahaha... Iya benar sekali! Ya sudah selagi kita masih di kota bagaimana jika kau cari kedai makanan yang kau minati. Aku akan mentraktir mu!"


"Sungguh kakak?!"


Ucap Syena berbinar tak percaya. Jarang sekali ia keluar bersama dengan Rey seperti ini. Namun ketika sebuah tawaran gratis tentu saja Syena tidak akan menolaknya.


"Baiklah, aku ingin makanan Jepang saja hari ini!" Jawab Syena riang.


Hal itu membuat Rey tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Syena menarik pergelangan tangan Rey lalu mengajaknya pergi.


Kota selalu ramai para manusia non sihir disini saling berdagang. Beraneka ragam dagangan mereka ada disini. Bahkan toko Alkemis juga ada disini dan tentu saja penjualnya tidak lain dan tidak bukan adalah seorang penyihir.


Hanya beberapa ramuan saja yang boleh di jual dalam toko Alkemis. Sebuah ramuan yang tentu cocok untuk di gunakan para manusia non sihir.


Rasanya ramuan sihir lebih mempan mengobati rasa sakit manusia.


Dan itulah yang terjadi saat ini. Banyak dari mereka para tabib dunia yang mengeluh juga beralih profesi. Ketika ramuan langit datang ke bumi, tabib dan dokter seakan tak ada gunanya disini.


"Rasanya obat-obatan herbal dari kami sudah tidak di butuhkan lagi sekarang!"


alah seorang pria di pasar mulai mencibir perihal obat-obatan yang sudah tak laku dalam perdagangan.


Rey dan Syena yang masih berjalan menyusuri area kota mendengar pembicaraan mereka. Mereka tersenyum mendengar itu. Dunia yang berubah bak negeri dongeng ini dalam sekejap merubah apa saja yang ada di bumi.

__ADS_1


"Senjata militer saja saat ini tidak bisa melakukan apa-apa!" Ucap salah seorang lagi.


"Sihir benar-benar berkuasa disini! Entah sampai kapan itu! Apabila nantinya seluruh iblis itu berhasil di kalahkan, apakah sihir akan tetap berlanjut. Lantas manusia tanpa sihir tidak akan populer seperti mereka nantinya." Tambah salah seorang dari mereka.


Grepppp


"Hah, Muskeeters!"


Salah seorang dari mereka terkejut tatkala merasakan satu sentuhan kecil di atas bahunya. Ketika ia menoleh kebelakang itu adalah Rey yang sejak tadi mendengar segala pembicaraan mereka.


"Hallo Paman, apa yang sedang kalian bicarakan? Apakah kalian kesal sebab kalian tak memiliki kemampuan?"


Pertanyaan itu membuat salah seorang dari mereka terkejut. Sungguh rasanya mereka ketakutan sekarang. Dalam kepala mereka ada banyak kemungkinan negatif yang mereka pikirkan. Mereka takut di celakai oleh para pemegang sihir.


Wajah ketakutan itu adalah isyarat yang cukup membuat Rey peka. Pada akhirnya ia memilih tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu orang itu.


"Hei tenanglah Paman! Aku bukan seorang eksekutor kejam. Aku hanya seorang Muskeeters tingkatan paling bawah yang sedang berjalan-jalan di kota. Aku sedang mencari kedai makanan Jepang terbaik disini! Apakah kalian tau?" Tanya Rey berbasa-basi.


Syena dibelakangnya hanya diam sambil melipat kedua tangannya di dada.



Rey mengatupkan kedua tangannya mendengar jawaban itu. Satu pertanda syukur atas apa yang sudah orang itu beritahu.


"Wah terima kasih ya, ayo Syena!" Ucap Rey menarik pergelangan tangan Syena lalu berjalan menjauh dari perkumpulan itu.


Baru lima langkah mereka pergi Rey memutuskan untuk berhenti. Sambil berseringai ia kembali mengingat pembicaraan para manusia di belakangnya tadi.


"Ada apa kakak?" Tanya Syena padanya. Rey hanya tersenyum mendengar itu.


