Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Alam Bawah Sadar (Pertemuan)


__ADS_3

"Kenapa aku tidak bisa melindunginya? Mengapa Debora harus selalu dalam bahaya ketika berada bersamaku? Kucing putih, maafkan aku, sungguh!"


lirih Rey dalam hatinya. Tubuh kekar itu masih meringkuk tepat di depan pintu kamar rawat Debora. Perlu kalian ketahui, bahwa ini sudah semakin larut. Berjam-jam ia meringkuk di sana, berulang kali pula beberapa rekannya datang memintanya untuk kembali ke markas dan istirahat.


Namun nyatanya, Rey Arlert adalah manusia keras kepala. Beberapa jam lalu Riley datang sambil membawa Donburi buatannya. Dengan langkah kaki yang mulai menelan ketika tubuhnya sampai dekat dengan Rey.


"Rey, apakah kau lapar?" tanya Riley kepadanya, Rey yang masih meringkuk sambil menatap ke bawah pun hanya mampu menggeleng.


Melihat respon itu, Justice yang baru saja datang memperhatikannya. Hanya mereka yang datang, sedangkan Syena dan Mikhail mereka berada di markas.


Sebab Syena juga membutuhkan pengobatan ramuan. Bekas luka akibat sihir kutukan masih terasa sakit di tubuhnya.


"Makanlah!" ujar Justice padanya.


Namun Rey hanya diam, kedua netranya masih kosong menatap ke bawah. Iba rasanya melihat rekan mereka dalam keadaan seperti ini.


Sejenak Riley menatap ke arah pintu tempat Rey bersandar. Jika dipikir, ini sudah sangat lama namun Noella masih belum keluar dari sana dan memberi kabar. Kemudian tatapan Riley kembali kepada Rey yang masih meringkuk.


Riley berjongkok mencoba menyamai tinggi Rey di sini. Justice masih berdiri memperhatikan mereka berdua. Bola mata Riley mencoba memperhatikan wajah Rey saat ini.


Terlihat jelas bahwa rekannya ini sedang terpukul hebat. Melihat itu Riley hanya tersenyum miring, iba, itu sebuah senyuman sendu. Riley menyentuh pundak Rey, sambil masih menatapnya. Berbeda dengan Rey, ia hanya mampu menatap ke bawah merenungi segalanya.


"Kau harus makan, sebab Debora akan menyalahkan diriku jika aku abai padamu! Kau tau bukan, dialah manusia yang paling peduli padamu di sini. Debora menyayangimu lebih daripada kami Rey. Dia yang paling tulus menerimamu! Jadi, sesedih apapun dirimu jangan pernah menyiksa tubuhmu!" jelas Riley kepadanya.


Riley meletakkan wadah berisi makanan itu tepat di hadapan Rey. Mereka saling terdiam beberapa saat. Rey hanya menatap ke arah wadah itu. Melihat itu, Riley yakin bahwa Rey sedang butuh waktu sendiri di sini.


Setelah meletakkan itu, Riley pun berdiri. Ia mulai menghampiri Justice. Keduanya kemudian berpamitan untuk kembali. Namun masih sama, tak ada jawaban yang Rey lontarkan.


Ketika langkah kaki keduanya tak lagi terdengar. Rey samar mengingat segala yang Debora pernah ucapkan kepadanya. Benar, apa yang Riley katakan. Debora adalah yang paling mencintainya di sini.

__ADS_1


Mengingat itu, membuat Rey kembali mengepalkan kedua tangannya. Perlahan namun pasti, Rey mulai mengambil Donburi itu. Rey mulai memakannya di sana. Ini lezat, sejenak ia menikmati itu.


Usai menyantapnya, Rey pun memasukkan wadah bekas makannya ke dalam domain. Para Baron di sana juga sedang memulihkan mana milik mereka.


Kemudian Rey kembali termenung. Namun, ada sesuatu setelah menyantap makanan itu. Kesadarannya mulai menurun, rasanya ia mengantuk saat ini. Dalam hitungan detik Rey pun terlelap dengan posisi duduk.


________


"Arlert..."


lirih sebuah alunan suara lembut memanggil nama Rey. Suara itu membuatnya mengedarkan pandangannya ke segala arah. Namun nihil, tak ada siapapun di sana kecuali ruangan putih tak terbatas.


"Siapa?" tanya Rey kepada pemilik suara.


Gema suaranya mencoba mempertanyakan atas siapakah pemilik suara itu. Sebuah sentuhan lembut di pundaknya membuat Rey menoleh.


"Kau baik-baik saja, anakku?" tanya Suster Agarwa kepada Rey yang menangis menatapnya.


"Mengapa kau menangis Rey?" tanya susternya lagi kepadanya, sembari menghapus tiap air mata yang keluar dari kedua mata Rey.