"Dengarkan aku Paman!"


Ucapan itu membuat orang yang ada di belakang Rey terdiam. Netra mereka tertuju ke arah Rey yang sedang membelakangi mereka.


"Segala hal yang ada di bumi ini! Suatu saat nanti akan kembali. Begitupun dengan profesimu! Sihir ini bukan milik manusia! Sihir ini milik para penduduk langit. Dan kita pasti akan kehilangan kemampuan ini. Pada saat itu para indigo apakah akan terus kalian sebut sebagai anak setan? Sedangkan ketika kami memiliki kekuatan sihir untuk menyelamatkan kalian. Kami rela mati untuk kalian! Namun kalian masih di perlakukan setara tanpa celaan ataupun hinaan. Renungkan perkataanku dengan baik!"

__ADS_1


Depppp


Deppp


Setelah mengatakan hal itu Rey pun pergi meninggalkan orang-orang disana yang masih terpaku akan ucapannya.


Mereka kembali di ingatkan perihal betapa bobroknya sifat manusia. Dimana ketika ia berada di atas ia menginjak yang dibawah. Dan ketika yang dibawah berada di atas mereka takut terinjak. Jika manusia dibekali hati mungkin balas membalas akan menjadi semboyan.


Sayangnya itu memang terjadi namun beruntungnya tidak seluruh manusia dibumi tidak manusiawi. Mereka yang mematikan hatinya suatu saat nanti akan ditampar oleh karma yang keji dan jahat. Sebuah karma yang juga akan memberi ke setimpal an pada perbuatan yang mereka kerjakan di masa lampau.


__________



Sementara di tempat lain seluruh rekan Rey baru saja menyelesaikan tugasnya. Saat ini mereka sedang berkumpul di perpustakaan sihir. Buku-buku sihir itu melayang dan terbuka sendiri.


Beberapa buku yang jatuh pun terbang lalu kembali ke tempat mereka semula. Untuk menemukan buku yang ingin dicari disini. Maka kalian akan di arahkan pada meja daftar isi.


Dimana ketika buku itu kalian sebut, maka buku itu akan terbang dari rak nya menuju ke arah kalian. Praktis bukan, tak perlu susah payah mencari dan berpusing-pusing ria.


"Sebenarnya dari sini sudah cukup jelas perihal Rey dan kekuatannya!" Ucap Mikhail sambil melipat kedua tangannya ia bersandar di antara rak.


Debora masih menatap beberapa kalimat penjelasan yang membuat hatinya semakin sesak. Ada pengorbanan dalam setiap kekuatan yang dia ambil oleh pengguna Baron.


Sejujurnya buku itu adalah buku yang di larang di baca oleh sembarang orang. Namun dengan kecerdasannya, Debora dan Mikhail mampu menemukan letak buku itu disimpan. Sekalipun membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menemukannya.


"Cihh... apa ini! Mengapa kehidupannya tidak bisa tenang?"


Justice sebagai teman yang paling dekat dengan Rey menolak segala fakta yang ada dalam buku itu. Disana dikatakan bahwa ketika tubuh manusia penampung pedang tiga Guardian, maka tubuh itu pasti akan hancur setelah tugasnya usai.


"Kita semua memang tidak akan menerima kenyataan pahit ini! Namun, jika Rey adalah kunci kebebasan dunia. Maka sudah seharusnya bagi kita tetap berada disampingnya selama tugasnya itu masih belum usai. Jadi, pembicaraan juga kenyataan ini jangan di paparkan. Kita tidak pernah tau apa alasan Rey Arlert memilih bungkam dari ini semua!"


Jelas Riley pada seluruh rekannya. Hari itu satu fakta perihal kekuatan sudah terungkap. Begitu pula dalam Silver Alaska saat ini. Terlihat disana jutaan iblis dibentuk menjadi senjata terbesar. Ini adalah rencana dari iblis seratus juta jiwa yang akan segera di jalankan.


...Jalan yang paling menjanjikan untuk sukses adalah mencoba satu kali lagi...

__ADS_1



__ADS_2