Sungguh Rey tak kuasa menahan ini. Tanpa banyak berkata lagi, Rey pun memeluk Susternya. Di dalam pelukan itu ia menumpahkan segalanya. Perihal kesedihannya, perihal permintaan maafnya, perihal rasa terima kasihnya. Tanpa suara, hanya dengan tangisan. Di sana Rey mampu merasakan belaian lembut di kepalanya lagi.


"Sepertinya apa yang sudah terjadi cukup berat ya, anakku?" lirih Suster Agarwa.


"Suster, aku lelah! Aku merasa bodoh rasanya, gadis yang kucintai berulang kali melindungiku. Bisakah jika seluruh masalah dibumi ini hanya melibatkan diriku seorang. Aku rela menopang segala hal menyakitkan, aku rela menopang segala hal bahaya itu asalkan,,asalkan Syena beserta seluruh rekanku baik-baik saja." jelas Rey menumpahkan seluruh beban di hatinya kepada Sustenya.


Tangisannya meraung-raung begitu pilu jika didengarkan. Mendengar permintaan tulus itu, Suster Agarwa tersenyum. Rey mulai menjauhkan tubuhnya dari susternya. Dengan kedua tangannya Rey mulai menghapus air matanya.


"Apakah aku bisa melakukan itu suster?" tanya Rey kepada susternya.

__ADS_1


Namun di sana Susternya hanya tersenyum. Suster Agarwa berjalan melewati Rey tanpa ada satupun jawaban. Hal itu membuat Rey bingung rasanya.


"Suster..."lirih Rey kepadanya.


Mendengar itu Suster Agarwa pun berhenti lalu berbalik, masih dengan satu senyuman indahnya.


"Mari kita berjalan-jalan sambil mengobrol, anakku!" ajak Suster Agarwa kepadanya.


Sungguh, Rey sama sekali tak merasa keberatan. Bersama dengan susternya ia pun mulai berjalan di antara ruangan putih tanpa ujung. Tak ada apapun di sana, kosong tak berpenghuni. Hanya Rey saja bersama susternya yang ada.


"Anakku, perihal keinginanmu menyelamatkan dunia aku sangat setuju. Perihal nafasmu di kehidupan ini, tujuannya adalah untuk hal itu! Namun, dalam perang tidak akan mungkin tak ada kematian. Sebab pertarungan akan menghasilkan kekacauan, dan kekacauan yang besar akan menghasilkan korban, lalu merenggut tiap nyawa." jelas Suster Agarwa kepada Rey.


Rey yang berada di sampingnya hanya mampu menghela nafas sambil menunduk. Hal itu benar, tidak ada yang salah dalam perkataan susternya.


"Aku tau itu!" jawab Rey lirih.


Kemudian Suster Agarwa berhenti, ia menghadap ke arah Rey. Melihat itu, Rey pun mendongakkan kepalanya menatap penuh ke arah Susternya.


"Merelakan pada awalnya sulit untuk dilakukan. Namun dengan pengertian semua akan lebih menenangkan. Setiap akhir sebuah cerita, akan selalu menciptakan awal cerita baru, begitu juga dengan perpisahan. Yang pergi biarlah pergi, biarkan mereka beristirahat! Untuk mereka yang hidup, lanjutkan dan emban harapan para manusia mati yang sedang menumpu asanya kepada kalian. Sebab manusia bukanlah Tuhan, Rey! Kau tidak memiliki kesempurnaan yang mampu untuk melindungi seluruh nyawa. Tugasmu adalah, menggunakan kekuatanmu untuk iblis itu. Biarkan nyawa lain, dijaga oleh Tuhan! Kau hanya harus percaya kepadanya lalu berjuanglah!" jelas Suster Agarwa kepadanya.


Rey tertunduk, itu adalah hal benar. Melihat itu suster Agarwa tersenyum, tangannya terulur mengusap lembut kepala Rey di sana.


"Perihal kucing putihmu itu, dia juga adalah salah satu kunci kebebasan dunia. Ada satu hal yang belum kau pahami di sini Arlert. Meski kenyataan tak sesuai dengan harapan, tetaplah bersemangat. Jangan menyerah dan jangan pernah buang semua impian dan harapan. Menyesali nasib tidak akan merubah keadaan," jelas Suster Agarwa lagi kepadanya.


Namun Rey sama sekali tak tahu perihal apa yang Susternya katakan. Debora adalah salah satu kunci kebebasan katanya.


Bagaimana mungkin itu? Sebelum Rey menanyakan perihal itu, satu kecupan lembut mendarat di keningnya. Hangat, Rey sangat merindukannya. Tak lama tubuh Suster Agarwa mulai memudar lalu menghilang dari hadapan Rey.


Detik kemudian, Rey pun membuka kedua matanya. Pembicaraan yang terjadi dalam alam sadarnya membuatnya sedikit tenang sekarang rasanya. Sekalipun penyesalan terhadap Debora masih ada. Rey bangkit dari duduknya, ia pun pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2